
• Apparently That's The Reason •
Allena mengotak-atik ponselnya dengan wajah tidak minat. Ia melakukan itu hanya untuk pelampiasan risih dari tatapan serta bisikan orang-orang kampus yang mengarah kepadanya. Sudah terduga, di balik sikap orang-orang kampus yang seperti itu adalah update-an majalah Mell Boutique. Padahal baru satu hari pelaksaan pemotretan, tapi kabar itu sudah tersebar pesat. Gila, bukan?
Allena menggerakan tubuhnya yang mulai keram, efek berlama-lama duduk. Geby yang diharapkan datang secepatnya, tidak kunjung tampak batang hidungnya juga. Seperti itulah Geby. Jika ditunggu-tunggu tidak muncul, sedangkan ketika tidak diundang, selalu muncul. Dapat dipastikan Geby sedang dengan siapa. Tidak lain dan tidak bukan adalah Ray Verland.
Meski pada dasarnya penghuni kelas adalah teman juga, tetapi tetap saja terasa asing dan canggung. Hanya kepada Hetty dan Geby Allena merasa asyik berbagi cerita. Padahal lama berteman mereka sama dengan yang lainnya. Mungkin karena ketiganya sering menghabiskan waktu bersama. Jadi, komunikasi mereka sudah terasa layaknya keluarga sendiri.
"Allena, aku datang..." Geby akhirnya menampakkan diri. Ia berjalan dengan gaya kekanak-kanakkan, langkah yang sedikit diloncat-loncatkan.
Allena sendiri hanya bisa memutar bola matanya, malas. Terkadang terhibur juga dengan sikap Geby yang konyol itu. Yeah, ia lebih suka berteman dengan mereka yang menerima apa adanya daripada dengan orang yang suka mengatur kepribadian. Jika boleh dibandingkan, tidak boleh seperti geng Hera yang hanya menerima orang-orang kelas atas, memiliki fisik oke, dan harus berpenampilan feminin. Allena paling benci orang yang membeda-bedakan derajat dan memaksa seperti itu.
"Allena, majalah ini bukan rekayasa, kan?" tanya Geby seraya menodongkan majalah tepat di depan wajah Allena.
Allena menggelengkan kepala.
"Hey, aku ingin jawaban dengan suara!" komplain Geby, lantas mengangkangkan kakinya, duduk menghadap ke arah bangku Allena.
Allena menghela napas, menahan kesabaran.
"Ya. Itu asli." Allena menjawab dengan suara lemas.
Geby memekik rusuh sampai tangannya memukul-mukul meja Allena, gemas.
"Tidak usah berlebihan."
"Tapi sulit dipercaya saja. Seorang Allena Johnson memakai pakaian ter-"
"Aish, kau berkata seperti itu seolah aku ini baru pertama kali memakai gaun. Saat di pesta Hetty juga aku sudah pernah memakainya." Allena menyela disertai desisan jengkel. "Oh ya, kau kan tidak tahu karena tidak datang melihatnya secara langsung."
Geby memangut mengerti. "Iya... lah. Tapi kalau bisa, kau memakai gaun setiap hari, jangan saat urusan tertentu saja. Tidak seru!"
Allena berdecak. Ah, dirinya baru ingat! Ia kan berencana menceritakan kejadian semalam kepada Geby. Gegara topik gaun, hampir saja melupakan niat awalnya.
Bibir bawah dan atas Allena telah menciptakan jarak, namun sebelum suaranya keluar, kemunculan seorang mahasiswi dengan napas terengah-engah membuat Allena kembali mengatupkannya. Semua memandang heran ke arah gadis di ambang pintu itu. Selalu saja ada gangguan.
"Dia ... ada ... di sini ... " ucapan terputus-putusnya menciptakan kernyitan di dahi semua orang. Dilihat dari gestur tangan, gadis itu memberi isyarat supaya semua orang bergegas mengikutinya karena napasnya yang belum teratur.
Allena dan Geby saling melemparkan pandangan, seolah mempunyai pemikiran yang sama.
"Ada apa, sih?"
"Entah. Ayo, kita lihat! Aku penasaran..."
"Eeeh!" Allena hampir terjatuh karena Geby menarik lengannya tiba-tiba.
Bukannya meminta maaf, Geby justru cengengesan. Allena semakin kesal dan tidak kuasa menahan gerutuannya lagi.
•••
Allena beserta yang lainnya terus mengikuti gadis tadi hingga berakhir berhenti di lapangan indoor.
"Ya Tuhan..." Geby melebarkan mata sembari menutup mulutnya, tidak percaya.
