3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
#Extra Part 1 (lanjutan)


__ADS_3

     Seperti yang sudah dijadwalkan, hari ini akan ada pertandingan basket. Aku berharap nanti bisa bertemu dengan Rania.


     Aku dan teman satu tim sudah berada di gelanggang olahraga. Kami semua datang secara terpisah-pisah. 


     Saat aku hendak berjalan menuju pintu gelanggang tanpa sengaja terdengar suara laki-laki memanggil nama 'Pak Djaya'. Aku pun mengalihkan penglihatanku ke arah sumber suara.


"Pak Djaya?" gumamku saat melihat sosok laki-laki paruh baya. 


     Aku langkahkan kedua kaki ini menuju dua orang laki-laki yang sedang berbincang sambil sesekali tertawa. Namun, baru beberapa langkah. Nino menarik tangan aku.


"Raja, ayo! Kamu mau kemana?" tanyanya sambil menarik tangan aku dengan genggaman yang cukup kuat.


"Mau menghampiri bapak-bapak itu!" Tunjuk aku ke arah dua orang laki-laki yang kini berjalan menjauhiku.


"Siapa mereka?" tanya Nino padaku.


"Aku kurang tahu siapa mereka. Hanya saja aku mengenal salah satunya. Dia orang yang ingin aku temui dari dulu," jawabku.

__ADS_1


"Tapi sekarang kita harus cepat-cepat masuk. Karena pertandingan akan segera dimulai." Nino menarik aku masuk ke dalam gelanggang dan kita menuju ruang ganti bergabung bersama teman satu tim lainnya.


     Pikiranku masih terpaut pada orang yang bernama Pak Djaya, tadi. Aku yakin itu adalah Profesor Djaya yang ingin aku temui di kehidupan sebelumnya. Setidaknya aku tahu kalau Profesor Djaya ada di zaman ini dan dekat di sekitar aku.


     Aku harus bisa memecahkan misteri artefak kuno itu. Kenapa aku bisa mengulang kembali kehidupanku, bahkan sampai dua kali. Aku ingin mutus rantai kehidupan ini. Tidak mau terus terperangkap di dalamnya.


     Meski aku ingin menyelamatkan orang-orang yang aku cintai. Namun, jika aku harus terus merasakan sakit saat melihat orang-orang yang berharga bagiku meregang nyawa, itu malah membuat aku semakin menderita.


"Aku mau ke toilet dulu, ya!" ujarku minta izin sama teman yang lainnya.


"Jangan lama-lama! Sebentar lagi pertandingan akan dimulai," kata Guru Olahraga.


***


     Setelah keluar dari toilet, aku mengedarkan pandanganku mencari sosok gadis masa depan. Siapa tahu di kehidupan kali ini bertemu juga saat di pertandingan antar sekolah menengah atas.


     Namun, aku harus menelan pil kekecewaan. Rania tidak ada. Ternyata berbeda ceritanya dengan kehidupan yang kedua. Sampai aku masuk ke arena pertandingan dan memulai permainan bola basket itu.

__ADS_1


     Aku mendribel bola dan melakukan lay shoot dan mendapatkan tiga poin untuk timku. Penonton bersorak karena berhasil membalikan keadaan. Nino dan Radit semakin bersemangat. Mereka juga berlomba-lomba mencetak poin. 


"Raja!" Nino melemparkan bola ke arah aku. 


     Dengan sigap aku menangkapnya dan melakukan tembakan langsung ke arah ring. Lagi-lagi aku bisa mencetak nilai tiga poin. Nilai tim kami pun melesat jauh meninggalkan poin lawan.


"Ayo, semuanya. Semangat, jangan berleha-leha!" teriak Nino menyemangati kami agar tetap fokus untuk memenangkan pertandingan.


     Saat waktu mendekati akhir, aku mendengar suara perempuan yang tidak asing bagiku. Suara yang selalu menemani hari-hari aku dengan penuh kebahagiaan.


"Teman-teman, semangat!" Teriaknya.


     Aku alihkan pandanganku. Aku cari si pemilik suara barusan. Ternyata benar, itu suara milik Rania. Gadis yang sejak tadi di cari-cari olehnya.


"Rania," gumamku senang.


***

__ADS_1


Maaf teman-teman aku baru bisa up lagi. Jujur aku lupa sama novel ini. Mudah-mudahan aku bisa menyelesaikan ini sampai tamat.


Terima kasih untuk teman-teman yang selalu setia menanti kelanjutan cerita ini.


__ADS_2