A Special Girl

A Special Girl
Chapter 14


__ADS_3

• Dating •


"ALLENA!!!" teriakan serta guncangan di tubuh mengusik ketenangan tidur gadis yang tengah bergelung selimut itu.


Entah sudah keberkian kalinya Melly melakukan itu, namun respon Allena hanya racauan tidak jelas yang lagi-lagi berakhir terlelap kembali.


"Cepat bangun, kalau novel-novelmu tidak ingin hangus!" Pada akhirnya kalimat ancaman melayang dari mulut Melly.


"Ibu... jangan ganggu dulu, aku masih mengantuk..." rengek Allena masih dengan mata terpejam.


Melly berdecak kesal seraya berkacak pinggang. Seperti biasanya, efek jika putrinya bergadang selalu seperti ini. Malamnya menjelma menjadi kelelawar gadungan dan siangnya tidur seperti orang koma. Bangunnya kalau tidak tengah hari, saat matahari sudah mau tenggelam lagi.


Melly menghela napas. Membangunkan Allena membuatnya menjadi lelah sendiri, menguras tenaga. Cukup sudah. Dia menyerah berjuang membuat putrinya membelalakkan mata.


"Baiklah kalau begitu, selamat melanjutkan tidur sepuasnya, darling. Oh ya, di ruang tamu ada seseorang sedang menunggumu. Jika memang tidak ada urusan penting, Ibu akan menyuruhnya pulang."


Raga yang belum melayang sempurna ke alam mimpi dan telinga yang masih sempat menangkap kalimat itu, membuat mata Allena yang semula terasa lengket berhasil terbuka dengan sempurna.


"Ibu pergi du-"


"Tunggu!" sela Allena dengan gerakan refleks badannya yang langsung duduk tegap. "Siapa orang itu?" tanyanya, to the point.


"Entahlah, yang pasti dia seseorang yang sangat tampan." Melly mengulum senyum menggoda.


Kata tampan yang diucapkan ibunya membuat Allena berpikiran tidak jauh dari sosok berdarah dingin yang selama ini berusaha dia hindari. Dadanya mulai terasa sesak begitu kejadian di toilet kemarin berputar kembali.


Jangan-jangan ... Albern?


Allena menggigiti ujung telunjuknya, cemas. Dia sangat ingat janji itu. Ah, lebih tepatnya kesepakatan dirinya dengan makhluk kutub itu.


Jika bukan karena kata-kata ibunya, dia tidak akan membuka matanya dan acara kencan pasti akan batal. Sebagai alasannya, yaitu ketiduran sampai siang hari. Sesuai fakta. Tapi jika sudah seperti ini, mau berbohong pun percuma. Albern pasti mengetahuinya. Dan untuk kemudian? Dapat dipastikan pria itu meminta gantinya. Masih baik permintaan wajar, namun jikalau aneh-aneh? Dia tidak sudi.


Allena mengusap wajahnya kasar, menggeram dalam hati.


Arghh! Damn untuk dia dan kemampuannya membaca pikiran orang!


Allena memandang ibunya yang masih berdiri setia menemani. Jika pun bisa, dia ingin sekali meminta pertolongan kepadanya, hanya saja itu tidak memungkinkan terjadi. Takut bukannya terselesaikan, melainkan justru memperumit keadaan. Oleh karena itu, kata-kata ungkapan cukup ditelannya saja. Meski terasa pahit, yang terpenting terbaik.


"Baiklah. Aku jadi pergi," putus Allena pada akhirnya, setelah beberapa saat berpikir keras.


"Oh. Jadi acara yang kau maksud semalam itu bersama dia?" Melly menutup mulut, menahan pekikan. Allena memutar malas matanya. Ekspresi ibunya itu lho, benar-benar berlebihan. Seperti remaja yang baru menetas saja.


•••


Albern bangkit dari duduknya begitu sosok gadis yang ditunggu-tunggu sejak tadi telah berada di depan mata. Senyum miring dia sunggingkan di bibir menawannya.


