3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Rekaman suara


__ADS_3

     Aku dan ibu datang ke rumah sakit tempat Ayah bekerja. Saat kami sudah sampai di sana, Ayah masih dalam pemeriksaan dokter di ruang UGD. Hampir satu jam, kami menunggu di depan ruang UGD, dan ayah langsung di masukan ke ruang ICU.


"Dokter, bagaimana keadaan Ayah?"


"Dokter King, dia sekarang masih koma. Dia terjatuh dari lantai tiga saat ada keluarga pasien yang meninggal, tidak terima. Sehingga dia menyerang Dokter King dan mendorongnya sampai jatuh dari jendela lantai tiga, yang kebetulan sedang terbuka."


"Bagian mana saja, luka yang dialami oleh Ayah?"


"Bagian kepalanya tadi ada gumpalan darah, itu sudah berhasil ditangani. Tulang kaki kanannya patah, ini pasti akan membutuhkan waktu untuk bisa sembuh. Sisanya dalam keadaan baik."


"Terima kasih Dokter, sudah menyelamatkan Ayah saya," kataku sambil menyalami tangan Dokter itu.


     Aku senang, karena kondisi Ayah lebih baik dibandingkan dengan kehidupan pertamaku. Walau tidak sebaik di kehidupan keduaku.


    Aku dan Ibu menunggui Ayah di depan ruang ICU. Orang rumah pun sudah aku beritahu kabar tentang kondisi Ayah sekarang. Mereka pun senang saat tahu kalau Ayah masih hidup.


    Aku termenung memikirkan kejadian kali ini, yang sedang menimpa Ayah. Waktunya berbeda tiga hari dengan waktu kematian Ayah di kehidupan pertamaku.


"Kenapa lebih cepat tiga hari, ya?" gumamku sambil menengadahkan kepalaku sambil melihat langit-langit rumah sakit.


"Apa sebenarnya nyawa Ayah masih belum bisa selamat, karena masih ada waktu tiga hari lagi. Aku harus bisa membuat Ayah sadar lagi. Itu salah satu cara agar bisa menolong nyawanya."


    Sudah satu hari Ayah dirawat di ruang ICU. Aku meminta izin kepada Dokter untuk bisa masuk kedalam ruang perawatannya. Kulihat banyak alat yang tersambung dengan kabel-kabel yang menempel pada tubuh Ayah. Aku pun duduk di sampingnya dengan menggunakan pakaian khusus.


     Aku ambil tangan Ayah dan digenggam erat. Kuletakan tangannya yang lemah itu di pipi, dan terasa hangat. Aku pun mengusap wajah Ayah dengan rasa sayang.

__ADS_1


"Ayah … ini Raja."


" Bisakah Ayah membuka mata? Aku mohon sadarlah! Ada Ibu yang sedang menunggu Ayah di rumah. Ibu sungguh sedih saat mengetahui kalau Ayah mengalami kecelakaan. Dia juga menangis saat melihat Ayah terbaring tak berdaya seperti ini."


"Ratu dan Sultan pun sudah rindu sama Ayah. Katanya rindu sama omelan Ayah, karena makannya nggak di habiskan."


    Aku tertawa, menceritakan apa saja yang sudah terjadi di rumah. Pertengkaran kecil kami, gara-gara rebutan remote. Atau aku memasak makanan, yang kebanyakan memasukan garamnya. Sehingga masakan aku terasa asin.


    Saat aku bercerita ini itu, apa saja. Terlihat ada lelehan air mata di sudut ujungnya. Aku pun senang berarti Ayah merespon ucapan aku. Aku pun menyekanya dengan lembut.


     Tanpa sadar aku sudah berbicara dengan Ayah hampir satu jam. Aku mencoba merangsang kesadarannya. Menceritakan, kejadian-kejadian lucu yang aku tahu dari kehidupan kedua. Aku senang saat tahu kondisi jantung dan tekan darah Ayah itu dalam keadaan normal.


     Aku pun kembali di hari berikutnya. Melakukan hal yang sama seperti hari kemarin. Kali ini bukan air mata Ayah yang memberikan respon kepadaku, tapi gerakan jari tangannya. Walau masih lemah, aku bisa merasakannya. Ayah menggerakkan jari telunjuknya hanya gerakan kecil dan lemah itu sudah membuat aku senang. Aku pun memberitahu keadaan tadi kepada Dokter penanggung jawab yang memeriksa Ayah.


