
• Vixen •
Sudah seminggu Allena tinggal berdua dengan Albern. Dan semenjak kejadian pengungkapan perasaan itu, perlakuan Albern kepadanya semakin hari semakin melembut saja. Albern juga masih suka merayunya, namun tidak sesering dulu. Entah mengapa, mungkin keadaan sekarang sudah berbeda, mereka juga mulai menunjukkan kecanggungannya satu sama lain.
Selama hidup di kastil, mereka berbagi tugas. Albern bertugas menyiapkan bahan makanan, sementara Allena mendapat giliran memasaknya. Serasa dunia milik berdua, mereka larut dalam kebahagiaan. Meski pada kenyataannya Allena belum mengetahui pasti seperti apa gambaran perasaan Albern. Mengingat itu lagi-lagi perasaannya menjadi down.
Sore ini Albern hendak keluar untuk mencari bahan makanan dan sebelum dia benar-benar pergi, seruan dari Allena berhasil mencegahnya.
Albern menoleh, kemudian terkekeh begitu mendapati gadisnya yang baru saja berhenti dengan napas terengah-engah. Wajar saja, lari marathon dari lantai dua yang perkiraan tingginya 50 meter ke bawah. Ditambah tangganya berbelok-belok? Hebatnya Allena terhindar dari hambatan, seperti tersandung langkah sendiri.
"Aku ... m ... mau ..."
"Tenangkan dulu dirimu. Ayo, tarik napas... buang... tarik napas... buang..."
Allena mengikuti interupsi tangan Albern yang naik - turun sehingga napasnya mulai normal kembali.
"Sudah lebih baik?"
Allena mengangguk, lantas membuka mulut untuk bersuara lagi. "Aku mau ikut."
"Jangan, di luar berbahaya! Jika ada yang menyerangmu, bagaimana?"
"Ada kau yang akan melindungiku," sahut Allena dengan nada dan wajah datar.
Albern mendesah pelan disusul senyuman geli. "Mulai pandai berkata-kata manis, ya? Tapi sayangnya... raut wajahmu belum sesuai."
"Maaf, manis dari mananya, ya?" tanya Allena dengan sebelah alis terangkat.
Albern yang melihat itu tak kuasa lagi menahan kegemasannya untuk mengacak rambut Allena. Dan Allena yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung melayangkan pelototan menusuknya, mendesis jengkel.
"Jangan terlalu sering mendesis, takut kau jadi ular nantinya."
"Sudahlah, tak usah basa-basi. Intinya kau mengizinkanku atau tidak?" ketus Allena. Tangannya berkacak pinggang, jengah menunggu.
"Galak." Albern bergumam dengan sudut bibir dimiringkan. "Baiklah. Tapi, selama di luar sana kau harus selalu berpegangan padaku."
"Hey, kau pikir aku ini anak kecil yang akan mudah tersesat?"
Albern mengangkat bahu. "Mungkin."
"Sudahlah, ayo cepat berangkat!" Allena bergegas keluar mendahului Albern. Seperkian detik, langkahnya terhenti kemudian membalikkan badan menghadap Albern. "Oh ya, hari ini aku tidak mau makan daging."
"Lalu?"
"Sop brokoli."
Albern tergelak. "Apa kau bercanda? Ini hutan, sayang... bukan pasar, sulit untuk menemukan sayuran. Kita bisa makan daging pun hasil buruan."
"Justru karena di hutanlah kita bisa menemukan banyak jenis tumbuhan. Jangan berkata susah kalau belum pernah mencoba mencarinya!"
"Kau ini... seperti Ibu hamil saja, banyak permintaannya." Kini giliran Albern yang mendesis miris.
"Biarkan saja yang penting aku senang," cetus Allena sambil memeletkan lidahnya, mengejek. Suasana canggung pun mulai mencair. Dan Albern bersyukur atas sikap kekanak-kanakan Allena.
•••
__ADS_1
"Al, bisakah kau melepaskan tanganku? Ini pegal," keluh Allena, sebab sedari tadi tangan kekar Albern melekat terus di pergelangan tangannya. Seperti lem saja. Lengan Allena sampai bercucuran keringat, saking eratnya genggaman pria itu.
