3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Profesor Rajasa


__ADS_3

     Aku kini duduk di kursi meja belajarnya milik Sultan yang berada di dekat jendela kamar. Sedangkan Sultan duduk di samping ranjangnya, menghadap aku.


"Katanya Kakak mau membicarakan sesuatu yang penting?" tanya Sultan dengan tatapan matanya yang penasaran.


      Aku menghela napasku dengan kasar, sampai-sampai terdengar suaranya. Sesaat aku alihkan pandanganku kepada deretan buku milik Sultan yang berjejer rapi di atas lemari bukunya.


"Apa kamu punya kenalan orang-orang arkeolog yang bekerja di situs purbakala atau situs prasejarah?" tanya aku sambil melihat Sultan.


      Sepertinya Sultan terkejut dengan pertanyaan aku ini. Dilihat dari ekspresi wajahnya yang mengangkat kedua alisnya yang tebal.


"Ada. Sultan punya beberapa kenalan yang suka ikut mencari dan memeriksa benda-benda yang memiliki nilai sejarah," jawab Sultan sambil tersenyum senang.


"Boleh Kakak kenalan dengan mereka?!" pintaku kepadanya.


"Buat apa, Kakak kenalan sama mereka?!" tanya Sultan dengan tatapan menyelidik ke arahku.


     Aku bingung juga mau menjawab apa. Mana mungkin aku bilang mau mencari artefak kuno buat mengulang waktu. Tidak akan ada orang yang percaya dengan itu. Bisa-bisa aku dianggap gila, karena sudah kehilangan seluruh anggota keluargaku.


"Hanya ada yang ingin aku tanyakan tentang suatu benda yang mirip artefak kuno," jawabku dengan serius dengan menatap Sultan.


"Sultan bisa ngasih kontak mereka. Namun tidak yakin mereka bisa ditemui, karena mereka orang sibuk yang sering bepergian," kata Sultan sambil bangkit dari kasurnya.


      Aku lihat Sultan mengeluarkan dompet kartu nama yang disimpan di laci meja belajarnya. Dia membuka-buka tiap lembar dari kartu nama itu.


"Ini, Kak!" Sultan menyerahkan beberapa kartu nama kepadaku.


"Terima kasih," kataku dengan tersenyum penuh harapan.


     Aku baca beberapa nama dan title dari kartu nama itu. Ada tiga orang yang bekerja juga sebagai profesor di universitas yang berbeda. Ada yang memang kerjanya di situs sejarah dan situs purbakala. Bahkan ada orang yang menjadi asisten yang membantu memeriksa hasil barang temuannya. Tim penggali tanah juga ada? Aku baru tahu kalau para penggali itu bukan orang sembarangan.


*****


      Aku mulai mendatangi salah satu Profesor di universitas tempat Sultan menuntut ilmu. Nama yang tertera di kartu nama adalah Profesor Rajasa. Semalam aku sempat menelpon, dan membuat janji hari ini.

__ADS_1


"Halo, Profesor Rajasa. Apa kabar? Saya Raja yang semalam menelepon Anda," kataku sambil berjabat tangan dengannya.


"Oh, iya. Dokter Raja, senang bisa bertemu dengan anda juga. Aku sering mendengar cerita anda dari Kakakku," sambut lelaki yang sudah berumur itu.


"Apakah saya juga kenal dengan Kakak anda?" tanyaku ada rasa penasaran.


"Iya, Kakakku itu salah satu pasien Anda, yang berhasil disembuhkan setelah menjalani operasi jantung," jawab Profesor Rajasa sambil tersenyum lebar ke arah ku, dan menyuruhku untuk duduk di kursi dengan isyarat tangannya.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, saya senang mendengarnya," kataku lagi sambil membalas senyumannya.


"Ada perlu apa, anda menemui saya? Semalam tidak begitu jelas terdengar di telepon, karena banyak cucu yang menginap di rumah. Biasa mereka itu sering membuat kegaduhan kalau lagi berkumpul," ucapnya sambil tertawa terkekeh. Terlihat jelas rona kebahagiaan di wajahnya yang sudah berkeriput itu.


"Saya ingin bertanya tentang suatu benda atau lebih tepatnya tentang sebuah artefak kuno yang bentuknya seperti ini," kataku sambil menyerahkan selembar kertas.


