3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Aku dan Rania jadi sepasang kekasih


__ADS_3

     Kini kakek tinggal bersama dengan kami. Saat ini ibu lah yang mengurus segala keperluan kakek. Nenek Sari juga sering berkunjung ke rumah, untuk bertemu dengan keluarga kami dan kakek. Hubungan kakek dan nenek Sari menjadi lebih baik. Sekarang mereka sudah tidak saling egois lagi dalam sikapnya. Kakek sekarang sudah mau mendengar apa yang orang lain katakan demi kebaikannya. Sedangkan nenek Sari lebih menjaga lagi perkataannya apa yang dia katakan, sehingga tidak melukai perasaan orang lain.


    Sementara aku meminta bantuan kepada ayah untuk membantu pengobatan ibunya Rania. Ayah pun menyanggupi membantu biaya pengobatannya sampai ibu Rania sembuh. Tentu saja itu membuat Rania sangat bahagia.


*****


    Aku menjalani kehidupan sekolah dengan lebih baik dari kehidupanku yang dahulu. Kini aku punya banyak teman, dan kami banyak melakukan kegiatan bersama-sama. Baik itu belajar maupun bermain. Aku pun sekarang bukan hanya dikenal sebagai murid yang berprestasi tetapi juga sebagai murid yang baik dan ramah.


   Banyak guru-guru dan para murid yang menyukaiku, baik teman seangkatan ataupun adik kelas. Aku senang dengan perubahan ini karena membuat hidupku kini lebih berwarna dan berarti.


Tidak terasa waktu cepat bergulir dan kini saatnya ujian nasional. Aku dan teman-teman menyibukkan diri dengan belajar bersama. Kami saling mendukung dan ingin lulus bersama-sama.


    Di sela-sela waktu setelah selesai ujian dan menunggu hari kelulusan. aku dan teman-teman aku mencari informasi tentang universitas yang menerima beasiswa. Kami mencoba untuk mengisi formulir universitas ternama menggunakan jalur nilai agar mendapatkan beasiswa prestasi.


    Aku bukan hanya mengisi formulir untuk universitas di dalam negeri, tetapi juga universitas di luar negeri yang memberikan beasiswa kepada murid teladan dan berprestasi. Karena di kehidupanku yang sebelumnya, aku kuliah di universitas luar negeri.


    Aku pun mengajak Rania untuk mendaftarkan diri di universitas negeri, yang memiliki integritas tinggi menggunakan jalur beasiswa berprestasi. Walau awalnya Rania menolak, tapi aku memaksanya agar mau melanjutkan sekolah untuk menggapai cita-citanya.


"Rania, ayo aku yakin kamu pasti bisa!" kataku penuh semangat sebagai dukungan untuknya.


"Tapi … aku tidak punya uang untuk biaya sehari-hari nantinya," kata Rania dengan suara pelan dan wajah sendunya.


"Kamu bisa mencari pekerjaan yang biasa dilakukan oleh seorang mahasiswa," kataku lagi.


"Seperti apa?" kata Rania sambil memandang ke arahku.


"Misalnya menjadi pelayan cafe atau kau menjadi karyawan di sebuah toko, yang jam kerjanya disesuaikan dengan jadwal kuliah kita," lanjutku dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


    Kulihat Rania terdiam merenung seperti sedang memikirkannya. Padahal aku mengatakan ini karena dulu dia pernah bercerita, demi melanjutkan kuliahnya dia rela bekerja paruh waktu di beberapa tempat pekerjaan. Rania pun kembali memandang wajahku, dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Aku pun sangat senang sehingga tanpa sadar aku memeluknya erat.


"Terima kasih Rania, aku harap kita bisa menggapai apa yang kita cita-citakan,"ucapku sambil memeluknya erat.


    Saat aku lepaskan pelukanku, dapat dilihat wajah Rania yang sudah merah padam karena malu. Aku pun hanya tersenyum dan meminta maaf, karena telah lancang berani memeluknya.


"Maafkan aku. Aku tanpa sadar telah memelukmu,"ucapku dengan nada yang lirih karena takut tindakanku barusan membuat Rania tidak suka.


