
Aku menghela napas, karena telah gagal menemui orang yang begitu penting bagiku. Kalau begini aku harus mencari lagi orang yang bekerja di situs sejarah peradaban kuno.
"Apa urusan yang kamu bilang penting itu ada sangkut pautnya dengan benda-benda bersejarah?" tanya laki-laki itu dengan tatapannya yang penasaran kepadaku.
"Iya, Pak. Saya diminta Profesor Rajasa untuk menemui Pak Djaya," jawabku dengan balik menatap selidik kepada orang di depanku.
Laki-laki paruh baya itu malah membuka pintu pagar besi yang ternyata tidak dikunci. Aku menatap heran kepada laki-laki yang sudah masuk ke pekarangan rumah tua itu.
"Ayo masuk kesini!" ajaknya kepadaku yang masih mematung di depan gerbang rumah tua itu.
"Siapa anda? Kenapa mengajak saya masuk ke dalam rumah ini?" tanyaku sambil berjalan mengikutinya.
Aku langkahkan kaki di pekarangan rumah yang rumput ilalang yang sudah tinggi sampai batas lutut aku.
"Saya adalah Candra, asisten dari Profesor Djaya. Saat anda bilang nama Djaya, sudah bisa dipastikan anda bukan orang biasa. Karena hampir semua orang tidak tahu nama asli dari pemilik rumah ini. Orang-orang kebanyakan tahunya rumah ini adalah milik Pak Raharja. Hanya orang-orang dari kalangan para arkeolog yang memanggil Pak Djaya."
Laki-laki yang bernama Candra itu kini memasuki teras rumah. Kemudian dia mencari sesuatu di balik pot bunga. Ternyata dia sedang mencari kunci pintu rumah ini.
"Ayo masuk!" ajaknya kepadaku sambil tersenyum ramah kali ini.
"Apa tidak apa-apa kita masuk ke dalam rumahnya? Sedangkan pemilik rumah ini tidak ada di sini?" tanyaku sambil mengikuti di belakangnya.
Aku masuk ke dalam rumah itu. Ternyata isinya barang-barang kuno dan antik. Kursi yang ada di rumah itu juga sama dengan kursi yang ada di rumah Kakek Baron bekas peninggalan leluhurnya. Sudah bisa dipastikan usia kursi model seperti itu lebih dari satu abad.
"Tidak apa-apa, aku sudah mendapatkan izin dari beliau, untuk bisa keluar masuk rumah ini," katanya Candra sambil tersenyum simpul ke arah ku, sebelum menggeser sebuah lemari buku yang ada di ruangan itu.
Ternyata ada ruang bawah tanah di balik lemari buku itu. Aku berdecak kagum dengan apa yang aku lihat ini. Candra sudah menuruninya terlebih dahulu dan menyalakan lampu di jalur anak tangga menuju ke bawah, yang ternya hanya memiliki beberapa anak tangga, jauh dari bayanganku tadi. Aku membayangkan kalau lorong itu akan sangat panjang.
"Beliau juga mempercayakan kepadaku semua yang ada di sini," katanya lagi sambil membuka sebuah pintu kayu jati yang besar dan tinggi kokoh di depan aku. Namun sepertinya dia kesusahan dan aku pun ikut membantu mendorong pintu itu.
__ADS_1
"Berapa lama anda menjadi asisten Pak Djaya?" tanyaku penasaran kenapa Pak Djaya sampai mempercayakan semua yang ada di sini kepadanya.
"Sudah hampir tiga puluh tahun aku menjadi asistennya. Semenjak aku menjadi mahasiswanya saat duduk di bangku kuliah," jawab Candra setelah aku dan dia berhasil mendorong pintu secara bersamaan.
Ternyata pintu itu sangat berat dan butuh tenaga yang banyak agar bisa membukanya. Begitu aku masuk ke dalam ruangan itu, di sana sangat banyak benda-benda bersejarah. Banyak barangnya yang bentuknya aneh-aneh. Aku sungguh tertarik dengan benda yang ada di sana.
