
• Have The Whole •
Sore hari di meja makan kastil, dua insan yang berbeda itu menikmati hidangan dengan khidmat. Allena sesekali melirik ke arah pria di kursi seberang dengan ekor matanya. Albern diam seribu bahasa dan dirinya tidak suka akan hal itu.
"Apa kau tidak ingin menanyakan bagaimana aku bisa menyembuhkanmu?" ucap Allena kesal, karena merasa dianggap tak ada oleh Albern.
"Tidak perlu, aku sudah melihatnya dengan jelas."
"Yeah ... " Allena menunduk sembari memainkan jari-jarinya di bawah meja. Seberusaha mungkin dia mencari topik pembicaraan. "Sebenarnya aku tidak kepikiran sampai sana. Tapi, untungnya ada seseorang yang mengingatkanku."
Tentunya kalimat itu berhasil mengangkat kepala Albern yang sedari tadi terpusat pada piring ke arah gadis di depannya. Dia mulai memincingkan mata, menyelidik. "Seseorang siapa?"
Dalam hati Allena bersorak gembira, setidaknya keadaan tidak terlalu canggung jika dia dan Albern memulai obrolan, walaupun topiknya tidak dia minati.
"Entahlah, yang pasti dia sosok wanita cantik."
Diam beberapa detik, Albern pun bangkit dari duduknya dan melenggang meninggalkan Arena yang tercengung di tempat. Ia benar-benar kecewa dengan sikap Albern. Bahkan pria itu juga tidak mengomentari sedikit pun masakan yang telah susah payah dibuatnya.
•••
Raja kegelapan mulai merangkak menyelimuti langit. Sekarang Allena tengah berada di balkon kamar kastilnya, memandangi rembulan yang menemani kesendiriannya. Ya, dia sendiri. Beberapa saat lalu Albern pergi keluar entah kemana, tapi dia tidak terlalu memikirkan itu karena mood yang sedang buruk.
"Bulan, mengapa ya... aku tidak bisa membaca pikirannya, sedangkan dia bisa kepadaku?" Suara Allena menggema di keheningan malam. Jika ada orang, mungkin dia akan dianggap gila karena mengajak bulan berbicara. Dia teringat dengan lagu Bruno Mars yang berjudul Talking To The Moon. Liriknya sama seperti keadaannya saat ini. Tapi, karena dia tidak memiliki teman akhirnya benda mati itulah yang dijadikan tempat curahan hatinya. Dengan begitu, setidaknya perasaan yang mengganjal di hatinya dapat berkurang.
"Dulu saja dia mengejarku, tapi sekarang setelah dia merampas hatiku ... malah menghindar terus. Sebenarnya apa yang dia inginkan?" lirih Allena sembari meremas ujung gaunnya, menahan sesak yang mulai merayapi dada. "Hiks ..."
__ADS_1
"Kau belum tidur?"
Suara Albern dari arah belakang sontak membuat Allena cepat-cepat mengusapkan tangannya ke wajah, menyeka air mata yang sedari tadi dia biarkan mengalir bebas.
Berdeham, berusaha menormalkan suaranya kembali, Allena pun menyahut namun dengan posisi tetap. "Seperti kelihatannya." Semilir angin menerpa wajahnya, juga menerbangkan sedikit rambut cokelat itu.
Albern bergegas menghampiri Allena dan mengusap punggungnya dengan tenang. "Ayo masuk! Angin malam tidak baik untukmu, nanti kau bisa sakit."
Allena menggeleng.
"Jangan keras kepala, kumohon..."
Allena bangkit dan beringsut menjauh beberapa langkah dari Albern. "Jika kau hanya main-main denganku, tolong bebaskan aku sekarang juga. Mengertilah, aku tidak bisa hidup seperti ini... aku juga ingin bahagia, Al."
Albern tak berkutik.
"Allena-"
"Aku tidak mau menunggu lagi. Tolonglah, aku menginginkan kepastian sekarang juga."
Albern yang tetap bergeming membuat Allena berteriak frustasi. "Albern, bersuaralah!"
