A Special Girl

A Special Girl
Chapter 33


__ADS_3

• Small Family •


"Allena, ayo makan... nanti kau sakit." Sudah kesekian kali Uni membujuk Allena untuk mengisi perut, namun respon yang Allena berikan tetap sama. Gelengan.


"Biarkan saja. Itu lebih baik, agar aku bisa cepat bertemu Ibu di surga." Suara semut Allena berhasil ditangkap telinga Uni.


"Tidak, Allena. Jika kau mati karena disengaja oleh dirimu sendiri, bukan surga yang kau dapatkan, melainkan neraka. Jangan permalukan ayahmu. Dia makhluk suci, kau harus mengikuti arusnya."


"Tapi aku lelah hidup penuh ancaman seperti ini... aku tidak tahan terus-menerus merasakan sakit hati." Allena meremas dadanya, sudah mulai merasa pupus harapan.


"Ini adalah cobaan, Tuhan sedang menguji kekuatanmu. Percayalah, Dia pasti memiliki rencana yang lebih baik dari ini. Never give up!"


Allena menyeka air matanya yang menetes, sebelum menghambur ke pelukan makhluk di sebelahnya. "Terima kasih. Meski kita baru kenal beberapa hari, tapi kau sudah bersedia membantu dan menyemangatiku ... aku tidak tahu harus membalas apa ... tapi yang pasti aku merasa ... a .. aku adalah satu-satunya orang yang paling beruntung mempunyai teman sepertimu."


Uni mengusap-usap bahu Allena. "Inilah gunanya pertemanan, dan aku juga bangga bisa menjadi teman makhluk sekuatmu."


•••


"ALLENA! AKU TAHU KAU ADA DI DALAM! KELUARLAH!"


Teriakan dari luar gua membuat Allena gentar. Rautnya cemas. Tanpa melihat sosoknya di sana, dia sudah tahu pasti siapa pemilik suara itu.


"Kau tunggu di sini. Biar aku yang menghadapinya." Setelah berkata seperti itu, Jose berlalu dengan jemari melingkari gagang tombak.


"Aku ikut!" Dengan keberanian penuh Uni mengayunkan kakinya mengekori Jose.


Allena semakin panik. Dia langsung bergerak cepat menghalangi kedua orang itu. "Tunggu, semuanya!"


Mereka yang di depannya mengernyit dengan lidah mengelu.


"CEPAT SERAHKAN DIRIMU, ATAU AKU YANG AKAN MERAMPASNYA!" Teriakan itu kembali terdengar.


Jose memperdalam delikannya ke Allena yang bertingkah konyol. "Apa yang kau lakukan? Jangan main-main, kita tidak punya banyak waktu."


"Aku serius! Selama ini kalian sudah berusaha keras melindungiku. Untuk kali ini biar aku saja yang hadapi."


"Tapi kau ..."


"Please, aku tidak sepolos anak kecil lagi. Bukan mau menyombongkan diri dengan bisa melawan seorang diri. Tapi aku hanya tidak ingin semua ancamanku kalian yang tanggung selalu." Allena memotong kalimat Jose dengan nada berat. Tatapannya menyiratkan permohonan yang dalam agar dua makhluk itu menuruti keinginannya.


" ... Baiklah. Jika ada apa-apa, berteriaklah sekeras mungkin. Maka kita akan segera membantu."


Allena mengangguk mantap.


"Semangat! Pendengaranku akan selalu mengawasimu!" Uni mengacungkan jempolnya dengan menyertai senyuman lebar.


•••


Begitu melihat ke luar, mata Allena langsung membesar sempurna. Dia pikir yang akan dihadapinya hanya mantan dosennya itu. Tapi ternyata berpasukan. Di sana, Kathrine menjadi di antaranya.


"Ah, akhirnya kita bertemu lagi!" Lilisen berbinar-binar menyongsong kemunculannya.