Belum sempat Allena melihat objek yang ditunjuk mahasiswi tadi, matanya sudah lebih dulu gelap dan tubuhnya tertarik ke belakang.
"Mpptt–"
Seseorang menarik lengannya kasar, sehingga tubuhnya terhunyung ke belakang. Bukan hanya itu, matanya juga ditutup rapat oleh sebuah tangan kekar. Hal itu membuat Allena memekik kaget. Dan tangan yang semula menutupi mata, segera berpindah ke mulut. Suaranya kemudian tenggelam, membuat ia kesulitan meminta pertolongan.
Allena memberontak keras. Tetapi sayang, tidak menghasilkan apapun. Sampai akhirnya berada di aula kampus yang sepi, segala tahanan di tubuhnya terlepas begitu ia menyikut dada pria itu.
Allena menoleh, melihat wajah orang yang telah berani membawa dirinya tanpa permisi.
"Kau!" Allena menggertakkan gigi, lantas melayangkan tangannya ke pipi pria itu.
__ADS_1
PLAKK!
"Ouch... lembut sekali telapak tanganmu. Jadi ingin merasakannya berkali-kali," ledek pria itu sambil mengigit bibir bawahnya dengan sensual.
"Yeah, kau akan merasakan yang lebih dari itu!" sinis Allena seraya melayangkan kepalan tangannya lagi ke arah pipi pria di hadapannya.
Namun pria itu bergerak cepat, menghindari bogeman mentah yang hendak diberikan Allena. Tangan kekarnya mencekal lengan Allena dengan erat.
"Hahaha ... kau kalah cepat, cantik." Pria itu menyunggingkan senyum mengejek.
Allena merontakan tangan, berusaha melepaskan cekalan pria itu.
"Dosen macam apa kau ini? Menyeret orang seenaknya. Kau lebih tua dariku, sudah pasti tahu bagaimana sopan santun!"
"Tua? Siapa bilang? Kita seumuran."
Allena mengabaikan kata-kata ngawur Bryan. Ia lebih fokus pada tangannya yang mencoba melepaskan diri.
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Nah, inilah pertanyaan yang kutunggu-tunggu!" seru Bryan, girang. Allena semakin tidak habis pikir dengan isi otak pria itu. "Aku hanya tidak ingin kau jatuh ke pelukan orang selain aku," ungkapnya, membuat Allena ternganga tidak percaya sekaligus bingung.
"Maaf, Mr. Shamus. Jika kau bertindak bodoh seperti ini, bukan membuatku menyukaimu, melainkan membenci. Jadi hentikan tingkah tidak beretikamu ini!"
Bryan maju selangkah, menarik bahu Allena dan mendorong tubuhnya ke dinding.
"Benci atau sayang, bukan masalah besar. Yang pasti aku bisa mendapatkanmu." Setelahnya, Bryan mendekatkan wajahnya pada wajah Allena. Ia ******* bibir gadis itu dengan kasar.
Allena yang kaget mendapat serangan tiba-tiba, berusaha memalingkan wajahnya, menghindari ciuman itu. Namun Bryan lebih hebat lagi mengambil alih wajahnya. Rahang Allena dicengkeram.
Amarah Allena bangkit seketika. Ia tidak terima. Dosen itu melecehkannya.
Bugh!
"Arrghh! Fucking shit!"
Allena tersenyum miring sambil melipat tangan di depan dada.
"Jangan coba bermain-main denganku, Bryan Shamus."
Baru saja Bryan mengulurkan tangan ingin meraih tangan Allena lagi. Namun gadis itu sudah bergegas lari, meninggalkannya yang masih meringis kesakitan. Segala umpatan kembali terlontar dari mulut Bryan.
•••
Selama kelas berlangsung, suasana begitu hening. Entah saking enggan, malas, atau karena alasan lainnya, Bryan kini lebih banyak diam.
Raut wajahnya sedatar tembok dan beraura mencekam. Sehingga tidak ada satu pun orang yang berani menyuarakan diri untuk sekadar menyapa. Takut jika pria itu sensitif dan mengamuk.
Allena sendiri masih emosi, belum puas memberi pelajaran pada dosennya. Tapi semampu mungkin ia kubur dalam-dalam. Ia hanya tidak ingin urusannya panjang. Apalagi jika sudah menyangkut Dekan dan menciptakan skandal. Rumit!
"Dicukupkan saja untuk kelas hari ini. Terima kasih." Setelah mengucapkan kalimat pernyataan usainya kelas, Bryan melirik sekilas ke arah Allena, sebelum melenggang pergi meninggalkan kelas.
