A Special Girl

A Special Girl
Chapter 30


__ADS_3

• Disclosure of Secret Headquarters •


Manik cokelat itu mengerjap-erjap, menyesuaikan warna pandangannya. Tinjauan dia edarkan ke sekeliling sambil berpikir mengenai tempat keberadaannya. Kini tubuhnya berada di atas sebuah batu besar yang datar nan lebar.


"Aku ada di mana?" gumamnya, bertanya pada diri sendiri.


Sejurus kemudian, tepat di sampingnya, sesuatu memancarkan cahaya. "Gua," sahut sebuah suara yang terdengar familier di telinganya.


Allena terkesiap, lantas mengucek mata beberapa kali, untuk memastikan kenyataan sosok di depannya. "Benarkah ini kau?"


"Ya. Ini aku ... Ayahmu." Travis mulai merubah posisi tubuhnya yang semula berjongkok menjadi berdiri tegak. Dia menyerahkan benda penerangan itu kepada putrinya.


"Aku bingung harus memulai ceritanya dari mana. Ini mungkin akan mengejutkanmu. Jadi, kumohon... apapun yang terjadi, kau harus tetap tenang. Simpan keterkejutanmu di hati saja."


Allena mengalihkan tinjauannya dari daun bersinar itu manakala suara sang ayah kembali terdengar. "Entah, tapi akan kuusahakan."


Travis terdiam. Sementara Allena melekatkan penglihatannya ketika tubuh paruh baya di depannya perlahan-lahan mengelupas dan berubah menjadi sosok makhluk yang dia lihat sebelum pingsan.


"Ya Tuhan!" Allena terbebelak sambil mengingsut sedikit dari duduknya. "Jadi, kau-"


"Bukan manusia."


"Lantas, mengapa kau berpura-pura menjadi manusia?"


"Maaf, sebenarnya aku juga bukan ayah kandungmu."


Allena kembali dibuat syok oleh pernyataan Travis. Percaya. Dia tidak tahu harus menaruhkannya atau tidak pada pria itu. "Tolong beri aku penjelasan!" tuntutnya, tidak tahan berada dalam rasa keheranan.


"Itu bisa kujawab nanti. Sebelumnya, apa kau telah menyelesaikan bacaan yang kuanjurkan?"


"Soal buku itu ... Maaf, aku menghilangkannya," ujar Allena pelan.


"Lupa menyimpan?"


"Tidak. Buku itu sudah tiada ketika aku bangun. Padahal, malam itu aku sangat yakin bukunya ada di dalam dekapanku." Allena memberikan penjelasan singkat.


"Jelas, buku itu ada yang mengambil."


"Siapa? Ibu?"


Travis mengedikkan bahu. Tidak tahu siapa orang yang mengambil, tetapi tahu pasti gerangan itu termasuk makhluk tidak biasa. "Sudahlah tidak usah dipikirkan."

__ADS_1


"Yeah, sayang sekali... aku belum tuntas membacanya. Padahal, cerita itu seru."


"Bagaimana kau tahu itu?"


"Aku baru membaca separuhnya," jawab Allena cuek.


"Itu artinya kau tahu awal kisah dalam buku itu?"


Allena mengangguk kecil. "Tentang percintaan seorang elf cantik dengan malaikat pelindungnya yang bernama Rafael, bukan begitu?"


"Benar sekali!" Travis menjentikkan jari, begitu antusias. Sampai putrinya sendiri dibuat kebingungan.


Allena berpikir, apa ayahnya juga menggemari cerita fantasi? Tapi mengapa dirinya tidak tahu itu?


Ah, mungkin karena dulu dia bersikap dingin dan masa bodoh dengan perbuatan ayahnya di luar sana. Jadi, dia kurang informasi.


"Allena, pernahkah kau merasakan sesuatu yang aneh pada dirimu? Dan pernahkah kau menanyakan siapa dirimu sebenarnya? Selama ini kau juga tahu dan melihat sendiri bermacam makhluk selalu berusaha menyerangmu. Apa kau tidak pernah sekali pun mempertanyaan alasan mereka melakukan itu?"


Allena tercenung. Selalu. Bahkan sampai saat ini pun pertanyaan-pertanyaan itu masih menjadi topik hangat di pikirannya. "Setiap waktu."


"Itu karena kau lebih dari sekadar manusia biasa." Travis berkata dengan raut serius. Tegang, menggambarkan jikalau kecemasan mulai merayapi diri Allena. Dia mulai memfokuskan penuh perhatiannya, menunggu Travis melanjutkan kata-kata. "Kau sosok yang istimewa. Dan buku yang kau baca itu ... adalah asal usulmu."


"Maksudmu?"


"Tidak mungkin..." Allena menggeleng lemah.


"Memang begitu faktanya. Itulah mengapa para makhluk immortal jahat berlomba-lomba mendapatkanmu. Dikarenakan dalam tubuhmu, mengalir darah malaikat. Hanya kau satu-satunya makhluk di dunia ini yang berketurunan malaikat, makhluk suci yang dianugerahi kekuatan besar oleh Tuhan."


Allena merenung. Perkataan Travis bisa jadi benar, karena tidak mungkin setiap makhluk aneh yang dia temui menyerang tanpa tujuan. Ingatan kemudian terlempar pada bayangan wanita di rumah. "Lalu, Melly Johnson?"


