
• Surprisingly •
Allena merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Sungguh, hari ini ia lelah sekali. Baru saja dirinya pulang dari hilang, Melly sudah memerintah pemotretan saja. Sungguh, ibu tidak berperasaan.
Sesaat ponselnya berdering, menandakan panggilan masuk. Allena merogoh ponsel dalam tasnya, lantas berdecak kesal kala melihat gerangan penelpon dari nomor yang tidak dikenal.
Allena langsung menolaknya karena berpikir panggilan itu mungkin dari orang yang pura-pura salah sambung dan berakhir mengajak kenalan. Biasanya modus yang tidak memiliki pasangan, kerjaannya melacak nomor orang untuk digebet.
Selang beberapa detik, ponsel kembali berdering. Masih nomor yang tadi.
Siapa ya?
Setelah berpikir dua kali, Allena terpaksa mengangkat panggilan tersebut daripada mengganggu terus-menerus. Belum sempat ia menuturkan omelan panjang lebar, orang di seberang sana telah lebih dulu mengeluarkan suara.
"Allena."
Membuat Allena terpaku seketika. Suara itu. Apa dirinya tidak salah mendengar?
"Allena, ma-"
Tut.
Allena mengakhiri sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak ingin mengingat orang itu lagi. Sudah cukup untuk hari ini kepalanya dipenuhi oleh pemikiran akan rentetan kejadian menyebalkan. Jika bukan karena dirinya yang termasuk orang sabar, mungkin sedari awal nyawanya sudah melayang karena depresi oleh cobaan hidup.
•••
Setelah tubuhnya segar kembali, Allena bergegas menuju dapur untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Saat di studio pemotretan ia sempat makan sedikit. Jadi kini, cacing-cacing di perut protes lagi.
Pintu kulkas terbuka, bibir bagian bawah Allena langsung jatuh.
Apa-apaan ini!?
Benar-benar memalukan. Seorang desainer terpandang, Melly Johnson memiliki kulkas yang berisi hanya botol air mineral?
Allena merasa ingin menangis detik itu juga. Jangankan urusan rumah, keadaan putrinya saja tidak Melly pedulikan. Ia jadi ragu akan pelukan pagi tadi. Apa pelukan yang berarti benar-benar khawatir atau hanya sekadar basa-basi saja untuk merayunya menjadi model?
Allena mengusap wajah lelahnya. Jika seperti ini, lebih baik dirinya menetap di panti asuhan saja. Setidaknya masih bisa mendapatkan perhatian dan tentunya tidak akan selalu menghabiskan waktu sendirian.
•••
Allena telah berada di minimarket yang berjarak tidak jauh dari rumahnya. Ia memasukan beberapa mie instan ke dalam keranjang belanjaannya. Awalnya ia ingin membeli bahan untuk membuat sup, tapi karena kepalanya sudah mulai pening, akhirnya ia putuskan untuk memasak yang cepat saji saja.
"Berapa bungkus, ya?" gumam Allena seraya menghitung tumpukan mie yang diambil asal di dalam keranjang belanjaan.
30 bungkus. Allena rasa cukup.
Belum sempat Allena mengayunkan kaki kembali, matanya mendapati sesosok pria yang tengah berdiri beberapa meter di depannya.
__ADS_1
"Allena," sapa pria itu, masih dalam langkah untuk mempersempit jarak antara dirinya dengan Allena.
Sebaliknya, Allena justru melangkah mundur dan mengabaikan barang belanjaannya begitu saja.
Mengerti dengan gestur tubuh gadis di depannya, pria paruh baya itu menghentikan pergerakan kakinya. "Allena, Ayah menghubungimu, tapi-"
"Berhenti memanggil dirimu sendiri dengan sebutan ayah! Aku bukan anakmu lagi." Allena menyela cepat, membuang wajahnya ke arah lain, enggan berkontak mata dengan pria itu.
"Aku akan menjelaskan yang sebenar-"
"Mr. Travis." Allena kembali memotong dengan kalimat menegaskan.
Tidak ada yang bisa dilakukan Travis selain menghela napas serta mengusap wajahnya lelah. Sudah keberkian kalinya ia berusaha menciptakan komunikasi yang baik dengan putrinya, tetapi selalu gagal. Ditambah sifat Allena yang keras kepala, membuatnya sulit menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi dalam keluarganya.
Allena membenci ayahnya.
Bukan hanya mengkhianati ibunya, pria itu juga yang mengubah ibunya menjadi orang gila pekerjaan. Allena tahu ibunya melakukan itu semata-mata untuk pelampiasan sakit hati. Oleh karena itu juga, posisi dirinya sebagai seorang anak merasa tersiksa.
Paras yang cantik menjadikan Melly target para pria. Hal itulah yang sekiranya Allena simpulkan sebagai alasan mengapa ayahnya pergi. Travis hanya memanfaatkan fisik seorang wanita, setelah bosan, mencari yang baru. Hal itu pula yang membuat Allena tidak mau berurusan dengan makhluk berjenis pria, karena berpikir mereka semua sama. Berengsek.
"Allena, kumohon... beri ayahmu ini waktu untuk menjelaskan semuanya..."
Allena memandang raut memelas ayahnya. Di sana terlukis kesungguhan.
"Jangan padaku, mintalah pada Ibu." Setelah berkata seperti itu, Allena melenggang pergi sembari mendoring troli belanjaannya menuju kasir, melewati Travis yang bergeming lesu.
