3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
#Alroy ... itu namamu!


__ADS_3

     Aku mendekati jenazah putra keduaku, dengan langkah gontai aku melangkahkan kaki yang kehilangan tenaganya ini. Walau hanya lima langkah saja, aku merasa sangat kesulitan. Saat aku membuka kain penutupnya, bayi yang sudah terbujur kaku itu aku langsung memeluknya. 


      Mungkin selama hidupku, baik di kehidupanku dahulu atau di kehidupanku yang sekarang. Ini adalah pelukan pertamaku untuk putra kedua kami. Walau sudah menjadi mayat yang dingin dan kaku, aku mengharapkan sebuah keajaiban dapat terjadi kepada putra kedua kami.


"Nak … buka matamu!" kataku sambil mengelus kepala bayi yang sangat mungil itu.


"Nak … ini Ayah!" kataku lagi, masih mengelus kepalanya dengan halus dan penuh sayang.


"Ayah ingin melihatmu tersenyum dan tertawa, seperti kakakmu," kataku sambil mencium bayi mungil yang ada di gendonganku.


"Wajahmu ternyata tampan seperti Ayah … "


"Matamu mirip siapa? Ayo buka biar Ayah lihat? Mirip Ayah atau mirip bunda?" kataku sambil mengusap kelopak matanya.


"Ayah dan Bunda sudah menyiapkan nama untukmu?"


"Alroy … itu nama kamu! Apa kamu suka?"


"Kakak kamu bilang suka sama namanya dia juga sudah membuat tulisan nama kamu di kertas gambarnya. Katanya akan dihadiahkan untukmu nanti,"


"Ayah dan Bunda sudah menyiapkan kamar tidur bayi untuk menyambut kelahiran kamu. Jadi ayo bangun dan lihat dekorasi karya orang-orang yang menantikan kamu!"


"Jangan tinggalkan Ayah sendirian! kalau kalian semua pergi, ajak Ayah juga," aku terus mengungkapkan isi hatiku yang dengan lancarnya keluar dari mulutku.


Aku sekarang kehilangan semangat hidup. Istri yang aku sangat cintai, dan kedua putraku yang sangat aku sayangi. Semuanya kini telah meninggalkan aku, sehingga tidak mau hidup lagi. Aku akan senang seandainya kematian itu juga datang menghampiriku saat ini.


     Ayah dan ibu membangunkan aku yang sedang duduk di lantai sambil memeluk putra keduaku. Ayah hanya meneteskan air matanya. Berbeda dengan ibu yang menangis tergugu.


"Raja, kamu harus bisa menerima kenyataan ini!" kata Ayah sambil menepuk-nepuk punggung ku.


"Nak, ingat masih ada kami yang masih menyayangi kamu," kata ibu di sela tangisannya.


"Masih ada Ratu … Sultan … Paman Shogun dan keluarganya. Mereka semua itu sayang sama kamu," lanjut ibu lagi.


     Aku terdiam terpaku sambil mengeratkan pelukanku pada putraku yang masih dalam gendongan. Aku menangis tergugu, sakit hatiku tidak berkurang juga meski sudah menangis lama.

__ADS_1


"Kamu harus mengikhlaskan mereka," suara lembut ibu kini sudah terdengar lagi. Sepertinya beliau sudah bisa mengendalikan dirinya.


"Yakinlah, meski mereka sudah tiada. Namun mereka masih hidup di hati kita," kata ibu lagi sambil memelukku dari samping karena aku masih menggendong Alroy.


    Aku pun menganggukan kepala, sambil menahan tangis. Aku letakan kembali Alroy di atas brankar.


     Kini aku berjalan ke arah brankar Kaisar yang menjadi tujuan awalku. Kulihat wajah Kaisar yang biasanya tersenyum dan tertawa ceria, kini pucat pasi dan membiru. Ada luka di sebagian keningnya, kepalanya agak lebih besar dari biasanya. Badannya juga begitu, ada bekas operasi di dadanya.


     Aku memeluk putra sulungku dengan tangisan histeris. Kaisar yang selalu tersenyum saat mengantarku berangkat kerja dan menyambut kedatanganku ketika pulang dari rumah sakit. Tawanya saat aku dan dia bermain bersama. Wajah fokusnya saat menggambar dan belajar mengayuh sepeda. Semua itu berputar dalam ingatanku.


    Kematian Kaisar di kehidupan ini, tidak sesuai dengan kehidupanku yang lalu. Kenapa semua ini bisa terjadi? Kalau Kaisar meninggal saat masih kecil, maka tidak akan ada Kaisar dewasa, yang mempunyai artefak kuno itu.


