3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Hari kelulusan


__ADS_3

     Hari ini adalah hari kelulusan di sekolahku. Aku dan semua teman-teman lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Di kehidupan kali ini pun, aku mendapatkan nilai tertinggi. Aku dan teman-teman sangat senang karena besok kita akan merayakan hari perpisahan sekolah bersama-sama. Berbeda dengan kehidupanku dahulu, hari ini semua murid di kelas bisa mengikuti hari perpisahan bersama teman-teman satu angkatan di sekolah.


    Hari perpisahan pun tiba, aku dan teman-teman berkumpul di aula gedung sekolah. Kepala sekolah sedang berpidato di atas podium, sudah satu jam lebih beliau berbicara dan itu membuat kami merasa kesal. Malah banyak dari teman-teman yang asyik berbicara dengan kelompoknya masing-masing.


     Saatnya pengumuman untuk para siswa yang berprestasi, salah satunya adalah aku yang telah mendapatkan nilai tertinggi. Terdengar sorak-sorai dari teman-teman saat aku menaiki panggung dan berpidato di atas podium. Selain aku yang merasakan rasa bangga, ternyata kedua orang tuaku juga bangga akan diriku yang memiliki prestasi yang baik.


   Aku dan teman-teman kini sedang melakukan sesi foto perpisahan bersama teman satu kelas. Banyak foto yang kita ambil sebagai kenang-kenangan di hari perpisahan. Aku, Radit, Nino dan Aris mengambil foto bersama di depan kelas untuk dijadikan kenang-kenangan.


     Bukan hanya teman satu kelas, kita juga banyak mengambil foto bersama teman-teman satu angkatan. Ternyata banyak orang yang ingin berfoto denganku.


    Saat aku berjalan menuju ruang perpustakaan, ada banyak murid kelas satu dan dua yang meminta foto kenang-kenangan kepada para seniornya. Kulihat Nino juga sedang di lapangan bersama para murid anak kelas satu dan dua, sepertinya mereka anggota klub basket.


"Raja! Sini kita berfoto bersama anak-anak basket!" teriak Nino dari lapangan basket yang ada di belakang gedung sekolah.


    Aku pun menghampiri mereka, dan berfoto bersama. Banyak pose yang kami lakukan. Gaya gila-gilaan kita lakukan bahkan gaya sok keren juga.


    Setelah sesi foto bersama anak basket. Aku pun melanjutkan kembali perjalanan ke perpustakaan. Tujuan kedatanganku ke perpustakaan adalah untuk menyerahkan kunci duplikat, kepada guru yang bertanggung jawab di perpustakaan. Aku punya hak istimewa, dengan diberi kunci perpustakaan. Supaya aku bisa masuk ke ruang perpustakaan kapan saja, saat ingin meminjam buku.


     Saat aku menyerahkan, kunci ke guru yang bertugas. Ternyata sudah ada siswa perempuan, murid kelas satu yang menunggu disana.


"Raja, akhirnya kamu datang juga!" pekik seorang guru yang selalu heboh penampilannya itu.


"Maaf, Pak. Saya terlambat," kata aku sambil tersenyum malu.


"Ya sudah enggak apa-apa," kata guru itu sambil berjalan ke arahku.


"Ini Pak, kuncinya," aku pun menyerahkan kunci Itu kepada Pak Guru.


    Pak guru pun menerima kunci dari tanganku, kemudian memberikannya kepada murid perempuan itu. Aku merasa familiar dengan wajah murid itu.


"Yasmin sekarang kunci ini, aku percayakan kepadamu," kata Pak Guru sambil menyerahkan kuncinya.

__ADS_1


"Ya Pak, terima kasih," jawab Yasmin sambil menerima kunci perpustakaan.


      Aku pun pergi meninggalkan ruang perpustakaan, ternyata murid perempuan tadi mengikutiku dari belakang. Tadinya aku biarkan saja dia, karena mengira arah tujuan kami sama.


"Kak Raja tunggu!" teriaknya sambil berlari mengejarku.


     Aku pun berhenti melangkah dan membalikan badanku. Kulihat dia berlari dengan cepat ke arahku. Dengan napasnya yang terputus-putus, dia bisa sampai juga ke hadapanku.


