3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
# Rania dan Kaisar


__ADS_3

     Aku dan Rania sedang duduk berdua di depan teras rumah sambil memperhatikan Kaisar yang sedang bermain. Dia begitu asik dengan sepeda barunya. Hari ini adalah ulang tahun Kaisar yang kelima, dia minta sepeda roda tiga sebagai hadiah ulang tahun.


"Kaisar, mainnya di sebelah sini jangan sampai ke pinggir jalan raya!" teriak aku mengingatkannya agar menjauh dari jalan karena takut ada kendaraan yang melintas di sana.


"Baik Ayah, Kaisar akan bermain di area halaman rumah saja!" jawab Kaisar sambil menuntun sepedanya kembali ke halaman rumah.


     Kulihat Kaisar yang sedang belajar mengayuh sepeda dengan bantuan dua roda kecil di bagian belakangnya. Sekali-kali dia menghentikan laju sepedanya karena kurang kuatnya dorongan kaki saat mengayuh. Aku inisiatif kembali mengajarkan Kaisar cara mengayuh sepeda yang benar.


"Begini caranya … " aku menekan kaki sebelah kanannya pada pedal sepedanya sehingga dia dapat menjalankan sepedanya, lalu aku menekan kakinya yang sebelah kiri agar sepeda dapat melaju kembali. Terus aku menggunakan kaki Kaisar, mengayuh secara bergantian di pedal sepedanya sehingga Kaisar memahami bagaimana caranya agar sepedanya dapat melaju dengan kencang.


      Setelah aku mengajarkan kembali, kini Kaisar bisa mengayuh sepedanya sendiri. Dengan semangat dia menekan kakinya secara bergantian di pedal sepeda. Aku hanya tersenyum memperhatikan dia, sambil duduk di teras bersama Rania.


"Aku senang Kaisar menjadi anak yang cerdas, dan mudah mempelajari segala sesuatu," kata Rania sambil memperhatikan Kaisar yang dengan riang gembira melajukan sepeda roda tiganya.


"Ya, Kaisar adalah anak yang cerdas seperti aku," kata aku sambil tertawa kencang saat melihat wajah Rania yang cemberut.


"Kamu itu suka memuji diri sendiri!" kata Rania kesal akan kenarsisan diriku.


*******


      Hari ini aku akan pergi tugas ke daerah pesisir pantai, yang jaraknya lumayan jauh sekitar 120 Km, dari kota tempatku tinggal sekarang. Kami para dokter digilir selama sebulan sekali pergi kesana. Kami akan tinggal disana sekitar tiga sampai lima hari. Tergantung banyak tidaknya warga yang membutuhkan pengobatan.


"Rania, aku pergi dulu. Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa cepat telepon ke rumah ayah atau ibu, ya!" pintaku sambil memeluk Rania.


"Sayang, kamu juga hati-hati. Kabarin aku kalau sudah sampai di sana!" kata Rania sambil menguraikan pelukan kami.


"Kaisar juga, jaga Bunda sama adek bayi, ya!" kataku kepada Kaisar yang kini dalam gendongan ku.


"Iya, Ayah juga hati-hati dan cepat pulang!" Kaisar mencium pipi kanan dan kiri milikku, dan aku pun membalasnya.


     Hari itu aku tidak punya pikiran atau perasaan akan terjadi sesuatu yang buruk terhadap keluargaku. Kami berpisah secara biasa sebagaimana mestinya.

__ADS_1


*******


     Baru dua hari aku berada di daerah pesisir pantai. Kebetulan sekarang lagi musim penyakit batuk dan pilek. Banyak warga yang terserang penyakit ini.


"Pak Dokter, istirahat dulu!" kata salah seorang perawat di sana.


"Ya, sebentar. Tanggung pasien tinggal sedikit lagi," balas aku sambil tersenyum kepadanya.


"Pasien berikutnya ...!" panggil perawat tadi kepada para pasien yang sedang duduk antri.


"Halo selamat siang, siapa yang sakit?" tanyaku kepada seorang ibu dan anak laki-laki kecil yang memiliki tubuh sebesar Kaisar.