      Selembar kertas yang menggambarkan sebuah benda berbentuk bulat yang ada ukirannya. Serta batu permata di tengahnya. Aku mengukir sedikit di tengah lingkaran itu sedapat yang aku ingat. Karena dulu, begitu pecahan artefak itu berhasil tersusun sempurna langsung mengeluarkan cahaya. Jadi aku tidak bisa mengingat seluruh ukiran yang ada di artefak itu.


"Hm … ini seperti sebuah artefak kuno zaman sebelum peradaban," ucap Profesor Rajasa sambil mengamati kertas yang aku berikan kepadanya.


"Karena ada seseorang yang meminta pertolongan aku, untuk menemukan benda itu," jawabku sambil menatap serius Profesor Rajasa.


"Apakah benda ini sangat penting baginya? Sampai menyuruh Anda yang seorang Dokter ahli jantung untuk membantu mencarinya," tanya Profesor lagi sambil menyimpan kertas itu di atas meja.


"Ya, benda itu sangat penting dalam hidupnya," jawab aku. Karena bagaimanapun juga dengan artefak itu aku bisa kembali ke masa lalu, untuk mengulang kembali kehidupanku yang ketiga kalinya.


"Mungkin salah seorang dari temanku, bisa membantu anda dalam mencari benda kuno itu," balasnya sambil menyerahkan sebuah kartu nama dari laci meja kerjanya.


"Dia adalah salah seorang arkeolog yang selalu meneliti sejarah peradaban kuno. Semoga dia bisa membantu anda," kata Profesor Rajasa sambil memasang wajah kecewa dan meminta maaf karena tidak bisa membantuku.


     Aku pun membaca nama yang tertera di sana. Ada alamat rumah dan nomor telepon rumahnya. Aku pun menyimpan kartu nama itu ke dalam tasku.


"Terima kasih Profesor Rajasa, atas bantuannya, aku sangat senang bisa berjumpa dengan Anda,!" Aku tanpa sadar telah menjabat tangan Profesor itu dengan sangat kuat, saking senangnya.


"Sama-sama Dokter Raja, semoga anda bisa beruntung dengan menemukannya," balasnya kepadaku sambil menjabat kuat tanganku, balik.

__ADS_1


******


     Aku pun menghubungi nomor telepon yang tertera di kartu itu. Namun sudah beberapa kali aku mencoba menghubunginya, panggilan itu tidak diangkat juga olehnya.


     Karena hari baru menjelang siang, maka aku pun mencoba mendatangi rumah sang Arkeolog. Dengan mengendarai menggunakan mobil dengan kecepatan tinggi, rumah itu bisa ditempuh selama dua jam perjalanan.


     Kini aku berdiri di rumah tua yang terlihat seram. Halaman di rumah itu dipenuhi oleh rumput ilalang, dan tumbuhan merambat lainnya. Aku pun mengecek kembali alamat yang tertera di kartu mana itu.


      Walau sudah beberapa kali aku baca alamat rumah di kartu itu. Tetap saja tidak berubah dengan alamat yang tertera di tembok dekat pintu gerbang rumah tua itu.


"Apa yang sedang anda lakukan di rumah pak Djaya!" kata seorang laki-laki paruh baya dengan suara yang membentak.


      Aku sungguh terkejut saat tiba-tiba ada suara seseorang di belakangku. Aku yang mendengar perkataannya yang seperti itu, membuatku waspada.


"Saya ingin bertemu pak Djaya yang bekerja sebagai seorang Arkeolog," kataku sambil menatap wajah pria paruh baya itu.


"Ada urusan apa anda ingin menemuinya?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik kepadaku.


"Ini urusan yang sangat penting dan rahasia," jawabku agar pria paruh baya itu tidak lagi mengajakku bicara.


"Pak Djaya sedang tidak ada di rumahnya. Rumah ini sudah kosong selama tiga tahun," ucap pria itu lagi dengan menatap tajam ke arahku.


"Apa pak Djaya tidak punya keluarga?" tanyaku penasaran.


"Tidak ada. Mereka semua sudah meninggal dunia," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.


Aku terkejut dengan informasi yang aku dapat ini. Bila sudah begini, aku juga harus mencari orang lain lagi, yang bekerja di bidang penggalian situs peradaban kuno.


*******


Mampir juga ke karya aku yang lainnya.


__ADS_1


__ADS_2