"Sepertinya ada sedikit yang berbeda dari penampilanmu sekarang." Itulah kalimat sapaannya pagi ini untuk sang gadis pemikat ber-style casual.


Sebelum Albern membuatnya risih dengan tatapan berengsek yang meneliti penampilan dari atas sampai bawah, Allena segera menunjuk pipinya yang berwarna merah merona.


"Oh, hahaha... ternyata itu." Albern tertawa kecil, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.


Sedangkan Allena melayangkan kepalan tangannya, menonjok pelan bahu Albern. Jujur dia dongkol melihat pria itu menertawakannya. Bukan hanya kepada Albern, juga untuk ibunya sendiri-wanita yang keras kepala memoleskan blush on di wajahnya.


"Ayo cepat pergi! Sebelum aku berubah pikiran untuk membatalkan semuanya."


"Wah! Sepertinya ada yang tidak sabar untuk segera bersenang-senang denganku." Albern hendak merangkul bahu Allena, namun gadis itu dengan cepat menepisnya.


"Bukan seperti itu..." desis Allena, lalu menggerlingkan mata ke arah tembok yang menghubungkan ruang tamu dengan dapur, sebelum melanjutkan. "Hanya saja aku tidak mau membuat Ibuku membuang-buang waktu dengan mengintip pertemuan tidak penting ini."


Albern melirik ke arah yang sama melalui ekor matanya. Saat itu dia dapat melihat separuh kepala seorang wanita paruh baya muncul di balik tembok tersebut. Jelas wanita itu adalah Melly Johnson yang sedang mengintip.


Sebenarnya, tanpa menoleh dan diberi tahu pun Albern sudah tahu itu. Hanya saja dia sedang mencoba berperilaku layaknya manusia biasa. Siapa tahu nyaman dan ketagihan?


"Ayo!" Tiba-tiba Allena menarik lengan Albern dan menyeretnya keluar rumah.


Pria yang ditarik sedikit kaget dengan perlakuan tiba-tiba gadis itu. Tidak seperti biasanya. Tapi, sekaligus senang. Mungkin Allena sudah mulai tertarik dengannya..


•••


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah taman kota. Bukan pilihan Albern, melainkan Allena. Dia hanya mengikuti apa mau gadis itu. Selama senyum manis tercetak di bibir Allena, dia akan bahagia juga.


Albern terkekeh di bangku taman, menikmati pemandangan sederhana nan lucu di depannya. Di sana, terdapat sang Primadona tengah bercanda ria dengan gadis-gadis kecil sambil meniup balon sabun. Tawa yang terbit di bibir Allena berefek kuat di hatinya. Sebuah debaran kebahagiaan. Dia berharap perasaan itu tidak akan pernah sirna.


Jika tadi hanya berdiam saja, sekarang Albern bangkit menghampiri Allena yang tengah di kerumuni dayang-dayang mungil di kejauhan sana.


"Yeay! Kakak Tampan Gabung!" seru salah seorang gadis kecil dengan girang, disusul teman-teman manis lainnya.


Albern terkekeh, kemudian bertekuk lutut dan mencubit gemas pipi gadis kecil yang baru saja berbicara itu.


"Awh, kakak... sakit..." rengek gadis kecil yang tidak diketahui namanya itu seraya mengusap pipinya yang terasa perih.


Saat itu pula Allena datang dan langsung mendekap gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang. Lantas mendelik pada Albern. "Kau pikir ini roti, pakai acara cubit-cubit segala? Ini anak orang, Albern..." omelnya dengan menunjuk-unjuk wajah gadis kecil tersebut.


"Mencubit juga aku tidak memakai tenaga. Hanya menempelkan jari di pipinya. Dia saja yang berlebihan."


"Mau dibuat selemah apa pun, tenagamu tetap saja terasa. Sadar diri!"


