3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
#Akhirnya aku dan Rania bisa menikah


__ADS_3

      Aku menghubungi Rania dengan hati yang riang gembira. Sambil menyanyikan lagu-lagu cinta. Aku menunggu Rania menerima panggilanku.


"Halo," sapa seseorang di seberang sana. Aku rasa yang menerima panggilanku ini adalah ibunya Rania.


"Halo, selamat malam Tante," aku balas menyapanya.


"Selamat malam, ini dengan siapa ya?" tanya dia kembali.


"Saya Raja, temannya Rania. Apa Rania-nya ada?" aku balas bertanya.


"Oh, Raja kekasihnya Rania? tunggu Rania-nya Tante panggilkan dulu," katanya dan setelah itu terdengar kalau dia memanggil Rania.


"Halo, Raja," panggil Rania dengan suaranya yang merdu.


"Halo Rania, apa kamu sudah bicarakan soal pernikahan kita, kepada orang tuamu?" tanyaku dengan jantung yang berdetak cepat.


"Sudah," jawabnya singkat dan membuat aku berpikir kalau dia tidak berjalan dengan baik.


"Terus bagaimana tanggapan mereka?" tanyaku penasaran.


"Mereka menyetujuinya. Kalau bisa kita menikahnya saat usia aku dua puluh tahun. Itu permintaan Ayah dan Ibu, dan juga aku harus mempersiapkan diriku untuk menjadi seorang istri" jawab Rania yang membuat aku makin cinta dan sayang sama dia.


"Baiklah aku tidak masalah menunggu satu tahun lagi. Kedua orang tua ku, sudah menyetujui aku menikah dengan kamu," balasku untuk Rania, dan aku yakin dia sekarang merona pipinya.


"Aku akan bersabar sampai waktunya, walau hati ini menginginkan kamu menjadi istriku sekarang juga," kata-kata ku dengan mantap.


"Kamu harus sabar dalam menanti aku, sampai aku bisa kamu nikahi. Aku pun begitu, ingin secepatnya bisa bersama-sama kamu," balas Rania dengan nada suara yang lebih semangat.


******


Satu tahun kemudian …

__ADS_1


     Sesuai rencana satu tahun yang lalu, hari ini adalah hari pernikahan aku dengan Rania. Setelah melakukan serangkaian ritual pernikahan, kini aku dan Rania telah resmi menjadi pasangan suami istri.


     Acara resepsinya pun diadakan di hotel terkenal milik temannya ayah. Dengan menaikkan hatinya aku tidak perlu mengeluarkan uang sewa untuk aula hotel, dan biaya menginap selama tiga hari di kamar VIP.


     Aku mengundang teman-teman ku semasa sekolah di SMA, dan juga teman-teman satu kampus yang aktif di klub basket dan jurnalis. Begitu juga dengan teman satu kelas, satu fakultas. Mereka banyak yang datang ke acara pesta pernikahanku.


"Raja selamat! Kami tidak menyangka kalah kalian akan secepatnya menikah," kata beberapa temanku saat mengantri memberi restu kepada aku dan Rania.


"Ya, biar hati ini tenang," balasku sambil tersenyum terkekeh.


     Teman-temanku yang lainnya pun malah menggodaku. Bagi mereka mening bersenang-senang dahulu selagi masih muda. Setelah puas bermain baru memikirkan masa depan tentang berkeluarga.


"Raja, kamu tidak mau bersenang-senang dahulu seperti kami. Menikmati masa muda kami, dengan bersenang-senang!" Kata salah satu teman Raja sambil berbisik.


"Tidak. Aku akan bersenang-senang dengan istriku saja," jawab Raja sambil tersenyum.


    Bagiku lebih baik secepatnya menikah.  Agar bisa menggantikan waktu yang dulu aku sia-siakan tanpa kehadiranku di sisi mereka. Aku ingin selalu berada di tengah-tengah keluargaku saat kami senang, sedih, atau susah.