Makhluk immortal dari berbagai klan berkumpul dengan sorot nafsu tidak tertahankan. Allena tidak habis pikir, segitu obsesinya mereka pada dirinya sampai bersatu tidak perduli dengan musuh sekalipun hanya untuk mendapatkan kekuatannya?


Yang lebih mengejutkan lagi, sesaat kemudian Albern muncul dari kerumunan makhluk itu, selalu dengan tatapan misteriusnya mengarah pada Allena.

__ADS_1


"Uhm, kalau perlu, kau boleh berbasa basi sebentar dengan mantan kekasihmu itu," ujar Bryan kepada Albern.


Tidak ada jawaban. Bryan pun mengedikkan bahu, acuh tidak acuh. Dia menggerakkan tangannya di udara, memberi isyarat penyerangan.


Pasukan immortal itu maju. Dengan cepat Allena berlari sambil mengepakkan sayapnya, mencari tempat yang lebih lapang.


Bryan merubah diri menjadi seekor serigala dan mengaum. Kathrine melompat dengan lincah dari pohon ke pohon, berusaha melalui Allena. Sementara Albern, dengan kecepatan kilatnya berhasil mengepung dari belakang.


Allena mengawasi sekitar dengan perasaan waswas. Lilisen melayangkan kedua tangannya hingga detik itu juga tumbuh-tumbuhan di sekitar bergerak menari-nari. Allena loncat ke belakang tatkala akar dari sebuah pohon besar hendak meliliti kakinya.


Jelmaan serigala dari Bryan menerkam dari depan ketika Allena sedang kehilangan fokus sehingga berhasil menciptakan goresan panjang di pipinya.


Albern mendekat dengan sangsi. Allena akhirnya berhasil meloloskan diri dengan mengguling tubuhnya ke samping.


Sebelum Albern sempat menyentuh bahunya, gerlingan Allena segera menyadarkan, dan tenaga dalampun beraksi.


Albern terhempas dan tersungkur begitu saja. Walaupun demikian, dia tidak mengeluarkan reaksi layaknya orang yang kalah maupun kesakitan.


Kathrine bergegas membantu saudaranya bangkit lagi.


Allena benar-benar tidak tega melihatnya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia terpaksa demi keselamatan dirinya sendiri.


"Menyerahlah! Daripada melawan, buang-buang tenaga. Pada akhirnya kau akan kalah juga."


Allena menoleh. "Oh ya? Mengapa kau begitu yakin?"


"Apa kau tidak melihat betapa banyaknya kami?"


"Terkadang kemenangan tidak hanya bisa diprediksi dengan melihat banyak atau tidaknya lawan. Tetapi kecerdikan dan kekuatanlah yang menentukan."


" ... Terima kasih ... sambutannya."


Dari depan, tampak Hybrid tengah berlari hendak menyerang juga. Allena akan memanfaatkan kesempatan itu. Dia langsung menjambak rambut sang manusia rubah, lantas menendangnya hingga tubuh makhluk itu terlempar dan menubruk Hybrid.


"Awwh!"


Allena tersenyum puas, sesaat, sebelum melihat ke sekeliling. Baru sadar jika dirinya sudah terkepung. Melawan pun dirinya tidak yakin akan menang. Banyak makhluk yang menyeringai, menantikan ajalnya.


Allena memutar tubuhnya, sehingga muncul gelombang biru yang pelindungnya. Semua makhluk yang menyerang terpental, tidak dapat menyentuh Allena. Perlahan, tubuhnya mengapung dari dasar tanah, sayapnya mengepak lamban.


"Al, kau sudah memiliki sebagian kekuatannya. Cepat, terobos pelindung itu!" pekik Kathrine di sebelah Albern.


Albern tidak merespon. Pandangannya melekat ke satu arah, kelopak mata Allena.


Lihat aku, Al. Buka matamu... kau tahu, betapa rindunya aku akan kedekatan kita!


Entah Allena mendengar atau tidak kata hati Albern. Tetapi seperkian detik, mata emasnya terbit. Terlihat berkaca-kaca.


