
Aku berada di dalam kamar rawat kakek bersama dengan paman Shogun dan nenek Sari. Dokter baru saja memberitahu tentang kondisi Kakek yang sering memaksakan tubuhnya yang sudah renta itu untuk bekerja. Aku tahu kalau Kakek itu suka memakakan dirinya untuk terus bekerja di ladang.
Ayahku akhirnya datang juga setelah pulang dari dinasnya sehari-hari. Ibu tidak ikut karena Sultan sedang tidak enak badan, tadi badannya panas. Aku memberitahu semua tentang keadaan kakek. Sebagai seorang dokter, ayah tahu penyakit apa yang terjadi kepada Kakek dan bagaimana mengobatinya.
Waktu tidak terasa kini sudah malam dan Kakek belum juga sadar. Aku duduk di kursi dekat brankar. Aku pandangi wajah Kakek yang sudah sangat tua. Kulihat kelopak mata Kakek bergerak. Begitu Kakek sadar, aku langsung mendekat ke arahnya dan bertanya apa ada yang diinginkannya.
Kakek membuka matanya dan melihat ke arahku. Kemudian membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Aku pun mengambil air putih yang ada dalam gelas kaca di atas meja nakas. Aku bimbing Kakek untuk minum. Sepertinya Kakek sangat haus, karena air dalam gelas itu langsung habis.
Saat aku meletakkan gelas, ternyata ayah sudah berdiri di samping aku.
"Ayah, sudah merasa baikkan?" tanya Ayahku kepada kakek yang kini kembali terbaring lemah di atas kasurnya.
Kakek hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kemudian tangan Kakek terulur ke arah ayah, dan mengusap wajahnya. Mungkin ini adalah aku pertama kali melihat Kakek menyentuh anaknya dengan penuh kasih sayang. Karena selama dalam hidupku dahulu, Kakek adalah seorang tua yang arogan tidak mau mendengarkan perkataan anak-anaknya, atau meminta pendapat anaknya.
Ayah kulihat dia menangis tergugu, dihadapan Kakek. Suatu hal yang langka selama hidup aku belum pernah melihat ayah menangis seperti ini. Entah apa yang terjadi diantara keduanya. Karena sejak tadi tak ada seorangpun yang berbicara di antara mereka. Hanya saling tatap saja, yang aku lihat. Mungkin dengan begitu hanya mereka berdua yang tahu apa yang mereka ingin ucapkan.
*****
Saat di sekolah kini aku biasa bermain dan bercanda dengan teman-teman. Melakukan hal-hal konyol bersama teman-temanku. Membantu teman yang sedang mengincar adik kelas, walau akhirnya mereka ditolak juga. Aku juga memberikan bimbingan les kepada teman sekelas, setelah jam pulang sekolah. Karena kami ingin lulus bersama-sama.
Sebenarnya aku melakukan ini, karena teringat akan ada beberapa teman kelasku yang tidak lulus ujian nasional. Mereka yang tidak lulus, mengalami kemerosotan mentalnya karena malu, akhirnya mereka memilih menjadi orang yang anti-sosial di masyarakat.
*****
Setelah aku selesai memberikan les kepada teman-teman sekelas. Aku langsung menuju ke rumah sakit tempat Kakek masih dirawat. Rencananya, hari ini Kakek akan dibawa pulang. Karena kondisinya sudah membaik. Ayah akan membawa Kakek pulang ke rumah, agar kita mudah dalam mengurusnya. Dirumah ada ibu yang setiap hari bisa mengawasi dan merawatnya.
Nenek Sari juga, selalu datang setiap hari ke rumah sakit, meski nanti ujung-ujungnya berdebat dengan kakek. Bila nenek Sari belum datang Kakek selalu menanyakannya. Mungkin kecerewetan nenek Sari adalah bentuk dia peduli dan sayang kepada kakek. Begitu juga keras kepalanya Kakek karena dia ingin yang terbaik untuk keluarganya, menurut dia.
__ADS_1
Bagaimanapun kedua kakak beradik itu saling menyayangi dengan caranya masing-masing, tetapi tidak dipahami oleh keduannya. Kakek melakukan sesuatu itu untuk kebaikan nenek Sari, tapi menurut nenek Sari apa yang dilakukannya itu perbuatan yang otoriter terhadapnya.
