
• The Figure In My Dream [Special Chapter Allena POV] •
Gumpalan lembut menggoda kulitku. Dengan lincah tanganku menari menembusnya. Di tengah keasyikan bermainku, muncul siluet seorang wanita. Mengapa wanita? Terlihat dari siluet rambut panjangnya dan aku hanya menyimpulkan dari sana saja. Seiring dengan bayangan itu yang berjalan-ah tepatnya, terbang mendekatiku, tampaklah sosoknya yang semakin jelas pula. Seperti yang kuduga, dia benar-benar wanita.
"Halo!" sapanya disertai senyuman manis, setelah menghadapku.
Sempat aku terpaku oleh sorot dari dua bola kristal cokelatnya, terasa menenangkan. Apalagi saat dia memeluk erat serta mengelus rambutku dengan penuh kelembutan, hatiku bergetar hebat merasakan desiran darah hangat dalam tubuhku.
"Aku merindukanmu." Suaranya yang merdu mengalun pelan memasuki rongga telingaku.
Entah mengapa, padahal kalimat itu sederhana namun hatiku lagi-lagi berdegup kencang dibuatnya.
"S ... siapa kau?" aku bertanya lirih dan tergagap. Tanganku bergerak hendak membalas pelukannya, namun lagi-lagi urung karena ragu yang menyelimuti.
"Aku adalah-"
"Allena."
Hosh ... Hosh ... Hosh
Aku terbangun dengan posisi terduduk tegak. Albern mengulurkan tangannya untuk mengusap dahiku yang ternyata mengeluarkan peluh banyak.
"Mimpi buruk?"
Saat di dunia lain pun suaranya sempat muncul juga. Dengusan kekesalan kukeluarkan karena panggilan Albern telah menginterupsi mimpiku. Tapi pada akhirnya aku merespon juga, dengan gelengan.
"Aku melihat kegelisahan dalam tidurmu."
Aku hanya mangut-mangut kecil. Lantas mengangkat pandangan ke atap kamar, menerawang gagasan dari cerita mimpiku tadi. Tapi nihil, tidak ada yang kumengerti dari adegan itu. Sungguh membingungkan.
"Tadi, waktu aku tidur apa saja yang kau lihat?" Kuputuskan untuk menanyakan keadaanku saat di alam bawah sadar beberapa saat lalu.
"Racauanmu."
"Hanya itu?"
Albern mengangguk tegas. Aku pun menghela napas sembari menyenderkan tubuh ke kepala ranjang. Segera kucoba lupakan mimpi tadi. Lagi pula itu hanya bunga tidur, untuk apa dipikirkan? Yang ada membuat otak lelah bekerja saja.
Ya, memang seharusnya sekarang benda itu diistirahatkan. Apalagi di hidupku yang sekarang banyak sekali beban pikirannya. Jadi, aku harus bisa mengendalikan pikiranku dengan baik. Jangan sampai aku depresi dan berujung mematikan diri sendiri. Ingat saja, Tuhan pasti marah jika itu terjadi!
•••
Pagi harinya aku dan Albern kembali berjalan menelusuri hutan. Ya, sekarang tugas pencarian bahan makanan adalah kami berdua yang kerjakan. Sementara tugas memasak, tetap aku sendiri yang tanggung. Albern sempat tidak setuju karena merasa beban aku lebih berat dan itu tidak adil. Tapi karena aku fine-fine saja, itu tidak menjadi masalah besar, bukan? Lagi pula aku bosan di kastil terus. Ya, anggap saja tugas tambahan itu bagian dari refreshing semata.
"Padahal aku bisa saja ke kota untuk membeli sayuran," ujar Albern di sela-sela langkahnya.
"Jika kau ke kota, aku akan ikut dan berkesempatan melarikan diri darimu," candaku sekaligus berkata jujur.
__ADS_1
Memang pada kenyataannya aku akan melakukan itu. Di kastil sepi dan menakutkan. Setiap Albern pergi entah mau kemana pun, aku hanya duduk termangu di balkon kamar sambil sesekali berkomunikasi dengan angin. Gila? Ya dan salahkan Albern untuk itu.
