
• Is This The Real End? [Special Chapter Albern POV] •
Begitu membuka mata, kudapati ruangan bernuansa cokelat. Baru saja beranjak bangun, denyut menyiksa langsung menjalari kepalaku.
“Al, kau sudah sadar?” Kathrine muncul dari balik pintu dan bergegas menghampiriku.
Pandanganku mengedar ke sekitar. Rumah sederhana ini, semuanya terbuat dari kayu alami. Begitu menenangkan. Cocok untuk pasangan yang baru menjalin rumah tangga.
Senyum damaiku perlahan luntur manakala mengingat Allena.
Tidak ada yang perlu dibanggakan dari kesempurnaan ragaku. Lukisan kebahagiaan itu sebatas bunga tidur. Semua dosaku tidak termaafkan. Hanya penyesalan seumur hidup yang kini kuterima.
Allena pergi, untuk selamanya.
Di saat aku berhasil mengeluarkannya dari tameng itu, semua makhluk immortal rakus serentak menyerang.
Baru kusadari, kalau ciuman dalam bercinta waktu itu adalah yang terakhir kalinya.
Buah percintaanku? Itu tidak ada. Padahal, aku sudah bahagia mendengar pengakuan Allena bahwa dirinya sedang mengandung, dalam mimpi.
“Al.”
“Jangan memanggilku dengan sebutan itu,” ujarku pelan sambil menunduk dalam. “Hanya Allena yang boleh. Al, untuk Albern dan Allena.” Bukan mau bersikap kekanak-kanakkan, tapi pada nyatanya panggilan itu kini mengingatkanku pada gadisku.
Terdengar Kathrine menghela napas. “Oke, aku memang salah.”
“Kenapa kau selalu memprovokasi hubunganku dengan Allena? Apa kau tak suka melihat saudaramu bahagia?”
“Bukan begitu maksudku yang sebenarnya. Ini juga demi kebaikan kita.”
“KEBAIKAN APA!? KAU BUTA? APA KAU TIDAK MELIHAT BAGAIMANA SUASANA HATIKU!?” ungkapku, menggebu-gebu.
Darahku mendidih, terpancing emosi. Ia egois. Tidak memikirkan bagaimana perasaan saudaranya sendiri.
Kathrine menangis, entah karena apa mungkin ketakutan oleh bentakanku. Ia ikut bangkit dan mendongak melihat ke arah bendungan air mataku. “Aku Terpaksa! Bryan mengancamku! Dan, kalau sampai para makhluk immortal itu tahu kita melindungi gadis malaikat, mereka tidak segan-segan membunuh kita lebih dulu!”
Jika begiu, mengapa Kathrine baru mengatakannya sekarang? Setelah sampai pada penghujung kisah?
__ADS_1
“Seandainya kau memberitahuku dari dulu, pasti aku akan memikirkan cara untuk mengalahkan binatang itu! Kita bisa bersatu melawannya. Tapi sekarang, percuma, semuanya sudah terlambat. Cintaku berhasil direnggut.”
Kathrine menggeleng tegas. “Tidak. Semua ini belum pasti, karena jasad Allena belum ditemukan.”
Seketika atensiku terpusat kembali pada Kathrine. Seingatku, Bryan menyeret dan menyiksanya dengan sadis di tempat itu. Lantas, bagaimana bisa menghilang?
“Saat kau pingsan, Jose dan kuda bertanduk datang membantu Allena melarikan diri. Tapi, mereka kehabisan jalan. Di belakangnya ada jurang lautan, sementara di bagian depan dan sampingnya makhluk-makhluk sudah mengepung. Jadi, Allena menjatuhkan diri ke perairan.” Kathrine menjelaskan dengan hati-hati. “Itu terjadi begitu cepat, kami semua tidak sempat menduganya!”
Aku termenung. Itu artinya masih ada peluang untuk memastikan apa Allena benar-benar mati atau tidak. Bisa saja Allena selamat karena berenang dan sampai di pesisir pantai. Mungkin juga sebaliknya, tenggelam atau bahkan menjadi santapan makhluk laut.
Namun aku tidak boleh menyerah. Aku harus mencoba mencarinya. Bagaimana pun juga aku harus bertanggung jawab. Penderitaan Allena terjadi karenaku. Jika saja aku tidak menarik Allena keluar dari tamengnya, kini ia pasti masih baik-baik saja. Aku memang bodoh!
“Albern!”
Kathrine menghentikan langkahku yang hendak berlalu keluar.
“Apa?”
“Tunggu sebentar…” Kathrine pun bergerak menuju lemari kumuh dan mengambil sesuatu di dalam sana. Rahangku menegang saat ia menarik tanganku untuk menerima benda itu.
“Sayap Allena.”