Belum sempat Albern membalas ucapan Allena lagi, gadis kecil tadi segera melerai. "Stop, stop! Mengapa kakak-kakak menjadi ribut? Soal sakitku, sebenarnya hanya gurauan agar kakak tampan ini mengelus pipiku."


Allena dan Albern saling bertatapan. Beberapa detik kemudian mereka pun menyerang gadis kecil itu dengan gelitikan.


"Ugh, nakal sekali! Hampir saja kau mengacaukan acara kencan kami..."


"Sudah mulai genit ya?"


"Hihihi... Hentikan, Kak... Kumohon... Hihihi," pinta gadis itu di sela-sela cekikikan gelinya. Hingga tidak beberapa lama,


"Hey! Putriku kalian apakan!?" Seorang wanita paruh baya berlari mendekati Allena dan Albern, lalu merengkuh tubuh gadis kecil di antaranya.


"Maaf, Nyonya." Allena berucap pelan sambil menyikut lengan Albern, mengisyaratkan agar meminta maaf juga.


"Girty, sayang... kau tidak apa-apa, kan?"


Gadis kecil yang dipanggil Girty menggeleng tegas dalam pelukan ibunya. "Aku sudah membuat mereka bertengkar dan sebagai balasannya mereka menggelitikiku habis-habisan. Di sini aku yang salah," jujurnya dengan suara lucu nan merdu, membuat siapapun yang mendengarnya merasa gemas.


"Oh. Baiklah." Ibu dari anak itu menoleh kepada dua orang dewasa muda di depannya. "Maaf untuk kesalahan putriku. Dan kesalahanku juga, sudah menyimpulkan kejadian hanya karena terlihat oleh mata tanpa tahu sebab sebenarnya."


"Tidak apa, kami juga minta maaf untuk kejadian tadi. Perut putri anda mungkin menjadi sakit akibat kita gelitiki tanpa ampun." Allena tertawa pelan, disusul wanita paruh baya itu serta Girty.


Sedangkan Albern, sejak keberadaan wanita dewasa itu, mulutnya mendadak bisu. Bahkan wajahnya terlihat datar-datar saja. Tidak perlu diherankan, dia memang biasa begitu. Hanya akan menunjukkan sisi hangatnya kepada orang-orang tertentu saja. Termasuk anak kecil yang masih polos.


•••


Pada awalnya ibu Girty menawarkan Allena dan Albern untuk bergabung ke pesta barbeque di rumahnya, namun belum sempat Allena menyahut setuju-dengan niat sekadar untuk bersenang-senang saja, Albern telah lebih dulu menolak. Tentu hal itu membuat batin Allena menggerutu kesal. Bukan masalah tolak-menolaknya, hanya saja nada suara Albern yang mengganggu. Ketus. Jelas terkesan tidak sopan.

__ADS_1


Beralih ke waktu sekarang ini. Tempat kedua yang pasangan kencan itu kunjungi adalah Disneyland. Sama seperti awal-awalnya, Albern lebih asyik memandang wajah Allena daripada menggerakkan tubuhnya untuk melakukan suatu hal.


Di Mickey's Toontown--rumah bagi para karakter kartun Disney terkenal--Allena tampak asyik berselfie bersama badut Minnie mouse. Tak lupa, es krim green tea di genggamannya ikut juga.


"Albern!" panggil Allena sambil melambaikan tangan ke arah Albern yang tengah berdiri bersidekap dada di tempat berjarak beberapa meter darinya.


Begitu Albern telah berada di hadapannya, Allena segera menarik tangan pria itu untuk ikut berfoto bersama badut kartun.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Albern, heran.


"Hanya mengabadikan momen. Ini pertama kalinya aku bermain ke taman fantasi, bersama seseorang."


"Oh ya? Ternyata pemikiranku salah tentang kau yang enggan berdekatan dengan pria mana pun."


Allena diam sejenak. Benar juga. Mengapa dirinya mau melupakan hal itu kepada Albern?


Allena berdeham, membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Baiklah. Setelah kau bicara begitu, aku berubah pikiran."


