
Aku yang sedang di belakang bangunan laboratorium dan perpustakaan, tanpa sengaja menemukan seorang siswa sedang dikeroyok oleh siswa lainnya.
"Hei, apa yang sedang kalian lakukan?!" teriak ku dan itu sukses mengejutkan mereka yang sedang berada di sana.
"Eh … Kak Raja?" rupanya ada anak yang sudah mengenaliku.
"Apa yang sedang kalian lakukan terhadap anak itu?" tanyaku sekali lagi.
"Kita hanya sedang memberinya pelajaran agar jangan melakukan pelecehan terhadap murid perempuan," kata salah seorang dari mereka yang sedang berdiri di depan anak itu.
" Benar, Kak. Sudah banyak murid perempuan yang pernah mendapatkan perlakuannya yang telah melecehkan mereka," kata murid yang lainnya.
"Kenapa kalian tidak laporkan saja masalah ini kepada pihak sekolah?" tanyaku dengan menatap murid yang sedang di beri pelajaran itu.
"Karena dia itu putra ketua dewan sekolah ini dan suka berbuat semena-mena," jawab murid yang lainnya lagi.
Aku pun terdiam setelah mendengar pengakuan mereka. Aku jadi berpikiran negatif, takut Ratu menjadi salah satu korbannya juga.
"Kalian laporkan saja kepada kepala sekolah dan minta para korban menjadi saksinya. Ajak juga orang tua murid yang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan itu!" kataku dengan tegas, agar mereka tidak makin menjadi dalam berulah. Atas nama keadilan dan kebenaran mereka malah melakukan pelanggaran hukum lainnya.
*****
Aku pun melanjutkan lagi perjalanan ku yang sedang mencari Ratu. Langkahku membawa aku ke toilet khusus murid perempuan. Aku bertemu dengan salah seorang teman Ratu yang sering bermain ke rumah.
"Dini, apa kamu tahu dimana Ratu berada sekarang?" tanyaku pada teman Ratu yang paling cerewet.
"Ratu … tadi pergi ke … UKS, sepertinya … sedang tidak enak badan," jawab Dini dengan terbata-bata dan suaranya yang pelan.
Aku pandangi Dini dengan pandangan yang menelisik. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Dini. Dia tidak seperti biasanya yang selalu heboh dan cerewet. Saat ku pandangi, dia selalu menunduk ke bawah. Seolah tidak mau bertatapan dengan mataku.
"Apa Ratu berbicara sesuatu kepadamu?" tanyaku lagi kepada Dini.
"Tidak, Kak. Ratu tidak berbicara sesuatu apapun kepadaku," jawab Dini dengan tergesah-gesah.
Aku pun meninggalkan Dini, dan menuju ke UKS untuk menemui Ratu. Dengan berlari Aku menuju ke ruangan kesehatan yang berada sangat jauh dari lokasi ku tadi. Saat tiba sana, aku melihat Ratu terbaring di atas brankar.
"Ratu … " panggilku sambil memegang lengannya.
Aku melihat dia meringis seperti kesakitan. Aku membuka lengan bajunya, dan kulihat ada memar di sana. Aku pun marah saat tahu ternyata Ratu telah mengalami kekerasan di sekolah.
__ADS_1
"Ratu bangun!" kataku sambil menggoyangkan lengannya agar dia bangun.
"Hm … " kulihat dia melenguh dan membuka sedikit matanya.
"Ayo bangun Ratu," kataku lagi sambil membelai rambutnya yang panjang.
"Kakak?" jawabnya dengan suara lirihnya.
"Ya, ini Kakak. Ayo kamu bangun dulu," kataku sambil mencoba membangunkannya.
Maka aku pun membangunkan dia, dan mencari tahu apa yang sudah terjadi.
" Sebenarnya apa yang telah terjadi kepadamu?" tanyaku kepada Ratu, yang kini sedang memeluk tubuhku dan menangis tersedu-sedu.
"Ratu takut Kak!" Jawab ratu di sela lisannya.
"Jangan takut, katakan saja yang sebenarnya kepada kakak," kataku sambil mengelus rambutnya.
"Kakak janji tidak akan marah, kalau Ratu menceritakan kejadian yang telah menimpa aku," pinta Ratu dengan wajahnya yang sudah memerah karena sedang menangis.
