3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Mengajak Rania menikah


__ADS_3

Begitu terdengar suara dari arah depan, Roni dan teman-temannya langsung panik. Roni yang sedang berada di depan Ratu langsung menarik tangan Ratu agar berdiri.


"Akh! sakit!" teriak Ratu saat Roni menarik paksa untuk dijadikan sandera.


"Lepaskan Ratu!" teriakku dengan memaksakan diri sambil berdiri.


    Aku mencoba mengejar mereka, karena harus menyelamatkan Ratu. Meski jalan aku terseok-seok, dipaksakannya kaki ini melangkah. Di sisa-sisa kekuatanku aku merasakan ada tangan yang mencoba membantuku.


"Raja!" Rania datang dengan berlari ke arahku.


"Ayo aku bantu kamu ke rumah sakit!" ajak Rania yang kini berdiri di samping aku, dan membantu memapah diriku yang sudah lemah ini.


"Tapi Ratu … aku harus menyelamatkannya," kata ku kepada Rania dengan kekuatan dalam tubuhku yang mulai menghilang.


"Tenang saja, ada banyak orang yang mengejar mereka. Bahkan polisi juga sudah mengepung tempat ini," balas Rania yang membuat hatiku tenang. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa.


*****


     Aku mencium bau obat, sepertinya aku tidak sadarkan diri tadi. Saat aku sadar ku kejapkan mataku beberapa kali. Aku bisa melihat ruang kamar VIP tempatku di rawat sekarang.


"Kamu sudah sadar, Kak," ibu yang kini sedang duduk di sampingku, mengusap rambut di kepalaku.


"Ratu …?" tanyaku karena ingin tahu keadaannya.


"Dia baik-baik saja," jawab ibu sambil meneteskan air matanya.


"Syukurlah," kataku dengan lemah karena sudah habis semua tenagaku buat berkelahi melawan anak buahnya si Roni tadi.


    Kudengar suara pintu dibuka dan saat ku palingkan pandangan ku ke arahnya, ternyata ada ayah dan paman yang masuk.


"Bagaimana keadaan, Raja?" tanya ayah kepada ibu.


"Dia baru saja siuman," jawab ibu sambil melihat ke arahku.

__ADS_1


"Raja, apa ada yang sakit?" tanya ayah pada ku. Kalau ditanya apa ada yang sakit? Sudah jelas semua badanku ini sakit.


"Ya, ayah. Badan Raja semuanya sakit," jawabku.


"Istirahatlah, karena kamu hanya luka luar saja. Untungnya tidak ada luka dalam," ayah memberitahu tentang kondisiku saat ini.


"Aku ingin tahu keadaan Ratu?" tanyaku kepada kedua orang tuaku.


"Dia baik-baik saja. Untungnya Rania cepat-cepat mencari bantuan. Jadi kalian semua bisa selamat," jawab Ayah yang kini berdiri di samping ibu.


"Paman juga sudah mengurus tentang laporan penculikan itu. Kini para pelaku juga sudah di tahan di kantor polisi," kata Paman Shogun menjelaskan lanjutan kejadian tadi setelah aku pingsan.


*****


     Aku bersyukur karena kejadian yang menimpa Ratu di kehidupanku yang lalu tidak terjadi di kehidupan saat ini. Aku pun dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Selama itu Rania selalu menemani dan merawat ku. Perasaan aku padanya semakin menguat, bahkan rasa cintaku kepadanya lebih besar daripada di kehidupanku yang dulu.


    Aku yang sudah diperbolehkan pulang, merasa senang karena aku sudah bisa pergi ke kampus lagi. Bertemu sama teman-teman ku, dan melakukan kegiatan klub bersama-sama. Ratu masih aku antar jemput ke sekolahnya. Rendra pun makin posesif terhadapnya setelah kejadian itu.


