3 Dekade Yang Disempurnakan

3 Dekade Yang Disempurnakan
Kakek Baron dan Nenek Sari


__ADS_3

Part 11


    Karena sudah malam aku mengayuh sepeda dengan sangat kuat biar lajunya kencang. Angin malam yang menerpa tubuhku dengan kencang pun, aku hiraukan. Aku harus cepat-cepat sampai ke rumah. Karena bisa saja ayah dan ibu khawatir padaku. Jarak rumah Rania ke rumahku sangat jauh sekali. Hampir satu jam aku mengayuh sepeda dari rumahnya menuju rumahku. Saat aku sampai dirumah ternyata lampu masih menyala. Itu menandakan kalau orang di dalam rumah belum tidur.


    Saat aku memasukan sepeda ke garasi, ternyata ibu sudah berdiri di teras depan. Sambil memasang wajah khawatir tapi berpose sangat marah dengan bertolak pinggang dan menghadang jalanku.


" Dari mana saja kamu! Kenapa baru pulang sekarang?" tanyanya kepadaku yang baru saja menginjakkan kaki di teras.


" Maaf, Bu. Raja baru pulang dari rumah teman. Dia rumahnya sangat jauh dan tadi tidak ada kendaraan yang menuju ke rumahnya," jawabku dengan kepala tertunduk, membuktikan bahwa aku benar-benar minta maaf atas kelakuanku ini.


   Aku tidak ingin membuat ibu marah, karena bagaimanapun ibunyalah orang yang paling sayang terhadapku. Selalu mendukung apapun yang aku mau dan ingin kulakukan.


" Lain kali kalau kamu mau main kerumah teman kamu itu jangan sampai larut malam seperti ini!" Ibu menatap ke arahku dengan matanya yang bergetar, terlihat kesedihan dari pancarannya.


" Baik, Bu."


    Aku pun mengikuti ibu masuk kedalam rumah. Ternyata bukan hanya ibu yang menunggu kepulanganku. Tapi ayah juga menungguku sambil duduk di kursi ruang tamu. Ibu memintaku untuk cepat tidur karena sudah malam.


    Karena tubuhku sudah lengket karena keringat, maka aku pun mandi terlebih dahulu. Ternyata ibu sudah menyiapkan air panas di panci, kalau aku ingin mandi.


    Aku pun tertidur dengan sangat pulas, sampai suara ibu membangunkan aku di pagi harinya. Dengan tubuh yang sudah segar aku menuruni anak tangga dengan berlari, agar cepat sampai.


" Pagi Ayah!"


" Pagi Ibu!" 


    Sapaku kepada kedua orang tuaku yang sedang berada di ruang makam. Aku pun duduk disamping ayah.


" Raja, kamu bisa tidak nanti sepulang sekolah menjenguk kakek?!" tanya ayah kepadaku.


" Eh, Raja tidak tahu, Yah!" jawabku dengan nada sedikit menyesal. Karena tidak langsung bisa menyanggupi keinginan ayahku.


" Tapi, jika pulang sekolah tidak ada latihan basket. Nanti Raja akan datang ke rumah kakek."


Kami pun akhirnya sarapan bersama dalam diam. Karena aku sedang tidak mood untuk banyak bicara. Pikiranku masih dipenuhi oleh Rania, calon istriku dimasa depan.


*****

__ADS_1


     Sepulang sekolah aku langsung mengunjungi rumah Kakek. Aku tidak tahu kenapa ayah memintaku untuk mengunjungi rumah Kakek. Setelah hampir setengah jam aku mengayuh sepeda, akhirnya sampai juga di rumah Kakek.


    Aku mengetuk pintu rumah Kakek yang terkunci. Setelah beberapa kali mencoba mengetuk pintunya. Aku merasa kalau ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi kepada Kakek.


   Kebetulan ada yang lewat beberapa orang warga di depan rumah Kakeknya. Aku pun meminta bantuan kepada mereka untuk membantuku, mendobrak pintu. Dengan kekuatan tenaga tiga orang laki-laki, akhirnya pintu itu bisa terbuka.


   Aku memanggil-manggil nama kakek, di setiap ruangan. Namun tak ada jawaban darinya. Akhirnya aku putuskan untuk menelepon ayah, dan memberitahu tentang keberadaan kakek yang tidak ada di rumahnya.


   Saat aku ingin buang hajat, ternyata pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Aku pun panik, baru menyadari kalau kakek, sebenarnya ada di dalam kamar mandi sejak tadi.