"Selama ini aku berjuang, tapi kau masih meragukan cintaku? Oh ayolah, Allena... aku bukan kau yang dengan mudahnya mengungkapkan perasaan melalui kata-kata dan langsung menginginkan balasan saja. Apa kau berjuang juga? Bilang padaku, apa aku pernah melihatmu berjuang demi cinta kita?" Albern menggeleng pelan dengan raut datar. "Maaf bila aku mengatakan kau egois, tapi begitulah kenyataannya."
Allena menggigit bibir. Albern benar, dirinya hanya memikirkan kesenangan hati sendiri. Tidak mau merasakan susahnya memperjuangkan sesuatu. Dia memang lemah dalam hal percintaan, bahkan hidup pun sama.
__ADS_1
"Jangan katakan kau cinta padaku jika kau saja masih menghalangiku untuk memilikmu seutuhnya. Cinta itu perlu kepercayaan. Tapi dengan kau memberi batasan itu, artinya kau tidak percaya padaku."
Cukup sudah. Bendungan yang sedari tadi Allena tahan kuat-kuat telah hancur. Tetesan air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Bahkan bibirnya pun mulai meneteskan darah karena gigitan yang begitu kuat. Perkataan Albern sukses menohok hatinya.
Inilah alasan sejak dulu dia menolak jatuh cinta. Berkonsekuensi harus siap merasakan patah hati.
"Apa itu suatu keharusan untuk menggambarkan rasa cinta?" tanya Allena begitu melihat Albern tidak berkata-kata lagi.
"Yeah, setidaknya ada sedikit mengorbanan untuk bukti perjuangan cintamu."
Allena menunduk lemah, kini matanya terpejam erat. "Baiklah. Jika itu bisa dijadikan bukti kasih ... kau ... boleh mengambilnya." Disaat pengucapan kata-kata itu napasnya tercekat.
Albern menatap gadis di depannya dengan tatapan sulit didefinisikan. "Jangan menyetujuinya dengan berat hati. Jika memang kau tidak mau, aku tidak akan memaksa."
Allena membuka mata dan mengayunkan kakinya untuk mempersempit jarak dengan Albern. "Tidak. Ini juga keinginanku sendiri untuk berjuang." Setelah itu dia merangkulkan tangan ke leher Albern dan memulai ciuman lebih dulu.
Meski terkejut, Albern tetap menerimanya dengan senang hati. Sebenarnya dia tidak ingin melontarkan kata-kata itu, tapi perkataan Allena berhasil memancingnya dan menciptakan panas membara di hati untuk membantah perkiraan salah dari gadis itu. Dia juga tidak ingin memaksa Allena, tetapi setelah gadis itu menyerang lebih dulu dan sudah terlanjur bergairah juga, dia tidak bisa melakukan apapun selain mengikutinya. Tidak ingin kalah, dia membalas ciuman itu dalam-dalam.
"Oh..." Albern mengerang, bibirnya tidak berhenti menyesap bibir Allena yang dipenuhi oleh sisa-sisa darah. Manis.
Dengan enggan melepaskan pagutan bibir mereka, Albern membopong Allena ke dalam kamar dan membaringkannya di ranjang sana. Albern memulai kecupan-kecupan ringan di leher Allena sambil sesekali mengigitnya gemas.
Allena mendesah, perasaannya tidak menentu. Saat Albern menyingkap gaunnya, dia langsung tegang. Cemas, karena ini adalah kali pertamanya dia akan melakukan hubungan intim.
"Tenang, maka kau akan merasakan surganya," bisik Albern dengan sensual, tahu akan apa yang gadis di bawahnya takutkan.
__ADS_1
Allena mengangguk pelan. Dia mengeratkan pelukannya pada Albern sambil sesekali menjambak rambut pria itu, tidak tahan. Permainan terus berlanjut sampai akhir puncak pelepasan. Malam itu menjadi malam yang panjang bagi mereka, terang rembulan pula menjadi saksi bisu hubungan percintaannya.
•••