
#Part 17
Hari ini kami akan kembali pulang, aku sengaja berangkat sore hari, agar Bu RT bisa melepas rindunya lebih lama lagi dengan mamak-nya. Bisa dilihat rona kebahagiaan dari wajah keduanya. Saat aku bilang akan pulang di waktu sore hari, agar tidak panas waktu di perjalanan pulang.
Aku juga masih bisa sekali lagi menikmati merendam di kolam air panas. Aku dan Pak RT jalan-jalan ke kebun milik keluarga Bu RT ditemani sama adiknya. Kami memetik beberapa buah untuk dijadikan oleh-oleh untuk tetangga di komplek perumahan.
Aku juga diberi lima buah durian Montong, yang ukurannya sangat besar sekali. Pak RT bilang, kalau keluargaku itu penyuka buah durian. Makanya adik Bu RT langsung menyuruh tukangnya buat metik langsung buah durian yang masih ada di pohonnya. Aku serasa mendapatkan durian runtuh beneran.
Selain buah-buahan, mereka membekali kami dengan berbagai jenis sayuran. Sampai-sampai satu mobil ayah itu isinya penuh dengan buah dan sayuran. Mulai dari bagasi mobil sampai ke tempat duduk penumpang isinya penuh dengan hasil kebun.
Kita berangkat sekitar jam lima sore biar sampai rumah tidak kemalaman. Aku sengaja pulang dari rumah mereka ditangguhkan satu hari. Agar ketika tanggal dimana kecelakaan itu terjadi, itu tidak menimpa mereka.
Aku mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, karena medan jalan memiliki struktur tanah yang labil. Saat dalam perjalanan pulang, terjadi kecelakaan beruntun. Akibat dari sebuah mobil truk, yang kelebihan muatan akibatnya oleng dan menimpa kendaraan lainnya. Maka terjadilah kecelakaan beruntun itu.
Aku agak panik, ternyata kecelakaan beruntun itu masih terjadi di kehidupanku kali ini. Aku sudah berusaha untuk merubahnya, agar kedua tetanggaku yang baik hati itu bisa selamat di kehidupanku sekarang.
Dari kejauhan aku melihat saat truk itu akan terguling. Selain dari kelebihan muatan barang yang berakibat tergulingnya truk, struktur tanahnya juga menjadi faktor lainnya dari kecelakaan itu.
Barang dariTruk itu berjatuhan ke jalan, dan sebagian menimpa kendaraan di dekatnya. Sedangkan badan truk itu terjatuh ke badan aspal jalan dan mobil lainnya ikut terseret, sehingga mengenai mobil lainnya juga yang berjajar di belakangnya.
Aku dengan cepat mengerem mobilku. Kemudian memundurkannya. Juga meminta mobil yang lainya untuk mundur. Ternyata tindakan yang aku ambil adalah tepat, karena tempat tadi aku mengerem mobil. Sebuah mobil lainya menabrak sampai sana.
Ada rasa senang dan bersyukur di hatiku, saat kita bertiga dapat selamat dari kecelakaan beruntun itu.
__ADS_1
"Syukurlah kita semuanya bisa selamat," kata ku dengan perasaan lega.
"Nak Raja, Ibu sampai gemetaran," kata Bu RT sambil melihatkan tangannya yang masih bergetar.
"Harusnya mereka itu jangan terlalu banyak membawa muatan," Pak RT ikut menimpali.
"Iya selain membahayakan dirinya sendiri, itu juga bisa membahayakan nyawa orang lain," kata Bu RT lagi.
"Mungkin sudah takdirnya, Pak!" kataku sambil melajukan lagi kendaraan yang merayap.
Setelah hampir tengah malam, kami akhirnya pulang. Satu hari lebih lama dari jadwal semestinya. Aku senang karena, kedua orang itu telah melewati tanggal kematiannya dari kehidupanku sebelumnya.
Setelah mengantarkan Pak RT dan Bu RT terlebih dahulu, dan mengeluarkan hasil kebunnya untuk dijadikan buah tangan yang akan dibagikan kepada para tetangga. Ternyata Ana dan Ani terbangun saat mendengar suara kami yang baru datang.
