
Aku melihat kembali catatan di buku agenda, untuk kehidupan pertama ayah meninggal karena jatuh ke jurang. Saat memasuki musim hujan, tanah merahnya jadi licin, dan ayah tergelincir.
Di kehidupan kedua, ayah jatuh ke jurang bersama temannya, tapi keburu di tolong dan mendapatkan penanganan media secara cepat dan intensif. Sehingga dapat diselamatkan nyawanya.
Aku berpikir, di kehidupan ketiga ini apa ayah atau ada orang lain yang akan menjadi korbannya. Seperti Aris dan Roro, posisi mereka jadi tertukar. Bila kejadiannya seperti itu, maka posisi ayah akan berganti dengan siapa?
Aku pun menuruni anak tangga, dan berpapasan dengan Sultan. Dulu dia anak cerdas dan menggemaskan, sekarang dia anak manja, dan suka rewel, akan menangis kalau kemauannya tidak dituruti.
"Sultan, mau kemana?"
"Sultan mau mengambil robot Power Rangeres, akan dibawa main ke rumahnya Aldo!" Sultan kulihat begitu senang, karena terlihat senyuman terus menghiasi wajahnya yang bulat dan pipinya yang chubby.
"Hati-hati loh, nanti hilang lagi robot-robotan itu, kalau di bawa main jauh." kataku sambil menuruni sisa anak tangga.
"Nggak akan! Sultan bukan anak pelupa!" balas Sultan kepadaku dengan wajahnya yang cemberut.
Aku tertawa, Sultan pun berjalan melewati aku, dengan bersungut-sungut karena merasa kesal kepadaku. Karena aku masih bisa dengar gerutunya.
"Ternyata si Sultan banyak juga yang bisa membuatnya lucu dan gemas."
Kulihat ayah sedang di pijit oleh ibu, di ruang keluarga. Aku pun duduk di sofa dekat ibu, dan menyandarkan kepalaku yang terasa berat di bahunya.
"Kamu kenapa? Tumben tidak main sama teman-teman kamu!"
Mendengar Ibu bicara seperti itu membuatku terkejut.
"Memangnya Raja suka main, Bu?" tanyaku penasaran, karena selama di kehidupan kedua yang lalu, aku jarang keluar rumah kalau tidak bersama Rania dan Ratu. Kalau di kehidupan pertama jangan ditanya itu hal yang nggak pernah terjadi, karena di kehidupan itu aku tidak punya teman.
"Kamu itu kerjanya keluyuran sampai tengah malam, bahkan hingga dini hari baru pulang!" Ibu menjewer telingaku hingga terasa panas.
"Ampun … Bu. Sakit ini," kataku sambil memegang telingaku. Sedangkan ayah hanya tersenyum melihatku.
Perhatian aku pun beralih kepada Ayah, dan ingin menanyakan sesuatu padanya.
"Ayah, apa ada tugas pergi dinas?" Aku bertanya dengan harap-harap cemas.
"Sepertinya tidak ada," Ayah menjawab dengan nada yakin. Itu makin membuatku bertanya-tanya lagi apa yang akan terjadi di hari kecelakaan Ayah, nanti.
__ADS_1
*****
Hari ini aku mulai lagi melakukan aktivitas lari pagi, dan seperti biasa Pak RT juga sedang lari mengelilingi taman komplek. Aku pun mengejarnya dan mulai menyapanya.
"Selamat pagi Pak RT!"
"Selamat pagi, Raja!"
"Seperti biasa, Bapak kalau lari pagi selalu penuh semangat!"
"Hahaha … kamu bisa aja. Tumben Nak Raja, lari pagi?!"
Oh, iya juga. Aku lupa, mungkin di kehidupan ketigaku ini baru pertama kali melakukan lari pagi. Karena dulu selalu lari pagi hampir tiap hari sama Pak RT, aku jadi lupa. Karena itu terasa baru terjadi kemarin.
"Iya, Pak. Biar badan terasa ringan dan bugar. Kan sayang Pak, lagi masa pertumbuhan. Masa yang bagus untuk membentuk tubuh aku," jawabku sambil tertawa terkekeh, begitu juga dengan Pak RT pun melakukan hal yang sama.