    Keberadaan ayah dan Ratu juga mempengaruhi. Kalau dulu setelah ayah meninggal ibu kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Untuk biaya kuliah aku dan sekolah Sultan, ibu mengandalkan warisan peninggalan ayah. Baik itu gaji pensiunan, atau hasil kebun yang dipercayakan kepada orang lain. Sampai ibu meninggal karena kesedihan yang amat sangat setelah Ratu meninggal. Jadinya aku dan Sultan hidup berdua. Aku yang baru menyelesaikan kuliah ku di luar negeri banting tulang, agar bisa mempunyai uang untuk kebutuhanku dan Sultan. Setelah semua harta warisan ayah habis di jual untuk biaya kuliah dan kebutuhan Sultan.


*****


     Aku dan Rania sedang duduk di teras depan sambil menikmati kue buatan ibu. Rania bercerita kalau ibunya sudah dinyatakan sembuh dari TBC yang dulu dideritanya. Sedangkan soal ayah tirinya itu, ibunya akan menceraikannya. Apalagi ayah kandung Rania ternyata masih hidup setelah dinyatakan meninggal akibat kecelakaan kapal laut tujuh tahun yang lalu.


"Aku sangat senang kalau ibu kamu sudah sembuh," kataku sambil memegang jemari lentik milik Rania.


"Ya, dan ayah juga sudah kembali dan keluarga besarnya menyambut kembalinya ayah kepada kami. Ternyata ayah mengalami koma selama hampir satu tahun, kemudian dia harus membalas budi kepada orang yang telah menolongnya itu dengan bekerja di perkebunan karet miliknya. Tapi untungnya bos perkebunan itu memberi waktu lima tahun kepada ayah untuk bekerja disana, untuk mengganti biaya pengobatan ayah selama koma dan masa penyembuhannya." Rania membalas genggaman tanganku dan tersenyum manis kepadaku.


"Rania, kita nikah yuk!" ajak ku dan itu membuat mata Rania terbelalak karena terkejut. Entah kenapa melihat ekspresi wajahnya itu membuatku senang.


"Tapi kita kan masih kuliah!" Suaranya yang lembut dan pipinya yang jadi merona menandakan dia juga mau sebenarnya.


"Hahaha … ya nggak apa-apa masih kuliah juga. Justru itu bagus, jadi saat kita sedang berduaan nggak akan ada yang mengawasi," kataku sambil mengedipkan mataku padanya.

__ADS_1


    Rania pun menundukkan kepalanya, dengan pipi yang makin merona. Sehingga akhirnya dia menganggukan kepalanya berkali-kali. Melihat itu aku sangat senang sekali, sampai-sampai aku tidak sadar berlari mengelilingi halaman depan rumah. Rania yang melihat aku bertingkah konyol, hanya tertawa terkekeh.


*****


     Saat semua keluargaku berkumpul di ruang keluarga. Aku memberanikan diri berbicara kepada ayah dan ibu, soal keinginanku untuk menikahi Rania.


"Ayah … Ibu, ada yang mau Raja bicarakan," kataku dengan nada bicara yang serius.


"Ada apa Kak, serius amat?!" tanya ayah kepadaku setelah menyimpan koran yang sedang di bacanya itu.


"Raja ingin menikahi Rania!" jawab ku dengan mantap. 


    Semua orang yang ada di sana sangat terkejut mendengar apa yang aku katakan barusan. Bahkan ibu sampai tersedak saat makan kue buatannya itu.


"Kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan barusan?!" tanya ibu sambil menatap ke arah wajahku.


"Kakak mau tunangan dulu kali, baru nanti menikah setelah beres kuliah," Ratu ikut menimpali.


"Kalau bisa Raja ingin lansung menikah saja, nggak perlu tunangan dulu. Rania juga sudah setuju. Tinggal meminta restu pada kedua orang tua kami," jawab ku saat semua mata tertuju hanya kepadaku.


"Kalau kalian sudah siap. Ayah akan mendukungnya," kata Ayah sambil tersenyum ke arah ku.


"Terima kasih ayah! Aku akan memberitahu Rania kalau kalian semua sudah memberi restu," kataku sambil berlari ke arah telepon rumah dan menghubungi Rania.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


    

__ADS_1


__ADS_2