"Bapak, ibu, dan Kak Raja. Kenapa baru pulang sekaran?" tanya Ani anak bungsu pak RT.
"Kalau begitu aku permisi dulu, Pak … Bu … saya pulang!" Kataku sambil tersenyum dan berjalan ke dalam mobil.
Aku pun memarkirkan mobil ayah di dekat garasi. Ayah dan ibu menyambut kepulanganku. Mereka sangat senang saat tahu aku juga membawa banyak durian Montong, kesukaan kami sekeluarga.
*****
Tidak terasa waktu terus bergulir, ini aku sudah masuk kuliah. Aku sengaja tak jadi melanjutkan kuliah ku di luar negeri, karena aku punya misi di kehidupanku sekarang. Walaupun begitu jurusan yang aku ambil masih tetap sama, yaitu masuk ke fakultas kedokteran. Baik di kehidupanku yang dulu atau yang sekarang, aku ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Keberadaan ku bisa memberikan manfaat dan pertolongan kepada orang lain. Salah satunya menjadi dokter, karena dengan profesi ini aku bisa menolong nyawa orang lain.
__ADS_1
Aku dan Rania kuliah di universitas yang sama, tetapi berbeda jurusan. Aku ambil fakultas kedokteran, sementara Rania jurusan pendidikan seni dan budaya.
Sementara Ratu sudah memasuki Sekolah Menengah Atas di tempat sekolahku sebelumnya, yaitu SMA Nusa 1. Aku mencoba mencegahnya untuk masuk ke SMA Nusa 3, dimana dulu dia sering mendapatkan bully-an dari kakak kelasnya, karena kecantikan Ratu yang membuat banyak siswa laki-laki disana suka padanya. Walau oleh Ratu sendiri mereka tidak ditanggapi. Selain cantik, Ratu juga murid yang pandai. Dulu aku tak menyangka kalau Ratu akan masuk ke sekolahan itu. Padahal nilai dia bisa masuk ke sekolah unggulan.
Kali ini kejadian yang harus dirubah adalah kasus pemerkosaan terhadap Ratu. Di kehidupannya yang dahulu, Ratu diperkosa oleh teman laki-laki satu kelas dengannya. Kasus ini tidak bisa diusut karena kurangnya bukti. Apalagi aku sedang berkuliah di luar negeri. Hanya Paman Shogun yang berusaha menuntut kasus ini. Walau pada akhirnya kalah dan si pelaku tidak dihukum.
Aku bisa mengetahui saat salah seorang pasien berbicara tentang kasus itu. Aku pun merasa geram dan marah saat mendengar cerita sebenarnya dari salah seorang pelakunya. Ternyata Ratu di perkosa oleh lebih dari satu orang, atas perintah kakak kelasnya yang cemburu pada Ratu.
Ratu yang trauma dengan kejadian itu menjadi depresi dan sering berjalan melamun kemana kakinya melangkah. Dia berjalan menyeberang di jalur rel kereta apa dan kebetulan ada kereta api lewat. Sehingga Ratu pun meninggal karena terserempet oleh kereta api yang lewat.
Aku selalu wanti-wanti terhadap Ratu jangan sampai salah pergaulan. Harus pilih teman yang memberikan kebaikan dalam hidupnya. Aku juga mengingatkan dia jangan mau diajak pergi oleh anak laki-laki. Bahaya bila pergi, apalagi kalau perginya hanya berduaan saja.
"Ratu, selamat ya sekarang sudah menjadi murid sekolah menengah atas," kataku sambil mencubit kedua pipi Ratu dengan gemas.
"Ah ... apa-apaan sich Kak Raja! Kayak ke anak kecil saja! Sekarang Ratu itu sudah besar. Bukan anak-anak lagi," katanya sambil cemberut.
"Tapi bagi Kakak, kamu itu masih kayak anak kecil. Buktinya sekarang lagi cemberut karena pipi chubby-nya kakak cubit," kataku sambil tertawa dan meninggalkan dia di ruang keluarga dimana ada ayah dan ibu juga.
Ayah dan ibu hanya diam memperhatikan tingkah kita berdua.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA.
__ADS_1
DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL.
TERIMA KASIH