Pak RT masih sama orangnya seperti di dua kehidupanku. Apa kecelakaannya nanti juga akan terjadi padanya atau nggak, aku tidak tahu. Kehidupan ketiga ku makin lebih banyak misterinya.
*****
Aku berangkat sekolah seperti biasa naik sepeda, dan kali ini membonceng Ratu. Walau awalnya Ratu nggak mau aku bonceng, akhirnya nurut juga. Padahal di dua kehidupanku ini sudah jadi rutinitas aku, karena sekolah kami bersebelahan.
"Raja, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Radit saat aku sedang mengisi soal-soal Matematika.
"Mau ikutan Olimpiade!"
"Hahaha … mana mungkin bisa, Raja! Hanya murid yang pintar yang bisa ikutan."
Aku itu murid langganan juara umum, murid teladan, dan murid langganan juara Olimpiade. Akan aku buktikan kalau bisa ikut Olimpiade. Radit yang masih melihat aku mengerjakan soal-soal di buku yang sangat tebal itu, hanya bisa menganga. Dia melihat aku mengerjakan semua soal itu dengan cepat.
"Kamu beneran bisa mengerjakan soal itu?" tanya Radit dengan wajahnya yang sangsi kalau aku bisa mengerjakan soal-soal ini.
"Kamu bisa lihat sendiri 'kan."
"Tapi apa jawaban yang kamu kerjakan itu benar?"
"Kalau kamu nggak percaya, nih kasihkan lembar jawaban aku sama guru matematika!" Aku menyerahkan tiga lebar kertas yang berisi jawaban dari soal-soal yang ada di buku.
__ADS_1
"Nanti kalau guru bertanya, bilang saja Raja ingin ikutan Olimpiade!" kataku sambil menepuk bahu Radit. Radit pun pergi ke luar kelas.
Aku tak menyangka kalau si Radit beneran memberikan jawab itu pada guru Matematika. Sehingga aku dipanggil untuk ikut daftar lomba Olimpiade.
Walau harus dari tingkat wilayah dulu sampai nasional dan akhirnya Internasional. Bukan hanya Matematika, aku juga mengajukan ikut Olimpiade Fisika, Kimia, dan Biologi. Selama hampir sebulan ini aku kejar ketinggalan dalam meraih nilai-nilai lainnya. Sehingga aku menjadi buah bibir di kalangan guru dan para murid.
Tidak terasa, kini waktu kecelakaan yang akan menimpa Ayah tinggal tiga hari lagi. Aku sudah mengira-ngira, kalau Ayah yang akan terkena celaka lagi, ada kemungkinan di jatuh di tempat yang tinggi atau atas. Bila tempatnya masih sama di jurang desa pinggiran, berarti akan ada orang lain yang menggantikan posisi Ayah. Seperti Aris yang digantikan oleh Roro.
*****
Aku dan Sultan sedang duduk di kursi meja makan, sedangkan Ibu sama Ratu sedang memasak buat makan malam. Terdengar suara telepon berdering dari ruang keluarga.
"Raja, tolong angkat teleponnya!" pinta Ibu sambil mengacungkan spatulanya dan melihat ke arah aku.
Aku mau nggak mau berjalan dengan gontai, dan mengangkat telepon itu.
"Halo," jawab aku saat mengangkat panggilan itu.
"Ini dengan kediaman Dokter King?" tanya orang di seberang telepon.
"Iya, benar. Ada apa, ya?" tanyaku balik.
"Dokter King mengalami kecelakaan, jatuh dari tangga lantai tiga rumah sakit!" Suara orang diseberang terdengar nyaring di telingaku. Ternyata apa yang aku pikirkan beneran terjadi. Kalau ada kemungkinan Ayah akan terjatuh dari tangga.
"Kondisi, Ayah sekarang bagaimana?" tanyaku panik dan gugup.
"Dokter masih di ruang pemerikasaan."
"Baiklah, aku akan ke rumah sakit sekarang!"
Aku menutup telepon itu kemudian memberitahu Ibu tentang kecelakaan yang menimpa Ayah. Aku dan Ibu pergi ke rumah sakit saat itu juga.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA.
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
__ADS_1
TERIMA KASIH.