3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Kematian Rania, Kaisar, dan ...


__ADS_3

Sudah tiga jam para tim medis mencoba menyelamatkan nyawa Rania dan Kaisar. Aku yang baru saja datang, sudah merasa tidak tenang. Aku jalan mondar-mandir, untuk mengurangi rasa kecemasanku.


"Raja kamu istirahat dulu! Pasti capek habis menempuh perjalanan jauh," kata ibu sambil memegang lenganku.


"Raja di sini saja,Bu!" tolakku, sambil menuntun ibuku agar dia yang duduk saja di kursi.


"Tapi … kamu--" kata ibu sambil menatapku penuh rasa iba.


"Raja tadi sudah istirahat waktu di sana. Tadi waktu perjalanan ke sini juga, Raja tertidur," potong aku, sedikit berbohong kepada ibu.


       Akhirnya perdebatan kami selesai dengan ibu yang menuruti kemauan ku. Aku lihat pintu ruang operasi terbuka. Ada beberapa tim medis keluar dari sana.


     Aku pun datang menghampiri mereka. Ada beberapa orang yang aku kenal baik. Salah satunya adalah teman baik aku di sini.


"Ris, bagaimana keadaan istri dan anak aku?" tanyaku saat kita sudah berhadapan.


"Aku berhasil mengeluarkan bayinya. Mudah-mudahan dia bisa selamat, karena saat istri kamu di bawa ke sini. Air ketubannya sudah pecah, sehingga aku terpaksa mengeluarkan bayi kalian," jelas Riswandi kepadaku.


"Lalu Kaisar bagaimana? Siapa yang menangani dia?" tanyaku penasaran.


"Kalau anak kamu, Dian yang sedang menanganinya," jawab Riswandi sambil menunjuk ke ruang sebelahnya.


"Kenapa Kaisar juga memerlukan tindakan operasi besar?" tanya aku lagi kepada Riwandi.


"Karena diperlukan tindakan cepat. Setelah dilakukan CT scan, ternyata ada penggumpalan darah di otak dan dada kirinya. Juga ada dua rusuk yang patah."


      Saat aku mendengar penuturan Riswandi, tentang Kaisar. Tubuhku langsung lemas dan jatuh ke lantai. Aku menangis tergugu, karena membayangkan keadaan Kaisar.


      Tak lama kemudian, aku lihat pintu ruang operasi, tempat Kaisar mendapat tindakan terbuka. Dokter Dian keluar dari ruang operasi bersama salah satu perawat senior datang menghampiriku.


"Raja, maafkan kami yang tidak bisa menyelamatkan anak kamu, Kaisar."


"Ada pecah pembuluh darah di otak kecil dan otak besarnya terdapat gumpalan darah yang banyak." 

__ADS_1


"Serta jantungnya mengalami kebocoran," kata Dokter Dian menjelaskan kondisi Kaisar saat ini.


     Mendengar penuturan Dokter Dian, aku merasa dihantam sama batu yang besar. Dada sesak, kepalaku sakit, dan terakhir yang aku rasakan adalah semuanya menjadi gelap.


     Aku membuka mata, dan yang pertama kali aku lihat adalah langit-langit kamar inap kelas VIP. Aku edarkan penglihatanku keseluruh ruangan, tapi tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Ternyata aku seorang diri di sini.


     Tak berapa lama aku teringat akan Kaisar dan Rania, maka aku pun mencoba bangun dari brankar. Tubuhku terasa remuk, dan sakit semua. Selang infus pun aku cabut, dan terasa sangat nyeri, karena jarumnya di paksa di tarik.


      Aku melangkahkan kakiku ke tempat ruang operasi Kaisar. Ternyata disana sudah tidak ada siapa-siapa. Maka aku pun mendatangi kamar jenazah. Aku lihat semua keluargaku sedang berkumpul di sana. Aku berlari sekuat tenaga dengan sisa-sisa kekuatanku.


"Ayah … Ibu?!" kataku begitu sampai di sana.


"Raja!"


     Ibu malah menangis tergugu, dengan suaranya yang sudah serak. Aku yakin ibu sudah lama menangisinya. Ibu dan ayah memelukku sambil menangis keduanya. Air mataku pun kembali keluar dengan derasnya.


