
• Gripping •
Pintu kaca balkon dibuka sedikit, memberikan celah untuk udara malam masuk ke kamarnya. Di tengah hamparan awan gelap, tampak bulan purnama bersinar ceria seolah menghibur Allena yang sedang dilanda kegelisahan. Dirasa hatinya sudah mulai tenang, dia pun bergerak menaiki tempat tidur dan berbaring dengan tangan terentang bebas.
Maaf, Ayah... aku menghilangkan buku itu...
Sesaat angin besar melanda kamar hingga membuat gordennya terapung tinggi. Allena sontak menoleh ke arah jendela. Pintu kaca balkon juga ikut bergerak-gerak, mengeluarkan bunyi berisik.
Ada apa ini?
Mengapa tiba-tiba ada angin besar?
Allena yang mulai merasakan keanehan, bangkit dan melangkah perlahan menuju balkon, hendak memastikan sesuatu di luar sana. Namun, baru setengah jalan, aungan serigala disertai angin kencang berhasil melemparkan tubuhnya hingga membentur tembok.
Allena meringis karena tubuhnya ambruk. Meski begitu, raganya masih tetap terkumpul sehingga dia dapat mendongak untuk menangkap gerangan penyerang. Serigala. Disaat makhluk karnivora itu hendak menyerang kembali, entah kekuatan darimana dia mampu bangkit dan menangkis dengan cepat.
"Pergi kau!" serunya dengan napas memburu.
Binatang liar, sudah pasti tidak mepunyai akal pikiran. Bukannya turut seperti apa yang diperintahkan, melainkan semakin menjadi-jadi. Serigala itu mengaung sambil berusaha menerjangnya. Satu cakaran panjang berhasil menggores lengan kiri Allena.
"Arrghh!" Allena mengerang kesakitan. Perlahan tangannya terkepal, giginya juga mulai gemelatuk siap meluapkan emosi. Dia mengambil barang apa pun yang berada di sekitar dan melemparkannya tepat ke arah kepala makhluk besar itu. "Enyah, kau!"
Sesaat angin kencang kembali melanda kamarnya. Albern muncul dengan berbalut jubah hitam. Dia langsung memeluk gadis yang tengah menggeram di sudut kamar sana.
"Mundurlah, biar aku yang hadapi."
Allena mendongak, meski dalam remang-remang cahaya, namun ukiran hangat di bibir Albern masih bisa dilihatnya. Dia menggeleng tegas.
"Punya kekuatan apa kau sehingga berani melawan werewolf itu sendiri?"
__ADS_1
Allena terdiam. Benar kata Albern. Dia melarang Albern untuk melawan werewolf itu, sementara dirinya juga tidak bisa menghadapi makhluk itu. Bisa gawat jika keduanya hanya diam saja, itu sama saja dengan menunggu maut menjemput. "Baiklah, terserah kau!"
Albern akhirnya mengembuskan napas lega. Bukan karena menunggu persetujuan Allena, melainkan mengenai kilatan biru kristal di manik gadis itu yang perlahan meredup. Cukup lama mereka berbasa-basi sehingga lupa jika situasi sedang tidak aman. Tanpa sempat menangkap pergerakan sang lawan, tubuh Albern sudah lebih dulu terhempas ke depan, membentur tembok balkon begitu kerasnya.
Allena memekik sembari beringsut mundur. Tubuh bergetar serta keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Dengan mulut asyik mengeluarkan segala umpatan, Albern bangkit sambil memegangi dadanya yang berbekas cakaran. "Sialan, kuberi pelajaran kau!"
Begitu sang werewolf melompat hendak menerjang Allena, dengan gesit Albern melayangkan tonjokannya yang diselimuti kekuatan sihir sehingga membuat binatang itu terlempar dengan bagian badan sedikit bengkok.
"Arrgghh!"
Satu hal yang membuat gadis pemilik kamar tercengang. Serigala itu berubah wujud menjadi manusia laki-laki.
Jikalau raut Allena menggambarkan keterkejutan yang luar biasa, Albern justru sebaliknya. Pria vampir itu malah melipat kedua tangannya di depan dada, bersikap santai seolah tidak terjadi sesuatu yang besar.
