3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Kelahiran Kaisar


__ADS_3

    Pagi itu sekitar jam delapan pagi Rania masuk ke dalam ruang bersalin. Sebenarnya aku memaksa masuk ke dalam, sehingga bisa ikut menemaninya. Agar aku bisa membantu memberikan kekuatan dan dorongan kepada Rania.


"Sayang … ini sangat sakit!" rancu Rania sejak terasa mulas yang dirasa setelah ketubannya pecah.


"Ayo Nyonya, tarik napasnya, dorong …!" aba-aba dari dokter kandungan yang selama ini menangani kehamilan Rania.


"Aaaahk …!" teriak Rania saat melakukan dorongan untuk mengeluarkan bayi kami.


"Ayo, Rania! sedikit lagi," kata ku sambil membalas genggaman tangan Rania, yang menggenggam erat tanganku.


"Aaaahk ...!" Rania kembali mengejan, mendorong bayinya keluar.


"Ooooek ... ooooek!" suara tangis bayi yang baru saja dilahirkan oleh Rania, begitu nyaring memenuhi ruang bersalin itu.


"Selamat, Tuan … Nyonya. Bayi anda laki-laki yang sehat," kata dokter itu sambil menyerahkan bayi kami yang masih berlumuran darah.


      Bayi kami sedang menyusu di dada Rania. Dia begitu kecil dan lucu.


"Lihat Sayang! wajahnya mirip sama kamu, tampan!" kata Rania sambil tersenyum bahagia saat melihat bayinya.


"Ya, dia akan menjadi laki-laki yang tampan seperti aku," balas ku sambil mencium kening Rania.


"Terima kasih sudah menyempurnakan kehidupanku ini, Rania," lanjutku lagi sambil tersenyum bahagia.


"Jadi, siapa nama bayi kita yang tampan ini?" tanya Rania sambil mencolek pipi bayi yang sedang asik menyusu itu.


"Kaisar," jawabku dengan lembut.


"Nama yang bagus," balas Rania sambil tersenyum ke arahku.


      Setelah itu Kaisar di mandikan dan di dandani dengan sampai bersih dan rapi. Lucu dan mungil, sehingga bikin gemas yang melihatnya. Ayah dan ibu ternyata sudah menunggu kami di luar ruang bersalin tempat Rania tadi melahirkan.


"Bagaimana kabar istri dan anakmu, Raja?" tanya ayah begitu aku ke luar ruangan itu.


"Mereka selamat dan dalam keadaan baik-baik saja," jawabku sambil menangis terharu.

__ADS_1


     Kini aku bisa langsung merasakan bagaimana sempurnanya menjadi seorang suami, yang bisa ikut dalam memperjuangkan hidup dan mati seorang istri saat melahirkan anaknya. Perasaan yang dulu belum pernah aku rasakan. Bahkan sampai Rania dua kali melahirkan, aku tidak pernah tahu perjuangannya itu dalam melahirkan anak-anakku.


      Aku menggendong Kaisar, yang ternyata terasa sangat kecil di tanganku. Dia terbangun karena ingin menyusu pada ibunya. Aku pun berniat memberikan Kaisar kepada Rania untuk disusuinya.


"Sayangnya Bunda, kenapa menangis?" kata Rania saat Kaisar berada di dekapannya.


"Sepertinya, dia haus atau lapar," kataku sambil ikut duduk bersandar di sisi ranjang Rania.


"Bayi itu, menangis belum tentu lapar atau haus. Bisa juga ingin bermain bersama orang tuanya. Mungkin ingin digendong sama Ayahnya. Buktinya barusan dia terdiam saat di dalam gendongan mu, iyakan Sayang?" kata Rania kepadaku, dan aku baru menyadarinya. Tadi Kaisar menangis, tapi ketika aku gendong dia terdiam.


"Sepertinya begitu," balas aku sambil memegang tangan Kaisar yang kecil banget.


******


     Usia Kaisar kini masuk enam bulan, dia sudah bisa dikasih makan, misal bubur bayi. Aku sangat suka saat menyuapinya. Tiap pagi aku bagian mengasuh dan menyuapi Kaisar, saat Rania sibuk memasak atau mencuci.


     Aku dan Rania sengaja berbagi tugas harian. Sebelum aku berangkat kerja, aku selalu mengasuh Kaisar. Kegiatan yang tidak pernah aku lakukan saat di kehidupanku dahulu. Aku tidak mau melewatkan momen-momen indah saat ini.