Sekarang pula aku baru sadar bahwa hidup bersosialita itu sangat penting. Tanpa bantuan orang lain, aku mungkin akan kesusahan. Dulu aku memang bodoh, selalu menghindari orang yang mau mencoba berinteraksi denganku dan justru menyibukan diri dengan bacaan-bacaan tebal khayalan belaka. Tidak berfaedah, bukan?
Ugh, sekarang orang yang mengisi hidupku hanya satu, sang pria bertaring. Sejujurnya, aku tersiksa dengan situasi seperti ini. Terbelenggu oleh kesepakatan opini pertama. Tapi mau bagaimana lagi? Ini soal orang-orang terdekatku yang juga menyayangiku menjadi taruhannya.
"Ya, maka dari itu aku mengurungkan niatku."
"Jadi, kita akan makan daging lagi?"
"Jika kau tidak keberatan."
"Hm, terserah kau sajalah. Tapi kita juga harus mencari buah untuk pencuci mulutnya. Biar mulut selalu segar!" aku menurut. Lagi pula kemarin setelah makan buah, cukup banyak, tapi tetap saja perutku tidak merasa kenyang. Ya, buah lebih tepat dikategorikan ke makanan pencuci mulut daripada pokok. Jadi, menu makanan sekarang dan seterusnya balik lagi ke daging. Makanan penuh protein.
Tapi tenang saja, meski bahan pokoknya hanya sejenis, aku akan tetap mengubahnya berkreasi. Jika sebelumnya hanya soto, hari ini aku berencana membuat daging panggang. Seiring dengan pergantian hari, kreasi makanan akan berbeda pula. Sayangnya aku hanya bisa memasak kreasi makanan yang sederhana. Tapi sudahlah, yang penting nikmat dan mengenyangkan.
"Oke."
•••
Baru setengah jam berjalan, aku menemukan seekor kelinci putih tengah melompat-lompat dengan lucunya. Segera kuhampiri binatang tersebut sebelum Albern menyakitinya.
"Jangan yang ini, kasihan!"
"Tapi akan lama lagi jika kita mencari binatang lain. Sudahlah yang ini saja."
Aku menggeleng tegas sembari melemparkan delikan pada Albern. "Melihatnya terluka saja aku tidak tega, apalagi memakannya."
Setelah Albern berkata demikian aku pun mengembangkan senyum kemenanganku. Aku tahu Albern akan selalu mengalah dan rela melakukan apapun demi diriku.
"Ouch, lucunya..." aku terus mengusap bulu bersih nan lembut kelinci itu sambil sesekali menciumnya gemas. Asyik dalam kesenanganku sendiri tanpa memedulikan sekitar. Hingga sesaat kemudian teriakan Albern mengalihkan perhatianku.
"ALLENA, AWAS!!!"
Jleb!
Termangu beberapa detik, aku pun memekik kaget. "Albern!"
Begitu Albern meluruh, aku cepat-cepat mempersiapkan diri untuk menopang beban tubuhnya. Dengan berurai air mata, aku mencabut pelan-pelan panah yang menghunus dada kirinya.
"Arghh ... untung saja ... tidak mengenaimu." Albern masih bisa tersenyum disaat napasnya sendiri sedang tercekat.
"Untung apanya? Justru sekarang kau yang menderita!" Ingusku sudah berceceran ke mana-mana bersamaan dengan isak tangis yang terus menghujam wajahku. Tapi aku tidak perduli lagi. Karena sekarang aku benar-benar marah pada pria itu. Dia menolong orang tapi tidak memedulikan keadaan diri sendiri. Gila.
"Bertahanlah..." Hanya itu kata penyemangat yang mampu kuucapkan untuk Albern saat kebingungan melanda.
Jika saja anak panah itu tidak ada apa-apanya, mungkin sekarang Albern masih bisa menangkis rasa sakit dan baik-baik saja, karena baginya itu hanya luka kecil. Tapi sekarang keadaannya berbeda, aku mencium bau racun di benda runcing itu. Entah bagaimana cara aku menyimpulkannya, tapi aku sangat yakin karena hal itu telah terbukti ketika melihat Albern sampai detik ini juga masih mengerang dan terbujur lemah di pangkuanku.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa kuperbuat selain menangis dan menggigit bibir bawah cemas tatkala tenaga Albern semakin lama kian melemas tak berdaya. Bahkan mata pria itu hampir menutup meski dia juga selalu berusaha untuk mencegah hal tersebut terjadi.
