
• Allena's Happiness •
Begitu kakinya menapak bumi kembali, Allena langsung bergegas mendekati air terjun di depan sana. Dia berlutut di atas rerumputan dan mencelupkan jari telunjuknya ke air sungai. "Brr, dinginnya... seperti kulitmu, Al."
"Oh ya?"
Tanpa mengubah perhatiannya dari aliran air, Allena mengangguk. Dia juga tahu saat ini Albern tengah berusaha memancing percakapan panjang dengannya, namun karena mengingat emosi beberapa saat lalu dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Yang akan dia lakukan hanyalah menanggapi seperlunya saja.
"Apa kau ingin berenang?"
Jujur, Allena ingin sekali merasakan sensasi dingin air terjun di hadapannya itu. Namun, dia tidak memiliki pakaian ganti. Bahkan gaun pernikahan itu masih melekat di tubuhnya, terbayang bagaimana rasanya, gerah!
Akhirnya dia pun memilih menggeleng.
"Sebenarnya di lemari kamar kastil, aku sudah menyiapkan banyak pakaian santai untukmu," ujar Albern, tahu apa yang sedang dipikirkan gadisnya itu.
"Lalu mengapa kau tidak memberitahuku?" sahut Allena seraya memutar kepalanya ke belakang, tempat di mana Albern berdiri beberapa meter darinya.
"Kupikir kau punya inisiatif untuk mengobrak-abrik sekitar demi memenuhi kebutuhanmu sendiri. Ternyata kerjaanmu hanya ingin disuapi saja." Albern meledek, sementara Allena mendesis kesal. "Jika kau ingin berenang, berenang saja. Soal pakaian ganti biar aku yang mengatur," sambungnya.
"Terima kasih atas perhatiannya, tapi aku tidak mau." Allena menolak karena tahu tujuan pria itu. Ya, tidak jauh dari pikiran mesum.
"Oh, ayolah... jangan hanya karena gengsi, kau melewatkan kesenangan ini," bujuk Albern sambil mulai mengayunkan kakinya untuk menghampiri Allena. Di sebelah istrinya dia ikut berlutut, memandang perairan. "Lihatlah, air terjun itu! Mengalir deras seolah merayumu untuk merasakan siramannya."
Melihat tirai kehidupan di hadapannya, darah Allena berdesir cepat. Dia meremas ujung gaun pengantinnya, menahan gemas karena ingin segera menceburkan diri ke sungai itu. Setelah merenung beberapa saat, akhirnya dia melontarkan kalimat persetujuan. "Baiklah, kalau begitu kau harus pulang dulu untuk mengambilkan pakaian gantiku."
__ADS_1
"Itu mudah."
"Lantas mengapa kau masih di sini?"
"Tanpa bergerak, pakaian itu akan datang."
Allena mengernyit heran. "Bagaimana cara ..." Belum sempat kalimat tanya itu terselesaikan, kedatangan segerombolan makhluk di langit membuat matanya terbelalak tidak percaya.
Albern melirik arlojinya, kemudian bergumam. "Lima puluh lima detik. Tidak secepat seperti yang kubayangkan."
"Tidak cepat?" Allena menoleh dengan raut tercengang.
"Yeah, aku memperkirakan sepuluh detik." Albern tersenyum, lalu bangkit dan menjulurkan tangan, meminta para kelelawar itu menyerahkan pakaian ganti istrinya. "Terima kasih, teman-teman. Soal imbalan, tenang saja, pasti aku kirim secepatnya. Sekarang kalian boleh pergi."
Segerombolan kelelawar itu akhirnya bubar, kembali memberi waktu sepasangan pengantin baru di sana untuk bersenang-senang. Allena baru bisa sadar kembali saat Albern menjentikkan jari di depan wajahnya.
"Eh, tunggu, tunggu, aku belum sia-aah!" Terlambat, Albern telah lebih dulu menceburkan tubuhnya, membuat gaun pengantin itu basah kuyup. Allena memukul bahu Albern, geram. "Albern!"
