
• Marriage •
Gaun berbahan sutra putih yang di sekeliling pinggangnya berhiaskan renda membalut tubuh seorang gadis di depan altar sana. Albern menoleh demi melihat pengantinnya yang begitu memesona. Tanpa polesan make up pun, dia tetap terlihat cantik saja. Albern tersenyum lebar, bangga akan dirinya sendiri yang beruntung bisa memiliki gadis tersebut.
Perhatian mereka terpusat kembali ke arah pendeta. Sambil menggenggan erat tangan Allena, Albern berucap lantang, mengulangi perkataan pria paruh baya di depannya. "Aku, Albern Carroll, menerima Allena Johnson sebagai istriku yang sah, untuk saling memiliki dan melindungi, sejak hari ini hingga ke depannya, dalam susah dan senang, dalam keadaan kaya dan miskin, dalam sakit dan sehat, untuk mencintai, menghormati dan mengasihi, sampai maut memisahkan."
Dan giliran Allena mengatakan kata-kata sakral itu. Dalam pengikraran janjinya sama sekali tiada nada keraguan. Setelahnya kegiataan pemasukan cincin. Begitu semuanya selesai, senyum kepuasan tercetak di bibir Albern dan pendeta. Kathrine mematikan handycam, selesai merekam momen berharga kakaknya, dan ikut tersenyum senang.
"Selamat, kalian telah sah menjadi sepasang suami - istri."
"Terima kasih." Albern sedikit membungkukkan badannya sebagai bentuk penghormatan.
"Hm, kalau begitu aku pergi dulu."
Begitu sang pendeta berlalu pergi, Albern memandang penuh arti ke arah adiknya. "Selesaikan tugasmu."
Kathrine terkekeh, lantas mengangkat bahu acuh. Tanpa disuruh pun dia sudah tahu apa yang seharusnya dirinya lakukan.
Belum sempat sang pendeta menginjak lantai luar gereja, erangan sudah keluar dari mulutnya saja. Kathrine menarik taringnya dari leher pria paruh baya itu lalu menjilat bibirnya yang berlumuran cairan merah segar. Setelah itu dia menyeret pendeta yang sudah terbujur kaku di bawah sana entah kemana, namun yang pasti segera membakarnya untuk mencegah bangkitnya kembali sebagai sosok kegelapan. Jujur saja, mengurus vampir baru itu merepotkan.
•••
Allena menggeliatkan tubuh saat sinar mentari pagi menyorot ke arah matanya yang masih berselimut kelopak. Dia melenguh, masih dengan mata tertutup pikirannya menerka-nerka benda apa yang membebani tubuhnya.
Tunggu, benda berat?
Refleks Allena membelalakkan matanya. Begitu menoleh ke sebelah, tampak Albern tengah berbaring miring dengan memamerkan senyuman manisnya. Berganti ke arah perutnya, ternyata tangan kokoh pria itu yang membelit.
"Selamat pagi, babe!"
"KYAAA!!! APA YANG KAU LAKUKAN DI KASURKU!?" Allena melompat dari tempat tidur dan memeluk tubuhnya bermaksud melindungi, karena dia tahu betul bagaimana Albern.
Sejak awal bertemu, perilaku mesum Albern sudah terlihat jelas. Seperti yang tiba-tiba menggendong dan menciumnya tanpa permisi. Jadi, sudah sepatutnya pria itu diwaspadai.
__ADS_1
"Oh tidak, kasur kita, sayang..." Albern meralat seraya tertawa geli melihat ekspresi terkejut Allena yang menurutnya lucu.
"Apa maksudmu? Ini di mana? Dan pakaian ini? Sebenarnya apa yang terjadi?" Allena kelimpungan, matanya tak berhenti menengadah ke penjuru ruangan dan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Beribu pertanyaan menggerogoti pikirannya.
Albern mulai bangkit dari posisi berbaring miringnya. Baru juga berniat menghampiri untuk menenangkannya, gadis itu sudah lebih dulu beringsut mundur menjaga jarak. Pada akhirnya Albern hanya bisa menghela napas berat di tempat.
"Ini kastil, tempat yang akan kita tinggali selamanya." Belum sempat Allena mengeluarkan suaranya, Albern segera menyela. "Dan kita sudah menikah."
"Bohong! Aku Tidak Pernah Mengucapkan Janji Apapun! Menikah Saja Dalam Mimpimu!"
Albern bergegas mengambil handycam di sebelah bantal dan melemparkannya ke arah Allena yang untungnya berhasil tertangkap. "Jika tidak percaya, kau bisa lihat video pernikahannya di sana."
Dengan ragu-ragu, Allena membuka satu-satunya file video di dalam handycam tersebut. Di sana terputar adegan dirinya bersama Albern berdiri di depan altar dengan dampingan seorang pendeta. Yang benar saja, kata-kata sakral itu benar-benar terlontar dari bibirnya?
