A Special Girl

A Special Girl
Chapter 32


__ADS_3

• Mark •


Allena tengah duduk berselonjor kaki di atas bukit. Sementara Uni memeluk tekukan lututnya sambil memerhatikan pandangan kosong Allena untuk menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang dipikirkan gadis itu.


"Jika ada masalah, ceritalah... siapa tahu aku bisa memberi solusi."


"Tidak ada." Allena menyahut dengan gumaman. "Hanya saja, aku ... teringat seseorang."


"Seseorang?"


"Yang telah sukses merajai hatiku," lirih Allena, suaranya terdengar sedikit serak.


Uni menduga seseorang itu mengecewakan Allena sehingga menimbulkan kesedihan mendalam. Dia menepuk beberapa kali pundak Allena, memberinya semangat. Seperkian detik, suara langkah seperti menginjak salju tertangkap oleh telinganya. Sinyal waspada dengan sontak aktif. "Ada yang mendekat," bisiknya.


"Apa?" Allena mengedarkan mata ke segala arah. Tidak ada apa-apa.


"Tidak bisa dilihat dengan mata telanjang," ucap Uni, tahu apa yang dipikirkan gadis itu.


"Aku juga tidak mendengar suara apapun."


"Ini kemampuanku, bisa mendengar suara pelan bahkan dari kejauhan sekalipun." Uni kembali menjelaskan.


"Ayo kita pergi." Allena segera bangkit dan menarik lengan Uni untuk berdiri juga.


Baru mau melangkah, seseorang berteriak. "Tunggu!"


Keduanya menoleh ke sumber suara. Mata Allena membulat sempurna. Uni melihat tatapan dan gerakan tubuh itu, sirat akan kegelisahan.


"Jangan pergi, Allena!" Dengan langkah tegas Albern bergegas menghampiri kedua gadis di dekat bukit itu.


"Tidak. Berhenti di sana!" Allena berteriak panik.


Tidak disangka Albern menurutinya. Jarak perkiraan mereka lima meter. Allena memandangnya bingung, sekaligus sedih.


"Ternyata kau sudah berubah."


Allena menggeleng keras. "Tidak. Sedari dulu aku memang sudah seperti ini," bantahnya.


Albern memangut, kemudian mengeluarkan sebuah buku kumuh dari jubahnya. "Ini sudah tidak berguna." Tanpa menghiraukan ekspresi terkejut Allena, dia meremas benda itu sampai hancur tidak bersisa.


"Jadi ... Arrgghh... Mengapa Tuhan menciptakan kau selicik Iblis?!"


"Ayo, kembalilah padaku. Tepati kesepakatan kita untuk hidup bersama selamanya."


Dada Allena bergejolak. Seharusnya dia tidak berharap lebih dan memikirkan Albern lagi. Jelas sudah, pria itu tidak benar-benar mencintainya, selain ingin memuaskan hawa nafsu.


Sekuat tenaga Allena membendung air matanya.


Kathrine lagi-lagi muncul di belakang Albern. Tangan Allena mengepal kuat, muak melihat seringaian wanita itu.


"Dia ... saudariku."


Allena tidak bisa tidak syok lagi mendengar pernyataan itu. Albern mengungkapkannya dengan ekspresi yang sulit didefinisikan.


"Jangan bilang, seseorang yang sedari tadi kau pikirkan adalah vampir itu?" bisik Uni dengan penuh penekanan nada di tiap katanya.


Allena menunduk dalam diam.


Uni menggeleng pelan. Jawabannya adalah benar, dirinya sempat tidak percaya itu. Sebelum disadari oleh kedua vampir di sana, cepat-cepat dirinya menarik lengan Allena untuk melarikan diri.


"HEY, JANGAN KABUR!" Dengan kemampuan melesatnya, Kathrine berusaha melampaui pergerakan Allena.


Sayangnya, berhasil. Terhadang, Allena dan Uni terlonjak mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Pergilah, biar aku yang hadapi." Uni menyuruhnya berlari sejauh mungkin dan bersembunyi.


Allena menggeleng menolak. "Aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja."