Albern mengulum senyum sambil geleng-geleng kepala. Dia mencubit pipi Allena, gemas untuk kesekian kalinya. Sebelum Allena mengomel, dia langsung merangkul bahu gadis itu dan mendekapnya erat-erat. "Tidak usah malu-malu. Bilang saja kalau ini yang kau mau."


Allena terkesiap. Lidahnya kelu. Apalagi saat Albern memerintah seseorang yang lewat untuk memfoto mereka berdua, tentunya tanpa adanya badut di antara mereka. Jantungnya sontak berdegup kencang. Bahkan dia tidak memberi perlawanan, karena tubuh yang mendadak terasa kaku.


Ada apa denganku? batinnya bertanya-tanya.


Cup.


Albern mencium pipi Allena tepat ketika cahaya kamera menyorot, mengambil gambar mereka. Allena kaget, sangat, sampai-sampai jantungnya memberontak, minta diloncatkan dari tempat bersemayamnya.


Dia mendongak, melihat rahang kokoh Albern. Pria itu juga tampak tersenyum mesem, menampilkan lesung pipit manisnya.


Sudah berkali-kali terdengar bunyi jepretan kamera. Allena tidak tahan lagi dengan posisi ini. Segera dia menarik diri, menjauh dari pelukan Albern.


"Cukup."


"Ada apa?" tanya Albern, tampak menahan senyum. Pasti dia puas sekali karena berhasil menyiksa Allena dengan debaran hebat yang dibuatnya.


"Eerr ... aku ... lapar," jawab Allena, sedikit gelagapan.


•••


Begitu pelayan restoran memberikan buku menu, Allena merengut. Jujur saja, sekarang ini dirinya sedang tidak mood makan karena waktu di taman tadi dia sudah memakan sandwich. Itu saja sudah cukup mengganjal perut. Tapi karena situasi yang mendesak dan bayangan tentang makanan lewat di benaknya, ucapan lapar pun melenceng begitu saja. Albern benar-benar kesialan baginya.


"Ayo, pesanlah!" Di kursi seberang, Albern menunggu.


Allena mendongak sambil memaksakan senyum ke pria itu, kemudian menoleh ke arah di mana pelayan wanita berdiri. "Aku pesan salad."


"Baik. Ada lagi, nona?" tanya sang pelayan, namun matanya lurus ke arah Albern.


Tatapan memesona. Rasanya Allena ingin pulang saja daripada harus melihat wanita bodoh itu. Tertipu penampilan. Tidak tahu saja jika pria yang tengah dikaguminya merupakan makhluk bertaring yang kapan saja dapat mengancam populasi manusia.


Allena berdeham keras, berhasil mengalihkan perhatian pelayan itu kepadanya. "Hanya itu."


"Kalau anda, Tuan?"


Albern menggeleng hingga membuat pelayan tersebut mengembuskan napas kecewa. Sebab, tidak berkesempatan menikmati pesona pria itu dalam jangka waktu yang lama.


"Ayo, cepat! Tunggu apa lagi?" desak Allena, tersirat usiran.


"Iya." Pelayan berlalu dan suasana mulai hening.


"Yeah, memangnya kenapa?"


"Kau bilang lapar. Makanan itu mana mungkin mengenyangkan. Pesanlah makanan berat!"


Allena tersenyum paksa. "Terima kasih, tapi aku sedang diet. Ini saja sudah cukup untukku. Yang penting adalah sehatnya."


Albern menahan tawa geli. Tingkah gadis itu, benar-benar menggemaskan. Sementara Allena mulai merasakan keanehan, memincingkan mata menyelidik. Beberapa detik kemudian barulah dia tersadar akan satu hal. Pembaca pikiran. Bagaimana mungkin dirinya bisa melupakan itu?


Berarti sejak awal Albern ... Shit! Dia mengerjaiku!