“Jangan berperasangka buruk dulu. Lilisen yang berhasil mematahkan itu, tetapi aku mencurinya. Untuk sementara waktu, gunakan saja sayap itu sebagai pelindung untuk menambah kekuatanmu.” Kathrine menghela napas lelah. Matanya memandang nanar seisi ruangan. “Dan kau tahu? Ini juga tempat bekas Allena tinggal lima tahun yang lalu. Sebenanya waktu itu aku sudah tahu keberadaannya, hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk menghabisinya. Tapi... aku tidak menyangka keadaannya bisa berubah menjadi serumit ini. Perjuangan, cinta, dan harapan... aku juga terlambat menyadari bahwa aku egois. Aku seperyi ini mungkin karena tidak ada pria yang benar-benar menginginkanku," sambungnya sembari tersenyum kecut. Ia kembali menitikkan air mata.
Air mataku juga tidak bisa dibendung lagi. Aku menatap sekilas rumah ini dan beralih ke sayap milik sosok yang kucintai yang penuh decak darah. Dulu aku selalu mengincar benda ini mati-matian, tapi rasanya hampa bila sosoknya tidak bersamaku.
Perasaanku sudah berubah sepenuhnya. Gadis yang dulu berjanji aku taklukan justru menjungkirbalikkan duniaku.
“BAJINGAN KAU! TIDAK TAHU MALU! PENGECUT!”
Begitu menoleh ke sumber teriakan, saat itu pula tombak melayang dan sukses menghunus dalam dadaku.
"Arghhh!" Aku terkapar dengan tubuh menegang.
“ALBERN!!!” Kathrine menjerit, kemudian meluruh di sebelahku. Ia mencabut tombak yang berdiri itu dengan berderai air mata.
Jelmaan Unicorn yang kutahu teman Allena memeluk tubuh Jose dari depan untuk menghalau pergerakan serangan. “KARENAMU KEPONAKANKU MATI! KAU PATUT MEMBAYARNYA DENGAN NYAWA JUGA!”
__ADS_1
Sakit. Bukan karena tusukan itu, melainkan mengingat penderitaan Allena selama ini yang kusebabkan. Benar apa yang Jose katakan. Aku harus menerima hukuman apapun untuk menebus semua kesalahanku. Sekalipun itu nyawa.
Mati? Benarkah gadisku telah tiada?
“Tidak ... kumohon… jangan sakiti saudaraku! Dia satu-satunya yang kumiliki!” Kathrine mengemis belas kasihan.
“KAU JUGA BERSALAH DALAM HAL INI! SAUDARA YANG SAMA-SAMA BEDEBAH!” Jose menunjuk Kathrine.
“Sudah, Jose. Cukup! Semua tidak akan terselesaikan dengan menggunakan emosi!”
“AWAS KAU, ALBERN CARROLL! JIKA HARI INI KAU MASIH HIDUP, SUATU WAKTU AKU AKAN KEMBALI SEBAGAI AJALMU! SELALU! SAMPAI KAU LENYAP DARI MUKA BUMI INI!” gertak Jose dengan wajah merah, amarah membara. Hingga pada akhirnya Unicorn itu berhasil membawanya pergi.
Kathrine mendekapku erat. "Maafkan aku ... semua ini salahku ..."
Aku mengerang pelan, merasakan perih pada luka tadi. Pelukan Kathrine kubalas, sambil mengusap punggungnya untuk menenangkan. “Semua yang melakukan kesalahan ... kemudian sadar sudah pasti merasakan penyesalan ... Sshh, sudahlah... yang harus kita pikirkan, bagaimana caranya kita menebus kesalahan apa yang telah kita perbuat.”
Bagaimanapun juga Kathrine adalah saudariku. Soal kata-kataku dulu, saat aku bilang akan membunuhnya tanpa memandang ikatan persaudaraan jika sampai ia melakukan kesalahan besar pada gadis yang kucintai, aku menariknya kembali. Jujur saja, aku tidak sanggup kehilangan keduanya. Adik dan kekasihku. Mereka adalah pelengkap hidupku. Belahan jiwaku.
“Aku menyayangimu."
“Aku juga.”
Aku meralat lagi. Ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal kisah yang sebenarnya dimulai.
The outside world start cruel when curiosity is rampant.
Sekarang aku tahu seperti apa rasanya. Dampak dari kerakusan menjadi seorang penguasa dan kelahiran cinta tanpa disadari mengubah pandanganku pada dunia. Seandainya aku masih diberi waktu, kuharap Tuhan bersedia membantuku melewati segalanya, termasuk mencari keberadaan Allena yang belum diketahui nasibnya bagaimana.
~ The End ~
•••
****Yash, akhirnya tamat juga... sorilah kalo endingnya gaje atau gimana. Soalnya aku cepet-cepet tamatin ini karena mau fokus ujian. Biar nggak dilanda kegelisahan karena ngegantungin pembaca yang masih setia baca cerita absurd ini. 😂😄
Makasih ya, semuanya... aku juga sadar dirilah, cerita ini ngeboringin. Tapi daripada diunpub nanti muluk, kan sayang... Buat season 2 nya mah gimana antusias readers aja ya.
Gitu saja mungkin. Sekali lgi makasih yang udah rela buang-buangin waktu buat baca ini.
__ADS_1
See you next time!
Lafyu guys much*** :