"Al, keselamatanmu yang paling utama."


"Sesama teman harus saling membantu. Makhluk sekuat apapun, kalau kita bersatu melawannya pasti akan kalah."


"Tapi ..."


"Sudah selesai berdiskusinya?" potong Kathrine, tersenyum meremehkan. "Ck, kelamaan!"


Tanpa menunggu waktu lagi, Kathrine langsung melayangkan serangan. Sebelum terhadap Allena, Uni lebih dulu maju untuk menghalau.


Pergulatan pun berlangsung. Kathrine membuka telapak tangannya, melemparkan serangan sihir. Allena menahan napas, namun di kemudian mengembuskannya lega. Tidak terlalu khawatir lagi, karena dia sudah melihat bagaimana kepandaian temannya itu dalam menghindar.


Uni mendengkus, hampir terperosok tapi cepat-cepat menyiapkan kekuatannya lagi. Di saat Kathrine tengah membelakanginya, dirinya langsung menonjok punggung wanita vampir itu sekeras mungkin.


"Awh!"


Kathrine menggeliat, merasakan remuk di tulang belakangnya. Pada waktu itu pula Uni mendorong dan meloncat duduk di atas tubuh Kathrine yang tengah telungkup, kemudian meraih kedua tangan lawan ke belakang untuk mengunci.


"Sialan kau, makhluk buruk rupa!"


"Terima kasih kembali, makhluk berhati busuk."


"Albern! Di mana kau? Tolong aku!" teriak Kathrine.


"Jadi begini kau sebenarnya? Merengek minta bantuan pada kakakmu? Ouch, manja sekali..."


Gigi Kathrine bergemelatuk. Makhluk itu benar-benar merendahkannya. Dia tidak terima. Dalam sekali hentakan tubuh Unicorn itu terguling, Kathrine sukses merebut posisinya. Dia menjambak rambut putih itu.


"Aaww!"


"Jangan mendekat! Tetap di sana, Al ..."


Allena menggigit bibir bawahnya. Tidak tahu mengapa dia menjadi penakut seperti ini. Padahal ratusan tahun yang lalu, masih di dunia yang sama, dirinya berani dan pandai bertarung.


"HAHAHAH. AYOLAH, ALLENA... MAJU DAN TOLONGLAH TEMAN BERTANDUKMU INI!" goda Kathrine, lantas kembali menatap musuhnya di bawah sana dengan sorot penuh kekejian. "Makanya jangan coba-coba melawanku!"


"Ssshh ... Mengapa tidak?" Senyuman miring terbingkai di bibir Uni yang masih mengeluarkan ringisan. Seperkian detik dia melemparkan sekepalan salju ke arah pandangan Kathrine, lalu mencekal lengannya.


Kathrine mengerjap-erjap serta masih asyik mengumpat.


Sebelum Kathrine benar-benar pulih, Uni segera menusukkan tanduknya yang mulai memunculkan warna-warni bersinar ke tangan wanita itu.


"Aarrghh!" Kathrine menjauh sembari memegangi telapak tangannya yang terkena sengatan panas.


Allena berlari dan menggiring Uni untuk bergegas pulang kembali ke gua tempat sementara mereka tinggal.


"Bedebah!"


•••


"Kalian dari mana saja?" Jose menyongsong, suaranya terdengar cemas.


"Main sebentar di bukit." Uni menyahut lebih dulu.


"Tidak kah kalian tahu kalau di luar sana berbahaya?"


"Tapi kita mempunyai kekuatan. Jika kita terus-menerus bersembunyi, percuma kita diberi anugerah oleh Tuhan kalau tidak dimanfaatkan." Giliran Allena yang membalas perkataan pamannya dengan nada berani.


"Tidak semudah itu, Al. Bergulat berkonsekuensi besar, antara kalah dan menang. Tidak ada yang tahu Tuhan akan memberi nasib apa pada kita, pada dirimu khususnya yang menjadi target utama sebagian besar makhluk immortal di luar sana."

