
• Photoshoot •
Saat ini Allena bersama Melly telah berada di studio pemotretan. Selagi ibunya masih sibuk berkutat dengan para karyawan, Allena memilih duduk santai terlebih dahulu. Belum semenitan dirinya menempel di permukaan sofa, suara ibunya sudah terdengar lagi.
"Al, cepat kemari!" panggil Melly dengan gerakan tangan yang mengintruksi Allena agar bergerak mendekatinya.
Tuhan, beri aku kekuatan! mohon Allena dalam hati.
Ia benar-benar tidak siap untuk semua ini. Tapi ya sudahlah, siapa yang perduli jikapun hasil pemotretannya jelek. Lagi pula semua terjadi juga karena paksaan.
"Ini, bersiaplah."
Allena diberikan sebuah gaun oleh ibunya. Sebelum bergegas memakai, terlebih dahulu ia telusuri benda tersebut, menilai kualitasnya. Gaunnya bernuansa abu kehitaman dengan rempel yang menyebar di seluruh bagian tubuh. Bagian punggung yang terbuka dengan bagian depan sebatas dada. Satu bagian lagi, untuk sebelah kiri kain dibelah dari paha ke bawah sehingga memperlihatkan sebagian kaki jenjangnya yang mulus. Satin. Berbahan halus, licin, dan tampak berkilau seperti tersorot cahaya, membuat sang pengguna nyaman dan tidak mudah menimbulkan gerah.
Allena berdecak kecil, merasa kagum pada gaun hasil rancangan ibunya. Tetapi ia juga terlalu malu untuk mengakui hal tersebut, karena selama ini dirinya terlihat tidak mau peduli pada dunia fashionable.
Allena berdeham, membasahi tenggorokannya yang mulai kering karena terlalu banyak termenung. "Bagus. Tapi aku terganggu dengan bagian ini, ini, dan ininya," komentarnya sembari menunjuk bagian-bagian yang terbuka.
"Allena, putriku... yang kau perlukan hanya memakainya dan berpose di depan kamera. Jangan banyak protes. Lihatlah tubuhmu, layak memasuki kategori model Victoria Secret." Melly menjeda sejenak ucapannya dengan helaan napas. "Jika semua orang melihat majalah update-an Mell Boutique dan melihat gaun rilisan terbaru yang dikenakan di tubuh putri sang desainer, bukan hanya pujian yang akan Ibu dapat, pastinya gaun hasil rancangan Ibu banyak yang mengincar."
Gaun rancangan atau justru putrinya yang menjadi incaran? gumam Allena dalam hati. Bukan berarti ia terlalu percaya diri bisa menjadi incaran para pria di luar sana. Hanya saja kejadian sejenis takut dialaminya lagi. Seorang pria berkunjung ke butik ibunya untuk mengambil pesanan pakaian pengantin. Saat itu Allena kebetulan sedang ada di sana, dan tanpa disangka-sangka pria itu menggodanya, bahkan hampir memojokkan dirinya di ruangan sepi. Padahal pria itu sudah mempunyai calon istri alias mau menikah. Sungguh berengsek! Untungnya para karyawan Mell Boutique segera datang mencegahnya. Sayang sekali untuk mempelai wanita, pria yang sebentar lagi menjadi suaminya masih senang menggoda wanita lain, terlihat jelas ketidaksetiaannya.
"Ibu..."
"Bahkan sebagian atau mungkin hampir seluruh dari mereka akan mengeluarkan berapapun demi mendapatkan gaun ini. Kau bayangkan jika itu benar-benar terjadi, Ibu akan sukses besar, Nak!" Melly melanjutkan penjelasannya tanpa menghiraukan sedikitpun ucapan putrinya.
"Iya, aku mengerti."
"Jika begitu lakukanlah demi Ibumu ini," Melly tersenyum manis.
Allena akui ibunya memang gila kepopuleran. Namun ibunya tidak harus seperti ini, memaksakan kehendak demi mendapat kepuasan diri tanpa memedulikan bagaimana perasaan putrinya. Dengan mempertontonkan sebagian tubuhnya kepada publik, Allena sama saja dengan merendahkan harga dirinya sendiri.
Tapi, begitu melihat binar harapan yang amat besar dalam manik ibunya, Allena kembali mempertimbangkan keputusan yang akan ia ambil. Impian sang ibu menjadi desainer sukses. Mungkin dengan membuat Melly bahagia, itu sudah termasuk dalam memuliakan orang tua.
