3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Aku dan teman-teman di kelasku


__ADS_3

    Aku masih duduk di kursi ruang tamu di rumah Kakek. Karena aku belum mengatakan apa yang ingin aku bicarakan dengan Kakek. Kulihat Kakek sedang menikmati jus alpukat yang baru selesai dibuat oleh pembantu di rumah Kakek, yang jam kerjanya sampai sore. Aku pun mengambil gelas berisi jus alpukat, milikku. Rasa manis dan segar langsung terasa di mulut dan tenggorokan ku.


" Tumben kamu datang kesini sendirian. Ada apa?" Tanya Kakek sambil menatapku dengan matanya yang mulai redup cahayanya di balik kelopak matanya yang sudah mengendur.


" Raja datang kesini, mau memberitahu kepada Kakek. Kalau kemarin lusa, Ayah mengalami kecelakaan saat mengunjungi desa di pinggiran kota." Jawabku mengutarakan maksud kedatanganku kemari hari ini.


" Terus bagaimana keadaan Ayahmu sekarang?" Tanya Kakek lagi dengan nada suaranya yang agak bergetar. Ternyata dibalik sikap keras kepala Kakek, dia masih punya rasa peduli terhadap anak-anaknya.


" Ayah mengalami gegar otak ringan dan luka-luka ringan di sekujur tubuhnya, karena jatuh ke jurang yang banyak pohon-pohon menjalar." Jawabku lagi.


" Tapi dia baik-baik saja kan?!" Kakek tadi terlihat terkejut dari raut wajahnya, saat aku bilang ayah jatuh dari jurang. Entah jurang yang seperti apa, yang terlintas dalam pikiran Kakek.


" Iya, Kek. Ayah tadi pagi sudah sadar, walaupun keadaannya masih baik-baik saja." Jawabku dengan tenang agar Kakek tidak panik.


    Kulihat Kakek hanya diam saja, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di pinggiran kursi yang didudukinya. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya lagi.


" Apa Kakek mau menjenguk Ayah?"


     Kakek tetap diam saja, tak menjawab pertanyaanku. Ku lihat jam sudah menunjukan tiga sore. Aku harus cepat-cepat pulang, karena jarak antara rumahku dan rumah Kakek lumayan jauh. Kalau melebihi dari jam empat bisa terlalu sore sampai ke rumah.


" Kakek sepertinya aku harus pulang sekarang. Takut kesorean di jalan." Kataku sambil berdiri dan pamit untuk pulang.


" Dimana, ayahmu dirawat?" Akhirnya Kakek memberikan respon juga setelah diam begitu agak lama.


" Di Rumah Sakit Anugrah, Kek." Jawabku dengan semangat.


" Baiklah Kakek akan kesana nanti." Balasnya sambil melihat ke arahku.


*****


     Ternyata Kakek menepati apa yang dikatakannya kemarin. Saat aku pulang sekolah dan datang menjenguk ayah. Kakek sudah ada disana dan sedang berbincang-bincang dengan Ibu dan Ayah.


" Kakek kesini sama siapa?" Tanyaku basa-basi, karena sudah pasti beliau datang sendiri saat kesini.

__ADS_1


" Kakek sendirian, kesini naik angkot tadi." Jawab Kakek sambil menepuk kursi di sampingnya meminta aku duduk disana. Aku pun menuruti keinginan Kakek.


" Raja terima kasih, sudah memberitahu Kakek. Tentang kondisi Ayah." Ayah berkata kepadaku sambil tersenyum bahagia. Aku pun membalasnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum juga.


    Aku mendengar Ayah dan Kakek asik bercerita. Maka aku pun mendatangi Ibu yang sedang merapikan barang-barangnya yang dibawa dari rumah tadi.


" Bu, sejak kapan Ayah dan Kakek jadi anteng begitu? Biasanya mereka berdua akan saling berteriak, nggak mau kalah." Tanyaku sambil membantu ibu membereskan barang-barangnya.


" Ayah sudah ibu menasehatinya sejak semalam, begitu kamu bilang kalau Kakek akan datang menjenguk kesini." Jawab Ibu sambil tersenyum geli, dan melihat ke arah Ayah dan Kakek berada.


" Kakek juga tumben, tidak memasang wajah sangarnya." Kataku sambil tersenyum geli. Aku dan Ibu sama-sama tertawa berdua.