     Dokter bilang itu suatu kemajuan yang bagus. Karena tinggal menunggu ayah membukakan matanya saja. Aku pun berharap kalau kejadian itu segera terjadi.


"Ayah, hari ini Raja sangat senang. Karena Raja bisa lolos ikutan Olimpiade sains."


      Aku awali pertemuan hari ini dengan kabar gembira milikku. Aku ingin menjadi anak yang bisa di banggakan oleh Ayah seperti di kehidupan kedua.


     Aku mengeluarkan walkman, rekaman suara pesan dari Ratu, Sultan, dan juga Ibu. Rekaman suara anggota keluargaku yang menyemangati Ayah agar bisa cepat sembuh lagi. Juga cerita-cerita yang telah mereka alami belakangan ini. Durasi rekaman yang aku buat hampir satu jam. Jadi aku hanya diam mendengarkan suara mereka sambil memegang tangan Ayah. Berharap genggaman tanganku ini bisa memberikan kekuatan buat Ayah, agar cepat sadar.


     Entah kenapa aku juga ikut menangis. Saat mendengarkan suara-suara curhatan kedua adik dan Ibuku. Mereka mengungkapkan rasa rindunya kepada orang yang disayangi dan ingin bertemu dengannya. Ini seolah perasaan yang aku rasakan. Untuk di setiap kehidupan yang sudah kujalani sampai tiga kali ini.


     Aku merasakan genggaman tanganku di balas oleh Ayah. Aku pun melihat saat ini, Ayah sudah membuka matanya. Aku sangat senang sampai-sampai tanpa sadar aku memeluk tubuh Ayah dengan erat. Aku pun menekan tombol meminta agar Dokter bisa segera datang ke ruang perawatan Ayah.

__ADS_1


"Ayah … syukurlah sudah sadar!"


     Kulihat senyum tipis di wajahnya yang pucat itu. Matanya berkaca-kaca, dan genggaman tangannya masih bisa aku rasakan. Aku sudah tidak sabar untuk memberitahu Ibu, Ratu, dan Sultan kalau Ayah sudah sadar.


"Ada apa, Raja?" tanya Dokter begitu masuk ke ruang perawatan Ayah.


"Ayah sudah sadar Dokter!" seruku bahagia.


"Benarkah? Sini aku periksa dulu.


    Dokter pun melakukan pemeriksaan dengan menyeluruh di bantu oleh seorang asistennya. Kemudian mereka tersenyum ke arahku.


"Selamat, Dokter King sudah melewati masa kritisnya. Sekarang sudah bisa dibawa ke ruang rawat inap," kata Dokter sambil mengulurkan tangannya. Aku pun menyambutnya dengan hati yang senang.


     Aku pun memberi kabar bahagia ini kepada Ibu. Aku dengar ibu berteriak mengucapkan rasa syukurnya. Ratu pun mengambil alih telepon dari Ibu dan berbicara denganku. Rupanya Sultan juga nggak mau kalah dia juga ingin berbicara denganku lewat telpon.


    Aku memikirkan kembali, kalau di kehidupan kedua Ayah selamat karena catatan kecil berisi nomor-nomor telepon penting yang bisa dihubungi saat keadaan gawat darurat. Di kehidupan kali ini, karena pesan suara anggota keluarga yang aku rekam. Ternyata benar, hal dianggap sepele, bisa saja itu menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dan berguna. 


     Ibu langsung datang ke rumah sakit, begitu aku memberitahu kalau Ayah sudah sadar. Walau Ayah belum bisa bicara dengan jelas, tapi dia bisa memberikan isyarat kepada kami.


    Kata Dokter, kaki Ayah bisa kembali berjalan dengan normal bila melakukan terapi. Sedangkan bagian kepalanya sudah tidak ada masalah. Tentu saja itu membuat kami senang.


     Sekarang, giliran aku menemui Kakek Baron. Untuk menyatukan kembali hubungannya dengan saudara dan anak-anaknya. Aku tidak tahu kali ini akan seperti apa ceritanya.


******

__ADS_1


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA MUMPUNG HARI SENIN.


TERIMA KASIH.


__ADS_2