3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Keluarga Pak RT


__ADS_3

    Aku membuka buku catatan milikku, tentang kejadian terjadi di kehidupan sebelumnya. Kejadian yang ingin aku ubah, di kehidupan ini. Kulihat dalam buku catatan ku, Pak RT mengalami kecelakaan saat pulang menjenguk mertuanya yang sakit. Saat pulang dari sana, terjadi kecelakaan beruntun. Bus yang mereka tumpangi terguling dan hampir semua penumpangnya meninggal. Kecelakaan itu terjadi seminggu sebelum aku mengurus surat-surat untuk membuat paspor.


   Aku ingat betul kapan aku pergi seorang diri, dalam mengurus segalanya seorang diri. Saat itu aku tidak punya orang yang bisa dimintai tolong. Minta surat keterangan RT tidak ada karena, Pak RT baru saja meninggal saat itu. Untungnya Ana tahu di mana letak disimpannya surat-surat segala formulir dan cap RT.


    Kali ini aku harus menyelamatkan Pak RT dan istrinya, karena dengan itu kehidupan Ana dan Ani pun akan terselamatkan dari kejahatan Pamannya. Ana dan Ani dijual ke mucikari oleh pamannya saat mereka remaja.


   Aku yang berprofesi sebagai dokter di kehidupan yang dulu, bertemu Ana yang sedang sakit. Kemudian dia menceritakan kehidupannya setelah kedua orangtuanya meninggal. Kedua kakak beradik itu dipaksa bekerja banting tulang untuk mencari uang. Kehidupannya yang sudah terbiasa dengan berkecukupan, membuat mereka kesusahan dalam bekerja berat.


   Keluarga Pak RT terkenal baik dan ramah di lingkungan sini. Mereka suka menolong orang-orang tanpa pandang bulu. Pak RT juga selalu terjun langsung saat ada warganya sedang mengalami kesulitan. Saat ayah meninggal, Pak RT lah orang yang mengurus segalanya, karena saat itu ibu sering tak sadarkan diri.


*****


   Pagi hari ini aku berlari keliling komplek seperti biasa. Saat kulihat Pak RT juga siap-siap mau berlari pagi. Maka aku pun cepat-cepat mendekat ke arahnya.


"Selamat pagi Pak RT!" sapaku kepadanya setelah tiga hari tidak bertemu.


"Eh Raja, selamat pagi!" balasnya padaku sambil tersenyum lebar.


"Sudah sembuh, Pak? Kata Ana beberapa hari yang lalu, Bapak sakit. Maaf aku belum bisa menjenguk, karena sibuk mengurus persiapan untuk kuliah," kataku sambil berjalan di sampingnya.


"Bu Dokter dan Pak Dokter sudah datang menjenguk, bawa banyak makanan enak lagi," tawanya terkekeh saat membicarakan kedatangan kedua orang tuaku ke rumahnya.


    Aku menceritakan kepada ayah dan ibu, kalau pak RT sedang sakit, dan meminta mereka untuk segera menjenguknya. Kebetulan ada beberapa kue kiriman dari nenek Sari yang begitu banyak, dan rasanya sangat enak.


   Meski ibu bukan seorang dokter, tapi semua tetangga memanggilnya Bu Dokter. Meski dulunya ibu adalah seorang guru, tapi setelah kejadian Ratu pernah diculik saat balita. Ayah meminta ibu fokus untuk mengurus dan menjaga aku dan Ratu saja saat itu.


"Pak RT aslinya dari mana?" tanyaku pura-pura tidak tahu tentang asal-usul dirinya.


"Bapak asli orang sini, kalau istri Bapak aslinya orang Gunung Hujan," jawab Pak RT sambil tersenyum melihat kearahku.


"Wah, kalau Gunung Hujan itu terkenal dengan kolam air panasnya! Raja penasaran ingin sekali kesana!" kataku sengaja memberitahu kalau aku ingin sekali kesana.

__ADS_1


"Iya di dekat rumah mertua, juga ada kolam air panas tempat berendam. Sungai-sungai di sana airnya juga panas," kata Pak RT memberitahu.


" Kalau begitu ajak-ajak ya, bila Bapak mau berkunjung ke sana. Nanti Raja bawa mobil ayah, kesannya," tawarku kepada Pak RT. 


