3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Bukan Aris ... tapi Roro


__ADS_3

     Bel masuk terdengar, aku pun bergegas masuk ke dalam kelas. Saat aku masuk ke kelas, tanpa sengaja mataku dan mata Aria saling bersimborok.


"Aris …." gumamku.


    Aku ingat kalau di kehidupan pertamaku, Aris tertabrak motor sampai dia tidak bisa jalan. Namun di kehidupan keduaku, dia berhasil aku selamatkan sehingga kami bisa lulus sekolah bersama-sama.


     Kehidupan ketiga aku yang sekarang apa akan terjadi sesuatu kepada Aris, ya? Aku akan melihat apa yang akan terjadi nanti saat pulang sekolah. Aris yang sekarang berbeda dengan dia di dua kehidupan aku sebelumnya. Jika di dua kehidupanku yang lalu, begitu jelas terlihat kesedihan di wajah Aris. Dia bersedih atas neneknya yang sedang sakit keras dan sedang di rawat di rumah sakit.


     Aris yang aku lihat sekarang tidak menunjukan rasa kesedihan di wajahnya. Dia terlihat biasa saja, bahkan masih bisa tersenyum saat teman sebangku menggodanya.


"Apa di kehidupan ketiga ini juga, Aris berbeda dengan di dua kehidupanku yang lalu." gumamku sambil melihat lagi catatan di buku agenda milikku.


"Kamu bicara apa, Raja?" tanya Radit mungkin karena mendengar suara gumaman aku.


    Aku lihat Radit dengan wajah penasaran yang menghiasi wajahnya. Entah kenapa bagiku terlihat sangat menyebalkan, dia seperti ibu-ibu di komplek yang selalu penasaran sama urusan orang lain.


"Nggak, aku hanya bicara pada diriku sendiri," jawabku sambil menyimpan buku agenda itu ke dalam tas, karena guru mata pelajaran selanjutnya sudah memasuki ruang kelas.


      Saat guru sedang menerangkan pelajarannya, aku tanpa sengaja melihat salah seorang teman perempuan yang menangis tanpa suara, dia terus-terusan menyeka air matanya yang keluar dari matanya yang sayu.


"Kenapa dia menangis? Apa ada yang mem-bully-nya di sekolah, ya?" bisikku dalam hati.


     Aku alihkan lagi perhatianku pada Aris, dia terlihat sedang menyimak pelajaran yang sedang diterangkan oleh guru. Dia masih terlihat biasa-biasa saja, seolah sedang tidak ada masalah.


"Apa neneknya baik-baik saja?" bisik aku dengan suara yang sangat pelan, agar Radit tidak dengar.

__ADS_1


     Bel pulang sekolah berbunyi, hampir semua murid langsung berjalan menuju pintu. Saling dorong karena ingin cepat-cepat keluar kelas. Aku juga melihat Aris di antara mereka. Kini mata aku arahkan ke Roro yang tadi menangis saat berlangsungnya jam pelajaran. Dia masih duduk dan menelungkupkan badannya ke meja dengan wajah yang disembunyikan dengan kedua lengannya.


      Aku berjalan cepat agar bisa mengejar Aris. Aku menuntun sepeda saat keluar dari gerbang sekolah. Sengaja aku berdiri di dekat Aris, kalau benar kecelakaan itu akan terjadi lagi. Maka aku sudah siap untuk menolongnya.


      Aku lihat ada motor yang melaju kencang, saat melewati jalanan komplek sekolah negeri Nusa, yang mulai dari sekolah Taman Kanak-kanak sampai tingkat sekolah Menengah Atas.


     Aku mengawasi gerak-gerik Aris, dia tidak ada niatan akan menyebrang saat itu. Motor itu pun melewati kami, dan aku masih mengikuti arah laju motor itu.


    Aku terkejut karena Roro yang tiba-tiba menyeberang, dan motor itu pun menabraknya.


