
• Coercion from Mother •
Perlahan manik cokelat itu terbit. Allena melenguh lemah sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Setelah bangkit dari berbaringnya dan duduk di pinggiran ranjang, ia memandangi ke seisi ruangan dengan keadaan masih setengah sadar.
Bernuansa hitam.
Allena tercengu. Jika ada ruangan tempat tidur yang serba putih, berarti itu miliknya. Sedangkan apa yang dilihatnya sekarang? Jelas bukan. Ini bukan kamarnya!
Ia menolehkan kepalanya ke sana kemari, berusaha mengingat kejadian mengenai bagaimana dirinya bisa berada di tempat ini.
Tetapi belum sampai Allena berpikir jauh, suara bariton seseorang sudah mengalihkan perhatiannya. Hazel terang itu lagi, titik terang ditemukan. Cuplikan adegan waktu sore menjelang malam itu berputar di memori pikirannya. Sulit dipercaya, sosok pria berengsek itu yang berada di balik jubah hitam misterius.
"Kau!" Allena segera bangkit dari duduknya dan mulai menyalakan sinyal waspada. Bukan hanya itu, tangannya juga bergerak spontan, meraba lehernya. Takut jika pria itu telah menancapkan taringnya dan tahu-tahu pagi ini dirinya telah satu ras dengan Albern. Bencana besar jika itu sampai terjadi. Tetapi akhirnya ia bisa bernapas lega karena lehernya terasa masih mulus, itu cukup membuktikan jika pria itu belum menyentuhnya.
Pagi ini penampilan Albern telah berubah. Ia memakai pakaian santai, kaus dan celana levis kehitaman. Entah dikemanakan jubah hitam mengerikan itu, Allena tidak tahu dan tidak terlalu perduli juga. Cukup hebat, persis seperti manusia biasanya. Penampilan benar-benar menipu.
"Minggir, aku mau pulang!" seru Allena di tempatnya kepada Albern yang masih asyik berdiri di ambang pintu.
Albern berdeham dengan melipat tangannya di depan dada. "Setelah semua yang kau lihat semalam, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Allena tersenyum sinis. "Kau pikir saja sendiri!"
Jelas akan menghindar dan berharap tidak bertemu denganmu lagilah! sentak sanubari Allena.
Rahang Albern langsung mengeras. Ia mulai mengayunkan kakinya ke depan, mendekati Allena, membuat gadis itu panik gelisah.
"Jangan mendekat!" larang Allena dengan mengulurkan telapak tangannya lurus ke depan, tepat di wajah Albern, berharap itu bisa menghentikan pergerakan sang vampir.
Tetapi tidak berpengaruh sama sekali begitu melihat Albern justru menyeringai dan melanjutkan langkah santainya.
"Hey, please..." ucap Allena, memelas.
Albern merengkuh paksa pinggang Allena. Sebelah lengannya menggenggam lengan gadis itu.
"Tolong!" teriak Allena seraya meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari dekapan Albern. Bulu kuduknya langsung pada berdiri begitu merasakan napas dingin menerpa kulit lehernya.
"Ini apartemenku, juga kedap suara. Jadi percuma kau berteriak, tidak akan ada yang mendengar." Setelah mengucapkan itu, Albern mengecup leher jenjang dan meremas kecil pinggang ramping Allena.
__ADS_1
"Dasar mesum! Lepaskan aku berengsek!" gertak Allena sembari mendorong refleks dada bidang Albern, untungnya berhasil menciptakan jarak di antara mereka meski sedikit.
"Sekali kau mengenalku, maka sulit bagimu untuk melupakanku." Albern kembali mencondongnya wajahnya ke depan, dan berbisik tepat di telinga Allena. "Mau kau lari sampai ke ujung dunia pun, aku tetap akan menangkapmu. Camkan itu!"
Allena mendesis, beringsut mundur. Ia mendelik pada Albern, lantas mengambil kesempatan untuk berlari menuju pintu. Untungnya, Albern tidak mengejar. Tapi, ancaman itu membuatnya takut. Ia tahu pasti semuanya masih belum berakhir.
•••
Baru saja Allena memasuki pekarangan rumah, Melly sudah terlihat keluar saja, tentunya dengan penampilan rapi.
Di sana wanita paruh baya itu terkejut tatkala melihat putri semata wayangnya telah pulang. Serentak ia berlari menghampiri Allena tanpa memedulikan tas branded warna hijau tosca-nya yang terjatuh.
Begitu pula dengan Allena yang langsung menghambur ke pelukan ibunya. Rasanya saat itu juga ia ingin menangis, menyesali atas kekeras kepalaannya karena sudah berani membantah ucapan sang ibu. Tapi sekuat mungkin Allena menahan dan sekalipun dirinya menangis, tetap tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Melainkan akan membuat ibunya semakin khawatir saja dan bertanya-tanya apa yang terjadi.