Allena membuka mulut, berniat menghujami Albern dengan segala kosakata kasar yang dia ketahui. Namun sebelum itu terjadi, kedatangan seorang wanita berambut merah dengan kacamata minus yang bertengger di hidung di meja mereka membuat Allena mengatupkan bibir kembali.


"Hai! Kau Allena, bukan?" tanya wanita tersebut, sedikit antusias.


Allena mengangguk pelan, atensinya mengarah ke penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Gaun hitam polos dengan dilengkapi hoodie. Dia pernah merasakan aura ini. Yeah, saat pertama kali bertemu dengan Albern.


"Apa aku mengenalmu?" Allena bertanya memastikan, takut dirinya lupa jika sebelumnya pernah berkomunikasi dengan wanita itu.


"Sepertinya tidak. Aku hanya melihatmu di majalah dan kebetulan juga kau ada di mari. Jadi, aku putuskan untuk menyapamu," sahut wanita asing tersebut, lalu mengulurkan tangan ke depan Allena. "Aku Kathrine. Salah seorang penggemar majalah fashion Mell boutique. Senang bisa bertemu denganmu."


Allena menjabat tangan itu yang dingin. "Senang juga ... bisa mengenalmu."


Entah perasaannya saja atau bukan, sedari tadi pandangan Kathrine tertuju pada Albern. Bukan tatapan terpesona seperti wanita kebanyakan, melainkan lebih mendekati mengejek? Ada apa dengannya? Apa mereka saling kenal?


Penasaran, Allena ikut melirik pria yang menjadi lawan duduknya. Albern terlihat tegang. Sorot matanya juga menusuk, sekaligus cemas. Tunggu, mengapa suasana menjadi mencekam seperti ini?


Kathrine berdeham. "Hm, maaf sebelumnya. Apa kedatanganku mengganggu kalian?"


"Ya," jawab Albern, langsung dengan nada tegas.


Allena memberi tatapan peringatan pada pria itu untuk menjaga bicaranya. Meski dirinya juga kurang suka akan kehadiran Kathrine. Tapi dia tetap mengelak untuk tidak menyinggung perasaan wanita itu. "Tidak. Justru kau memecahkan kebosanan kami."


"Tapi-"


"Pergilah! Tinggalkan kami berdua. Kau sudah menganggu kencan romantis kami," sela Albern, tak kuasa lagi menahan kekesalannya.


"Eh, kencan? Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi." Kathrine tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Allena dan Albern.


"Ya... aku pun berharap begitu." Allena balas melambaikan tangan pada Kathrine yang sudah mulai menjauh. Setelah itu, teralih lagi kepada Albern.


"Ada apa denganmu? Mengapa gemar sekali membuat sakit hati orang-orang?"


"Kita sedang berkencan dan mereka mengganggu. Apa salahnya aku menegur?"


"Tidak salah. Hanya saja kau terlalu jujur dengan ketidaksukaanmu, apalagi kau mengungkapkannya dengan kata-kata frontal!"


"Kau berbicara seolah tidak pernah melakukannya saja," sindir Albern disertai senyuman sinis.


"Apa maksudmu?"


"Kau melupakan siapa aku, Allena. Aku tahu semuanya. Termasuk sikap dingin yang selama ini kau tunjukan kepada ayahmu."


Allena speechless. Bahkan dia tidak tahu jika selama ini Albern mengawasi hari-harinya. Bukan tentang sikap yang sekarang ini berada di pikirannya, melainkan pertanyaan bagaimana jadinya jika pria itu juga tahu mengenai benda yang ayahnya berikan? Ah, lagi-lagi dia harus merutuki kebodohannya. Baru saja dirinya memikirkan hal itu. Otomatis Albern juga akan tahu apa yang disembunyikannya.


ALLENA BODOH!

__ADS_1


•••


"Lepaskan, Albern! Aku mau pulang!" Allena menahan tarikan Albern di tangannya.


