
• His Weakness •
Keesokan harinya, Allena terbangun dengan pandangan hampa. Albern tidak ada di sebelahnya. Sebelum pemikiran buruk merasuki pikiran, sapaan dari arah pintu dengan cepat mencegahnya.
"Sudah bangun, sayang?"
"Tch, kau bertanya seperti orang bodoh saja. Bahkan anak balita pun bisa tahu hanya dengan melihat apa yang terjadi di depannya," cemoh Allena disusul kekehannya, lalu mengeratkan remasan tangannya pada ujung selimut.
"Itu sekadar basa basi saja, tidak usah dianggap serius." Albern terkekeh juga sembari mengayunkan kakinya untuk mempersempit jarak dengan Allena.
Melihat itu, Allena panik dan cepat-cepat menenggelamkan diri ke balik selimut.
"Sudahlah, tidak perlu disembunyikan. Lagi pula aku sudah melihat ... bahkan merasakannya semalam."
"Uhm... tapi ..." Allena menutup wajahnya yang dapat dipastikan sudah semerah kepiting rebus.
Oh Gezz!
Seharusnya rasa malu itu sudah lenyap saat Allena sendiri tahu akan semua yang telah terjadi.
__ADS_1
Albern masih enggan pergi dan tetap berdiri di samping ranjang dengan senyum mengembang menyebalkan. "Baiklah. Sekarang kau mandi sana, aku akan kembali lagi dalam lima menit," ujarnya kemudian diakhiri kedipan menggoda.
"Apa? Tapi, waktu segitu tidak akan ***-astaga, vampir gila!" Allena menatap tajam punggung Albern yang perlahan menjauh dan lenyap di persimpangan pintu.
Pada akhirnya mau tidak mau Allena pun bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Padahal sebenarnya dia masih ingin bergelung selimut sampai tengah hari, mengingat semalam dirinya telah melakukan suatu kegiatan yang sangat melelahkan-menghadapi makhluk buas.
Dirasa penampilannya telah rapi, dia pun melangkah menuju pintu kamar hendak keluar. Itu pun dengan gerakan lamban, karena perut bagian bawahnya masih terasa perih. Baru saja mau memutar kenop, seseorang dari luar sudah mendahuluinya.
"Al, kau membuatku kaget!"
"Maaf," ujar Albern, kemudian menggiring gadis itu duduk di pinggiran tempat tidur. Di tangan kanan Albern tampak sebuah mangkuk yang mengepulkan asap beraroma bawang goreng menggoda.
"Hm... Sup?" tebak Allena, langsung dibalas anggukan mantap Albern.
"Tentu saja bisa, aku kan pintar dalam segala hal."
Allena berdecak sembari memutar mata malas. "Yeah, anggap aku percaya itu. Maksudku, bagaimana kau mendapatkan sayurannya?"
"Uhm, aku bangun lebih awal darimu, lalu pergi ke kota dan berbelanja." Allena menatap Albern dengan intens. "Aku sengaja melakukan itu agar kau tidak pergi lagi," sambungnya dengan pelan.
__ADS_1
Allena menghela napas lelah. Dia sudah menduga, selembut apapun dirinya memperlakukan Albern, pria itu tetap tidak akan membiarkan dirinya kembali ke sana, rumah kelahirannya. Lagi pula dia juga sudah tidak berniat kabur lagi dari Albern, sebab sekarang dan mungkin selamanya, pelabuhan hatinya ada pada pria itu. Bukan hanya hati, tetapi separuh jiwanya juga.
"Terima kasih, sudah repot-repot memasakanku."
"Jangan berkata repot lagi, kata itu menggambarkan seolah aku adalah seseorang yang lemah."
"Huh, setiap makhluk sudah pasti mempunyai titik kelemahan. Tanpa terkecuali dirimu. Aku akui kau memang hebat bagiku. Tetapi bukan berarti kau sosok paling kuat yang tidak terkalahkan bagi dunia."
Albern menyungging kecut. "Baiklah. Terserah kau saja. Sekarang, makanlah."
Allena memejamkan matanya sejenak dan mengembuskan napas, sabar. Jujur, dia gemas sekali dengan sikap Albern. Sedari dulu jika diberi sanggahan, respon pria itu selalu saja kata Terserah.
Tetapi dia anggap ini ujian mencintainya, dia akan mencoba mengubah perilaku-perilaku buruk Albern yang masih menerap hingga kini. Jika dia terus bersabar dan tekun merubahnya, kepribadian Albern mungkin bisa menjadi lebih baik lagi.
Mereka saling menyuapi satu sama lain. Albern awalnya tidak mau disuapi, tapi karena rengekan disertai raut memelas sang kekasih, akhirnya dia pun menurut.
"Sekarang aku sudah bisa mengetahuinya."
Albern mengangkat sebelah alis, bingung. "Maksudmu?"
__ADS_1
Allena tersenyum mesem, lalu mencolek hidung Albern dengan gemas. "Kelemahanmu. Itu aku."
•••