"Al ... Allena..." lirih manusia serigala itu masih dengan tubuh meringkuk di lantai keramik kamar. Tangannya meremas kuat bagian perut yang dapat dipastikan teramat sakit rasanya.
"Hm, aku mengerti perasaanmu. Sekilas orang-orang yang hidup berdampingan dengan kita memang terlihat sama, namun terkadang ada perbedaan jika kau mau menelusuri lebih dalam mengenai kepribadian orang tersebut." Albern menyahut, lalu mengusap-usap pundak Allena untuk memberi pengertian dan ketenangan. "Mau sepahit apapun kenyataan, kau harus berusaha menerimanya."
Allena perlahan menjauhkan tangan Albern dari area tubuhnya disertai helaan napas lelah. "Tolong bawa dia pergi sejauh mungkin dari kamar--kehidupanku," pintanya dengan gerlingan tajam mengarah pada pria di sisi kamar sana.
"Apa pun untukmu, aku selalu siap, calon istriku!" Albern tersenyum miring seraya mengangkat telapak tangannya dengan gaya hormat.
"A ... apa? Allena ... itu ... tidak benar, bukan?" Bryan berkata terputus-putus, dia berusaha bangkit berdiri.
"Jangan sebut namaku lagi, Mr. Shamus!" Allena berseru sembari membuang wajah ke arah lain, bagai tidak sudi melihat sosok pria yang hampir saja mencelakakannya.
Albern mendekat. "Satu lagi, aku ingin sampaikan padamu."
__ADS_1
Allena mengangkat kepala sedikit, menatap mata Albern. Saat itu pula Albern bergerak menarik tangan Allena dan menyatukan dahinya dengan dahi gadis itu.
Dalam memori Allena, tayang sebuah adegan yang menampilkan bayangan Bryan memukuli Robert tanpa henti.
"Jauhi gadisku, atau kau kuhabisi!"
"M ... maksud ... mu?" Robert tergagap, tidak berdaya.
"Allena. Dasar bodoh!"
Allena refleks mundur sehingga membuat kontak ingatan mereka terputus. "Kau sudah melewati batas, Bryan. I hate you forever!"
"Tidak, aku melakukannya demi melindungimu."
"Sudah keberkian kali sikapmu membuatku kecewa. Jangan harap kita bisa bertemu lagi!" gertak Allena, lantas bergerak menuju sudut ruangan dengan posisi membelakangi kedua pria itu, menyembunyikan matanya yang memanas dan mulai berkaca-kaca.
"Jangan coba-coba melakukan itu, atau kau akan menyesal seumur hidupmu!" Bryan melangkah tertatih, mencoba menghampiri gadis yang sudah lama diincarnya.
"Albern, kumohon bawa dia pergi jauh dariku!" Allena spontan berteriak histeris. Takut jika manusia serigala itu menyerang lagi.
"Allena... jangan pergi, jadilah milikku!" Bryan memberontak dalam tanganan Albern. "Lepaskan aku, berengsek!"
"Terima kasih kembali untuk sang berengsek juga."
Allena menggeleng dengan detak jantung di atas rata-rata. Sulit untuk menanamkan kepercayaan lagi. Intinya, dia tidak ingin menjadi milik siapa pun. Baik itu Albern atau pria mana pun.
"ALLENA, KAU HARUS TAHU DIA LEBIH BERENGSEK DARIKU! DIA JUGA ..." Suara Bryan meredup. Albern berhasil menyeretnya keluar, entah kemana. Tapi Allena harap sangat jauh hingga tiada waktu untuk temu tatap lagi dengannya.
Allena berlari menutup segala celah di kamarnya rapat-rapat, lantas menghambur ke tempat tidur dan menangis terseguk-seguk di bawah bantal. Dia sendiri tidak mengerti apa kesalahan fatalnya sehingga kini hidupnya berubah menjadi mencekam. Bayangkan saja, menjadi objek kejaran para makhluk supernatural yang entah bertujuan apa sampai mereka berlomba mengklaim dirinya sebagai milik mereka?
__ADS_1
Ya Tuhan, aku ingin hidup normal...
•••