Nenek Sari juga selalu mencemaskan Kakek, begitu ada sesuatu yang terjadi kepada Kakek, dia akan mengomelinya, seperti ibu memarahi anaknya. Nggak cukup satu atau dua kali bicara, dia akan terus ngomong sampai bosan.
"Raja tolong kamu bawa tas keperluan Kakek!" Perintah Kakek padaku.
"Baik, Yah!"
Akupun menjinjing tas milik kakek, sedangkan ayah mendorong kursi roda yang diduduki oleh Kakek. Sedangkan paman Shogun sedang memanaskan mobilnya yang sudah dua hari terparkir di halaman rumah sakit.
Saat aku berjalan di koridor rumah sakit, aku melihat seseorang yang aku kenal. Gadis yang beberapa hari yang lalu selalu ada dalam pikiranku.
"Rania?" Gumamku.
Aku melihat Rania sedang berada di rumah sakit, entah apa yang sedang dia lakukan disini. Rania memasuki sebuah kamar inap yang berada di seberang halaman ruang rawat Melati. Aku ingin sekali mendatanginya, dan mencari tahu apa yang sedang dilakukannya disini. Mataku tak lepas dari ruangan yang dimasuki oleh Rania tadi.
"Raja, ayo cepetan jalannya!" Kudengar suara ayah memanggil, maka aku pun berlari ke arahnya.
*****
Keesokan harinya aku mendatangi kembali rumah sakit. Ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Rania kemarin. Aku pun masuk ke ruang rawat Melati.
Ternyata Rania kebetulan sedang berada di sana. Aku menghampiri dia yang sedang duduk memunggungi arah kedatanganku.
" Rania," sapaku dengan suara pelan karena tidak mau mengganggu pasien.
Rania begitu terkejut saat mendengar sapaan ku, dia membalikan badannya kearah ku yang berdiri di belakangnya. Aku tersenyum saat dia melihatku.
__ADS_1
"Raja?!" Dia memanggilku dengan suaranya pelan tapi penuh penekanan.
"Siapa yang sakit?" tanyaku saat kulihat ada seorang wanita paruh baya yang sedang berbaring di brankar.
"Ibuku," jawabnya singkat. Ada garis kesedihan di wajahnya yang cantik itu.
"Sakit apa?" Tanyaku lagi sambil melihat ke arah pasien.
"TBC," jawab Rania dengan suaranya yang bergetar terdengar jelas olehku.
Saat ini obat untuk para pasien TBC belum terlalu banyak diproduksi. Hanya rumah sakit besar yang bisa menangani pasien TBC, apalagi bila penyakit pasiennya sudah lama diderita. Kemungkinan kecil bisa sembuh. Berbeda saat aku sudah menjadi dokter, saat itu obat untuk penyakit TBC sudah banyak diproduksi. Pasien harus ikut program pengobatan bila ingin sembuh.
"Apa kata dokter?" Tanyaku sambil mengukur denyut nadi di tangan pasien.
"Ibu bisa sembuh, jika mendapatkan perawatan yang intensif dari rumah sakit yang lebih besar. Karena di sini obat untuk penyakit ibu nggak ada, harus ke rumah sakit pusat. Apalagi obat untuk ibu harganya sangat mahal.
"Kalau kamu mau, aku akan minta ayah untuk mencarikan bantuan kepada rumah sakit untuk biaya pengobatan untuk mensubsidi harga obatnya," kataku sambil melihat ke arah Rania.
"Benarkah?!" Kulihat wajah Rania diliputi sebuah harapan, matanya berbinar dan bibirnya tersenyum lebar, dia merasa senang.
"Ya, akan aku minta ayah untuk melakukannya."
Aku menganggukan kepala sebagai tanda membenarkan apa yang aku ucapkan barusan. Rania tersenyum kepadaku dan menggenggam tanganku. Dipegangnya tanganku dengan erat, dan Rania terus mengucapkan rasa terima kasihnya. Tindakannya itu membuat jantungku berdetak begitu kencang.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.
TERIMA KASIH.