3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Ratu di sekap!


__ADS_3

      Aku dan Rania mencari pakai sepeda, sedangkan ayah dan paman Shogun mencari menggunakan mobil. Aku kerahkan semua orang-orang yang kenal sama aku dan Ratu.


       Sudah satu jam lebih aku mengayuh sepeda dan Rania juga kelihatannya juga sudah lelah, karena aku mengajaknya mencari di pinggiran kota, yang jalannya kebanyakan nanjak. Aku pun meminta Rania untuk istirahat sejenak.


"Itu bangunan apa, ya?" tanyaku pada Rania yang duduk di samping aku.


"Sepertinya bekas pabrik atau gudang," jawab Rania sambil melihat ke arah bangunan yang terlihat menakutkan.


"Kita kesana yuk!" ajak aku kepada Rania.


"Buat apa kesana?" tanya Rania dengan nadanya yang terkejut.


"Entahlah … aku hanya ingin kesana," jawabku sambil berdiri, dan Rania pun mengikuti ku.


     Kami berjalan sambil menuntun sepeda menuju ke atas dimana bangunan itu berada. Di sana aku melihat ada satu mobil sama dua motor. Aku memberi kode kepada Rania. Sepeda kami disimpan dekat pohon. Aku pun berjalan mengendap-endap mendekati pintu bagunan yang mirip bekas pabrik itu.


    Didalam sangat gelap hanya terdengar suara orang ramai berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan itu. Aku kurang mengerti karena obrolan mereka sering ketutup sama suara tawa mereka.


    Aku curiga kalau mereka sedang melakukan hal yang tidak baik. Maka aku pun meminta Rania untuk mencari bantuan banyak orang. Takutnya mereka semua jago berkelahi dan membawa senjata.


    Rania pun pergi dengan sepedanya untuk mencari bantuan. Sedangkan aku menyelinap masuk ke dalam bangunan itu. Suara-suara dari mereka semakin jelas terdengar begitu aku memasuki sebuah ruangan lagi di dalam sana.


    Aku terkejut saat aku melihat Ratu, Dini, dan dua teman perempuan lainnya di ikat tangannya kebelakang dan semuanya duduk di lantai. Aku lihat ada beberapa laki-laki disana yang duduk di kursi. Serta ada satu perempuan yang duduk di antara mereka.


      Aku bersembunyi di dekat tumpukan kardus, dan mengawasi mereka. Apa saja yang mereka bicarakan dan mereka perbuat.


"Si Bos Roni itu kemana? lama sekali!" laki-laki paling tinggi badannya bicara dengan nada kesal.


     Aku terkejut saat orang itu menyebut nama Roni. Apa yang dimaksud adalah Roni yang dikeluarkan dari sekolah?.


    Aku melihat ke sekeliling area dalam bangunan pabrik itu. Ternyata dulunya ini adalah pabrik kertas. Ada nama pabriknya yang terpampang di dinding atas yang tersorot cahaya matahari.


"Sabar … si Bos itu sedang mempersiapkan dirinya. Untuk berkencan dengan gadis pujaan hatinya itu," temannya yang lain menimpali perkataannya.

__ADS_1


"Wajar aja sich, si Bos sampai tergila-gila padanya. Dia gadis yang cantik?!" Si laki-laki tinggi itu membicarakan salah seorang di antara empat gadis yang duduk disana.


    Aku berharap kalau gadis yang dimaksudkan olehnya bukanlah Ratu. Aku berharap semua gadis itu bisa selamat, dan mereka yang sudah melakukan penyekapan itu, bisa diadili.


      Rania sudah pergi cukup lama, aku menjadi khawatir sama dia. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan, terhadapnya. Dalam hati aku selalu merapatkan doa, kebaikan dan keselamatan untuk dirinya.


     Pintu depan terbuka dengan keras, aku terlonjak kaget. Untungnya aku tidak sampai menyentuh dus-dus itu. Aku akan ketahuan jika dus yang bertumpuk itu sampai berjatuhan.


     Aku dengar langkah kaki menuju arah ku yang sejalur dengan pintu masuk ke ruangan tempat mereka berkumpul. Aku terkejut saat melihat Roni anak yang dikeluarkan dari sekolah SMA Nusa 1 masuk ke dalam ruangan itu.


