
Aku merasa tidak pernah mengalami jatuh dari tangga. Apalagi lupa ingatan. Ada yang aneh dengan mereka. Kenapa mereka bisa jadi begini? Apa bukan mereka saja yang aneh di kehidupan ini? Aku harus cari tahu dulu keadaan orang-orang di kehidupan ketigaku ini.
Aku jadi diam saat sarapan, dan mengamati mereka. Sungguh aku lebih suka dengan keluarga di kehidupan kedua, yang semuanya sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Di kehidupanku saat ini, kenapa orang-orangnya berbanding terbalik dengan sifat dan tingkah laku di kehidupan pertama aku. Aku harus memasukan point' ini dalam catatan agenda milikku.
"Ayah, Ibu, Raja pergi dulu!" seru aku saat hendak melangkahkan kaki keluar pintu depan rumah.
"Iya, hati-hati di jalan! Jangan pergi main dulu nanti! Pulang sekolah langsung ke rumah!" terdengar teriakan ibu ruang keluarga yang sedang menonton tv acara memasak.
Lagi-lagi aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. Ibu tidak pernah menonton tv di pagi hari. Dia akan mengerjakan semua pekerjaan rumah dahulu, setelah selesai, baru beliau menonton tv sambil menghilangkan rasa lelahnya.
*****
Aku sudah sampai ke depan gerbang sekolah. Sudah banyak murid-murid yang datang ke sekolah dan mereka membentuk beberapa kelompok bersama teman-temannya. Aku pun memarkirkan sepeda milikku berjajar dengan sepeda milik teman yang lainnya.
"Hai, Raja!"
Ada seseorang yang menepuk bahuku dengan sangat kuat. Aku sungguh merasa sangat kesal dengan apa yang diperbuat oleh orang yang kini tersenyum lebar seperti orang bodoh.
"Nino?!"
Temanku, sang ketua tim basket itu kini tertawa terbahak-bahak. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tertawa seperti itu. Aku pun pergi meninggalkan dia di halaman sekolah. Lebih baik aku diam dulu saja sambil mengamati keadaan sekitarku.
"Woy, Raja! Ada apa denganmu," teriakan dari Nino, aku biarkan saja tanpa ada keinginan menjawabnya.
Di dalam kelas aku melihat Radit sedang dikerumuni sama murid yang lainnya. Membuatku semakin penasaran, ada apa disana. Begitu aku sampai di bangku Radit, semua wajah murid itu sangat terkejut saat melihat aku. Mulut mereka sampai terlihat menganga seperti itu. Kemudian mereka semuanya langsung membubarkan diri.
"Ada apa dengan mereka?" tanya ku pada Radit.
"Justru, yang ada apa itu bukan mereka, tapi kamu. Ada apa dengan kamu? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya aku sambil duduk dikursi yang sama mejanya dengan Radit.
__ADS_1
"Apa kamu sudah mengerjakan tugas Matematika yang di kemarin ditugaskan untukmu?" tanya Radit dengan mata menatapku dengan curiga.
Aku pun membuka tas dan mencari buku tugas yang dimaksud oleh Radit. Ternyata aku belum mengerjakan tugas punyaku. Dengan cepat aku jawab soal-soal di buku milikku.
"Raja, kamu bisa mengerjakan semua soal itu?!" Radit melongo wajahnya saat melihat aku sedang mengerjakan tugas Matematika.
Aku melihat ke arah Radit, dan terlihat sangat jelas keterkejutan di wajahnya yang mengatakan mulutnya. Soal-soal seperti ini sangat mudah bagiku.
"Iya, aku bisa mengerjakan semua soalnya," kataku sambil menutupkan buku tugas Matematika milik aku.
"Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Radit sambil menyentuh keningku.
"Apa ada yang aneh dengan aku?" Aku balik bertanya kepada Radit.