"Dia hanyalah manusia biasa. Lima tahun yang lalu aku menjelma sebagai manusia dan menikah dengannya demi melindungimu. Melly mencintaiku, tapi aku tidak bisa, karena kami berbeda dan aku juga tidak ingin membohonginya dengan wujud palsu. Sampai akhirnya aku putuskan untuk menyerahkan hak asuhmu padanya dan terpaksa menjauh dari kehidupan kalian berdua agar perasaan Melly padaku segera lenyap. Meski begitu, aku tetap mengawasi perjalanan hidupmu."


Menakjubkan. Allena tidak menyangka hidupnya bisa penuh drama seperti ini. Dia teringat lagi dengan deskripsi elf dalam buku itu. Saat itu juga dia memincing, penuh intimidasi pada Travis yang memiliki ciri-ciri sama. "Apa kau juga ... seorang elf?"


"Iya," sahut Travis, tanpa kebohongan. "Nama asliku Jose Maxell. Saudara dari Maritena, ibumu yang sesungguhnya."


"Astaga... mengapa semuanya bisa semengejutkan begini?" gumam Allena dengan kepala tertunduk lesu. Tetapi suaranya masih bisa ditangkap oleh telinga Jose.


"Memang, karena kau tengah berada di masa kehidupan baru. Ini mengenai ingatanmu. Sebenarnya kau mempunyai ingatan tajam. Meski sudah berjuta-juta tahun pun kau tetap akan mengingat berbagai kejadian di masa dilampau hingga sekarang-"


"Jika begitu, mengapa aku hanya bisa mengingat dari pertama kali bernapas ketika bangun tidur di rumah kayu lima tahun yang lalu? Dan kau bilang kehidupan baru, artinya aku mempunyai kehidupan lama. Tapi mengapa aku tidak mengingatnya?" potong Allena, mengungkapkan segala kebingungannya.

__ADS_1


"Ya, aku tahu kau penasaran. Jadi diamlah, biarkan aku menyelesaikan pembicaraanku. Jangan menyela, itu hanya akan mengundur-undur waktu."


Allena spontan menutup mulutnya dengan tangan dan mengangguk-angguk saat Jose melontarkan omelan. Dirinya memang tidak sabaran. Tapi jujur saja, hari bahkah waktu ini juga dia menginginkan misteri tentang dirinya segera terungkap. Setelah sekian lama menunggu jawaban, kesempatan emas akhirnya datang juga. Pria itu adalah kunci dari rahasia kehidupannya.


Jose mengulurkan telapak tangan dan menekankannya ke dahi gadis yang merupakan keponakannya.


Allena mengernyit. Pamannya bilang tidak boleh menyela. Tapi, di saat dia sudah memutuskan untuk berhenti mengoceh, pria itu malah melakukan gerakan tubuh. Tidak konsisten.


"Maaf, aku menghilangkan ingatanmu. Dengan begitu aku berpikir hidupmu bisa tenang. Tapi ternyata perkiraanku salah. Kau tidak boleh polos, karena itu akan mempermudah makhluk jahat memanipulasimu," sambung Jose. "Untuk itu aku akan mengembalikannya. Sekarang, pejamkan matamu."


Allena berharap kata-kata Jose belum terlambat. Jangan sampai dirinya hancur oleh kebodohan sendiri. Dia pun menenggelamkan pupil cokelatnya dengan perlahan. Saat itulah suatu gelombang yang cukup kuat merasuki kepala.


Berat, Allena meringis, berusaha menahan sakit dari transferan energi itu.


Dan adegan demi adegan pun mulai berkelebat di memori pikirannya. Mengelilingi mesin otak, memaksanya untuk bekerja.


"*Jaga dirimu baik-baik. Ibu akan ke air terjun, menemui ayahmu dulu." Seorang wanita cantik bertelinga runcing dengan pakaian seputih salju mengecup lembut kedua pipi putrinya.


"Cepat kembali, Bu," ujar Allena setelah pelukan mereka terurai.


"Do'akan saja. Semoga Tuhan memberkatiku dan bisa kembali dengan keadaan sehat." Maritena mengulas senyum. Allena tidak bergetar, karena di akhir Desember manakala wanita itu menemui suaminya setiap satu tahun sekali, kata-kata itu yang selalu dilontarkan ibunya.


Perlahan sosok Maritena menjauh. Sesekali dia menengok ke belakang, melambaikan tangan ke arah putri semata wayangnya, hal yang sudah biasa dia lakukan ketika ingin berpergian.


Allena tersenyum tipis.


Tidak berapa lama setelah berlalunya Maritena, muncul sosok pria berjubah hitam dengan mata semerah api menyala menyeringai kejam di belakangnya.


Allena dapat merasakan aura mencekam. Belum sempat dia melarikan diri, Albern sudah lebih dulu mencengkram sayapnya sehingga dia terhunyung ke belakang, mengaduh sakit sekaligus kaget. "Ikut aku!"


"Tidak akan!" balas Allena, pantang menyerah. Dia menoleh separuh, manik emasnya menyorot tajam mata Albern. Pandangan mereka bertemu, saling melemparkan tatapan permusuhan.


Tanpa belas kasihan, Albern menyeret sayap Allena.


"Awh! Lepaskan aku! Cepat Lep ... has ... kan!"


Allena berusaha menahan tarikan Albern. Tangannya dia kepalkan, mengumpulkan seluruh gelombang kekuatan, sebelum akhirnya melemparkan serangan berupa angin tornado ke arah Albern.


Dalam sekejap sosok vampir itu berhasil terlempar jauh dan jatuh tersungkur. Dengan cepat Allena mengepakan sayapnya, melayang beberapa meter dari permukaan tanah sambil tertawa merayakan kemenangan.


Albern menggeram penuh emosi. "Gadis nakal*!"

__ADS_1


•••


__ADS_2