"Tidak! jangan bilang kalau kali ini, bukan Aris tapi Roro!"


Tubuh Roro terlempar cukup jauh dan si pengendara motor juga jatuh setelah motornya oleng.


      Aku berlari dengan cepat ke arah Roro, dan membopongnya ke samping bahu jalan sedangkan beberapa teman yang lainnya menggotong si pengendara motor. Keadaan di sana kini sangat kacau, apalagi sebagian besar murid sedang berada di sisi-sisi bahu jalan.


"Dokter Setiawan, tolong usahakan agar mereka akan baik-baik saja," pintau kepada temannya ayah, yang sering bermain ke rumah.


"Ya, kamu tenang saja. Akan aku usahakan yang terbaik untuk mereka berdua," kata Dokter Setiawan sambil memegang pundakku yang sebelah kanan.


     Aku melihat dari kejauhan saat kedua orang itu ditangani sama tim medis. Ternyata Kepala Sekolah masih di sini, aku kira dia sudah pulang sejak tadi.


"Raja, bagaimana keadaan Roro dan si pengendara motor?" 


"Mereka berdua masih ditangani oleh tim medis," jawabku sambil menunjuk ke arah mereka yang sedang berada di ruang UGD.

__ADS_1


     Hampir satu jam mereka berdua ditangani tim medis. Aku tadi minta kepada Kepala sekolah untuk menghubungi kedua orang tua Roro. Ternyata Roro itu anak yatim piatu sejak masih berumur tiga tahun. Semenjak itu Roro dibesarkan oleh neneknya dari pihak ibu, yang hidup sebatang kara. Berita yang didapat Kepala Sekolah, adalah neneknya Roro sekaran sering sakit-sakitan karena faktor usianya yang sudah sangat lanjut.


    Kini Roro, sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Karena dia tidak sanak keluarga, hanya nenek yang sudah uzur usianya, satu-satunya, keluarga dia. Biaya pengobatannya pun aku yang minta kepada ayah agar yang menanggungnya.


     Luka Roro lumayan parah, kakinya harus dikasih gip, untuk beberapa saat. Lalu wajahnya, di bagian kening sampai pelipisnya harus di jahit sebanya sebelas jahitan. Paha dan lengan sebelah kanan biru-hijau-ungu akibat memar. Roro juga belum sadarkan diri, walau sudah dua jam berlalu semenjak dia dipindahkan ke ruang inap ini.


     Sementara pengendara motor itu, mengalami patah tulang di kaki dan tangannya. Juga banyak memar-memar di sekujur tubuhnya. Keluarganya langsung datang saat dihubungi oleh Kepala Sekolah tadi. Mereka juga memberikan uang konpensasi yang sangat banyak untuk Roro.


*****


     Aku berbaring di atas kasurku yang empuk. Otak aku kembali melayang mengingat kejadian tadi. Aku berpikir kalau kejadian itu akan terjadi dalam hidupku lagi tapi bisa saja korbannya menjadi berganti. Bukan korban yang sama di kehidupan pertama atau kedua milikku.


    Aku ambil buku agenda yang ada di dalam tas. Kemudian aku baca kembali kejadian-kejadian yang akan menimpa orang-orang di sekitarku, sesuai catatan kehidupan pertama dan kedua. Itu hanya sebagai gambaran, karena di kehidupan ketigaku ini akan berubah, dan aku tidak tahu siapa yang harus aku tolong dan mencegah kematiannya.


"Hah … makin sulit saja!"


"Kalau di kehidupan keduaku itu mudah karena sama ceritanya dengan di kehidupan pertama. Namun kali ini berbeda, kenapa ya?"


    Aku melihat tanggal di kalender. Waktu terjadinya ayah kecelakaan, tinggal beberapa hari lagi. Namun kini ayah tidak bekerja sebagai Dokter relawan. Jadi bagaimana?


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2