     Rania juga berhenti dari pekerjaannya sebagai guru. Dia ingin fokus mengurus Kaisar dan aku. Tentu aku sebagai suaminya ikut mendukung keputusannya itu. Bagaimanapun juga kekompakan suami istri harus terjalin dengan baik.


"Sayang … lihat Kaisar sudah bisa merangkak!" teriak Rania saat pertama kalinya Kaisar bisa merangkak.


     Aku yang sedang berada di ruang tamu cepat berlari ke arah depan rumah, dimana tadi Rania dan Kaisar sedang bermain di teras depan. Aku melihat Kaisar yang sedang berusaha menggerakkan tangan dan kakinya maju ke depan.


"Aduh, jagoannya Ayah. Sudah bisa merangkak, nih," kata aku antusias saat melihat Kaisar melihat ke arahku dan mencoba merangkak walau beberapa kali jatuh, tapi dia penuh semangat mengulanginya lagi dan lagi. Aku menangis terharu saat Kaisar sudah bisa mencapai tempat aku berjongkok menyambutnya.


"Jagoan hebat! anak siapa ini?" kata ku mengikuti kata-kata Rania yang sering dilontarkan kepada Kaisar.


"Anaknya, Ayah Raja dan Bunda Rania," kata Rania dengan menirukan suara anak kecil.


     Aku mencium Rania karena gemas dengan tingkahnya. Aku bersyukur sekali dalam kehidupan kali ini. Tidak ada satupun perkembangan dari Kaisar yang aku lewati. Mulai dari dia bisa tengkurap sendiri, memegang botol susu, tengkurap jalannya mundur, tumbuh giginya, saat baru bisa mengangkat bokongnya, dan kali ini sudah bisa merangkak. Mengetahui perkembangan anakku yang ternyata bisa membuatku sangat bahagia.


    Aku tidak akan pernah melewatkan lagi sesuatu yang dianggap tidak berharga  di kehidupanku dahulu, kini semua itu sangat berarti dan membuatku bahagia. 


******

__ADS_1


Lima tahun kemudian …


    Kini usia Kaisar berusia lima tahun, dan Rania sedang mengandung anak kedua kami. Aku selalu mengingatkan dia untuk meminum susu ibu hamil dan vitamin untuk menjaga kondisi tubuhnya.


     Aku juga mempekerjakan satu asisten rumah tangga untuk mengurus semua pekerjaan rumah, biar Rania tidak kecapean. Rania hanya boleh fokus pada bayi yang sedang dikandungnya.


"Rania ini minum susunya dulu," kataku sambil memberikan segelas susu ibu hamil.


"Terima kasih Sayang," balas Rania sambil tersenyum manis ke arahku.


"Kaisar sedang belajar apa?" tanyaku pada Kaisar yang sedang asik menggambar dan mewarnai gambar di selembar kertas.


"Ada tugas dari sekolah TK. Ibu guru, memintaku menggambar semua anggota keluarga yang ada di rumah," jawab Kaisar yang masih asik mewarnai gambarnya.


     Aku tersenyum saat melihat Kaisar begitu khusyuk pada pekerjaannya itu. Matanya fokus pada gambar di kertasnya, bibirnya sedikit manyun. Mirip Sultan kalau lagi konsentrasi, bibirnya suka manyu seperti itu.


"Tadi di sekolah, Kaisar belajar apa saja?" tanyaku sambil ikut melihat Kaisar.


"Belajar menyanyi sama menggambar," jawabnya masih fokus dengan mewarnainya.


"Ini kamu gambar siapa saja?" tanyaku sambil menunjuk pada gambar yang Kaisar buat.


"Ini Ayah, Bunda, Kakek, Nenek, Opa Oma, Om Sultan, Tante Ratu, dan Om Rendra," jawab Kaisar sambil menunjuk satu persatu gambarnya.


     Aku tertawa saat melihat gambar kedua orang tua ku dan kedua mertuaku. Kaisar mencoret-coret wajah mereka agar terlihat ada kerutan di kening wajah gambarnya. Aku nggak kepikiran kalau Kaisar punya pemikiran jika yang sudah tua itu kulitnya berkerut, jadi gambarnya di kasih garis-garis.


Itulah keseharian di kehidupanku saat ini. Walau cuma beberapa menit saja, aku usahakan untuk berinteraksi dengan semua keluargaku.


******


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN, VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2