3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Aku, Paman Shogun, dan Kakek


__ADS_3

    Ayah dan Kakek punya hubungan yang buruk. Bukan hanya dengan Ayah saja, tetapi dengan Paman Shogun juga begitu. Sifat Kakek yang otoriter kepada semua keluarganya, yang menjadi mereka tidak suka kepadanya. Dan kedua anaknya melakukan pemberontakan setelah remaja. Semenjak itu hubungan mereka makin memburuk. Setiap bertemu pasti mereka akan berdebat berkepanjangan, sampai salah satunya merasa muak dan memilih pergi.


    Di kehidupan masa lalu, ada penyesalan di dalam diri mereka. Kakek yang sudah tua tidak memiliki tempat berbagi dengan keluarganya. Hanya dengan pembantu di rumahnya saja di bisa bercerita tentang kerinduannya kepada keluarganya. Sedangkan Ayah belum sempat meminta maaf kepada Kakek sebelum kematiannya yang mendadak. Dan Paman Shogun menikah tanpa dihadiri oleh Kakek. Karena Kakek meninggal satu hari sebelum pernikahan Paman Shogun. 


    Kini aku harus merancang bagaimana caranya merubah sifat Kakek yang keras kepala dan tidak suka dibantah. Aku datang ke rumah Kakek dengan membawa satu kresek buah alpukat. Karena aku tahu kalau Kakek itu suka dengan buah itu. Mau dimakan langsung atau diolah terlebih dahulu.


    Aku pergi siang hari kerumah Kakek dengan naik sepeda. Dan baru sampai setengah jam setelahnya karena aku mengayuh dengan sekuat tenaga. Jarak rumah Kakek lumayan jauh. Begitu sampai di depan rumah Kakek ternyata ada Paman Shogun juga, yang sedang berkunjung.


" Eh, Raja tumben kesini? Sama siapa?" Tanya Paman begitu melihatku sedang memarkirkan sepedaku dekat teras rumah.


" Sendirian saja Paman. Paman juga tumben, apa nggak pergi kerja?" Tanya ku balik sambil aku mencium tangannya dengan takzim.


" Paman ada perlu sama Kakek." Katanya sambil tersenyum malu-malu.


" Ah, pasti mau meminta restu sama Kakek. Karena ingin menikahi pacar Paman kan?" Kataku dan terlihat jelas ada rasa terkejut yang ditunjukan pada wajahnya.


" Kamu sok, tahu!" Kata Paman Shogun sambil masuk ke rumah Kakek, dan diikuti oleh aku sambil menjinjing kresek berisi Alpukat.


    Aku dan Paman mencari Kakek di dalam rumah ternyata tidak ada. Begitu juga di halaman samping dan belakang, tidak bisa ditemukan. Aku pun mengitari seluruh area rumah baik lantai satu atau lantai dua rumah Kakek. Tapi tetap saja Kakek tidak bisa ditemukan.


" Mungkin Kakek sedang pergi ke ladang." Kataku sambil duduk di kursi, karena kakiku sakit setelah lelah mengayuh sepeda yang jaraknya lumayan jauh, kini harus mengitari seluruh ruangan di rumah Kakek.


" Kita tunggu saja, kalau begitu." Ternyata Paman juga ikutan duduk di samping aku.

__ADS_1


" Oh, iya Paman. Kemarin malam Ayah mengalami kecelakaan saat pergi tugas ke desa di pinggir kota. Ayah jatuh ke jurang." Kata ku, sambil melihat ke arah Paman yang wajahnya langsung pucat saat mendengar kabar dariku.


" Tapi, Ayahmu tidak apa-apakan?" Tanyanya dengan mencengkram kedua lengan ku.


" Ya, untungnya Ayah dan temannya cepat-cepat mendapat pertolongan dan langsung dirawat secara intensif kemarin." Kataku sambil berusaha melepaskan lengan ku dari cengkraman tangan Paman Shogun.


" Ayah hanya gegar otak ringan, dan sekarang masih dirawat di Rumah Sakit." Lanjut ku lagi setelah berhasil melepaskan diri dari cengkraman Paman.


" Kalau gitu nanti kita ke Rumah Sakit bersama?" Ajak Paman Shogun kepadaku.


" Aku mau bertemu sama Kakek terlebih dahulu. Dan memberitahu kabar ini padanya." Kataku memberitahu tujuanku datang kesini.


