3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Kolam air panas


__ADS_3

    Aku meminta izin kepada ayah meminjam mobilnya untuk mengantarkan Pak RT dan Bu RT ke Gunung Hujan. Kita bertiga berangkat pagi-pagi sekali. Saat jalanan masih lenggang dan belum panas oleh terik matahari.


   Perjalanan yang kami tempuh sekitar 120 km. Aku sengaja mengemudi dengan kecepatan sedang, karena jalanan disana sangat rawan. Di sisi kiri jalan itu ada jurang yang terjal. Di sepanjang jalan menuju ke rumah Bu RT sangat banyak ditumbuhi oleh pohon durian dan pohon jati, serta pohon arba.


   Aku sungguh tergiur saat banyak orang menjajakan dagangannya di sepanjang sisi jalan di bahu kanan jalan.


"Bu, disini banyak orang yang jualan buah-buahan, ya?" tanyaku sambil melihat pedang buah-buahan yang berjajar.


"Iya, disini banyak tumbuh berbagai jenis buah-buahan. Jadi banyak warga yang menjualnya sendiri hasil kebun mereka," jawab Bu RT.


"Nak Raja kalau mau nanti saat pulang kita ke kebun milik Bapak. Banyak jenis buah-buahan yang ditanam di kebun kita," lanjut Bu RT.


"Ah, nanti merepotkan, Bu?!" kataku, tapi dalam hati sudah senang saat ditawari oleh Bu RT barusan.


   Kami memasuki area perkebunan sayuran, ternyata selain buah-buahan, di Gunung Hujan pun banyak perkebunan kubis, brokoli, wortel, lobak, dan sayuran sejenis lainnya. Truk-truk yang mengangkut hasil panen buah-buahan saling berselisih jalan. Begitu juga dengan mobil pick up yang mengangkut hasil panen di kebun sayuran. Mereka menyalurkan hasil panen mereka ke berbagai kota di sekitar Gunung Hujan. Walau kadang juga ada yang dikirim ke luar pulau.


   Aku, sangat senang melihat pemandangan disini. Rasanya aku ingin mengajak semua keluarga ku untuk berlibur kesini.


"Pak, kayaknya seru ya. Kalau keluarga kita liburan sama-sama disini?!" kataku sambil tersenyum.


"Benar juga tuh, liburan sekolah nanti kita bisa kesini sama-sama," kata Pak RT dan di setujui oleh Bu RT.


   Ternyata banyak warga yang kenal sama Bu RT dan Pak RT. Setiap kami berpapasan mereka pasti menyapa kita.


"Eh, Bu Nani sudah pulang! Mau menjenguk mamak?" tanya salah seorang warga yang hendak ke kebun.


"Iya, kemarin ada telpon, katanya mamak sakit," jawab Bu RT.


"Iya, mamak sudah sangat tua, jadi wajar kalau mudah sakit saat musim pancaroba begini?!" kata temannya yang lain.


"Baiklah kalau begitu, kita pamit dulu mau ke ladang," ucap teman yang lainnya lagi.

__ADS_1


"Wah Bu RT, nggak dimana-mana orangnya banyak dikenal, ya?" kataku sambil tertawa, dan diikuti juga oleh Pak RT, dia tertawa sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya, benar. Ibu itu orangnya rame dimanapun dia berada," kata Pak RT


   Aku tahu kenapa banyak orang-orang yang begitu dekat kepada keluarga Pak RT, terutama sama Bu RT. Sifat ramah dan mudah bergaul yang membuat mereka dikenal dan disukai banyak orang. Aku pun ingin seperti mereka, kemanapun aku pergi, ada orang yang mengenalku dan menyambut keberadaan ku dengan baik.


   Tak terasa akhirnya kami pun sampai di rumah orang tuanya Bu RT. Disana ada adik laki-lakinya Bu RT dan istrinya yang juga tinggal di rumah itu. Kedatangan kami disambut dengan baik, oleh orang-orang disana.


"Bagaimana keadaan ibu sekarang?" tanya Bu RT begitu kami masuk kedalam rumah.