__ADS_1
Allena memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam "Baiklah. Tapi cukup kali ini saja."
Saat itu juga Melly memeluk putrinya. "Aku tahu kau akan selalu menjadi kebanggaanku, Al. Terima kasih. Aku menyayangimu dengan segenap hatiku."
Allena tersenyum tipis. Untuk kali ini, prinsipnya terpaksa ia robohkan.
•••
Allena berpose dengan gaya sederhana. Hanya merentangkan sebelah kaki dan sebelah tangan yang berkacak pinggang. Tubuh seksi disertai sedikit polesan make up membuatnya tampak memukau. Namun, lagi-lagi dirinya berada di posisi tidak nyaman, karena didampingi benda menyiksa yang sama seperti di pesta malam itu. High heels.
"Cukup."
Allena menghela napas lega. Akhirnya pemotretan selesai juga. Tubuhnya seperti mati rasa. Mungkin efek kebanyakan berdiri dengan gaya mematung. Ia pun melangkah sempoyongan menuju sofa merah.
Allena melepaskan high heels-nya, lantas menoleh ke sebelah saat dirasa sofanya bergerak seolah ada seseorang yang ikut duduk. Ia langsung mendapat sodoran minuman soda dari seorang pria.
"Thank you," ujar Allena setelah kaleng soda itu telah ia ambil alih.
"Kau hanya berpose, Al, bukan lari maraton," ledek pria itu.
Pria itu bernama Mike Bernand, fotografer sekaligus teman baik Allena. Ia bekerja dan membantu Melly dalam mempromosikan desainnya.
Meski rentan bertemu dan berkomunikasi, namun hubungan mereka cukup hangat. Terkadang, Mike lebih suka menghabiskan waktunya untuk mengelilingi dunia, mencari inspirasi dan mengabadikan momen menakjubkan. Itu sepertinya menjadi alasan pasti mengapa mereka jarang bertemu.
"Aku sering merasakannya. Kau tidak tahu selama ini aku pergi ke beberapa negara untuk apa. Ayo, tebaklah!"
"Jelas memotret pemandangan. Memangnya apalagi?" jawab Allena langsung.
Mike terkekeh. "Kurang tepat."
"Lalu?"
"Giliran aku yang dipotret," jawab Mike santai seraya meregangkan kakinya dengan posisi menyilang.
__ADS_1
"Maksudmu ..."
"Aish... menjadi model," lanjut Mike kesal.
"Seriously?!" Allena memekik tidak percaya sambil mencengkram kemeja Mike bagian bahu.
"Kalau kau tidak percaya, cari saja di internet. Ketik, nama Michael Ocari Bernand dan kau akan mendapatkan buktinya."
Allena mencebikkan bibir. "Awas saja kalau kau sampai mempermainkanku, kucincang tubuhmu!"
"Ouch... janganlah..." Mike memasang ekspresi seolah takut akan ancaman Allena.
Allena baru sadar. Sesegera mungkin tangannya ia jauhkan dari area tubuh Mike.
"Allena, menengoklah!"
Begitu Allena menoleh saat itu juga kamera menjepret. Mike langsung menjauh dan terbahak melihat layar DSLR-nya.
Allena menggeser duduknya, ikut melihat foto itu. "MIKE!!!" teriakannya langsung menggema di setiap penjuru ruangan.
"Ya Tuhan, kau ini... mau membuat gendang telingaku pecah?" ucap Mike kesal, masih dengan tangan yang asyik mengatup di daun telinganya.
Dalam hati Allena merutuki fotografer itu. Bisa-bisanya pria itu mencuri fotonya tanpa izin, apalagi dalam keadaan keringatan seperti sekarang. Sungguh memalukan. Ditambah, ia mencuri ciuman di pipinya. Menjengkelkan sekali!
Allena memukul paha Mike keras, membuat pria itu mengaduh kesakitan.
"Hapus! Jika tidak, kubunuh kau!" ancam Allena kemudian bangkit dan melenggang pergi.
Bukannya takut, Mike justru terkekeh geli. Ia geleng-geleng kepala, tidak habis pikir akan penampilan Allena yang sempurna. Meski berwajah lelah, namun kecantikannya tidak luntur sedikit pun.
What a sexy She is!
Allena memang menarik dan memesona. Tetapi ia lebih suka berhubungan dengannya tidak lebih dari layaknya saudara sendiri.
__ADS_1
•••
TBC...