Aku berjalan ke kumpulan barang yang ada di barisan paling pojok. Di sana ada barang-barang yang pernah aku lihat di ruang kerja milik Kaisar di kehidupanku dahulu. Aku lihat satu persatu benda-benda yang ada di sana.
Aku cari artefak yang berbentuk bulat pipih seperti cermin. Artefak itu memiliki lubang ditengahnya yang harus diisi dengan batu permata. Satu per satu aku telusuri kumpulan benda-benda di sana.
Mataku tertuju pada sebuah kotak transparan yang ada pecahan-pecahan di dalamnya. Aku pun mengambil kotak itu, dan kulihat isinya.
"Akhirnya aku menemukanya!" seru aku sangat senang sekali saat melihat pecahan artefak kuno seperti yang dimiliki Kaisar dahulu.
"Jauhkan tanganmu dari benda itu!" suara teriakan Candra membuatku terkejut.
"Ini barang yang sedang aku cari!" kataku sambil memegang erat kotak itu.
"Tidak! Aku membutuhkan benda ini!" tolakku sambil menjauh dari Candra.
"Benda itu bisa bisa membuatmu mati!" bentak Candra kepadaku lagi.
"Justru benda ini bisa membuat orang tidak jadi mati!" balas aku dengan nada yang lebih tinggi lagi.
Aku melihat wajah Candra yang menjadi pucat pasi. Setelah mendengar kata-kata barusan yang aku ucapkan. Mata Candra melebar dan mulutnya menganga.
"Apa anda tahu sesuatu dengan benda itu?" tanyanya kini dengan suara yang lebih lembut dan pelan.
"Iya, dan aku sangat membutuhkan ini sekarang," jawabku dengan suara yang datar tidak nyaring seperti tadi.
__ADS_1
"Apa maksud anda, benda ini bisa membuat orang tidak jadi mati?" tanya Candra yang kini kulihat tubuhnya bergetar.
"Artefak ini bisa membuat orang kembali ke masa lalu," jawabku dengan nada sungguh-sungguh.
Candra memundurkan kakinya beberapa langkah, tubuhnya bergetar dengan sangat hebat. Seolah dia sedang duduk di kursi goyang.
"Apa Profesor Djaya juga kembali ke masa lalu?" tanyanya kepadaku dengan mata yang terbelalak.
"Pak Djaya, kembali ke masa lalu?" tanyaku balik kepada Candra.
"Aku tidak tahu. Hanya saja tiga tahun yang lalu, Pak Djaya tiba-tiba menghilang padahal aku sedang bersama dengannya di ruangan ini," jelas Candra dengan tatapan tak percayanya.
Aku duduk di kursi kayu yang ada di sana, dan meletakan kotak transparan yang berisi artefak kuno itu di atas meja yang ada di depanku.
"Ceritakan kepadaku apa yang telah terjadi kepada Pak Djaya dan keluarganya" tanyaku penasaran.
"Seluruh keluarga Profesor Djaya mengalami kecelakaan, karena mobil mereka jatuh ke dalam jurang yang curam. Bahkan tim evakuasi kesulitan saat melakukan pengambilan mayat."
Candra mengikuti duduk di kursi yang ada di depan aku. Terlihat pancaran kesedihan di kedua matanya yang kini mulai berkaca-kaca.
"Saat itu kami, maksudku Profesor dan aku sedang melakukan penggalian di situs peninggalan prasejarah peradaban kuno," Candra menghapus air matanya yang akhirnya jatuh juga setelah aku lihat dia menahannya sejak memulai ceritanya.
"Enam bulan setelah kejadian itu, aku dan Profesor pulang ke rumah ini. Kami baru mengetahui tentang kejadian itu. Profesor sangat terpukul atas kabar kematian semua anggota keluarganya. Istri dan empat anaknya, semua secara bersamaan meninggalkan dirinya," Candra kali ini menangis tergugu, terlihat jelas kesedihan di dalam dirinya.
"Untuk menghilangkan kesedihannya, aku mengajak Profesor untuk meneliti barang-barang kuno yang kami bawa," kata Candra.
******
JANGAN LUPA MAMPIR JUGA YA KE KARYA AKU YANG LAINNYA.
__ADS_1