"Ya. Pertama, kenapa kamu pakai seragam sekolah begitu rapi, rambutmu juga disisir rapih. Kamu juga bisa mengerjakan tugas Matematika yang sulit ini, seperti mengerjakan pertanyaan soal anak SD. Sebenarnya kamu kenapa bisa berubah seperti ini?" tanya Radit sambil mengguncangkan tubuhku.
"Apa aku murid yang bodoh?" tanyaku balik, bukan menjawab rasa penasaran Radit.
"Ya, bisa dikatakan kamu ini murid yang rangkingnya lebih cepat dihitung dari belakang,"
Aku mengeluarkan buku catatan agenda milikku. Aku menuliskan kira-kira point' penting apa yang terjadi di kehidupan ketigaku ini. Tugas aku di kehidupan ketiga ini makin terasa berat dan sulit, karena semuanya jadi mengalami perubahan yang banyak, dan itu sebagian besar terjadi pada orang penting dalam kehidupanku, di dua kehidupan itu.
"Radit apa kamu tahu aku kemarin jatuh dari tangga dan ada beberapa ingatan yang menjadi samar. Bisakah kamu membantuku!"
"Apa itu? Katakan saja."
"Tapi ini rahasia kita berdua. Jangan sampai ada orang lain yang tahu."
Kulihat Radit menganggukan kepalanya beberapa kali. Aku pun tersenyum senang melihatnya, karena Radit masih teman bangku yang loyal terhadapku.
"Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Seperti apa diriku di matamu dan teman-teman yang lainnya?"
"Kamu anak badung yang sering berbuat onar bersama Nino dan anak geng lainnya."
"Anak geng?"
"Jangan bilang kalau kamu lupa dengan teman-teman geng kamu itu?!"
Aku sungguh terkejut dengan apa yang aku dengar barusan. Aku ternyata anak geng di sekolahan. Tak pernah terpikirkan hal itu dalam hidupku selama ini. Masih mending di kehidupan kedua aku, yang tergabung di klub anak basket. Ini anak geng?
"Ya, sepertinya aku lupa. Aku kira aku bergabung dengan klub anak basket!"
"Mana ada, kamu ikutan klub, yang ada kamu selalu berbuat rusuh saat ada pertandingan dengan anak sekolah lain,"
Aku menatap Radit tak percaya akan diriku yang seperti itu. Aku biang kerusuhan di sekolah?!
Ternyata aku bukan lagi murid teladan kebanggaan kedua orang tuaku dan guru-guruku. Serta murid yang selalu di kagumi dan jadi panutan bagi siswa lainnya.
*****
Saat istirahat aku pergi ke ruang perpustakaan. Tempat favorit aku baik di kehidupanku yang pertama atau di kehidupanku yang kedua.
Aku mencatat tiga kehidupanku di buku catatan itu. Aku kembali menulis catatan kejadian di kehidupan pertamaku. Di bagian depan buku catatan itu. Semua aku tulis secara berurutan sesuai yang terjadi saat itu. Tanggal, bulan, tahun, dan jamnya bila aku ingat. Bila tidak hanya menunjukan waktu pagi, siang, sore, malam hari, atau dini hari.
Kemudian aku kembali mencatat kejadian yang aku alami di kehidupan keduaku. Aku mencatatnya di bagian tengah buku, agar tidak tercampur ceritanya. Aku masih teringat jelas dengan kehidupan keduaku. Aku mencatatnya dengan sangat detail, karena itu terasa baru kemarin aku menjalaninya.
Terakhir, aku menulis catatan untuk kehidupan ketigaku, di bagian sepertiga buku bagian belakang. Catatan tentang beberapa kejadian yang jauh dari bayangan diriku. Tak ada banyak kesamaan di kehidupan ketiga aku ini dengan dua kehidupan sebelumnya yang hampir sama semua kejadian itu. Sehingga aku punya gambaran dan mencari solusi untuk mencegah kejadian itu. Sedangkan sekarang aku tidak punya gambaran sama sekali.
*****
__ADS_1
JANGAN LUPA BACA JUGA KARYA AKU YANG LAINNYA.