    Kakek dan Ayah kini seperti orang tua dan anak pada umumnya. Orang tua yang menyayangi anaknya, dan seorang anak yang menghormati orang tuanya. Melihat itu aku senang rasanya, sampai-sampai aku ingin melompat-lompat meluapkan kebahagiaan ini.


    Karena di kehidupanku yang dulu, ayah meninggal terlebih dahulu dibanding Kakek. Aku tahu kalau Ayah itu sebenarnya sayang sama Kakek. Tapi tidak ditunjukkan secara langsung, sehingga orang-orang itu menyangka kalau Ayah tidak peduli kepada Kakek. Begitupun orang-orang menilai kalau Kakek itu orangnya keras kepala dan tidak peduli kepada anak-anaknya.


*****


" Pak RT selamat pagi!" Sapaku kepada tetangga sebelah rumahku, yang sedang menyiram tanaman sambil bernyanyi riang.


" Selamat pagi, Raja!" Pak RT membalikkan badannya menghadap ke arah ku, " Seperti biasa kamu rajin lari pagi sekarang."


" Iya, Pak. Lumayan enakan ke badan, rasanya lebih segar dan ringan." Kataku sambil tersenyum ramah.


" Eh, Kak Raja? Ana kira siapa?" Ana anak sulungnya Pak RT tiba-tiba muncul di belakang Bapaknya.


" Eh, iya. Apa kabar Ana?" Tanyaku basa-basi sambil tersenyum ke arahnya.


" Baik, Kak." Jawabnya singkat sambil tersenyum, kemudian menundukkan kepalanya.


" Ana ada apa?" Tanya Pak RT kepada putri sulungnya itu.


" Bapak dicariin sama Ibu." Jawabnya tapi matanya malah melihat ke arahku. Dalam hatiku merasa kalau Ana itu suka sama aku, karena dia sering curi-curi pandang dari jendela kamarnya, untuk melihat ke arah rumah ku.

__ADS_1


" Kalau begitu, aku permisi dulu Pak! Sudah siang, takut berangkat kesiangan nanti kesekolah." Kataku, kemudian aku pun masuk ke pintu pagar rumahku. Dan aku masih bisa melihat, kalau Ana masih memperhatikan aku, di tempat berdirinya sejak tadi.


*****


    Saat di sekolah pun, kini aku sudah bisa berinteraksi dengan teman laki-laki. Walau belum begitu dekat dengan teman-teman perempuan di kelasku.


" Raja, aku tidak mengerti pembahasan pelajaran Matematika yang kemarin di ajarkan oleh guru." Radit menggeserkan buku pelajaran Matematikanya ke arah ku.


" Eh, itu pelajaran Matematika hari kemarin, ya? Aku juga belum mengerti. Bisa aku ikut sekalian?" Nino yang duduk di meja depanku pun ikut nimbrung dan membalikkan badannya.


" Boleh, biar sekalian aku menjelaskannya." Kataku sambil mengambil selembar kertas kosong untuk dijadikan coretan nantinya. 


    Ternyata teman-teman lainnya yang nggak mengerti pembahasan kemarin ikut mengerubungiku saat aku menerangkannya kembali kepada Radit dan Nino. Sesekali dari mereka pun bertanya atau menimpali kalau masih tidak mengerti. Aku senang dengan kegiatan baruku ini, bisa berbicara dengan teman-teman ku. Mau tentang pelajaran sekolah ataupun pembicaraan lainnya.


" Raja nanti sepulang Sekolah kita akan bermain basket. Apa kamu mau ikut main bersama kami?" Tanya Nino saat kita makan di kantin sekolah. Tentu saja aku mau, dengan ajakan Nino barusan. Jadinya nanti pulang sekolah kami akan bermain basket bersama.


Tak menyangka, saat aku bermain basket di lapangan bersama teman-teman ku. Ternyata banyak siswa perempuan yang berteriak memberikan dukungannya kepadaku. Dan itu membuat aku senang, serasa aku sudah menjadi orang terkenal. Berbeda dengan kehidupanku yang dahulu, karena tidak punya teman.


*****


Jangan lupa klik like favorit, hadiah dan vote nya juga.


Dukung aku terus agar makin semangat, kasih jempol yang banyak. itu gratis ya teman-teman.


Mau kasih Bunga atau Kopi pun, aku juga sudah senang.


Terima kasih.


   


   


    

__ADS_1


__ADS_2