"Tidak apa-apa," jawabannya dengan wajahnya yang ditundukkan karena sudah merah padam.


   Kini kami berdua sama-sama diam, dengan wajah yang memerah karena menahan rasa malu. Sejujurnya aku sangat senang dengan apa yang aku lakukan barusan.


      Aku pun dengan berani menggenggam tangannya dan ingin melihat reaksi dari Rania. Meski dengan malu-malu dia juga membalas genggaman tanganku walau kepalanya masih menunduk.


"Rania aku menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?" tanyaku dengan suara lembut sambil memandang ke arah wajahnya. Rania tiba-tiba mengangkat kepalanya karena terkejut dengan apa yang aku katakan barusan.


     Kupandangi wajah Rania yang sudah sangat merah padam itu, begitu pula sebaliknya Rania memandang ke arah wajahku. Dan kau katakan sekali lagi apa yang aku rasakan untuknya.


"Ya aku mau, karena aku juga menyukaimu,"jawab Rania malu-malu sambil tersenyum.


    Aku sungguh sangat bahagia karena perasaanku bisa berbalas dari gadis yang aku cintai. Akupun kembali memeluk tubuh Rania dengan sangat erat, dan dipenuhi rasa kegembiraan.


*****


    Setelah selesai ujian aku dan teman-temanku mempersiapkan untuk kelulusan sekolah. Karena akan ada banyak kegiatan di saat hari kelulusan dan hari perpisahan kelas tiga angkatan kami.


"Raja kamu akan melanjutkan kuliah di mana?" tanya Radit sambil membuat dekorasi di kelas.

__ADS_1


"Aku tidak tahu akan diterima di universitas mana? yang jelas aku sudah daftar di universitas dalam dan luar negeri!"kata ku sambil membantu Radit.


"Kalau aku sudah terdaftar di sekolah kepolisian, karena sejak kecil aku bercita-cita ingin menjadi seorang polisi," kata Radit dengan sangat bangga.


     Sama seperti di kehidupanku sebelumnya, Radit melanjutkan sekolahnya di sekolah kepolisian dan menjadi seorang polisi nantinya. Radit juga sering meminta bantuanku saat menangani kasus pembunuhan. Selain orangnya ramah Radit juga adalah orang yang sangat peduli terhadap orang lain. Namun di kehidupanku sebelumnya, Radit meninggal saat menjalankan tugasnya dalam menangkap pelaku pembunuh berantai yang ada di pusat kota. Aku tidak tahu bisakah aku mencegah kematian Radit di kehidupanku kali ini, karena saat itu aku sibuk dalam menangani wabah penyakit menular.


"Hai nanti kalian akan melanjutkan sekolah di mana?" tanya Nino yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang.


"Kamu mengagetkan kami saja!"teriak Radit karena merasa sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nino, sehingga jantungnya berdetak dengan kencang berkali-kali lipat.


     Melihat reaksi kami Nino malah tertawa terbahak-bahak, sampai air matanya keluar. Aku pun memukul bahu dia karena sangat terkejut, begitu pula dengan Radit yang memukul kepala Nino menggunakan buku tulisnya.


"Maaf … maaf aku tidak sengaja. Ternyata kalian begitu asyiknya berbicara sampai tidak sadar aku datang dari belakang," Nino malah tertawa terkekeh.


    Karena kesal aku dan Radit memukul Nino sampai dia mengaduh kesakitan dan kita bertiga tertawa bersama. Sungguh aku menikmati momen-momen saat seperti ini. Karena ini akan menjadi kenangan di masa yang akan datang.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Aris yang baru habis dari kantin.


"Kita hanya bersenang-senang saja, karena sebentar lagi kita akan berpisah," jawabku sambil tersenyum dan melambaikan tangan kearah Aris agar ikut bergabung bersama dengan kami.


"Sini Aris, ikut bergabung bersama kami!" ajak Radit dan Nino bersamaan.


Kenangan saat di bangku sekolah merupakan saat-saat yang paling indah untuk dikenal di masa tua.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2