
• Expression of Feeling •
"Apa kau sudah selesai?" tanya Albern, setengah berteriak.
"Belum! Diam saja di tempatmu. Awas ya kalau kau sampai ketahuan mengintip, tak akan kuberi ampun!" sahut Allena di balik pepohonan, masih sibuk dengan kegiatan mengganti pakaiannya.
Albern yang duduk bersila di depan bara api, terkekeh mendengar penuturan suara merdu itu. Saat ini dia tengah asyik membakar ikan hasil tangkapannya di sungai tadi. Sebenarnya dia sengaja hanya menangkap satu ikan, karena dengan begitu siapa tahu Allena punya belas kasihan dan membagi ikan bakar itu dengannya. Terbayang betapa romantisnya mereka jika memakan satu makanan bersama. Entah berhasil atau tidak, yang terpenting dia sudah berusaha membuat keadaan menjadi mendramatisir.
Setelah beberapa saat menyembunyikan diri, Allena pun muncul dengan mengenakan gaun sederhana bernuansa cokelat tua sebatas betis. Dia mulai melipat kakinya di depan bara api juga, seberang Albern.
"Mengapa harus pakaian jenis ini yang kau bawakan?"
"Hanya itu yang tersedia. Lagi pula kau terlihat lebih cantik dengan gaun itu daripada kaus dan jeans, mirip lelaki," sahut Albern, kemudian tatapannya pada gadis itu berubah menjadi sorot kekaguman. "Kau tahu? Melihatmu dengan penampilan sekarang rasanya seperti sedang melihat princess Snow White. Ditambah parasmu, sangat mendukung persisnya."
Allena mengabaikan pujian yang lebih mirip gombalan itu dengan mengalihkan pandangannya ke sebuah ikan bakar di tangan Albern. "Kau sengaja melakukan ini, bukan?"
"Gadis pintar."
"Lebih baik aku tidak makan daripada harus membagi makanan denganmu."
__ADS_1
"Ouh, pelitnya..." Albern menggeleng kecil seolah sedih mendengar perkataan gadis itu. "Tapi, tidak apa-apa kalau memang tidak mau. Silahkan saja kau cari makanan sendiri."
"Apa? Kau itu pria, seharusnya mengalah pada wanita! Lagi pula kau ini kan vampir, kenapa memakan makanan manusia?"
"Darah hanya minumanku. Jadi aku tetap perlu asupan yaitu makanan. Dan apapun jenis makanannya, tubuhku akan mencerna, sama seperti manusia pada umumnya."
Allena mendesis. Seperkian detik barulah dia mulai bangkit dengan gerutuan kesal, dan kembali menjatuhkan bokongnya di rerumputan, namun kali ini tepat di sebelah Albern.
Albern tersenyum, kemudian menjulurkan tangannya yang berisi daging ikan bakar hasil cubitan kecilnya ke arah mulut Allena.
"Aku bisa melakukannya sendiri." Allena menolak sambil membuang pandangannya ke arah lain.
"Selalu saja tentang cinta. Apa kau tahu jika satu kata itu bisa memperumit kehidupan seseorang?" Allena berdeham dan berucap lirih. "Ah, kau memang tidak tahu banyak tentang diriku. Termasuk rasa yang selama ini diam-diam membuat hatiku gelisah."
"Apa itu artinya ..."
"Yeah, kau tahu pasti apa maksudku. Tapi, aku ragu padamu karena melihat perilakumu selama ini seolah menunjukkan kalau kau hanya tertarik pada ragaku saja."
"Bagaimana bisa-"
__ADS_1
"Kau yang notabene mempunyai kemampuan membaca kata hati dan pikiran seseorang justru tidak mengetahui isi dari lubuk hati terdalamku. Itu kan yang mau kau tanyakan?"
"Kau tidak pernah menunjukkan ciri-ciri-"
"Aku sengaja merahasiakannya ... demi menguji keseriusanmu." Jika dulu Albern, sepertinya sekarang giliran Allena yang gemar menyela perkataan orang. Hukum karma ternyata benar-benar berlaku dan dirinya bangga akan hal itu. "Hasilnya? Entahlah, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau inginkan. Tapi, aku bisa memastikan kau tengah mengincar sesuatu yang ada pada diriku. Maka dari itu, kau tidak bisa menemukan perasaanku yang sesungguhnya, karena pikiranmu telah dikuasai oleh suatu hal yang pastinya berarti dan patut diutamakan daripada hati."
Albern diam seribu bahasa.
"Itu pula yang menjadi sebab aku berusaha menjauh dari jangkauanmu, agar keilusian cinta tidak menghancurkanku."
"Maafkan aku..." lirih Albern setelah beberapa saat terdiam. Sebuah kata yang menggambarkan penyesalan. Mendengar itu, kepala Allena yang semula menunduk dengan spontan terangkat, menatap lurus ke arah wajah pria itu. Di luar dugaan. Dia pikir Albern akan berusaha mengelak perkataannya. Seperti halnya kebiasaan orang-orang tatkala tertangkap melakukan kesalahan. Tapi ternyata, sebaliknya. "Ini kesungguhanku, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu bagaimana pun keadaannya," sambung Albern, nadanya terdengar berat dan serius.
Allena tersenyum sinis dan menggeleng pelan, menyayangkan dirinya yang belum bisa menanamkan kepercayaan. "Janji? Yang kubutuhkan hanyalah pembuktianmu, Albern..."
"Itu pasti, kau lihat saja nanti." Albern berucap mantap, lantas kembali mengarahkan makanan yang ada dalam tangannya ke mulut Allena. "Kumohon..."
Beberapa detik terdiam hanya menatap kosong makanan itu, akhirnya Arena menurut, menerima suapan Albern. Dia juga menyenderkan kepalanya di bahu lebar pria itu seraya bergumam dengan mulut yang masih asyik mengunyah. "Aku ... mencintaimu."
Albern mengecup sekilas puncak kepala gadis itu dan mengusapnya dengan lembut. Sedangkan Allena memejamkan mata sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan sesak di dada saat mengetahui pria itu tidak membalas kata-kata perasaannya. Setetes air mata meluncur tanpa dirinya sadari dan Albern bersikap seolah-olah tidak tahu. Seperti saat awal mereka bertemu, Albern masih sama, seseorang yang misterius. Sedangkan Allena-sang gadis introvert berhati baja-sekarang telah berubah menjadi lemah dan cengeng. Semua itu terjadi karena cinta. Dan penyebab cinta itu adalah pria vampir itu!
__ADS_1
•••