"Artefak … kuno?" gumamku.


"Ya, sepertinya aku bisa mengulang kembali kehidupanku lagi kalau punya artefak seperti itu."


"Tapi, di mana aku bisa menemukannya? Kalau Kaisar di kehidupan yang sekarang meninggal, berarti akan ada orang lain yang punya artefak kuno itu?"


     Aku terus bergumam dalam hatiku, dan memikirkan cara agar aku bisa mengulang kembali kehidupanku lagi untuk yang ke tiga kalinya.


******


      Dulu aku satu persatu kehilangan satu persatu anggota keluargaku. Namun kini aku langsung kehilangan mereka sekaligus. Tubuhku sekarang seolah hanya bongkahan daging saja, tanpa ada jiwa yang mengisinya.


     Aku kehilangan cahaya dan tujuan dalam hidupku. Tidak ada istri yang mencintaiku lagi. Tidak ada anak-anak yang aku tunggu tumbuh kembang dirinya menjadi orang yang hebat.


    Air mataku masih saja keluar meski sudah banyak yang aku keluarkan semenjak kemarin. Bahkan mataku juga sudah bengkak dan memerah.


    Air hujan yang mulai turun membasahi bumi, dapat aku rasakan. Karena tetesannya mengenai tubuhku. Namun aku tetap diam tak bergeming, masih terpaku duduk di sebuah batu yang ada di depan kuburan istriku.


"Raja, ayo pulang! Hujan sudah mulai turun," ibu meletakan tangannya di bahuku.


"Sebentar lagi, Bu."


     Aku menolak ajakan ibuku, untuk pulang. Meski hujan mengguyur tubuhku, tak ada niatan untuk pergi dari sini. Biarkanlah air hujan membasahi tubuhku. Siapa tahu itu juga bisa membasuh luka-luka di dalam diriku.

__ADS_1


"Kalau begitu, kami akan pulang terlebih dahulu!" kata ayah sambil menepuk-nepuk pundak ku.


"Iya, Yah!" jawabku sambil menganggukan kepala.


     Langkah mereka semua dapat aku dengar, mulai menjauh meninggalkan aku seorang diri. Aku pun masih asik memandangi nama-nama yang ada di batu nisan. Kaisar-Rania-Alroy, nama-nama yang sangat berarti dalam hidupku.


     Dibawah guyuran hujan yang mulai deras, aku berdiri sambil menengadahkan wajah ku ke atas langit. Aku biarkan air hujan menjatuhi wajahku. Air mataku dan air hujan berbaur menyatu menjadi satu di sana.


     Aku berpikir ingin mencari lagi artefak kuno itu, di kehidupan ini. Untuk mengulang lagi kehidupanku. Kalau di kehidupanku dulu artefak itu punya Kaisar, kali ini aku harus mencarinya sendiri. Biasanya hanya para arkeolog lah yang punya benda-benda kuno seperti itu.


"Aku harus menemukan artefak kuno itu!"


"Walau harus mencarinya kemanapun, akan aku lakukan."


"Siapa orang yang harus aku cari terlebih dahulu, agar aku bisa punya kontak dengan para arkeolog?"


"Sultan … ya, sepertinya aku harus memulainya dari Sultan!"


"Dia pasti punya kenalan para arkeolog lainnya."


      Aku pun bergegas pergi meninggalkan komplek kuburan itu, dan pergi menuju rumah orang tuaku. Untuk bertemu dengan Sultan, dan mencari tahu soal artefak kuno. Karena Sultan kuliah belajar tentang sejarah dan kehidupan prasejarah. Pasti dia punya kenalan orang yang bekerja di penggalian situs purba kala atau situs prasejarah.


"Ibu, apa Sultan ada di rumah?" tanyaku begitu masuk ke dalam rumah orang tuaku.


"Ada di kamarnya. Kamu keringkan dulu badanmu yang basah, dan ganti baju terlebih dahulu," kata ibu sambil menahan tanganku saat aku akan berjalan menaiki tangga.


"Baiklah, Bu." Aku pun menaiki anak tangga dan memasuki kamarku yang masih sering aku tempati saat menginap di rumah orang tuanku.


"Kak Raja, ada apa? kudengar dari atas suara Kakak," tanya Sultan menghentikan langkahku saat di tengah-tengah menaiki tangga.


"Kakak mau menanyakan sesuatu yang penting," kataku dan Sultan hanya menganggukan kepalanya.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA, MUMPUNG HARI SENIN.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2