"Nah ini dia! Akhirnya Si Bos sudah datang!" salah seorang dari mereka berkata, terdengar sudah tidak sabaran dia.


"Hai, Dina kamu lagi ngapain disini!" tanya Roni kepada Dina yang duduk di kursi kayu.


       Aku sungguh terkejut saat Roni berdiri di depan gadis yang tidak terduga. Roni berjongkok di depan Dini. Kemudian dia membuka lakban yang ada di mulutnya.


"Bagaimana apa kamu suka dengan sambutan yang mereka berikan?" kata Roni sambil menekan rahang Dini.


"Aku sudah tidak butuh lagi mantan tunangan ku ini! Kalian bisa bersenang-senang dengannya!" Roni pun menarik paksa tubuh Dini dan melemparkan pada teman-temannya yang ada di belakangnya.


"Ya, dia itu untuk kalian. Aku tidak ingin bersenang-senang lagi dengannya, sudah bosan." kata Roni tanpa melihat ke arah mereka yang ada di belakangnya.


    Mata Roni fokus kepada salah seorang dari ketiga gadis itu. Aku was-was kalau Roni akan menyentuh Ratu. Aku tahu ngaak akan pasti biasa melawan mereka semua.


"Hai, Ratu. Semenjak aku memelukmu, wajah cantik kamu selalu terbayang di dalam pikiranku. Wangi tubuhmu juga sangat menggoda," Roni membelai pipi Ratu dengan lembut.


" Beruntung banget si Rendra bisa mendapatkan kamu?!" Roni pun melepaskan lakban di bibir Ratu. Kemudian dibelainya bibir lembut milik Ratu.


"Tapi hari ini kamu adalah milikku," bisik Roni dan masih bisa didengar oleh Raja.


"Berhenti!" teriak ku refleks begitu saja keluar dari persembunyianku.


    Semua orang yang ada disana sangat terkejut, kemudian salah mereka dari mereka berlari ke arah ku dan melancarkan pukulannya secara membabi buta.

__ADS_1


    Aku masih bisa melawannya dan menghindari pukulan dan tendangan yang beruntun darinya. Dahkan aku buat dia tersungkur ke lantai, kemudian aku injak badannya.


     Hal tak terduga adalah ketiga temannya itu menyerang secara bersamaan. Aku kewalahan menghadapi ketiga orang itu. Kali ini pukulan dan tendangan mereka mengenai tubuh dan wajahku.


    Aku merasakan kepalaku berdenyut-denyut, sangat sakit dan pusing. Aku juga bisa merasakan sudut bibirku sobek, karena ada rasa asin dan bau besi dari sudut bibirku. Tubuhku terasa remuk semua tulang-tulangnya.


"Kak Raja!" aku bisa mendengar Ratu dan Dini memanggilku.


"Oh, ayolah Kak Raja. Masa segini aja kamu sudah tepar di lantai," kata Roni mencemooh ku yang sudah kesulitan berdiri.


"Memangnya tubuh kalian akan sanggup bila dikeroyok sebanyak ini!" teriak aku sambil melancarkan pukulan dan tendangan ku ke arah Roni.


"Aku ingin melihat saat kamu juga di keroyok oleh banyak orang. Apa nanti kamu akan mampu menang atau bertahan," kata ku yang masih berusaha memukul anak buah Roni yang tadi berhasil menghajar ku hingga babak belur.


"Ah sayangnya, itu tidak akan pernah terjadi Kakak," kata Roni penuh dengan nada ejekan.


Aku mendengar sayup-sayup suara yang datang menuju kesini. Sepertinya Rania bisa memanggil bantuan tepat waktu.


"Bos. Gawat banyak orang yang sudah datang!" teriak salah satu buahnya.


"Apa! bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini dengan cepat?!" tanya Roni panik.


"Akh! sakit!" teriak Ratu saat Roni menarik paksa untuk di jadikan sandera.


"Lepaskan Ratu!" teriakku dengan memaksakan diri sambil berdiri.


Aku berjalan ke arah Ratu mencoba untuk menolongnya. Walaupun jalanku terseok-seok aku pantang menyerah untuk melindunginya.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK YA.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2