3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Khawatir dengan keadaan Ratu


__ADS_3

     Aku punya tugas baru sekarang yaitu mengantar jemput Ratu ke sekolahnya. Setiap pagi aku akan memboncengnya memakai sepedaku, mau tidak mau dia menurutinya. Ayah dan ibu juga setuju setelah aku beri sedikit pengertian. Apalagi aku punya waktu lenggang, karena jadwal kuliahku dimulai jam delapan pagi.


     Aku selalu mengantarnya sampai pintu gerbang. Petugas sekolah pun sudah tahu kalau Ratu adalah adikku, maka aku pun memintanya untuk menjaga Ratu. Kalau ada apa-apa yang terjadi sesuatu pada Ratu, aku meminta dia untuk membantunya. Bukan hanya kepada penjaga sekolah, tetapi para guru yang sudah kenal dekat denganku pun aku minta kepada mereka untuk menjaga Ratu selama dia di lingkungan sekolah. Mereka senang, karena setelah aku lulus sekolah dari sana, ada generasi pengganti ku, yaitu Ratu. 


      Walau pihak sekolah menyayangkan keputusan ku menolak beasiswa prestasi di universitas terkenal di luar negeri. Aku beri alasan kalau universitas dalam negeri juga nggak kalah bagus dengan universitas luar negeri. Akhirnya mereka pun mengerti.


    Aku menjadi dikenal sebagai Kakak yang overprotektif terhadap adik-adiknya. Selain kepada Ratu, aku juga begitu menjaga dan memanjakan Sultan. Aku tidak merasa terganggu dengan gelar sebutan itu. Biarlah mereka bicara apapun semau mereka, yang penting aku bisa melindungi kedua adik-adikku.


"Ratu, ingat kalau ada apa-apa, bilang sama guru atau penjaga sekolah!" kataku hampir setiap hari ketika aku mengantarkannya sampai ke gerbang sekolah.


"Iya, Kakak. Ratu tahu, terima kasih sudah mencemaskan ku," balas Ratu dengan nada malasnya, mungkin karena bosan aku selalu mengucapkan kata-kata itu terus.


"Cari teman yang benar, selalu menjaga kamu agar selalu berbuat baik. Jangan berteman dengan orang yang memberikan pengaruh buruk kepadamu," kataku lagi, entah yang ke berapa kalinya aku bicara seperti ini kepada Ratu.


"Iya, Kakak. Teman-teman Ratu orangnya baik semua kok. Mereka juga sangat pintar," balas Ratu.


     Setelah selesai mengantarkan Ratu ke sekolahnya, aku pergi ke rumah Rania. Aku selalu berangkat bersamanya. Untungnya jadwal kuliah kita sama, jadi kita berdua selalu bisa pulang dan pergi. Aku selalu menikmati momen-momen bersama dengan Rania, baik saat pulang dan pergi ke kampus dengan berboncengan naik sepeda kebanggaanku. Atau saat makan bersama di kantin kampus. Bahkan pergi ke perpustakaan saat mengerjakan tugas dari dosen.


"Rania, apa kamu sudah siap?!" kataku di depan pintu rumahnya seperti yang tiap hari aku lakukan.


"Sudah, tunggu sebentar!" teriak Rania dari dalam rumahnya.


    Saat pintu rumahnya terbuka, aku melihat Rania sangat cantik, karena rambut panjangnya dikepang sisi kanan dan kirinya, agar tatanan rambutnya tidak berubah walau terkena angin saat dibonceng olehku. Sebab setiap turun dari sepeda, dia harus merapikan rambutnya kembali yang acak-acakan karena tertiup angin. Padahal aku suka, karena dengan begitu aku bisa merapikan rambutnya menggunakan jemari tanganku.


"Ayo, kita berangkat!" ajakku sambil mengulurkan tangan kepadanya.


"Ayo," Rania pun menyambut uluran tanganku dengan senang hati.

__ADS_1


   Kami sering bergandengan tangan saat kita jalan berdua. Bila ada Ratu, dia yang akan memonopoli Rania. Aku sebagai kakaknya hanya bisa mengalah.