"Di mana Kaisar?" tanyaku sambil terisak.


     Ayah dan ibu melepaskan pelukannya kepadaku. Mereka tidak menjawab pertanyaanku, tapi aku tahu saat melihat arah pandangan mereka semua ke dalam kamar jenazah.


    Aku pun membuka pintu kamar jenazah, ada tiga brankar yang terisi dengan mayit yang ditutup oleh kain putih. Aku berjalan ke arah brankar paling ujung yang diperkirakan adalah mayat Kaisar. Jika dilihat dari bentuknya seperti anak kecil.


     Saat aku berjalan melewati brankar pertama, tanpa sengaja tanganku menarik kain penutup mayat. Ketika akan aku benarkan, aku sungguh shock melihat sosok wanita yang aku cintai. Kini terbujur kaku di hadapanku.


"Rania?" aku mendekati kepala Rania dan membelai wajah yang sudah memucat dan dingin itu.


"Rania!"


"Rania … bangun! Jangan bercanda! Ini nggak lucu," kataku sambil terus menyentuh wajahnya, aku berharap dia bangun seperti biasanya, saat aku mengganggunya.


      Melihat Rania yang diam saja dan tidak bergerak, membuat aku makin kencang memanggil dan menggoyangkan lengan tangannya. Namun berapa kali aku mencoba membangunkannya, dia tetap diam tak bergerak.


"Ayah … Ibu! Rania … kenapa?!" teriakku memanggil kedua orang tuaku dan mertuaku yang ada di depan kamar jenazah.

__ADS_1


     Mereka semua masuk ke kamar jenazah bersama-sama, karena mendengar panggilan ku. Mereka malah melihat aku dengan tatapan iba. Jujur aku tidak membutuhkannya, yang kuinginkan saat ini adalah penjelasan tentang semua ini.


"Raja …," panggil ibuku dengan suaranya yang serak, karena terlalu banyak menangis.


"Rania, kenapa Bu?" tanyaku dengan isakan tangis kesakitan yang kurasakan.


"Rania tidak bisa bertahan setelah dioperasi," jawab ayah sambil menepuk pundakku.


      Hari ini aku merasakan hantaman yang tiada hentinya terus menerus menyerangku. Mulai dari mendapat kabar kecelakaan yang menimpa Rania dan Kaisar, kegagalan operasi Kaisar yang mengalami luka organ dalam. Kini aku harus menerima kenyataan baru lagi, istri yang selalu aku jaga ini baru saja meninggalkan aku.


"Tidak Ayah! Kenapa? Kenapa?" aku menangis tersedu-sedu tidak mau menerima kenyataan ini. Aku berharap ini adalah mimpi buruk, dan aku akan segerabangun, setelah Rania membangunkan aku seperti biasanya.


"Aku nggak mau! Nggak terima ini!" Teriakku kepada mereka yang ada di ruangan ini.


"Jangan begitu Raja! Kamu harus terima kematian istri dan anak-anak mu!" Ayah mengguncangkan kedua pundak ku dengan sangat kuat.


"Anak-anak ku? Maksud Ayah?" tanya ku lagi tidak mengerti.


    Otak ku langsung teringat kepada putra kedua ku tadi yang berhasil dikeluarkan saat operasi. Bahkan aku belum pernah melihat wajahnya itu.


"Ya, putra kedua mu juga meninggal tidak lama setelah Rania," kata Ayah yang sukses menghantam otak dan hatiku.


"Tidak! Tidak ... kumohon Ayah, jangan bilang ... kalau dia juga meninggalkan aku ... " aku makin terpukul mendengar kabar kematian orang yang sedang aku usahakan untuk mencegah dan menghentikannya di kehidupan ini.


    Aku nggak bisa mengatakan apa-apa lagi. Semua yang ada pada diriku seakan direnggut paksa. Nyawaku seakan ditarik dari tubuhku secara paksa dan perlahan. Sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


      Aku sekarang kehilangan semangat hidup. Istri yang aku sangat cintai, dan kedua putraku yang sangat aku sayangi. Semuanya kini telah meninggalkan aku, dan aku tidak mau hidup lagi. Aku akan senang seandainya kematian itu juga datang menghampiriku saat ini.


*******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2