"Iya Kakak janji tidak akan marah," jawabku sambil tersenyum kepadanya.
"Kamu telah menerima pelecehan dari temanmu?" tanyaku dengan tatapan terkejut.
"Ratu merasa jijik pada tubuhku ini kak," kata Ratu kembali menangis.
"Tidak, jangan seperti itu. kamu adalah gadis sebaik-baik yang selalu menjaga diri, dan suka menolong orang lain," balasku, dan mengangkat wajahnya agar melihat menghadap wajahku.
Melihat aku, Ratu malah tangisnya makin menjadi. Aku pun coba menenangkannya, sehingga tangisannya terhenti.
"Lalu siapa yang telah membuat luka memar di tanganmu ini?" tanyaku dengan penuh selidik.
"Ini tidak sengaja Kak?!" Kata Ratu sambil menundukkan kepalanya.
"Ayo ceritakan, bagaimana bisa ini sampai seperti ini?" Tanyaku sambil memegang lengan Ratu dan menunjukkan luka memar itu.
"Ini karena Ratu telah berbuat ceroboh," jawab Ratu kukuh dan menutupi kejadian yang sebenarnya.
Aku pun menyerah, dan membiarkannya sampai dia mau bercerita sendiri. Aku pun mengambil salep di kotak pengobatan untuk mengobati luka memarnya. Ratu hanya meringis kesakitan dan tidak berani menolak pengobatan yang sedang aku lakukan. Biasanya dia akan marah-marah kalau lukanya tidak sengaja aku pegang.
__ADS_1
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan ketua OSIS itu?" tanyaku ingin tahu akan kelanjutan hubungan Ratu dengannya.
"Kita belum putus, walau sudah diam-diaman dan tidak saling menyapa karena kesalahpahaman yang telah terjadi" jawab Ratu sambil mengusap air matanya yang jatuh di pipi mulusnya.
Saat aku ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba pintu UKS terbuka. Tampilkan sosok Rendra yang berdiri dengan keringat yang bercucuran di kening dan lehernya.
"Ratu kamu tidak apa-apa? Apa kamu terluka? Mana yang sakit? kenapa tidak bilang bilang kepadaku kalau mereka telah melakukan kekerasan terhadap dirimu?" tanya Rendra bertubi-tubi sampai Ratu tidak bisa menjawabnya.
Aku sangat terkejut saat mendengar pengakuan dari Rendra tersebut. Bahwa Ratu telah menjadi korban bully dari siswa sekolah di sana.
"Ayo Ratu katakan kepada kakak, apa yang sebenarnya telah terjadi kepadamu?" tanyaku dengan menatapnya.
"Ini terjadi akibat dari dorongan Kak Dina, sehingga tubuh Ratu membentur pilar yang ada di dekat laboratorium," jujur Ratu sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi Dina yang melakukan ini kepadamu?!" tanya Rendra dengan wajahnya yang sangat terkejut.
" Siapa itu Dina?" tanyaku sambil menatap wajah Rendra.
"Dia adalah bendahara OSIS, yang sekarang telah duduk di kelas tiga," jawab Rendra sambil melihat ke arahku.
"Kenapa dia melakukan ini kepadamu?" tanyaku sambil melihat ke arah Ratu.
"Itu karena kak Dina menyukai Kak Rendra," jawab Ratu sambil melihat ke arah Rendra.
"Tapi aku hanya mencintaimu, Ratu!" jujur Rendra sambil memegang tangan Ratu.
"Tapi Kakak tidak percaya kepadaku? dengan menuduh aku sudah selingkuh!" ada Ratu sambil menangis kembali.
"Itu karena kemarin aku terhasut oleh foto-foto yang tersebar di sekolah," jawab Rendra dengan sungguh-sungguh.
"Karena Ratu telah mendapatkan perbuatan yang tidak menyenangkan dari seorang murid laki-laki yang telah memeluk dan menciumnya. Juga dari kakak kelas perempuannya yang telah bertindak kasar sehingga membuat Ratu mengalami luka memar, maka Aku ingin kamu bisa bertindak adil dan tegas!" kataku kepada Rendra.
"Aku juga akan membawa masalah ini ke jalur hukum." kata ku dengan penuh penekanan.
*****
JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH DAN VOTE NYA JUGA YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1