"Ini belum malam. Tidak seru kalau kencan kita hanya sampai sore." Albern kembali menarik lengan Allena. Entah kemana Albern mengajaknya pergi. Bukan apa-apa, dia hanya takut berpergian bersama seorang pria di gelapnya langit. Apalagi Albern itu vampir, dia masih belum mempercayai jika makhluk itu baik-baik. "Lagi pula kencan ini sungguh biasa. Sejak pagi aku yang selalu menuruti kemauanmu, sekarang giliran aku yang harus kau turuti."


"Tapi Albern, besok aku ada kelas. Jika aku telat bangun, bagaimana?"


"Aku ada untuk bertanggung jawab. Tenang saja."


"Mudah sekali kau berbicara," cibir Allena.


"Semudah aku melakukannya."


Allena berdecih. Tapi jika dipikir-pikir lagi Albern mungkin ada benarnya. Pria itu akan melakukan semua hal dengan mudah, dibantu kemampuannya yang berada di atas rata-rata manusia biasa. "Ah, sudahlah... aku lelah, ingin beristirahat."


"Kalau itu yang kau mau, silahkan saja! Tapi jangan menyesal kalau besok bibirmu menjadi santapanku." Albern menyeringai.


Mendengar itu Allena membelalakkan mata, menutup bibir rapat-rapat dengan tangannya yang bebas, lantas menggeleng tegas. Itu tidak boleh terjadi.


"Makanya menurut. Jika sudah begini kan jadi lebih mudah."


Allena menggertakan gigi, menelan amarahnya ke dalam hati. Yang dia harapkan hanyalah agar semua ini segera berakhir. Setelah itu dia bersumpah akan melenyapkan yang namanya kesepakatan lagi di dalam hidupnya. Dengan siapapun, terikat oleh itu sungguh merepotkan!


Selang beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan sebuah tempat yang remang cahaya lampu. Di depan sana terlihat sebuah bangunan, entah apa, namun sepertinya terbengkalai.


"Naik!" perintah Albern seraya mengedikkan dagu ke arah tembok pembatas di sebelahnya.


Allena mengernyit bingung. "Untuk apa?"


"Naik saja, nanti kau juga akan tahu sendiri."


Allena menghela napas. Pria itu, ada saja tingkahnya. Tapi supaya cepat, Allena menurut saja. Dia mulai mengangkat kaki kanannya lebih dahulu menaiki tembok dengan tinggi sepaha itu. Begitu pun dengan Albern.


Mereka berdiri dengan posisi saling menghadap satu sama lain. Pergerakan Albern yang tiba-tiba meraih pinggang Allena, membuatnya tersentak kaget.


"Apa yang akan kau lakukan?" Allena mengerut, mulai takut.


"Aku akan membuatmu bahagia. Bukan suatu kejahatan. Trust me."


Sorot mata Albern menyiratkan apa yang dikatakannya sesuai dengan kebenaran. Sangsi, namun kepala Allena terangguk juga.


"Tutup matamu."


Allena menguncupkan kelopak matanya dengan perlahan.


"Rileks. Bebaskan semua beban pikiranmu. Bayangkan apa yang kau inginkan sekarang ini terwujud."


"Sebenarnya apa tujuanmu melakukan ini?"


"Aku hanya ingin membuat hatimu tenang. Mungkin selama ini kau sering mendapatkan masalah. Begitu pun denganku. Jadi, untuk malam ini, sejenak kita buang sama-sama masalah yang ada dalam diri kita."


Allena berusaha mencerna perkataan Albern.


"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Sekali lagi, aku bilang buang semua beban yang ada di pikiranmu. Dan bayangkan satu keinginan besarmu."


"Ya sudah, aku mulai, nih."


Bersamaan dengan Allena yang perlahan mengosongkan pikiran, Albern mengeratkan pelukan di pinggang gadis itu. Terkejut. Bukan karena pelukan itu, melainkan tubuhnya yang terasa menggantung. Allena sontak membuka mata dan mengalungkan lengannya di leher Albern. Mereka, melayang di udara.


"Ya Tuhan!" Allena memejamkan mata sembari mengeratkan pegangannya pada Albern, takut terjatuh.