   Gunung Hujan itu hanya sebuah nama saja, karena pada kenyataannya disana bukan selalu diguyur hujan. Justru keadaan disana adem, udaranya segar dan banyak kolam air panas tempat berendam. Aku lebih memilih untuk berendam di sungai yang airnya mengalir dari atas gunung menuju ke kaki gunung. Dengan pemandangan alam yang indah menambah betah lama-lama disana. Hanya saja perjalanan kesana medannya agak sulit, karena sering longsor. Struktur tanah yang tidak begitu padat, sering membuatnya terjadi longsor saat hujan.


"Beneran nih, mau ikut kalau Bapak pergi berkunjung ke Gunung Hujan?" tanya Pak RT sambil tersenyum menggoda.


"Beneran Pak, nanti kalau Bapak pergi kesana ajak Raja, ya!" Aku mengangkat kedua jari tanganku.


*****


    Keesokan harinya, saat aku bermain bola dengan Sultan di halaman rumah, aku melihat Ana berlari keluar dari rumahnya dengan tergesa-gesa.


"Ana, mau kemana?" tanyaku saat kami berpapasan.


"Mau ke toko dulu, nemuin Bapak sama ibu. Barusan ada telepon dari Paman, katanya nenek sakit dan ingin bertemu dengan ibu!" Wajah Ana terlihat begitu cemas.


"Mau saya antar biar cepat?" tawarku kepada Ana, karena kulihat dia akan berjalan kaki ke tokonya, padahal jaraknya lumayan ada satu kilo.


"Apa tidak merepotkan?" tanyanya dengan malu-malu.


"Tidak kok, biar cepat sampai!" jawabku sambil mengambil sepeda yang ada di dekat garasi mobil.


    Akhirnya kita berdua berboncengan, pergi ke tokonya, Pak RT. Tubuh yang dimiliki Ana yang kurus, jadi terasa ringan bagiku saat membonceng dia. Sehingga kita berdua cepat sampai ke toko.


   Kulihat Ana sedang berbicara dengan ibunya, dan bu RT terlihat dengan jelas wajahnya yang tiba-tiba berubah menjadi panik. Sepertinya kabar yang dibawa oleh Ana, kurang begitu baik.


   Bu RT pun berbicara dengan Pak RT, sehingga keduanya pun bergegas keluar dari toko itu. Aku hanya bisa menyaksikan mereka dari depan toko.


"Eh, Nak Raja! Kok tumben kesini? Ada perlu apa?" tanya Bu RT begitu melihatku sedang berdiri di depan tokonya, sambil menuntun sepeda.

__ADS_1


"Kak Raja yang mengantar Ana kesini, Bu," balas Ana sambil melihat ke arah ibunya.


"Oh, terima kasih, sudah mau mengantarkan Ana kesini. Maaf sudah merepotkan," kata Bu RT sambil tersenyum kepadaku.


"Ngak apa-apa, kok Bu! Aku lagi nyantai nggak ada kerjaan," jawabku sambil tersenyum.


"Sekarang kalian mau kemana?" tanya Pak RT yang tiba-tiba datang, dengan membawa motornya yang sudah tua itu.


"Mau langsung pulang ke rumah," jawabku dan Ana bersamaan.


"Oh, ya Raja, katanya mau ikut kalau Bapak mau ke Gunung Hujan. Sekarang Bapak mau berkunjung ke rumah mertua disana!" ajak Pak RT.


" Memangnya boleh, kalau Raja ikut?" tanyaku kepada mereka.


"Tentu saja boleh!" jawab Bu RT dan Pak RT bersamaan.


"Baiklah kalau begitu, Raja akan bawa mobil ayah. Kita berangkat bareng saja!" ajakku kepada Pak RT.


Akhirnya kami pun berangkat ke Gunung Hujan itu setelah mendapatkan izin dari ayah untuk mengantarkan Pak RT dengan membawa mobilnya. Tentu saja aku yang menjadi sopirnya. Sayangnya Ana dan Ani tidak bisa ikut karena mereka akan menghadapi ujian sekolah.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA MUMPUNG HARI SENIN.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


   


   

__ADS_1


__ADS_2