    Aku dan Paman Shogun duduk berdua sambil berbicara hal-hal sepele. Aku juga menceritakan cita-cita ku di masa depan. Tak terasa hampir satu jam, aku berbicara dengan Paman. Tapi Kakek yang kami tunggu belum juga kelihatan batang hidungnya.


" Apa kita pulang saja dan langsung pergi ke Rumah Sakit!" Ajak Paman kepadaku, dan aku jawab dengan gelengan kepala.


    Terdengar suara batuk seseorang di depan rumah. Maka aku pun berjalan untuk melihat ada siapa di depan rumah. Ternyata itu Kakek yang baru pulang entah dari mana. Karena dia pergi dengan menaiki sepeda kumbang kesayangannya yang sudah tua itu.


" Kakek! Kemana saja?" Tanyaku saat kulihat Kakek sedang memasukan sepedanya ke dalam garasi.


" Kakek baru pulang dari rumah Kepala Desa." Jawab Kakek sambil masuk kedalam rumah dan meninggalkan aku sendirian di teras rumah.


" Aish…. Kakek ini, nggak ajak-ajak aku masuk ke rumah. Padahal aku sudah datang menyambutnya." Gerutu aku karena ketidak pedulian Kakek.

__ADS_1


    Saat aku masuk ke dalam ruang keluarga, Paman dan Kakek sedang berbicara serius. Maka aku pun duduk diam menyimak obrolan mereka berdua. Ternyata Paman memberitahu kepada Kakek kalau dia ingin melamar kekasihnya. Dan rencananya mereka akan menikah tahun depan. Tetapi Kakek tidak setuju, karena itu terlalu lama. Kakek ingin Paman secepatnya saja kalau mau menikah. Tapi Paman tidak ingin memaksa kekasihnya itu.


    Kakek marah kepada Paman karena kukuh pada pendiriannya, kalau dirinya akan menikah tahun depan bukan tahun sekarang. Kakek ingin Paman melakukan seperti apa yang dia mau. Sedangkan Paman memikirkan keadaan dan keinginan orang disekitarnya. Karena aku muak dengan teriak-teriakan mereka ketika berbicara, maka aku pun memutuskan jadi penengah mereka berdua.


" Paman, maksud Kakek waktu pernikahannya supaya dipercepat, karena Kakek sudah tua. Kita tidak tahu umur seseorang. Kakek hanya ingin ikut merasakan kebahagian yang Paman rasakan." Kataku kepada Paman, dan dia hanya diam saja mendengar perkataanku. Sedangkan Kakek mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan apa yang aku ucapkan.


" Kakek, jangan selalu menyalahkan orang lain, karena tidak sesuai dengan keinginan Kakek. Paman juga berbuat seperti itu, karena sudah memikirkannya baik-baik. Aku juga yakin pasti mereka sudah membuat rencana itu dengan dipikirkan secara masak-masak oleh Paman dan kekasihnya." Kataku memberitahu maksud Paman Shogun. Dan Paman Shogun pun membenarkan apa yang aku ucapkan.


" Kalau aku diizinkan berbicara dan memberikan ide. Aku akan meminta Kakek untuk melamar kekasih Paman secara resmi dengan datang langsung menemui orang tua calon mempelai wanitanya." Saran aku kepada mereka berdua.


" Kita tinggal bicarakan lagi bersama-sama dengan keluarga kekasih Paman. Kapan dan dimana pernikahan itu akan dilaksanakan?" Lanjut ku lagi. Kini kulihat kedua orang itu terdiam sedang memikirkan apa yang aku ucapkan barusan.


" Iya, Kakek setuju dengan apa yang Raja katakan. Bilang pada keluarga kekasihmu, kalau keluarga kita akan melakukan lamaran kepada anak perempuan mereka." Kata Kakekku akhirnya luluh juga, setelah perdebatannya dengan Paman Shogun.


Aku pun senang, karena Kakek mau mendengarkan ucapanku. Dikehidupan dahulu Kakek tidak bisa menyaksikan pernikahan Paman, dan itu membuat keluarga besar kami bersedih di hari bersejarah dalam hidup Paman Shogun.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


BUNGA ATAU KOPI JUGA BOLEH ITU MEMBUAT AKU MAKIN SEMANGAT LAGI.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2