"Jika kau menutup mata, usahaku sia-sia saja mengajakmu terbang. Kau tidak akan merasakan sensasinya."


"Aku takut..."


"Tidak apa. Aku ada untuk melindungimu."


Ragu. Tapi semampu mungkin Allena melawan rasa takutnya. Dia membuka matanya lagi dan langsung mendapati wajah Albern yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. Sangat dekat. Sampai napas mereka saling beradu. Gelap sudah merayapi langit. Allena merasa malam ini wajah Albern tampak begitu cerah. Pelukannya posesif dan menghangatkan.


"Bagaimana bisa?" tanya Allena dengan nada bergetar.


"Tentu saja bisa. Ini kan yang kau inginkan? Terbang."


"Yeah, tapi-" Allena tidak tahu harus berbicara apa lagi. Dirinya kehabisan kata-kata.


Apa yang terjadi, sulit dipercaya. Oleh karena itu, dia pun memberanikan diri untuk melihat ke bawah. Mati-matian menahan untuk tidak menutup mata. Dan apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Senyum bahagia terbit seketika. Perkotaan di bawah sana, dia berasa seperti melihat ribuan kunang-kunang dengan keindahan cahayanya.


"Boleh aku meminta sesuatu darimu?" Pertanyaan Albern kembali mengalihkan perhatian gadis itu dari keasyikan mengaguminya.


"Apa?"


"Ciuman."


Allena terpaku. Tidak percaya, Albern meminta izin seperti ini. "Mengapa sekarang kau meminta? Bukankah biasanya kau selalu mendapatkan itu tanpa permisi dariku?"


"Jadi, kau ingin membuatku selalu terlihat berengsek, begitu?"


"B ... bukan..."


"Kalau begitu apa jawabanmu?" Albern masih mendesak, menagih gadis di depannya untuk mengatakan kata kepastian.


Allena mengalihkan pandangannya, menghadap ke arah sinar rembulan. Berusaha mengontrol semu merah di pipi agar cepat menghilang. Jika saja blush on itu masih ada, mungkin malunya dapat disembunyikan. Tetapi masalahnya, saat di taman dia sudah menghapusnya dengan air dari dalam botol kemasan.


"Uhm... terserah." Entah bagaimana kata itu keluar dari bibirnya. Yang pasti dia masih gengsi untuk mengatakan sesuatu yang jelas. "Tapi ada syaratnya."


Senyum Albern mengerut seketika. "Apa?"


"Sepanjang waktu besok kau harus tersenyum pada semua orang kampus."


"Kalau seperti ini, lebih baik aku mengambilnya langsung."


"Dan aku akan semakin membencimu kalau kau melakukan keberengsekanmu itu lagi."


Albern menghela napas lelah. Lalu mengulurkan tangan kanan, mengangkat dagu Allena untuk di hadapkan dengan wajahnya.


Untuk hari ini. Yang kedua kalinya, jantung Allena berdegup kencang. Bibir mereka menyatu. Sebuah kecupan lama yang diselimuti pelukan romantis. Sang Raja malam pula turut menyaksikan persatuan tersebut.


"Cinta terlalu abstrak untuk didefinisikan. Aku juga tidak tahu apa perasaanku padamu. Maaf, kalau pun Tuhan memberinya, aku tidak yakin aku mampu mengungkapkannya."


Sebuah bisikan yang mampu menggetarkan hati seorang Allena Johnson. Dia hanya tersenyum kecut menanggapi. Tidak tahu mengapa, hatinya merasa kecewa dengan hal kecil tersebut.


Apa mungkin ...


Ah, sudahlah. Allena tidak ingin berpikiran terlalu jauh. Mungkin rasa ini efek dari perlakuan manis pria itu saja. Sebatas perasaan kagum yang bersifat sementara. Lagi pula baru beberapa kali bertemu, tidak mungkin dirinya jatuh begitu saja.

__ADS_1


•••


__ADS_2