Berat dan menyiksa. Bisa kurasakan seperti apa perasaan Albern sekarang ini. Dadaku serasa tertusuk ribuan jarum begitu kalimat janji Albern mendengung di pikiran serta telinga dalamku.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Albern... aku mencintaimu... kumohon... jangan tinggalkan aku..." ucapku terputus-putus oleh tangis.
Albern mulai putus asa. Tampak dia telah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Hazel terangnya yang menjadi favoritku dibiarkan tenggelam, mengizinkan maut menjemput.
"Tidak!" Aku meremas pakaian Albern sambil sesekali mengguncang tubuhnya. "Albern, kumohon bertahanlah!" Tanpa sadar aku membentaknya.
Tuhan...
Jika Engau masih memberiku harapan, aku hanya ingin dia bersamaku... Selamanya!
"Allena..."
Sebuah panggilan halus terdengar di sela sedu sedanku. Spontan aku menoleh ke semua arah untuk mencari sumber suara. Hingga akhirnya berhenti di sosok wanita cantik berpakaian serba putih yang tengah melengkungkan sudut bibirnya ke atas. Oh tunggu, bukankah dia wanita yang ada di mimpiku semalam?
"Genggam cinta dengan kekuatanmu."
Dahiku mengerut dalam, tidak mengerti dengan kalimat puitisnya.
"Ingat, kau juga pernah menyembuhkan diri sendiri!"
"Benarkah? Kapan?" gumamku tidak percaya.
"Coba ingat kembali."
Otak kupaksa bekerja, tetapi tetap saja aku tidak mengingat di mana adegan dalam hidupku yang dia maksud. Bodoh saja, memangnya aku makhluk supernatural apa bisa melakukan itu?
Tapi... aku mengingat di mana seseorang membantu sembuhkan lukaku. Albern. Ya, di toilet dulu. Sekarang aku mengerti. Untungnya aku masih mengingat dengan jelas mantra itu.
Aku melirik ragu ke arah wanita misterius tadi, dia hanya tersenyum tipis sembari mengangguk pelan namun meyakinkan. Hal itu membuatku menelan ludah susah payah dan mencoba menggerakan tangan gemetaranku ke arah dada Albern yang terluka. Dengan mata terpejam, aku menggumamkan mantra yang pernah Albern ucapkan waktu itu. Semoga cara ini sukses, Tuhan!
"Maroktyaz i kuyufla ... aneprodky."
Entah apa yang terjadi, namun aku enggan membuka mata. Takut dengan kegagalan. Oleh karena itu aku terus mengucapkan mantra itu tanpa henti, perkiraan ada lima belas kalinya.
Sampai sentuhan dingin di pipi membuat bibirku kaku otomatis. Dengan perasaan campur aduk aku membuka mata perlahan-lahan dan melihat apa yang terjadi. Masih dengan posisi berbaring Albern tiba-tiba menyerangku. Ia menarik tengkuk serta menyambar bibirku.
Cukup kaget tapi sekaligus senang, karena dia tidak jadi pergi. Baiklah, sekarang aku menyerah. Setelah sekian lama melawan rasa, baru kusadari bahwa kesucian hati lebih keras dan kuat daripada ego di kepalaku. Mulai detik ini, aku yang akan memperjuangkannya.
Thank you so much, God!
Tanpa menunggu waktu lagi aku langsung menangkup rahang kokoh Albern, membalas ciuman sejuk itu. Albern juga menelusupkan tangannya ke area leherku sambil sesekali menyampirkan anak rambutku yang nakal ke belakang telinga. Bibir kami akhirnya saling memangut mesra, melepaskan sisa-sisa rindu dendam masih menggerogoti hati.
__ADS_1
Tepati janjimu, Al. Jangan coba-coba meninggalkanku! Aku memberi peringatan dalam hati yang kupastikan Albern mampu mengetahuinya.
•••