     Rania juga sama dengan diriku, lebih baik secepatnya menyatukan diri dalam satu ikatan yang kuat. Agar hati merasa tentram dan tenang. Kita berdua jadi bebas saat berduaan.


*****


"Ayah … Ibu, aku dan Rania akan membeli sebuah rumah untuk tempat tinggal kami," kataku saat kami baru selesai makan malam.


"Ibu kurang setuju, lebih baik uangnya dipakai untuk kebutuhan kalian nantinya. Ini rumah juga besar," balas ibu.


      Walau ibu meminta untuk tetap tinggal di rumah orang tuaku. Aku dan Rania sudah merencanakan punya rumah dahulu, sebelum punya anak. Tahun pertama pernikahan kita, aku dan Rania tinggal di rumah orang tuaku. Sebab paling dekat dengan kampus tempat kami kuliah.


"Kalau begitu, ayah akan bantu mencarikan kalian rumah yang cocok buat kalian," kata ayahku lagi.


"*****

__ADS_1


Lima tahun kemudian …


    Aku yang masih ingat semua ilmu kedokteran yang miliki disaat kehidupanku dahulu. Jadi di kehidupanku sekaran, sangat mempermudah aku dalam menguasai semua materi pelajaran di jurusanku. Dengan itu aku bisa lulus sebagai dokter ahli jantung di saat usiaku dua puluh tujuh tahun.


    Rania yang terlebih dahulu menyelesaikan pendidikan sarjananya di usia dua puluh dua tahun. Kini dia telah guru kesenian di salah satu sekolah SMA Negeri.


     Rania juga kini sedang mengandung anak pertama kami. Meski pernikahan aku dan Rania lebih cepat dibandingkan dengan kehidupanku sebelumnya, tapi dia mengandung anak pertama di usia yang sama dengan kehidupanku di masa lalu.


    Aku berusaha agar kelahiran putra pertama aku kali ini, bisa bersamanya menyambut kelahiran bayi kami. Di kehidupan sebelumnya, aku tidak bisa mendampinginya, karena aku sedang melakukan dinas keluar kota. Untuk kali ini aku tidak akan menerima tugas itu, karena saat itu aku menggantikan rekanku yang tidak mau pergi ke tempat yang jauh.


"Rania, apa kamu sudah mau melahirkan?" tanyaku saat kulihat dia meringis sambil mengusap-usap perutnya yang sudah sangat besar.


"Aku tidak tahu Sayang. Sejak tadi dia terus bergerak aktif," jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit.


     Seharusnya Kaisar lahir tiga hari lagi, tapi ini Rania sudah kesakitan seperti itu. Aku tidak tega melihatnya. Maka aku pun menenangkan si bayi dalam perut Rania dengan mengusap-usap lembut perut Rania sambil berbicara.


"Dedek bayi, jangan buat Ibumu kesakitan seperti ini! Kasihan dia. Kalau kamu sudah tidak sabar ingin segera melihat dunia ini, ayo Ayah akan bantu kamu," kataku sambil terus mengelus perut Rania, dan kini pergerakan bayi di perut itu sudah tenang kembali.


"Sayang, dedek bayinya sudah tenang kembali," kata Rania sambil tersenyum senang.


"Bagus, kalau begitu. Aku perkirakan bayi ini akan lahir lusa, jadi kamu harus mempersiapkan diri dan segalanya," kataku sambil menatap Rania dan dia hanya menganggukkan kepalanya.


      Sesuai prediksi di kehidupanku sebelumnya, kelahiran putra pertama kami, lahir tiga hari kemudian. Saat sarapan pagi Rania mengalami ketubannya pecah, dan aku dengan cepat membawanya ke rumah sakit bersalin. Waktunya aku lupa kapan Kaisar itu lahir, karena yang aku tahu hanya tanggalnya saja.


"Sayang ini sangat sakit!" Rania mencengkram kuat tanganku menyalurkan rasa sakitnya.


"Ya, dedek bayi sepertinya sudah mau keluar," kataku berusaha setenang mungkin.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2