   Aku kembali memanggil orang-orang, untuk membantuku, mendobrak pintunya. Ketika pintu berhasil dibuka, ternyata kakek dalam keadaan tidak sadar dan berbaring di lantai.


" Kakek! Bangun, Kek!" Aku menepuk-nepuk pipi kakek berharap beliau sadar.


" Kita bawa ke rumah sakit saja!" ajak salah seorang dari warga yang ikut membantuku mendobrak pintu tadi.


" Tolong, dibantu Pak!" pintaku kepada mereka semua.


   Kini aku sudah berada di Rumah Sakit Anugrah, tempat ayah bekerja. Tadi aku sudah kembali menelepon ayah dan paman. Kalau kakek tidak sadarkan diri di kamar mandi.


    Saat aku sedang menunggu di depan UGD, tanpa sengaja aku bertemu dengan nenek Sari, adik perempuannya Kakek.


" Nenek Sari?" Aku sangat terkejut dengan pertemuanku kali ini dengannya. Aku ambil tangannya dan menciumnya secara takzim.


" Raja sedang mengantarkan kakek, beliau pingsan tadi di kamar mandi," jawabku apa adanya.


" Huh, lihatlah ternyata kesombongan sifatnya itu. Dia masih butuh orang lain ternyata!" Nenek Sari berkata dengan nada tinggi, sambil menyunggingkan senyuman sinisnya kepadaku. Walau aku tahu, beliau tidak bermaksud untuk merendahkan ku. Tetapi tujuannya kepada kakek.


" Raja! Bagaimana dengan keadaan kakek?" tanya Paman yang baru saja datang dengan berlari menghampiriku.


" Kakek masih diperiksa oleh tim medis."


   Aku menjulurkan kepalaku untuk melihat ke arah Kakek, lewat kaca jendela.


" Eh, Bibi Sari? Kenapa bisa ada disini?" tanya Paman Shogun saat menyadari ada bibinya berdiri disini.


" Kebetulan saja sedang menjenguk tetangga yang lagi dirawat di rumah sakit," jawab Nenek Sari dengan nada bicaranya yang sinis.

__ADS_1


    Menurutku Nenek Sari dan Kakek Baron itu saling melengkapi dalam hal sifatnya yang buruk. Kakekku itu memiliki sifat keras kepala, otoriter, nggak mau kalah. Apalagi dia anak sulung yang merasa harus dihormati dan didengarkan apa saja yang diucapkannya. Sedangkan Nenek Sari itu orangnya keras kepala, suka membicarakan kesalahan orang lain, dan kerap semaunya sendiri. Hubungan Kakek Baron dan Nenek Sari, sejak dulu kurang harmonis. Bisa dibilang kayak kucing dan anjing.


   Aku dan Paman diam, duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruang UGD. Begitu juga dengan nenek Sari, beliau ikut duduk disamping Paman.


    Aku lihat dokter yang tadi menangani Kakek berjalan keluar lewat pintu UGD. Maka aku pun berdiri dan diikuti oleh Paman dan Nenek.


" Dokter, bagaimana dengan keadaan kakek?" tanyaku saat kami berdiri berhadapan.


" Kakek Baron, terkena gejala stroke ringan," jawabnya dengan wajah yang penuh simpati.


" A--Apa! Stroke?" Paman Shogun bertanya seolah dia salah dengar.


" Stroke ringan, Paman," jawabku sambil menggoyangkan lengannya.


" Tenang, beliau masih bisa sembuh," lanjut Dokter lagi saat aku melihat ke arahnya.


" Syukurlah," kataku mengungkapkan apa yang kurasakan saat ini.


" Kapan Kakek akan dipindahkan ke ruang rawat inap?" tanyaku kepada Pak Dokter.


" Sekarang juga kakek Baron akan dipindahkan ke ruang rawat inap," jawab Dokter.


" Tuh, lihatkan? Dia masih butuh orang lain ternyata! Mana sifat sombongnya yang nggak butuh sama saudara itu?" Nenek Sari masih saja ngedumel saat tahu kondisi Kakek.


" Ya, Nek. Kita sebagai manusia selama masih hidup pasti butuh dengan dengan orang lain," kataku supaya emosi nenek Sari mereda.


" Raja, ingat jangan tiru sifat kakekmu itu!"


*****


JANGAN LUPA KLIK LIKE, FAV, HADIAH, DAN VOTE NYA JUGA YA.


DUKUNG AKU TERUS DENGAN MEMBERIKAN JEMPOL YANG BANYAK.


TERIMA KASIH.


    

__ADS_1


    


__ADS_2