"Tidak mungkin..." lirih Allena disusul tetesan bening yang keluar dari pelupuk matanya. Dia mengangkat kepalanya kembali, melemparkan tatapan elangnya ke arah Albern. "Pernikahan ini tidak sah! Bukan berlandaskan cinta, dan kau juga mengendalikanku untuk mengucapkan kalimat itu, bukan?"
Albern bergerak mendekati Allena. Perduli setan dengan penolakan gadis itu, yang jelas dia ingin mendekap untuk menenangkannya.
Bukannya berhenti, Albern justru menekan punggung serta pinggang gadis itu untuk dirapatkan dengan tubuhnya. "Tenanglah... kendalikan dirimu..." Diaa berbisik tepat di telinga kanan Allena.
"Jahat! Mengapa kau melakukan semua ini?" Allena menangis. Pukulannya mulai melemah.
"Karena aku ... ingin memilikimu."
"Memiliki untuk apa? Untuk menikmati tubuhku, begitu?!"
Perlahan Albern melepaskan pelukannya, lantas memandang Allena dengan senyuman tipis. "Ada kala mata tidak mampu menyembunyikan kebenaran. Jadi, tataplah mataku kalau kau masih ragu."
Allena berdecih seraya membuang pandangan ke arah lain, dadanya berdebar tak karuan efek emosional. "Tidak cukup dengan itu."
"Cobalah dulu. Aku berjanji tidak akan menghipnotismu." Albern mengulurkan tangan, menggenggam tangan Allena, berusaha meyakinkannya.
Allena melirik mata hazel Albern dengan kepala setengah menunduk. Bola mata pria itu memancarkan sinar seolah meyakinkan bahwa perkataannya itu memang nyata adanya. Dia menggigit bibir bawahnya, bingung mau merespon apa. Meski akal pikirannya berseru setuju, namun di hati tetap saja masih terselip keraguan.
__ADS_1
Albern menarik tubuh Allena ke dalam pelukannya lagi. Untuk kali ini gadis itu membiarkannya, karena perasaan nyaman yang mulai menyelimuti.
"Tidak masalah kalau kau masih ragu, tapi bolehkan kita mencoba untuk menjalani kehidupan baru ini? Mengenai perasaanmu, seiring berjalannya waktu pun cinta akan tumbuh dengan sendirinya."
"Tidak, pernikahan kita belum sah. Bahkan tidak ada saksi serta walinya. Janji itu juga tidak suci karena aku mengucapkannya di alam bawah sadarku."
"Aku menikahimu murni dari sudut kebebasan makhluk. Persyaratan seperti wali atau surat-surat itu berlaku hanya dalam pandangan hukum."
"Benarkah?" Allena mengernyit, belum mengerti. "Apa Tuhan memperbolehkan?"
"Tentu," sahut Albern, entah memang benar atau tidak. "Soal janji yang kau ucapkan tanpa sadar itu, coba pikirlah... Banyak orang tua menjodohkan anaknya dan sang anak meski pun tidak saling mencintai tetap saja mereka mengucapkan janji itu. Pada akhirnya? Sah saja. Begitu pun dengan kita."
Allena terdiam, tatapannya sendu. Terpukau dengan Albern yang benar-benar niat memilikinya, sampai mengatur segala rencana seperti ini.
"Lalu orang tuaku?"
"Sebelumnya Ibumu juga sudah setuju kalau kau menikah denganku. Jadi, untuk apa dikhawatirkan? Diberitahu atau tidak pun hasilnya akan sama saja."
"Tapi-"
"Yang jelas sekarang kau telah resmi menjadi Istriku. Sudah, tak usah dipikirkan lagi," sela Albern, kemudian mendecak. "Aku tidak menyangka ternyata cara menikah para manusia bisa serumit ini," gumamnya disertai gelengan kecil yang melelahkan.
Allena memejamkan mata dan mengembuskan napasnya berat. Albern tampaknya serius dalam hubungan ini.
Percaya. Meski kata itu sulit diraih, namun sepertinya tidak ada salahnya jika Allena memberi kesempatan untuk Albern membangun perasaan kepadanya. "Baiklah. Tapi lihat saja kalau kau berkhianat, aku tidak akan mengampunimu!"
Albern melengkungkan sudut bibirnya ke atas, dan sekarang Allena tidak tahu apa makna tersirat senyuman itu. "Tenang saja. Semuanya terkendali, Mrs. Carroll."
Allena mendelik, kemudian menyikut pinggang Albern sekuat tenaga sehingga pelukan itu terurai. Dia tertawa melihat pria yang gemar memasang surutkan emosinya kini mengaduh kesakitan. Rasakan saja. Siapa suruh pria itu menjengkelkan?
Albern sepertinya belum tahu sisi lain dari Allena. Jika pria itu tetap memaksa untuk hidup bersama, lihat saja nanti, akan muncul penyesalan saat Allena sukses memorakporandakan kehidupannya.
•••
__ADS_1