"Masih sama seperti kemarin," jawab adiknya Bu RT.


   Kami pun memasuki kamar mamak-nya Bu RT. Wanita yang sudah sangat lanjut usia itu sedang terbaring di atas kasurnya.


"Apa sudah dibawa ke dokter?" tanyaku saat kulihat nenek itu berbaring seperti sedang tidur.


"Mamak itu nggak mau dibawa kedokter. Dia akan marah-marah kalau kita membujuknya untuk berobat," jawab adik Bu RT.


"Sebaiknya panggil dokter ke sini saja, minta juga membawa cairan infus, sepertinya nenek kekurangan nutrisi, karena makan dan minumnya sedikit," kataku kepada Bu RT.


"Raja katanya mau berendam di kolam air panas?!" kata Pak RT mengingatkanku.


"Nanti saja, Pak," balasku sambil tersenyum.


"Oh, kalau mau berendam di belakang rumah juga ada," kata adiknya Bu RT.


"Kolamnya sudah jadi?" tanya Pak RT sambil berjalan ke luar rumah, menuju halaman belakang. Aku pun mengikutinya, dan rumah itu sangat asri dan tenang suasananya.


   Ada kolam buatan yang disusun batu-batu besar di pinggirannya, ternyata ada sungai yang mengalirkan air panasnya ke kolam buatan itu.


"Kalau malu di alam terbuka seperti ini, bisa pakai kolam yang ada di dalam rumah. Airnya juga sama langsung dari sumber air panas yang ada di atas gunung," kata adik Bu RT.

__ADS_1


"Mendingan di sini saja, enak ada angin yang bertiup, suara serangga, bisa lihat langit juga," balas Pak RT, dan aku juga setuju.


   Akhirnya aku berendam bersama Pak RT di kolam yang berada di alam terbuka. Kami berendam pakai baju. Rasa pegal di badan langsung hilang saat aku berendam di sana. Aku sungguh merasa sangat senang.


  Aku ikut bermalam disana, kami makan ikan bakar yang ikannya diambil di dekat perkebunan sawi. Ternyata tidak semua air yang ada di Gunung Hujan itu air panas, ternyata ada juga sungai yang airnya dingin.


    Aku menahan kepulangan Pak RT dan Bu RT, selama satu hari. Agar saat tanggal terjadinya kecelakaan itu tidak terjadi. Dengan alasan aku ingin melihat-lihat daerah sekitar perkebunan teh, yang jaraknya agak jauh dari rumah mamak-nya Bu RT.


"Tidak apa-apakan Bu, kalau Raja ingin tinggal satu hari lagi disini?" tanyaku kepada Bu RT sebagai tuan rumah.


"Iya, nggak apa-apa. Ibu justru senang kalau Nak Raja betah disini," jawab Bu RT dengan antusias. Bu RT juga masih bisa bersama mamaknya satu hari lagi.


"Kalau Bapak terserah ibu saja," lanjut Pak RT.


"Tadinya kasihan kalau kita lama-lama di sini sama kamu. Apa kamu nggak rindu sama keluargamu dan pacarmu?" goda Pak RT, dan itu membuat aku malu sekali.


  Aku lupa kalau sudah berapa kali Pak RT itu memergoki aku saat sedang jalan berdua dengan Rania.


" Ah, Bapak bisa aja. Tenang dia tidak akan kemana-mana kok," jawab aku sambil tersenyum malu.


"Wah, Nak Raja ternyata sudah punya pacar?" gantian Bu RT yang menggoda aku.


" Iya, Bu. Cantik sekali anaknya, putih tinggi semampai lagi tubuhnya," tambah Pak RT makin menjadi dalam menggoda aku. Aku hanya pasrah saja jadi bahan candaan orang-orang disana.


Kami akhirnya pulang satu hari lebih lama dari jadwal semestinya. Aku senang karena, kedua orang itu telah melewati tanggal kematiannya dari kehidupanku sebelumnya.


Ternyata saat dalam perjalanan pulang, kami mendapatkan kenyataan ketika terjadi kecelakaan beruntun.


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA.

__ADS_1


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


__ADS_2