__ADS_1


Allena kalah telak. Perkataan Jose selalu ada benarnya. Dia bertanya-tanya. Padahal umur sudah hampir sewindu, tapi mengapa pikiran dirinya masih pendek?


"Sebenarnya, kita tadi diserang vampir."


Allena melotot kaget. Dengan mudahnya Uni bertutur. Jika saja dirinya mengetahui sifat makhluk itu yang begitu, mungkin dari awal dia akan merunding dengannya untuk merahasikan kejadian penyerangan tadi.


"Apa? Sudah kubilang kan, situasi sedang tidak aman. Mengapa kalian maksa keluar? Tanpa sepengetahuanku, lagi."


"Maaf." Allena menunduk, menyenggol sedikit bahu Uni supaya ikut merasa bersalah.


"Oke. Tapi lain kali, kalau mau berpergian sebentar ataupun lama, harus kabari aku dulu."


"Siap." Uni mengangkat kepalan tangannya.


"Ya sudah, ayo masuk. Aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian."


•••


Mereka makan di depan sebuah batu besar. Daun ajaib menyinari kegelapan ruangan, ditambah bara api yang Jose buat untuk menghangatkan tubuh mereka.


Ikan bakar dicubit dan Allena mengunyahnya dalam keheningan. Sebelum itu, rambutnya dia sampirkan dulu di bahu kanan agar tidak mengganggu kenyamanan makannya.


Secara tidak sengaja melihat sesuatu, Uni menunjuk polos leher gadis di sebelahnya. "Ini apa, Al?"


"Hm?" Allena menoleh.


Jose juga. Penasaran, dia bangkit dan berpindah duduk di sebelah Allena. Tangannya bergerak meraba dua titik kehitaman itu. "Jelaskan padaku bagaimana tanda ini bisa muncul?"


Allena merasa lidahnya kelu. Dia tidak suka tatapan mengintimidasi.


"Ini gigitan vampir, kan?"


"Aku ... tidak tahu."


"Jawab yang jujur, Allena..."


"Ya! ... Se ... sebenarnya ... aku juga ... sudah tidur dengan Albern," tutur Allena dengan mata terpejam erat, takut sekaligus malu mengungkapkannya. Tetapi karena tidak tahan didesak, hal itu terjadi juga.


"Albern Carroll?"


"Yeah."


"Hancur!" Jose berdiri dan melenggang dengan wajah emosi campur kecewa. Tubuhnya membelakangi kedua gadis itu. "Maritena pasti kecewa di atas sana. Aku sudah gagal menjaga putrinya." Dia meremas rambut, frustasi.


"Paman... mengapa berbicara begitu?"


"Albern sudah berhasil merebut separuh kekuatanmu, Allena."


Allena mengernyit.


"Oh Tuhan... mengapa kau tidak mengerti juga? Pria vampir itu mengambilnya lewat keperawanan juga darahmu!"


Pupus sudah hati Allena. Buliran bening dari pelupuk mata merambas keluar, mengantarkan sakit yang rasanya di luar perkiraan selama ini.


Di sebelahnya, Uni dengan sigap mengusap-usap punggung Allena. Tetapi bukan tenang, tangisan Allena justru semakin pecah.


"Aku benci diriku ... benci ... benci!" Allena memukul diri berkali-kali.


"Cukup, Al ... Cukup. Percuma kau menyakiti diri sendiri. Ingat, Tuhan akan marah!" Uni menangkap kedua tangan Allena yang memberontak, masih mencoba menenangkannya.


"Aku tidak perduli!" Allena berseru, menentang.


"SADAR, ALLENA. DENGAN KATA-KATA ITU KAU BARU SAJA MEMBUAT DOSA!" bentak Jose sambil mengangkat telunjuk, memberi peringatan. Allena sampai bergeming dibuatnya. Sedetik kemudian Jose menormalkan napasnya kembali, meredam emosi dan mulai berbicara lembut. "Kau adalah keturunan malaikat, sudah seharusnya berperilaku baik. Tinggalkan sifat keras dunia manusiamu. Jadilah cerminan dirimu yang sesungguhnya."

__ADS_1


•••


__ADS_2