
Aku bertemu dengan Kepala Sekolah, lalu menceritakan kejadian yang menimpa Ratu. Aku meminta keadilan untuk Ratu, dan bisa menjadi pelajaran bagi murid-murid yang lainnya. Agar mereka lagi melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan terhadap murid yang lainnya.
Keesokan harinya, orang tua Dina dan Roni yang melakukan tindakan pelecehan terhadap murid perempuan di panggil ke sekolah.
"Bapak … Ibu … alasan anda dipanggil ke sekolah adalah untuk membicarakan, masalah yang telah dilakukan oleh anak-anak anda terhadap murid-murid yang lainnya," kata Kepala Sekolah yang didampingi oleh guru BK (Bimbingan Konseling).
" Memangnya apa yang telah anak saya perbuat sampai-sampai kami dipanggil ke sekolah?!" tanya ayahnya Roni yang merupakan orang terkenal dan juga merangkap sebagai anggota Komite Dewan Sekolah.
"Anak Bapak telah melakukan pelecehan terhadap beberapa murid perempuan di sekolah ini dan dia melakukannya dengan sengaja," jawab Kepala Sekolah dengan suara tegasnya setelah melihat ke arahku terlebih dahulu.
"Apa maksudnya dengan tindakan pelecehan itu?!" tanya ibunya Roni sambil melihat ke arah beberapa murid perempuan.
"Dia itu suka memegang area dada kami, bangsa kaum perempuan," jawab salah seorang murid perempuan.
"Iya benar, Roni suka banget memegang aset milik kami, kaum perempuan," jawaban kali ini dari murid perempuan yang lainnya.
"Kami sebagai orang tua, tidak terima. Putri kami mendapat perlakuan seperti itu. Seharusnya pihak sekolah mengeluarkan dia. Bukan memberinya skors," kata salah seorang orang tua murid yang putrinya menjadi korban Si Roni.
"Iya benar!" kata orang tua murid yang lainnya.
Aku tidak menyangka kalau korbannya Si Roni, ternyata begitu banyak. Sepertinya kemarin para murid yang pernah mengalami pelecehan oleh Si Roni, diminta datang ke sekolah bersama orang tua mereka. Sebab tadi pagi begitu masuk gerbang sudah banyak orang tua murid yang berkumpul. Aku datang bersama Ayah, karena kemarin beliau begitu marah saat aku menceritakan kejadian yang menimpa Ratu. Niat aku sama Ayah datang ke sekolah ini adalah untuk membicarakan masalah pembullyan yang diterima oleh Ratu, tapi ternyata ada kejadian seperti ini.
"Bapak-bapak … dan Ibu-ibu … mohon tenang. Kita diskusikan bersama, jalan baiknya seperti apa? Karena bagaimanapun mereka semua adalah murid-murid di sini," kata Kepala Sekolah yang sedang mencoba menenangkan para orang tua murid.
Setelah perundingan yang begitu lama dan banyak perdebatan. Akhirnya keputusan buat semuanya sudah diambil. Pihak sekolah memberikan hukuman kepada mereka berdua, dengan diskors selama satu Minggu untuk Dina, dan Roni mendapatkan diskors selama dua Minggu. Walau orang tua keduanya tidak terima, begitu juga para orang tua korban juga tidak terima. Pihak sekolah sudah menganggap ini semuanya selesai.
"Pak, saya mau mengajukan pemindahan putriku untuk pindah ke sekolah lain," tiba-tiba Ayah berbicara di tengah kegaduhan para orang tua murid. Aku juga begitu terkejut dengan keputusan Ayah barusan.
"Maaf Pak Dokter, kenapa anda ingin memindahkan Ratu?" tanya Kepala Sekolah dengan wajahnya yang sangat terkejut.
"Kalau murid laki-laki itu masih berada di sekolah ini. Tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang sama terhadap putriku," jawab Ayah dengan suaranya yang tegas.
__ADS_1
Perkataan Ayah pun mendapat respon dari orang tua murid lainnya. Begitu juga dengan murid-murid perempuan yang menjadi korban Si Roni. Kalau mereka masih satu sekolah dengannya ada kemungkinan, kejadian serupa akan terulang kembali.