Albern tersenyum getir. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Ini adalah kali pertama dirinya menangis selama seumur-umur.


"Allena."


Allena menoleh ke sumber suara, dan melihat sosok wanita berpakaian putih itu lagi. "Ibu?"


"Jadilah malaikat sesungguhnya," tutur Maritena. Allena masih belum mengerti apa maksudnya. Maka, dia terdiam, mengharapkan bayangan ibunya melanjutkan berkata-kata.

__ADS_1


Maritena memeluk sejenak putrinya dan tersenyum. "Jangan simpan dendam, walau sejahat apapun orang itu. Ibu tahu hatimu terluka dan mengerti apa perasaanmu, pasti sulit sekali menerimanya. Tapi kau keturunan makhluk suci. Jiwa malaikat. Ada waktunya umur berhenti. Jadi, sebelum kau menyesal, gunakanlah kesempatan yang ada untuk memperbaiki keadaan."


Tangis Allena pecah. "Bawa aku bersamamu, Bu..."


"Belum saatnya. Tenanglah, Ibu dan Ayahmu pasti menunggu kehadiranmu di surga."


Allena menyeka air matanya dengan asal. Baru mau memeluk ibunya lagi, bayangan Maritena sudah lenyap.


"Allena ..."


Allena melihat ke bawah, kaget, Albern sudah berada di dekatnya. Tangan pria itu terulur, menembus lengkungan gelombang yang mengelilingi tubuhnya.


"Raihlah tanganku," ucap Albern dengan lembut nan lirih.


Tanpa keraguan, Allena menerimanya. Albern menangkap tubuh Allena dengan posisi memeluk.


"Aku merindukanmu." Albern mengelus rambut Allena.


"Aku tahu."


"Apa kau juga tahu apa perasaanku sekarang?"


Allena bungkam. Enggan menjawab. Albern mulai melembut. Tetapi dirinya tidak dapat memastikan apa perasaan, isi hati pria itu.


"Aku ... mencintaimu."


Hati Allena kembali bergetar. Tidak. Albern boleh baik. Tapi jika mengucapkan kata itu yang ternyata dusta, dirinya tidak sanggup menerima.


"Jangan, kumohon... untuk seterusnya berkata jujurlah, walau itu menyakitkan. Daripada berbohong, kau tahu? Itu lebih menyakitkan lagi."


"Maaf atas segala dosa yang kuperbuat kepadamu. Dulu, niatku memang buruk karena rasa rakusku akan kekuasaan. Namun, sekarang, karena cinta tulusmu, aku sadar apa yang kuperbuat itu jalan yang sesat." Albern menghela napas berat. "Aku tahu, mendapat kepercayaanmu lagi itu merupakan hal yang sulit. Tapi kumohon, Allena... beri aku kesempatan untuk berusaha mengembalikan kebahagiaan. Jangan membuatku menyesal seumur hidup."


Allena menangkup rahang Albern dengan tangan kanannya, lalu mengangguk kecil. "Aku sudah memaafkanmu."


Albern tersenyum.


Detik berikutnya mereka berciuman. Semua makhluk di sana yang melihat hanya bergeming. Tidak ada pemberontakan sedikit pun. Seolah terpana dengan pemandangan di hadapannya. Benarkah masih ada setitik rasa tidak tega di hati para makhluk immortal itu?


"Aku bersumpah akan selalu menjadi tamengmu ..." bisik Albern dengan sensual di telinga Allena.


"Sejak di dunia mortal, kau sudah sering melindungiku."


"Terima kasih."


"Untuk apa?"


"Untuk Tuhan karena telah mengutusmu menjadi cinta sejatiku."


Allena tertawa pelan dan mengulum senyum. "Jadilah kepala keluarga yang terbaik untuk keluarga kecil kita."


Albern mengangkat alis.


"Buah hati kita." Allena mengelus perutnya yang masih rata.


•••

__ADS_1


__ADS_2