•••
"Umm..." Allena mengunyah dengan mata terpejam, menikmati dengan sepenuh hati.
Perlu waktu lima menit untuknya menghabiskan isi mangkuk itu sampai ke kuah-kuahnya. Saking laparnya, Allena lupa membawa minuman. Ingin ke dapur, tapi malas. Pada akhirnya ia senderan saja di kepala kursi sambil memejamkan matanya yang sudah mulai lelah.
Angin sore menerpa rambutnya yang terurai bebas. Allena memiringkan sedikit wajahnya, mengatur zona nyaman. Cukup lama dirinya diam dalam posisi itu. Sampai kemudian terasa sesuatu yang lembut nan dingin menyapu bibirnya. Ah, apa itu? Ia ingin sekali lagi. Rasanya, nikmat?
Tanpa disadari, bibirnya mengulas senyuman tipis. Entah mengapa. Yang pasti hatinya serasa berbunga-bunga.
Sayang, semuanya lenyap begitu saja manakala ponselnya berteriak nyaring. Mata Allena sontak terbuka dan tubuhnya yang semula tertunduk ke depan mulai ia tegakkan. Astaga, dirinya ketiduran di atas meja.
Allena menarik dan membuang napasnya perlahan. Ia kecewa. Ternyata hanya mimpi.
Allena mengangkat panggilan ponsel sembari mendongak, melihat langit yang diselimuti awan kegelapan.
"Halo, Allena?" Terdengar suara Hetty, memulai pembicaraan.
"Iya?" sahut Allena. Tidak ingin masuk angin, ia pun melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkon.
"Apa kau sudah pulang? Tadi siang aku dan Geby ke rumahmu, tapi sepi."
__ADS_1
Allena duduk di pinggiran tempat tidur dengan bertumpang kaki.
"Iya. Aku pulang sejak pagi. Setelah itu aku kembali pergi bersama Ibu, ada sedikit urusan." Allena menggigit kecil bibir bawahnya, berharap semoga Hetty tidak menanyakan apa urusan itu. Malu jika harus diungkapkan.
Sambil menelepon, Allena menyapukan jemarinya ke permukaan bibir. Basah. Entah perasaannya saja atau memang benar, di sana seperti terdapat jejak saliva. Padahal sedari tadi ia tidak menjilatnya.
Allena menyisir rambutnya dengan jemari ke belakang. Ia bingung. Apa yang terjadi di balkon itu nyata?
"ALLENA!!!" teriakan Hetty di seberang sana berhasil menarik Allena dari alam bawah sadarnya.
"Hetty... kau ini, sudah mulai ketularan Geby, ya? Berteriak seenaknya." Allena mendesis, sebal.
"Habis, kau tidak menjawab pertanyaanku. Dipanggil berulang kali juga, diam saja."
Allena dapat mendengar dengusan keras Hetty dari seberang sana. Ia sangat hafal bagaimana ekspresi temannya itu jika sedang dilanda kekesalan. Jika tidak sedang menekuk wajahnya, pasti mengembungkan pipinya menyerupai balon. Yeah, antara dua itu.
"Maaf, tadi aku sedang fokus mencari ikat rambut. Jadi, tidak sempat menghiraukan telepon," dusta Allena disusul cengengesan hambarnya.
Hening beberapa detik, lalu muncul lagi suara keseriusan dari speaker ponselnya. "Oh ya? Sejak kapan kau suka mengikat rambut?"
Allena menepuk pelan keningnya, merutuki kebodohannya. Teman pirangnya itu sudah mulai curiga.
"Ah, itu karena ... saat ini sedang gerah. Yeah, gerah! Aku tidak kuat, takut rambutku bau keringat. Jadi, terpaksa harus diikat." Allena berusaha mengatur suaranya setenang mungkin, agar kalimatnya terlihat sungguhan. "Jika mau, kau bisa mengulangi pertanyaanmu yang tidak sempat kudengar," lanjut Allena, mengalihkan topik pembicaraan.
"Ah, sudahlah! Kita lanjutkan obrolan di kampus saja. Aku tidak bisa berlama-lama, soalnya mau pergi ke luar dengan sepupuku. Maaf mengganggu, aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
Allena menghela napas lega. "Ya sudah, selamat bersenang-senang."
Hetty terkekeh. "Pasti. Bye."
"Bye," balas Allena.
Setelah sambungan telepon terputus, teriakan pun langsung Allena meledakkan. Entah mengapa, hatinya tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang tidak beres. Tapi, ah sudahlah! Pikirannya sedang kacau. Ia tidak mau menyiksa diri dengan memikirkan semua itu.
Tek. Tek. Tek.
Baru ingin memejamkan mata, alih-alih suara itu menghentikannya. Allena kembali bangkit dan bergegas mendekati pintu kaca balkon, membukanya dengan pandangan waspada. Sedikit aneh juga. Tidak mungkin hembusan angin membuat pintu kaca sekokoh ini bisa menghasilkan suara yang cukup keras. Dan suara tadi, rasanya lebih mirip ke ketukan.
Sebelum pemikiran buruk merasuki jiwa, Allena cepat-cepat memasuki kamarnya kembali. Tetapi sebelum itu terjadi, pergerakannya tertahan begitu matanya tanpa sengaja menangkap sebuah tulisan di pintu kaca. Ia memincing saat membaca kalimat yang ditulis dengan embun itu.
Have a nice play, a special girl...
•••
Hayooh siapa tuh yg ngetuk-ngetuk pintu balkon kamarnya?
TBC...
__ADS_1