Pihak sekolah tidak punya pilihan selain mengeluarkan Si Roni, karena sudah ada beberapa orang tua yang akan menarik putri mereka untuk pindah sekolah. Walau orang tua Si Roni, anggota Dewan Sekolah, dia tidak punya pilihan lain, karena reputasi sekolah juga jadi taruhannya.
Kulihat kedua orang tua Si Roni, menatap tajam ke arah Ayah. Begitu juga Ayah membalas tatapan tajam mereka. Jadinya Si Roni dikeluarkan dari sekolah, dan murid yang lainnya tetap sekolah di sana.
******
Tiga bulan setelah insiden di sekolahan Ratu …
Aku lihat Ibu sedang mondar-mandir di depan teras, terlihat sangat cemas. Aku pun menghampirinya.
"Bu, ada apa? Kok terlihat cemas seperti itu?" tanyaku dan itu membuat ibu terkejut.
"Raja … kamu bikin Ibu kaget saja," kata ibu sambil mengelus dadanya. Aku pun jadinya tertawa tertahan melihat reaksi Ibu seperti itu.
"Memang apa sich, yang sedang dipikirkan oleh Ibu? sampai nggak sadar Raja datang menghampiri," tanya ku lagi.
"Mereka pasti sedang jalan-jalan bersama teman yang lainnya," balas ku, agar ibu tidak terlalu cemas.
"Iya, kamu benar. Tapi entah kenapa, Ibu jadi kepikiran terus. Apalagi Ibu semalam mimpi buruk terus tentang Ratu, dan itu berulang-ulang," ucap ibu sambil meneteskan air matanya.
"Memangnya Ibu mimpi apa semalam?" tanya ku sambil menggodanya memeluk tubuh Ibu dari belakang.
"Ibu bermimpi melihat Ratu berlumuran darah, semua tubuhnya tertutup oleh darahnya yang merah pekat. Dia menangis meminta tolong kepada Ibu, dan terus memanggil ibu," jawab Ibu yang kini makin deras air mata yang keluar dari matanya yang sayu.
Mendengar ibu bercerita tentang mimpinya, aku sungguh terkejut. Pikiranku langsung melayang pada kehidupanku sebelumnya. Saat itu, Ratu juga sedang duduk di kelas satu SMA saat dia jadi korban pemerkosaan.
Tubuhku menjadi tegang, aku melepaskan pelukanku dari tubuh Ibu.
"Ibu tadi Ratu bilang mau pergi kemana?" tanya ku sambil menatap mata ibu.
__ADS_1
"Tidak begitu jelas tadi Ratu bilang mau pergi kemana?!" jawab ibu sambil menghapus air matanya.
"Kalau begitu Ibu jangan cemas. Biar Raja saja yang mencari Ratu," kata ku sambil tersenyum.
Aku pun menghubungi Rendra dan menanyakan tentang keberadaan Ratu.
"Halo, Rendra ini aku, Raja." sapa ku begitu Rendra menerima panggilanku.
"Iya, Kak. Ada apa tumben nelpon sore-sore begini?" balasnya.
"Kakak mau tanya, apa Ratu sedang bersama dengan mu?" tanyaku dengan cepat.
"Tidak Kak. Aku seharian ini belajar lagi menyiapkan diri buat ujian nasional," jawab Rendra.
"Ratu tadi pagi pergi bersama Dini. Ini sudah sore, tapi mereka belum pulang juga ke rumah," kataku memberitahu.
"Tidak biasanya Ratu pergi lama-lama." balas Rendra.
"Iya, Kakak jadi cemas. Apa kamu bisa bantu Kakak untuk mencari Ratu?" tanyaku langsung to the point.
"Baik, Kak. Aku akan cari tahu sama teman-temannya Ratu yang aku kenal." jawab Rendra.
"Oke. Terima kasih sebelumnya. Aku harap Ratu bisa ketemu secepatnya," kataku sebelum mengakhiri pembicaraan di telpon.
Aku pun meminta beberpa temanku untuk mencari keberadaan Ratu. Di kampus aku bergabung dengan tim basket dan jurnalis. Sehingga aku dengan cepat punya banyak teman.
" Mudah-mudahan jangan sampai kejadian dahulu terulang kembali," gumamku.
******
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
TERIMA KASIH.