"Sudah kubilang sebelumnya. Jika kau mau ikut keluar, syaratnya harus selalu berpegangan padaku."
"Tapi-"
"Jika tidak mau menurut, aku pulangkan kau ke kastil lagi," tuntut Albern.
Allena mencubit pinggang Albern dengan kencang. Entah serius atau tidak, pria itu mengaduh kesakitan sampai membuat gandengan tangan itu terputus.
Allena tahu pasti arti dari sikap over protective Albern itu. Apalagi jika bukan hanya karena sesuatu yang disebut miliknya tidak ingin dicuri orang lain? Bukan berarti cinta, melainkan lebih ke bagian obsesi atau hasrat egonya makhluk. Sudah terlanjur kesal, Allena menjadi tidak perduli lagi dengan keadaan Albern.
"Tunggu!" teriak Albern saat Allena melenggang begitu saja.
•••
Sudah hampir dua jam mereka mencari tumbuhan sayur, namun tak kunjung ditemukan juga. Allena pun memutuskan untuk mengistirahatkan diri di bawah pohon rindang. Dia mengipasi wajahnya yang lelah.
"Sudah kubilang, bukan?" ujar Albern dengan punggung menyender di batang pohon sama.
"Ya, tapi jika terus menerus makan daging, bisa-bisa aku menjadi makhluk karnivora."
"Itu tidak mungkinlah. Tapi, ya sudah kalau kau tetap tidak mau, bagaimana dengan makan buah saja?"
Allena menoleh lalu mengerjapkan matanya dengan gerakan lambat. Gemuruh di perut yang semakin lama semakin terdengar jelas ditambah dengan kondisi tubuh yang mulai melemas membuatnya menelan ludah dan akhirnya mengangguk setuju. "Baiklah."
Albern bangkit dan mengulurkan tangannya, meminta diraih.
"Sepertinya kakiku tidak kuat dipakai jalan lagi. Duh, kakiku juga kesemutan!"
"Eh, apa yang kau lakukan?"
Albern tidak mengubris perkataan itu dan lebih memfokuskan diri untuk memijati kaki Allena. Saat tangan Albern mulai bergerak memijat kulit Allena yang mulus itu, saat itulah rasa linu langsung menjalar membuat gadis itu mengerang tidak nyaman. Tetapi semakin lama Allena merasakan kenikmatannya.
"Selesai. Ayo kita pergi!"
"Eh, tidak mau!" Allena refleks menggeleng. Ya bagaimana tidak? Baru juga dirinya menikmati pijatan itu, Albern sudah menghentikan pergerakannya saja. "Masih pegal. Pijat aku lebih lama lagi, atau... kau sajalah yang carikan sendiri buah itu, aku akan menunggu di sini."
Albern menatap tajam sedangkan Allena menghela napas lelah. "Tenang saja, aku tidak akan kemana-mana."
"Lihat saja, kalau kau ketahuan kabur, aku tidak segan-segan menghukummu!"
Pengancam!
"Jangan lupakan kalau aku bisa membaca suara hati seseorang."
"Iya, kekasih ... ku"
Albern tersenyum. Allena terdiam, tidak sadar dengan apa yang dilayangkan lidahnya. Albern mencondongkan wajahnya baru mau mengecup puncak kepala Allena, namun Allena segera menghindar dengan menggeser tubuhnya ke arah berlawanan. "Cepatlah pergi, aku sudah sangat kelaparan!"
Tidak perlu menunggu waktu lama keadaan menjadi sunyi. Tidak lagi terdengar suara Albern. Begitu menoleh ke samping, benar saja sosok pria itu sudah tiada. Jelas, sudah pergi.
Sudah hampir 15 menit Albern tak kunjung datang juga. Allena mulai gelisah. Pasalnya sekarang dia ditinggal seorang diri, di hutan pula. Pemikiran, bagaimana jika sewaktu-waktu terjadi penyerangan lagi bekelebat di kepalanya. Bahkan sekarang Allena merasa seperti sedang diawasi seseorang.
Sejak tadi, dia tidak berhenti menengok kanan - kiri demi memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Hingga akhirnya pandangan itu tak sengaja menangkap setengah kepala seorang wanita yang muncul di balik pohon di kejauhan sana. Allena terperanjat kaget, jantungnya dag dig dug tak menentu. Apalagi saat sosok wanita itu keluar dari balik pohon dan mulai berjalan mendekatinya, kadar kepanikan Allena otomatis bertambah.