"Ada apa,ya?" tanyaku dengan heran.


"Kakak bolehkah aku bertanya?" tanyanya sambil melihat ke arah wajahku. Ternyata dia memiliki tahi lalat kecil di bawah matanya di sebelah kiri.


"Ya, boleh. Walau aku belum tahu bisa menjawabnya." Aku balik memandang wajah murid perempuan yang kini berdiri di hadapanku.


"Kakak katanya berhasil mendapatkan beasiswa di universitas luar negeri?" tanyanya padaku.


"Ya, benar," jawabku sambil menganggukan kepala.


"Terima kasih," balasku.


"Kenalkan namaku, Yasmin Mangunkarya," katanya lagi sambil tersenyum memperlihatkan gigi gingsulnya.


"Senang berkenalan denganmu," kataku basa-basi, "Kalau begitu aku permisi dulu. Sudah ditunggu oleh teman-temanku yang lain."


    Tanpa menunggu jawabannya aku langsung pergi. Entah kenapa saat mendengar namanya aku merasa tidak aneh. Aku coba mengingat-ingat, apakah di kehidupanku yang lalu ada nama Yasmin Mangunkarya.


    Seperti di kehidupan yang lalu, aku pun diterima di salah satu universitas terkenal di Jerman. Tapi entah kenapa di kehidupanku yang sekarang, aku merasa kurang berminat untuk baru kuliah di sana. Maka aku konsultasi dengan kedua orang tuaku, untuk meminta pendapat mereka.


"Ayah menurutmu, apakah aku harus kuliah di luar negeri?" tanyaku saat kami semua sedang berkumpul di ruang keluarga, karena di kehidupan ku yang dulu Ayah sudah meninggal sebelum aku lulus sekolah menengah atas.


"Ayah lebih suka kalau kamu mengikuti apa isi hati kamu? Karena kamu sendiri yang akan menjalaninya," kata ayah sambil menepuk punggungku.

__ADS_1


"Kalau aku sekarang memilih untuk kuliah di universitas dalam negeri," jawabku dengan yakin.


    Aku ingin kuliah di universitas yang sama dengan Rania, selain itu aku juga bisa mengawasi Ratu. Jangan sampai kejadian dahulu terulang kembali.


*******


    Seperti biasa setiap pagi aku selalu lari di sekitar komplek perumahan atau ke taman yang tak jauh dari rumah. Suasana pagi ini pun tenang dan udaranya segar seperti biasa. Hanya saja tidak terdengar suara yang sering memanggil namaku saat lewat ke rumah Pak RT.


    Aku berhenti di depan rumah Pak RT, seolah sudah kebiasaan melihat tanaman yang ada di halaman depan rumahnya. Kalau pagi-pagi begini biasanya Pak RT suka menyiram tanaman miliknya. Setelah itu beliau baru lari pagi mengitari komplek perumahan bersamaku.


"Eh, Kak Raja. Seperti biasa lari pagi nih?" tanya Ana, putri sulungnya Pak RT, membawa ember berisi air, untuk menyiram tanaman.


"Tumben Ana yang menyiram. Kemana pak RT?" tanyaku sambil tersenyum kepada Ana.


"Bapak sedang sakit Kak, sekarang beliau berbaring di rumah,"jawab Ana.


"Semoga lekas sembuh," kataku kemudian aku pamit kembali ke rumah.


     Saat di kamar aku membuka buku catatan kejadian di masa lalu. Ternyata tinggal satu minggu lagi, Pak RT akan mengalami kecelakaan saat pergi menjenguk orang tua istrinya.


     Aku harus berfikir bagaimana caranya untuk mencegah kecelakaan yang akan terjadi kepada Pak RT dan istrinya. Mana mungkin aku berbicara langsung mengenai kecelakaan itu kepada Pak RT dan istrinya, karena mereka tidak akan percaya.


"Ayo Raja berfikir bagaimana caranya pasti ada jalan," gumamku.


"Apa aku saja yang mengantar mereka, saat pergi menjenguk orang tua istrinya pak RT, ya?!" ideku.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


__ADS_2