
• Message from Father •
Diperjalanan menuju pulang, Allena berpapasan dengan Albern. Satu sama lain saling melemparkan tatapan tajam. Ditambah lingkaran cahaya di langit yang menyilaukan mata, membuat suasana semakin panas.
Allena menyampirkan rambutnya ke bahu kiri, sehingga leher jenjangnya terekspos jelas.
Sedangkan Albern mengangkat sebelah alisnya, heran. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah gadis di depannya itu tengah mencoba menggodanya?
"Gerah," gumam Allena seraya mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar leher, namun dengan pandangan menolak melirik Albern.
"Sudah mulai menjadi ******, heh?"
Allena sempat melotot, namun di detik kemudian dia terkekeh. "Sepertinya aku harus cepat-cepat pergi, sebelum aku hangus terbakar udara di sini. Ugh, semakin panas saja!"
Allena mengabaikan pertanyaan Albern dengan mengayunkan kakinya, hendak berlalu. Tetapi tangan kekar Albern telah lebih dulu menahan pergerakannya. Albern yang menarik lengan Allena tiba-tiba, membuat kepala gadis itu menubruk dada bidangnya.
"Albern!" jerit Allena dengan tangan meronta-ronta, kesal.
"Aku sudah menduga, kau tidak akan mudah melupakanku begitu saja."
"Enyahlah dariku!"
"Tidak semudah itu."
"Kau-"
"Tunggu," sela Albern, sebelum kemudian memangut lembut bibir gadis dalam dekapannya.
Bukannya memberikan perlawanan, Allena justru mematung dengan tatapan lekat pada pria itu. Ia juga tidak sadar akan hal itu. Sampai pada Albern melepaskan ciuman dan dekapannya. Ditambah seruan menggemaskan orang-orang yang melihat adegan mereka.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan!?"
Albern menanggapi dengan senyuman miring serta wajah tanpa dosa. "Hanya membersihkan kotoran di bibirmu," ujarnya santai dengan tangan bersidekap dada.
Allena menggeram. "Mengapa harus aku?"
"Hm?"
"Mengapa harus aku yang kau kejar!?" Allena kembali meninggikan nada suaranya. "Dari sekian banyak wanita cantik yang mengagumimu, mengapa kau memilih aku yang jelas-jelas tidak suka padamu?" sambungnya, kini dengan pelan lebih mirip gumaman.
"Karena ... kau, istimewa."
•••
"Aarrgghh!" Allena membantingkan barang-barang di kamarnya.
Tubuh Allena merosot, menimpa lantai. Rambut cokelatnya menutupi sebagian wajah karena posisi kepalanya yang menunduk terkulai lemas.
"Tuhan... mengapa hidupku seperti ini?" lirih Allena seraya mengusap kasar bibirnya. Dalam setahun ini bibirnya sudah dicicipi oleh dua pria yang berbeda. Ia merasa dirinya kotor. "Beritahu aku, Tuhan... apa yang mereka incar dariku? Fisik? Di luar sana masih banyak gadis yang lebih sempurna dariku!"
Ponsel Allena berbunyi sekali, tanda adanya pesan masuk. Jengkel, Allena bangkit dan merogoh ponsel di tasnya dengan kasar.
Unknown number :
Allena, ini Ayah. Untuk kali ini saja, kau turuti kemauanku. Aku ingin bertemu denganmu. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan.
Allena berpikir sejenak. Mengetahui siapa gerangan pengirim pesan tersebut, mood-nya menjadi dua kali lipat lebih buruk. Tapi pada akhirnya ia tetap mengetikkan balasan.
Me :
__ADS_1
Jika maksudmu hal penting mengenai penyelesaian masalah antara kau dan Ibu. Tidak. Itu urusan kalian berdua. Sudah berapa kali kubilang, aku tak mau ikut campur.
Sebenci-bencinya Allena pada ayahnya. Tetap saja, sebagai putri yang baik harus menghargai orang tua. Biar pun hanya kadang-kadang. Seperti sekarang ini. Ia merasa enggan, namun terpaksa membalas sebagai bentuk penghormatan.
Kling!
Ponselnya kembali berbunyi. Allena segera memeriksanya.
Unknown number :
Sama sekali bukan.
Rasa penasaran mulai merasuki Allena. Entah mengapa, ia merasa perlu tahu hal penting itu. Meski enggan bertemu Travis, namun demi memuaskan rasa penasarannya ia memutuskan untuk turut.
Me :
Baiklah. Di mana kita bisa bertemu?
•••
Dua orang gadis muda mendarat dari ketinggian gedung pencakar langit dengan mulus.
Salah satu di antaranya yang memiliki rambut hijau tersenyum sinis pada gadis berjaket hitam di sebelahnya. "Menyerahlah. Selama aku masih hidup, kau dan yang lainnya tidak akan bisa mendapatkan dia," ucapnya seraya menggerling pada satu titik yang tengah bergerak di kejauhan sana.
Gadis satunya lagi membalas dengan decihan jijik. "Sombongnya... kita lihat saja nanti."
•••
TBC...
__ADS_1