__ADS_1
Belum sempat dia bangkit, hendak melarikan diri, wanita tak dikenal itu sudah mencengkram lengannya dengan kuat, membuat ringisan lolos dari bibirnya.
"Siapa kau?"
"Itu tidak penting."
"Aku yakin kau orang tidak baik."
"Terserah kau mau menganggapku seperti apa, yang terpenting kau menjadi milikku."
YA TUHAN!!!
Jujur saja, Allena muak mendengar kata milik itu yang terus diulang-ulang, oleh siapapun.
Beberapa detik kemudian terdengar suara mengancam dari seberang hutan terbuka.
"Allena, menjauh darinya!" Albern terlihat tengah terbang melintasi hutan dengan ekspresi murka di wajah. Begitu jarak sudah dekat, dia langsung menarik lengan Arena, bermaksud menjauhkannya dari wanita berekor itu.
"Hey, berikan dia padaku!" pinta wanita itu, tidak terima sesuatu yang disebut miliknya direbut begitu saja, seraya mengangkat cakarnya sebagai senjata.
Albern menarik Allena ke belakang tubuhnya semata-mata untuk dijadikan sebagai tempat berlindung sementara, lantas melangkah maju dan menggeram sambil memperlihatkan gigi taringnya sebagai bentuk ancaman.
Raut wajah wanita itu berubah seketika, tampak syok dan mulai bergetar ketakutan. Seiring dengan pergerakannya yang perlahan mundur dan berlari menjauh, wujud wanita itu berubah menjadi menyerupai seekor rubah berwarna jingga.
Albern hendak mengejar, namun Allena segera mencegahnya dengan memeluk lengan pria itu. "Biarkan saja. Lagi pula dia tidak menyakitiku."
"Yeah, karena aku datang tepat waktu. Jika tidak, entah apa yang terjadi, bisa saja kau menjadi budak atau santapannya."
"Mengapa dia lari ketakutan saat kau menampakkan jati dirimu yang sebenarnya?"
"Karena sejak dulu aku selalu meminum darah kaumnya. Rubah betina."
"Darah binatang?" tanya Allena yang langsung dibalas anggukan oleh Albern. "Kupikir kau hanya meminum darah manusia."
"Tidak sembarangan. Jika manusia itu jahat, barulah aku menghabisinya."
Allena menunduk dengan berohria. Perlahan dahinya mengerut, mencoba berpikir keras. "Jika kau tahu sesuatu tentang diriku, tolong beritahu aku."
Albern meraih pinggang Allena dan mengajaknya duduk bersama di bawah pohon seperti semula. Dia merogoh sesuatu dari dalam jubahnya yang ternyata bermacam buah berukuran sedang. "Makanlah, kau bilang tadi sudah sangat kelaparan."
"Jangan mengalihkan pembicaraanku, Al."
Albern berdeham. "Yang kutahu kau adalah gadis kota cantik, sederhana, tinggal bersama Ibu bernama Melly Johnson, berkuliah di Univer-"
"Hentikan!" jerit Allena dengan dada naik turun. "Bukan itu yang ingin kudengar, tapi sesuatu dalam diriku yang tidak kuketahui."
Albern menggeleng pelan dengan mata terpusat lekat pada manik gadis di depannya. Gerakan itu masih terasa ambigu. Entah pria itu tidak tahu atau tidak mau memberi tahu.
Allena memijit pelipisnya, mulai merasa pening, efek belum makan ditambah teka-teki kejadian yang menjadi beban pikiran.
"Ayolah, tidak usah dipikirkan..."
"Ini menyangkut ketenangan hidup serta nyawaku! Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya?"
Hening menyelimuti mereka. Namun Albern segera memecahkannya dengan kalimat bujukan. Sudah keberkian kali Allena menolak makan, namun sakit di kepala yang mulai merajalela akhirnya membuat dia menyerah. Meski terasa mual, dia tetap memaksa mengunyah, semata-mata demi kebaikan tubuhnya juga.
__ADS_1
•••