Allena yang melihat lirikan mata Bryan kepadanya, mencebik bibir kesal. Ia menduga, pria itu akan berbuat yang aneh-aneh lagi. Terlihat dari sorot matanya, menyiratkan balas dendam.
Tuhan, aku harap Engkau menjauhkan pria macam itu dari hidupku!
•••
Allena menyuapkan bakso ke mulutnya dengan tenang. Sementara Geby hanya asyik memandang teman dekatnya itu dengan kerutan di kening.
"Allena, tadi pagi ..."
"Hello, my friends!" Kedatangan Hetty mengalihkan perhatian kedua gadis di meja itu.
Hetty menjatuhkan bokongnya di bangku sebelah Allena, menyatakan jika ia ikut bergabung di meja itu. "Oke, aku tidak akan membahas soal majalah butik Ibumu yang sedang trending topic itu. Yeah, karena aku yakin mood-mu akan langsung memburuk."
__ADS_1
Allena tersenyum tipis. Syukurlah. Ternyata masih ada orang yang mengerti dirinya. "Mau?" tawarnya kemudian dengan menyodorkan sendok yang terdapat sebuah bakso berukuran kecil.
"Tidak, terima kasih. Tadi, sebelum kau kemari, aku sudah makan bersama temanku yang lain," tolak Hetty halus, dibalas 'oh' ria oleh Allena.
"Bagaimana perasaanmu saat bertemu malaikat penolong?" tanya Hetty dengan nada menggoda.
Allena mengernyitkan dahi, tidak mengerti. Maksudnya apa?
"Pastinya bahagia. Jika tidak, dia tidak mungkin menghilang di belakangku," timpal Geby sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke arah Allena. "Asyik berloncat-loncat kegirangan."
"Oh sampai segitunya syokmu, lari dari lapangan indoor?" Hetty tersenyum mengejek.
Allena termangu. Lari apa? Obrolan kedua temannya itu absrud sekali. Apalagi Hetty. Bertemu malaikat penolong? Yang benar saja? Mungkin tepatnya iblis penjatuh harga diri.
Seperkian detik kemudian suasana kantin berisik layaknya arena pertandingan. Teriakan histeris para wanita membuat Allena terlonjak.
"Itu dia!"
Allena kontan memutar kepalanya ke arah yang ditunjuk Geby.
Tubuhnya menegang saat melihat siapa yang dimaksud. Rasanya seperti ada tamparan batin. Perih. Darahnya berdesir panas.
ALBERN.
Allena masih ingat sususan huruf namanya. Pria vampir itu terlihat sedang mendudukkan diri di salah satu meja kantin diikuti dua orang pria seumurannya yang tidak kalah memesona juga.
"Dia malaikat penolongmu waktu di klub malam. Tadi pagi kau benar-benar melihatnya, kan?"
Allena tidak mengubris ucapan Hetty. Saat ini perhatiannya lebih terfokuskan pada sosok di kejauhan sana. Ia melihat lirikan ekor mata Albern ke arahnya, dan jangan lupakan killer smile-nya yang suka mengikut kemana-mana.
"Dia juga yang tadi pagi sempat menggemparkan mahasiswi seantero kampus. My prince charming, Albern..."
"Hey... kau sudah memiliki dosen sebelah. Jadi cukup satu saja, tidak boleh egois!"
Geby mengerucutkan bibir. "Hm.. Hm.. Hm.. Baiklah."
Hetty tersenyum puas, lalu memekik tertahan. "Dia juga satu kelas denganku, Al."
Allena menoleh seketika. Tentunya dengan mata membelalak. "Artinya ... dia kuliah di sini?"
"Ck. Tentu saja. Kau ini, katanya cerdas, tapi begitu saja masa masih bertanya."
Allena yang mendengar ucapan Geby merasa cukup, tidak ingin bertanya lebih banyak lagi. Ia hanya menundukkan kepala sembari berpikir secara perlahan. Ia teringat kalimat itu.
"Mau kau lari sampai ke ujung dunia pun, aku tetap akan menangkapmu. Camkan itu!"
Serta kalimat di aula kampus pagi tadi.
"Aku hanya tidak ingin kau jatuh ke pelukan orang selain aku."
Allena merasa kedua kalimat itu berhubungan.
Bryan sepertinya tidak menyukai keberadaan pria lain yang lebih memikat, karena mengira Allena akan tertarik kepada pria itu--Albern.
Sedangkan soal kemunculan Albern di sini. Pria itu pasti sedang membuktikan kalimatnya waktu itu, bahwa Allena akan selalu bersamanya meski sepandai apapun ia menyembunyikan diri.
•••
TBC...
Nih aku kasih visualnya Albern & Allena
__ADS_1