A Special Girl

A Special Girl
Chapter 17


__ADS_3

• Interest •


Dering ponsel yang nyaring berhasil membukakan mata seorang gadis di meja perpustakan sana. Sejenak mengucek mata, dia pun merogoh ponsel yang berada di tas selempangnya dan menekan tombol delay untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Allena, cepatlah pulang! Ini penting." Tanpa sapa, wanita di seberang sana langsung melontarkan kalimat perintah saja.


Allena melirik sekilas arloji di pergelangan tangan, menunjukkan pukul 03:30 p.m. Berarti sudah dua jam dirinya ketiduran di sini. Pandangan dia tengedahkan ke pintu perpustakan. Untungnya masih terbuka.


"Ya, aku segera pulang. Omong-omong ada hal penting apa, Bu?" tanya Allena seraya beranjak, merapikan penampilannya dan berlalu meninggalkan ruangan perpustakan.


Selama menyusuri koridor kampus, ruangan sudah pada sepi. Tetapi dia yakin masih ada orang, hanya saja satu - dua tidak mungkin selalu nampak dikarenakan luas gedung yang begitu besarnya.


"Sudahlah, nanti kau juga akan tahu sendiri." Itulah kalimat terakhir Melly sebelum panggilan terputus.


Allena mendengkus keras. Sepertinya ibunya sengaja mengatakan itu, karena tahu pasti jika putrinya adalah tipe orang yang mudah penasaran. Jadi, daripada dipendam dan semakin besar hingga akhirnya menyiksa batin, lebih baik dipuaskan dengan tindakan pencari tahuan.


•••


Kali ini Allena naik taksi ahar cepat sampai tujuan dan mengetahui hal penting apa yang akan ibunya tunjukkan. Setelah membayar ongkos, dengan setengah berlari dia memasuki rumah.


"Ibu... aku pulang!" serunya seraya berlari ke sana ke mari, memeriksa seluruh ruangan dalam rumah tersebut. Tetapi hasilnya nihil. Sosok ibunya tidak ditemukan.


Di saat Allena tengah berpikir keras, mencoba menangkap pemahaman akan apa yang terjadi saat ini. Tiba-tiba sepasang tangan memeluk tubuhnya dari belakang. Hal itu tabu untuk dirinya tidak memekik kaget.


"Siapa kau!?" tanyanya dengan tubuh memberontak, minta dilepaskan.

__ADS_1


"Diamlah." Begitu suara berat itu mengalun pelan, saat itu pula tubuh Allena bergeming.


"Albern?"


"Hm... sudah kubilang siang itu, untuk beberapa jam kau masih boleh bebas, tapi sekarang tidak lagi."


"Bisakah kau melepaskanku?"


"Masih kurang jelas?"


"Albern, please... aku sedang malas ribut denganmu!" gertak Allena, tangannya di bawah sana sudah mengepal erat.


"Ya, baiklah." Tidak ingin merusak suasana, Albern mengalah dan mengurai dekapannya. Lantas membalikkan badan Allena sehingga posisi mereka saling berhadapan. "Seharusnya kau biasakan menerima posisi tadi, karena nanti kau akan mengalami yang lebih dari itu," lanjutnya disertai kekehan.


Mendengar penuturan tersebut kening Allena mengernyit. Dan sekarang, bukan hanya kerutan, mulut serta mata juga membesar manakala melihat Albern memasukkan cincin di jari manisnya.


Saat kalimat berbahaya itu terucap, jantung Allena serasa berhenti berdetak. Terlalu mendadak sehingga dia tidak bisa mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya barusan. Tapi, melihat suasana rumah yang tengah hening, apa masih bisa disebut salah mendengar?


Parahnya, Albern mengungkapkan itu setelah kegiatan pemasukan cincin. Yang benar saja? Memangnya pria itu tahu, jawaban apa yang akan Allena berikan?


Dengan telah diberikannya kesempatan pendekatan, jangan menyangka dulu jika Albern berhasil memenangkan hatinya.


"Maaf sebelumnya, Albern. Aku mengatakan ini sesuai lubuk hati terdalamku. Dengan hormat, aku menolakmu." Allena menarik lengannya dari genggaman Albern, lantas hendak melepaskan cincin di jarinya pula. Tetapi sebelum itu terjadi.


"Jangan!" Melly muncul di balik tembok penghubung antara ruang tengah dengan ruang tamu, dan menghampiri Albern dan putrinya. "Allena, Ibu mohon... menikahlah dengan Albern. Ibu jamin hidupmu akan bahagia," sambungnya dengan tangan mengatup.

__ADS_1


Allena melebarkan mata tidak percaya. Ibunya meminta pernikahan? Ouh, sekarang dia mengerti apa yang dimaksud penting oleh wanita itu. Marah, Allena menyeret Melly ke belakang, tepatnya dapur.


"Aku juga sangat memohon padamu. Jangan paksa aku untuk menuruti kemauan Ibu lagi."


"Percayalah, Al... dia cocok menjadi pendamping hidupmu. Selain tampan dia juga berhati mulia."


"Oh ya? Ibu tahu apa tentang dia? Sudah menjalin kedekatan hangat? Apa karena dia seseorang yang terpandang, Ibu tega menyerahkanku padanya?"


"Jaga bicaramu, Allena! Ibu mengenalnya. Dia benar-benar serius denganmu. Hati Ibu juga menunjuk yakin kalau dia adalah orang yang tepat untuk menjadi pelindungmu." Melly tetap teguh pendirian.


"Ah, terserahlah Ibu mau berbicara apa. Yang jelas aku tidak mau menikah dengannya!" Allena tak kalah keras kepala.


"Tapi-"


"Cukup! Ini mengenai masa depanku. Meski pun kau adalah Ibuku, keputusan utama tetap ada di tanganku. Ini juga tentang hidupku. Yang Ibu tahu hanyalah tentang materi dan keuntungan, sementara resiko selalu aku yang tanggung. Di sini siapa yang menderita? Aku!" Allena berusaha mengontrol napasnya yang memburu, sebelum melanjutkan. "Jadi, behentilah mengatur hidupku lagi kalau kau masih sayang dengan kebahagian putrimu." Setelah berkata demikian, Allena melenggang menuju kamarnya dengan meremas rambut, lagi-lagi frustasi.


Sungguh, Allena terpaksa melakukan itu. Tujuannya semata-mata hanya untuk menyadarkan ibunya dari sifat buruk mementingkan diri sendiri yang selama ini menyiksa orang-orang. Termasuk dirinya yang merupakan putri Melly sendiri. Sudah lelah dipergunakan sebagai alat penghasil untung. Mulai saat ini hingga seterusnya dia akan melakukan pertentangan habis-habisan.


Di sisi lain, Albern mengulum senyum. Tidak dapat terelakkan, sungguh jelas gambaran adu mulut antara ibu dan anak itu. Seru. Itulah tanggapannya.


Bicara soal keputusan melamar, sepertinya dia mengambil terlalu buru-buru. Pertemuan yang baru beberapa kali membuat Allena belum memantapkan hatinya kepada Albern. Jadi, wajar saja jika gadis itu syok dengan perbuatannya yang tiba-tiba.


Namun karena sudah terlanjur dilakukan, Albern akan tetap menerobos rambu-rambu untuk terus melanjutkan perjalanannya mencapai tujuan awal. Lebih cepat kan juga lebih baik. Sebentar lagi penyambutan akan tiba. Marga Carroll untuk gadis bernama Allena Johnson.


•••

__ADS_1


Komen, Vote, Jangan Lupa, Gais...


__ADS_2