
• Book Missing •
Allena menelungkupkan wajahnya di bawah bantal. Sepertinya malam ini dia terkena insomnia. Sudah larut malam, namun kantuk tak kunjung datang juga. Mungkin efek terlalu kesal akan kejadian sore tadi.
Guling ke sana guling ke sini, gelisah. Jika sudah begini, mata dipaksa menutup pun percuma, raga tetap enggan pergi ke alam mimpi. Pada akhirnya Allena menyerah dengan turun dari tempat tidur dan berlalu menuju dapur.
Sesampainya di tempat tujuan, dia langsung membuka lemari pendingin dan mengambil botol besar berisi air putih. Selang beberapa detik setelah dahaganya terpuaskan, baru terlintas kembali di benaknya mengenai buku rekomendasi sang ayah.
Syarat dari Travis. Jangankan membaca, memegang bendanya pun belum dirinya lakukan. Namun mumpung malam ini sedang sepi dan tidak ada kegiatan penting, bisa dipakai untuk pencarian dengan tenang. Dengan demikian, Allena bergegas menuju kamar untuk mengambil kunci perak yang disembunyikannya sebaik mungkin, kemudian menuju pintu bawah tangga. Setelah berada di dalam ruangan tersebut, tanpa mengulur waktu lagi gadis itu menelusuri rak demi rak secepat yang dia bisa. Hingga akhirnya tertemulah penampakan buku itu.
The History of Landworld
Dilihat dari wujudnya, usia buku tersebut seperti sudah berabad. Lusuh dan penuh debu. Begitu halaman pertama dibuka, terlihatlah bentuk abjad yang bervariasi. Dapat dipastikan itu adalah hasil tulisan tangan.
Allena berjalan menuju rak sudut ruangan, memutuskan untuk membaca bukunya di sana. Tanpa henti, mata menelusuri kata dalam lembaran demi lembaran. Semakin banyak lembaran dia buka, semakin kencang pula debaran jantungnya. Buku itu, memuat banyak hal yang mengejutkan dan belum pernah dia ketahui sebelumnya. Entah nyata atau fiktif, dia tidak peduli. Intinya...
"Really fantastic!"
Rasa kesalnya seketika lenyap, digantikan dengan sinar keceriaan tinggi.
•••
__ADS_1
Esok harinya. Saat Melly keluar kamar hendak menuju dapur, tanpa sengaja matanya menangkap pintu ruang bawah tangga yang terbuka. Tersentak, dia pun berlari memasuki ruangan itu.
"Allena, kau di mana!?" Melly berjalan cepat luntang-lantung mencari keberadaan putrinya.
Begitu sampai di bagian ruangan terdalam, tampaklah sosok Allena tertidur dengan posisi punggung menyender pada sebuah rak buku. Melly segera menghampiri putrinya di pojokan sana.
"Allena, bangunlah!" Melly berucap lembut sambil menepuk-nepuk pelan pipi Allena.
Allena pun mulai mengerjap-erjapkan matanya. Dan kaget. "Apa yang sedang Ibu lakukan di sini?"
"Seharusnya Ibu yang bertanya seperti itu padamu. Dan bagaimana bisa kau masuk ke mari? Sebelumnya pintu ruangan ini tertutup rapat, kan?"
"Kau sedang mencari apa?"
Allena kembali mengangkat kepalanya, melihat Melly. Dia mulai berpikir, mungkinkah wanita paruh baya itu yang telah mengambil bukunya? Tapi masih sangsi, wajah ibunya polos, sepertinya wanita itu memang tidak tahu apa-apa.
"Allena?"
"Ah, tidak ada. Eerr ... ayo kita keluar saja. Aku sudah lapar." Allena beralasan.
Melly masih diam, seperti biasa jika curiga tatapan mengintimidasinya akan aktif. Akhir-akhir ini gelagat putrinya cukup aneh. Sama seperti Travis, dulu pria itu juga sering berbicara gelagapan. Dan dia selalu yakin, mereka tengah menyembunyikan sesuatu yang besar.
__ADS_1
•••
"Maaf," lirih Allena saat dia dan ibunya telah berada di meja makan.
"Untuk apa?"
"Sore kemarin. Sungguh, waktu itu aku hilang kendali karena emosi, bukan bermaksud menyakiti hati Ibu." Allena menunduk, memandang hidangan di piring seraya mengaduk-aduk tanpa niatan memakannya.
"Tidak, seharusnya Ibu yang meminta maaf padamu. Maaf, kalau semua tindakan Ibu selama ini menyiksa batin dan fisikmu."
Tidak ada sahutan lagi. Bahkan beberapa menit setelah berkata maaf dua atau tiga kalimat, pikiran Allena sudah melayang entah ke mana. Masih tentang buku lusuh misterius. Dia gelisah, sebenarnya di mana buku itu berada sekarang?
"Ya sudah, lupakan saja. Ibu berjanji, tidak akan memaksa kehendak lagi." Melly bangkit, karena kegiatan sarapan yang telah selesai, lantas menghampiri gadis yang duduk di kursi seberang, menyempatkan diri untuk menepuk-nepuk kepala Allena sebelum pergi. "Habiskan makananmu, Ibu mau keluar dulu."
Bertepatan dengan itu lamunan Allena buyar. Dia memandang sejenak punggung Melly yang mulai menjauh sebelum akhirnya beralih menatap makanannya yang masih utuh. Bukannya nafsu, perutnya justru terasa mual. Jika dipaksakan, bisa-bisa dirinya muntah.
Allena meneguk ludahnya yang terasa pahit.
Apa aku buang saja ya?
•••
__ADS_1