*****


Tiga bulan kemudian …


      Seperti biasa aku mengantarkan Ratu ke sekolah, tapi ada yang aneh dengan Ratu hari ini. Biasanya dalam perjalanan kami ke sekolah dia akan banyak bicara hal-hal yang menurutnya menyenangkan. Namun kali ini dia berbeda, dia diam sepanjang perjalanan kami ke sekolahnya. Aku menjadi khawatir, kalau-kalau dia menjadi bahan bully-an temannya atau kakak kelasnya yang iri kepada dia. Aku tahu Ratu orangnya perasa dan tidak tegaan kepada orang lain.


    Saat kami sudah sampai di depan gerbang, Ratu turun dari boncengan dengan kepala tertunduk. Aku benar-benar khawatir, takut terjadi sesuatu kepada dia. Seandainya hari ini aku tidak ada ujian tengah semester, mungkin akan duduk di sini menunggunya sampai pulang.


"Ratu … " aku memanggil namanya, dan dia pun membalikkan badannya menghadap ke arahku.


"Ya, ada apa?" tanyanya dengan nada suara yang lirih.


"Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanyaku sambil melihat gerak tubuhnya yang menjadi kikuk.


"Kalau ada apa-apa bilang sama guru atau ke penjaga sekolah. Biar nanti mereka bilang sama kakak, kalau ada apa-apa sama kamu!" kataku mengingatkan dia, agar tidak diam saja saat terjadi sesuatu padanya.


"Iya, Kak," jawabnya masih dengan nada lirih.


*****


     Aku rasanya ingin waktu cepat-cepat berlalu, agar bisa secepatnya datang ke sekolah Ratu. Selama menjalani ujian ini aku merasa tidak tenang. Pikiranku terus tertuju kepada Ratu. Jujur aku takut kalau hal yang terjadi kepada Ratu dahulu, terjadi lagi di kehidupanku yang sekarang.


   Begitu bel berbunyi aku cepat-cepat keluar ruangan dan pamit kepada dosen dan teman-temanku duluan. Aku juga menitip pesan untuk Rania kalau aku pulang duluan, mau ke sekolahan Ratu. 


     Dengan kecepatan penuh, aku mengayuh sepedaku menuju ke sekolahan Ratu. Hampir dua puluh menit aku mengayuh sepeda dengan kecepatan maksimal. Sampai aku di sekolahan Ratu ternyata sedang waktu istirahat kedua.

__ADS_1


   Aku meminta izin kepada petugas sekolah dan guru di sana untuk bisa masuk ke dalam sekolah. Untungnya aku di beri izin, karena merupakan alumni terbaik dari sekolah itu.


    Aku pun berjalan menelusuri jalan menuju ke tempat-tempat biasa murid melakukan hal melanggar aturan. Area belakang laboratorium dan perpustakaan, adalah tempat yang paling jadi favorit murid-murid nakal beraksi. Maka aku pun berjalan ke arah sana.


   Aku lihat ada sekelompok murid laki-laki sedang memalak seorang temannya. Aku pun berjalan ke arah mereka. Kemudian pura-pura bertanya kepada mereka, aku ingin tahu siapa korban pemerasan.


"Hai, kalian lagi ngapain di sini?!" tanyaku dengan suara yang tegas, untuk membuktikan tidak suka dengan apa yang sedang mereka lakukan itu. Ketika empat orang itu membalikkan tubuh mereka, baik aku maupun mereka sama-sama terkejut.


"Kak Raja, lagi ngapain disini?" tanya salah seorang di antara mereka yang aku kenal dengan baik.


"Justru kamu dan teman-temanmu itu yang lagi ngapain di sini!" Kataku sambil menatapnya tajam.


"Kita hanya sedang memberinya pelajaran agar jangan melakukan pelecehan terhadap murid perempuan," katanya dengan suaranya baritonnya.


" Benar, Kak. Sudah banyak murid perempuan yang pernah mendapatkan perlakuannya yang telah melecehkan mereka," kata murid yang lainnya.


"Kenapa kalian tidak laporkan saja masalah ini kepada pihak sekolah?" tanyaku lagi, ada rasa cemas jangan-jangan Ratu juga merupakan salah satu korbannya.


"Karena dia itu putra ketua dewan sekolah ini," jawab Murid yang lainnya.


Aku terdiam sesaat ...


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2