    Saat melihat anak kecil laki-laki sebesar Kaisar, aku jadi merindukannya. Padahal kami semalam masih telponan. Begitu juga dengan Rania, aku sangat merindukannya.


"Ibu …?!" anak kecil itu malah menyembunyikan wajah di dada ibu yang menggendongnya itu.


"Sakit apa, adik kecil yang manis?!" tanya aku dengan menggunakan gaya bahasa anak-anak.


"Oh, sini coba Kakak periksa. Apa kuman penyakitnya masih ada?!" kataku sambil memegang tangan si adik kecil. Aku periksa seksama kondisi detak jantungnya dan bagian perutnya.


"Adik minum obat ya! Biar kuman penyakitnya pergi!" kataku kepada si adik kecil yang kini memandangiku dengan diam. 


"Ibu, ini obat penurun panas, ini obat untuk batuk-nya, dan yang ini obat pilek-nya," kataku kepada si ibu agar tidak salah dalam memberi minum obat.


"Terima kasih, Dokter!" kata si ibu sambil tersenyum ramah kepadaku, dan aku pun membalasnya.


"Semoga lekas sembuh."


     Setelah selesai memeriksa semua pasien hari itu, aku baru bisa makan dan beristirahat. Baru saja aku membaringkan tubuhku yang kelelahan karena menangani banyak pasien. Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar dinas tempat aku menginap.


     Meski tubuhku rasanya masih ingin berbaring di tempat tidur. Aku memaksa tubuh ini untuk bangun dan membuka pintu kamar. Saat aku membuka pintu kamarku, ada seorang pekerja dari bagian administrasi yang kini sedang berdiri dengan wajahnya yang pucat.

__ADS_1


"Pak Dokter … ada telpon dari rumah orang tua Pak Dokter. Katanya istri dan anak Pak Dokter kecelakaan!" lelaki paruh baya itu berbicara dengan napas yang terputus-putus.


*****


     Setelah mendengar berita tentang kecelakaan yang menimpa anak dan istriku, dari petugas di sana. Aku kembali lagi ke kota, untuk mengetahui kabar tentang keluargaku.


     Sebelum pulang, aku minta salah satu rekan dokter untuk menggantikan posisiku, yang akan membantu pengobatan para pasien di sana. Lagian tugasku tinggal satu hari, jadi dia memajukan jadwal keberangkatannya.


     Aku berlari di lorong rumah sakit tempat anak dan istriku di rawat. Aku lihat ada ayah dan ibuku, serta kedua mertuaku. Mereka semua menangis, apalagi ibu begitu histeris tangisannya. Aku pun berlari makin kencang dan mendekati mereka.


"Ayah … Ibu!" teriak ku memanggil kedua orang tua aku yang berdiri di depan ruang operasi.


"Raja!" panggil ibu dengan berlinang air mata dan matanya yang mulai membengkak, tanda beliau menangis sudah terlalu lama.


"Iya Ibu, ada apa? Mereka baik-baik saja 'kan?" tanyaku dengan jantung berdebar kencang, takut mendengar apa yang akan mereka katakan padaku.


"Kami tidak tahu sudah sejak tadi mereka berada di dalam," kata ibu memberitahu di sela-sela isak tangisnya.


"Maaf, Raja. Kami tidak bisa menjaga mereka," kata ayah dengan matanya yang berkaca-kaca, karena menahan tangisnya atau karena sudah menangis sejak tadi.


"Bagaimana ini semua bisa terjadi?" tanyaku kepada ayah.


"Secara pasti kejadiannya ayah tidak tahu. Hanya saja ada beberapa orang tetangga yang berada di tempat kejadian yang menjadi saksinya," kata ayah sambil menerawang jauh seperti mengingat-ingat cerita dari saksi mata di sana.


"Mereka mengalami kecelakaan saat Kaisar bermain sepeda di jalan komplek perumahan kalian, dan ada sebuah mobil melaju sangat kencang dan menabrak Kaisar dan Rania yang saat itu berusaha untuk menarik Kaisar dan sepedanya. Namun naas, mobil itu tidak bisa mengerem kendaraannya." lanjut ayah lagi.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2