"Kau kemana saja? Kau tidak tahu? Ibu bergadang semalam hanya karena mengkhawatirkanmu."
Allena melepaskan pelukan Melly. "Aku tidak apa-apa, Bu. Lihatlah, buktinya aku pulang dengan keadaan baik-baik saja," ucapnya, meyakinkan supaya ibunya berhenti khawatir.
"Kau kemana saja? Kau bilang hanya toko buku," tanya Melly lagi, masih belum puas dengan jawaban Allena.
"Di sana aku bertemu teman kecilku. Dia memaksaku untuk berkunjung ke rumahnya saat itu juga. Dia bilang kalau ditunda, takut tidak punya waktu lagi. Dia orang sibuk. Maaf tidak sempat menghubungi Ibu, saat itu ponselku lowbat," jelas Allena, berbohong sempurna.
Sesaat Melly menyipitkan matanya. Semampu mungkin Allena menyembunyikan gerak-gerik mencurigakannya. Dan beberapa saat kemudian, hatinya lega setelah ibunya berkata. "Baiklah, kali ini Ibu maafkan. Lain kali kau harus memberi Ibu kabar, bagaimana pun caranya. Jikapun ponselmu habis baterai, kau bisa meminjam ponsel milik temanmu."
Allena mengangguk, mengerti. Separuh dalam dirinya juga tidak percaya bisa melakukam kebohongan seperti ini. Rekor untuknya, pertama kali dalam hidupnya sukses berbohong.
"Ya sudah, sekarang masuklah dan persiapkan dirimu," ucap Melly kemudian yang langsung membuat putrinya mengernyit, heran.
"Maksud Ibu?"
"Ibu baru merilis rancangan gaun lagi. Untuk kali ini kau yang akan menjadi modelnya."
Deg!
Allena tidak suka memakai gaun, apalagi dipotret dan diperlihatkan kepada publik. Itu adalah mimpi paling buruk daripada melihat setan datang menceburkannya ke lautan api.
"Tapi-"
__ADS_1
"Ibu tidak menerima penolakan. Jika kau tetap tidak mau menurut, Ibu akan sumbangkan semua koleksi novelmu ke perpustakan masyarakat."
Melly lagi-lagi memaksakan kehendak diri sendiri. Pakai acara mengancam segala. Entah mengapa, belakangan ini hidup Allena amat sial.
Arrghhh!!!
•••
"Allena absen?" tanya Hetty begitu berpapasan dengan Geby di kantin.
Geby mengangguk. "Kau sudah mencoba menghubunginya lagi?"
"Ya, tapi masih tidak aktif juga," sahut Hetty lelah.
"Aku takut dia diculik, secara dia kan gadis berkilau bagai berlian. Pria di luar sana pasti berbondong-bondong untuk mendapatkannya dengan cara apapun. Apalagi Allena selalu cuek pada sekitar, terutama soal pria. Jikapun ada orang yang tertolak, kemungkinan pasti orang itu akan mengambilnya dengan cara paksaan ... atau kalau tidak pria, wanita yang iri mungkin?" Geby melontarkan isi pemikirannya blak-blakan.
"Entahlah, aku hanya bisa berdoa Allena baik-baik saja. Semoga Tuhan melindunginya."
Geby hanya memangut. Tidak berapa lama perhatiannya teralihkan begitu mendengar seseorang memanggil namanya.
"Ray-ups, Mr. Verland," Geby meralat panggilannya kepada pria itu. Pria itu bernama Raymon Verland yang merupakan salah satu dosen muda juga di kampus, sekaligus kekasih diam-diam Geby.
"Ayo!" Pria berumur 25 tahun itu menggenggam tangan Geby, mengajaknya pergi.
Geby sempat melemparkan sunggingan tipis kepada Ray, sebelum menolehkan kepalanya kembali pada Hetty yang membisu. "Bagaimana kalau pulang nanti kita ke rumah Allena? Siapa tahu dia sudah pulang," sarannya kemudian.
Hetty langsung mengangguk, setuju. "Boleh."
"Baiklah. Nanti aku hubungi. Sekarang aku mau menyelesaikan tugas dulu," ucap Geby dengan mengerjapkan matanya lambat, seolah memberi tahu maksud dari kalimatnya.
Hetty yang mengerti hanya terkekeh. "Oke."
Setelah saling mengucapkan salam perpisahan, mereka berlalu, kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Di sisi lain, seseorang tengah berdiri di balik tembok lorong dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku jinnya. Yup, ia mendengar semua pembicaraan dua gadis itu. Allena hilang dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Gadis itu tidak boleh lenyap sebelum ia mendapatkan kepuasan darinya.
•••
__ADS_1
Tbc