Bukannya meminta maaf, Albern malah senyam senyum mesem. Baginya, ekspresi marah Allena adalah hiburan. Dan sepertinya membuat jengkel Allena sudah menjadi candunya. Gemas sekali...
Albern mulai melucuti jubah serta pakaian atasnya, membuat dada bidang dan perut sixpack-nya terekspos jelas. Allena yang melihat itu refleks menjerit dan hampir terjatuh karena gerakan mundurnya yang tiba-tiba. Untung saja tangannya segera bertumpu pada batu sekitar sehingga hal memalukan sekaligus membahayakan itu dapat terelakkan.
"Tidak usah berlebihan begitu. Lagi pula kita hanya akan berenang, bukan bercinta. Tapi, kalau kau menginginkan itu juga, aku siap-siap saja." Albern menggoda disertai seringaian jahilnya.
"Mimpi saja, kau!" Mengabaikan Albern, Allena berenang ke arah air terjun dan memejamkan mata, menikmati sejuknya guyuran air dari pegunungan hutan itu. Ini adalah pertama kalinya dia mandi di sungai, sebab hidup di perkotaan membuatnya lebih banyak mengisi waktu dengan tugas dan mendekam di kamar daripada berjelajah ke alam bebas.
__ADS_1
"Kau suka?"
"Tentu," ujar Allena dengan antusias. Di detik berikutnya dia sontak membuka mata, tersadar akan perkataannya yang spontan.
"Tentu saja, apa pun yang kuperlihatkan kepadamu selalu menakjubkan." Albern tersenyum lebar, dia mulai menenggelamkan diri, berenang dan muncul tiba-tiba ke permukaan dengan wajah hampir tak berjarak dengan wajah Allena. "Kau tidak bisa mengelak lagi."
Seperkian detik Albern menyambar bibir Allena, tanpa memberi kesempatan untuk gadis itu bernapas dengan bebas. Tautan bibir terus berlanjut sampai ke tahap french kiss, membuat keduanya Allena terbawa suasana dan membalas pagutan Albern. Hanya saja di seperkian detik akal sehatnya cepat terkumpul kembali sehingga hubungan yang lebih dari itu masih bisa dicegah. Jarak kembali tercipta saat Allena mendorong kuat dada Albern.
"Jangan coba-coba!"
"Tapi kau menikmatinya, bukan?"
Ingin sekali Allena mengelak, namun entah mengapa suaranya terasa berat untuk dikeluarkan. Oleh karena itu dia hanya bisa speechless dan membuat Albern dapat menebaknya kalau itu memang kebenaran.
"Jika seandainya nyawaku terancam, apa perasaanmu?"
Allena menautkan alisnya, heran dengan Albern yang tiba-tiba saja bertanya seperti itu. Sia juga bingung dengan jawaban yang akan diberikan dirinya. Tetapi, dia mengambilnya dari sudut logika, banyak hal yang telah dirinya lalui setelah Albern memasuki kehidupannya. Ya, penuh ancaman. "Bahagia. Karena tanpa adanya kau, hidupku akan tenang, seperti dulu."
Albern meringis. "Itu menyakitkan. Tapi benarkah kau tidak akan perduli?"
"Tentu." Allena menyahut tegas, sangat yakin.
"Hm, begitu ya ... Hey, rasakan ini!" Albern memercikkan air ke wajah Allena yang sedang termangu, membuat mulut gadis itu langsung terbuka karena kaget.
Allena lagi dan lagi menggeram. "Albern... awas kau, ya!" Tidak ingin kalah. Dengan merem melek Allena membalas serangan itu, menyemburkan air yang dia ambil dengan tangan ke arah Albern habis-habisan sembari tertawa lepas begitu melihat raut konyol pria itu saat menahan semprotan menuntut. "Whahaha!"
__ADS_1
Yang memulai malah sudah berhenti, sekarang justru yang membalas merasa keasyikan dengan permainannya. Albern rela melakukan apapun, sekalipun menjadi korban serangan air sungai itu, asalkan dia bisa melihat Allena tertawa dengan bahagia.
•••