A Special Girl

A Special Girl
Chapter 22


__ADS_3

• Doesn't Come Off •


Allena bangkit dari ranjang dan bergegas keluar kamar. Selagi Albern belum kembali dari kegiatan berburu, dia putuskan untuk jalan-jalan sebentar di sekitar bangunan besar itu.


Sesampainya di teras depan kastil, Allena terkesiap begitu melihat pemandangan luar yang ditumbuhi banyak pepohonan lebat. Dia berlari sedikit menjauh dari area kuil. Dan benar saja, kastil tersebut berada di tengah-tengah hutan.


Allena menelan ludahnya susah payah. Sesungguhnya dia belum bisa memberikan kepercayaan penuh pada Albern, namun karena lagi-lagi situasi yang memaksanya untuk menerima tawaran pencobaan kehidupan baru itu. Dia juga kurang yakin jika pernikahan itu benar-benar sah di mata Tuhan.


Berada di tempat ini Allena merasa terkekang seolah tahanan. Meski pada kenyataannya Albern memperbolehkan dirinya untuk berjalan-jalan keluar, lebih tepatnya hanya di sekeliling kastil saja, tidak boleh jauh. Dia jadi merindukan suasana kota. Juga teman seperjuangannya, Hetty dan Geby. Rindu bergosip dengan mereka, membicarakan hal-hal yang tidak berguna namun menjadi bagian kenangan terindah di hidupnya.


Dia tersenyum kecut, lalu menoleh ke sekeliling dengan gerakan tubuh memutar, hendak memastikan tidak ada sosok yang mengawasinya. Dirasa keadaan cukup aman, dia pun memberanikan diri melangkah pergi, meninggalkan kastil sejauh mungkin. Mulai dari jalan cepat hingga berbentuk larian, dia berguman dalam hati, mengucapkan kata-kata maaf kepada Albern karena telah mengingkari kesepakatan yang telah dibuatnya sendiri.


Baru beberapa menit melarikan diri, Allena berhenti sejenak di bawah sebuah pohon besar nan menjulang tinggi untuk mengatur napasnya yang seolah berada di ujung tenggorokan.


"Mengapa kau melakukan semua ini?"


Deg!


Dari dalam sana jantung Allena serasa mau loncat begitu mendengar suara barithon yang tak asing di telinganya. Dia mendongak dengan takut-takut. Sesuai dugaannya, Albern benar-benar ada tengah duduk menggantung di salah satu dahan pohon.


Albern mendarat ke permukaan dengan mulus. Dengan gerakan cepat, dia menghimpit tubuh Allena dengan menyenderkannya ke batang pohon. "Hebat sekali... pagi tadi kau meragukan kesungguhanku, lalu sekarang justru kau yang tidak bersungguh-sungguh!"


"Aku-" Albern menempelkan jari telunjuknya di bibir Allena, sehingga perkataan gadis itu menggantung.


"Lupakan itu." Albern kembali menciptakan jarak sewajarnya.


Rupanya hal itu membuat Allena sedikit terkesiap. Lupakan. Secepat itukah Albern memaafkannya?

__ADS_1


"Tapi aku akan memberimu pilihan," sambung Albern dengan memiringkan sudut bibir.


"Apa itu?"


"Mau hidup denganku selamanya atau berikan kehormatanmu, maka kau akan terbebas dariku."


"Apa!?" Allena sontak menggeleng tegas. Ternyata kadar keberengsekan Albern masih tetap sama. Sudah dia duga sejak awal, sesuatu yang diincar para pria memang ini. Mahkota gadis. Tentu saja dia tidak akan membiarkan kaum itu merebut berliannya hanya untuk memuaskan napsu sesaat. "Tidak, aku tidak mau keduanya!"


"Berarti peluang ada di pilihan pertama."


"Aku tidak sebodoh itu! Sekali pun aku memilih hidup bersamamu selamanya, aku tidak percaya kau mampu menahan hasrat jantanmu."


"Entahlah, aku juga tidak bisa memastikan itu. Tapi masih baik pilihan pertama karena tidak terlalu cepat terjadi daripada pilihan kedua, bukan?"


Allena menggertak hingga dagunya sedikit bergerak, ke sana ke mari. "Kau pikir kau ini siapa sehingga berani-beraninya menyuruhku untuk menjatuhkan pilihan, heh?"


"Suamimu." Albern menjawab singkat dan mantap. Cukup untuk membuat Allena tercengang di tempat.


"Sosok paling sempurna yang pernah kau kenal, bukan begitu?" Albern menyambungnya sambil mengulum senyum bahagia, karena berhasil membuat Allena bergidik geli.


"Sepertinya tingkat kepercaya dirianmu perlu dikurangi. Sempurna yang kau katakan adalah arti sempurna terkumpulnya berbagai sifat buruk. Sudah berengsek, tidak tahu malu lagi!"


"Yeah, terserah kau saja. Jadi, sekarang apa pilihanmu? Cepat jawab sebelum aku berubah pikiran dan menerkammu saat ini juga!"


Jika saja Tuhan memberinya kekuatan super, Allena pasti akan melenyapkan Albern, tanpa ada sisa secuil pun. Dia mendengkus keras. "Tanpa aku mengatakannya, kau sudah tahu apa yang kupikirkan."


"Pilihan yang bagus. Tapi kau juga harus melupakan orang tuamu."

__ADS_1


"Apa? Tidak bisa begitu! Enak saja, mereka berharga dalam hidupku."


"Dengan memilih hidup bersamaku selamanya, berarti hanya denganku tidak ada orang lain yang boleh memasuki kehidupanmu."


"Selain vampir, aku berpikir kau juga psikopat. Setiap saat tingkah lakumu berubah-ubah. Dan berhentilah meminta banyak hal semaumu!"


Albern terkekeh. "Aku tidak bisa." Baru saja Allena membuka mulutnya hendak menyahut, lagi-lagi Albern menyerobot mendahuluinya. "Bilang setuju kalau keluargamu tidak ingin mendapat bencana."


"Kau mengancamku?" Allena memekik tertahan, sementara Albern membalas dengan kedikan bahu. "Jangan bercan-"


"Aku serius," sela Albern. Gambaran mata sesuai dengan apa yang dikatakannya, tidak ada senyum atau pandangan humor.


"Aku membencimu, selamanya."


Allena tidak mau orang-orang yang tidak bersalah celaka hanya karena dirinya. Apalagi Melly, dia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kesayangannnya itu. Dengan pandangan penuh kebencian ke arah Albern, akhirnya Allena mengangguk pelan. Sudah berapa kali dia berharap agar Tuhan menjauhkan pria vampir itu dari kehidupannya, namun semakin bertambah hari mengapa justru semakin dekat? Sepertinya ada masalah dengan takdir ini.


"Baiklah, untuk merayakan diresmikannya pilihan berharga ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Jangan sentuh aku!" Allena beringsut menghindar kala tangan Albern hendak menyentuhnya.


"Ikut sajalah, nanti kau sendiri juga akan tahu bagaimana senangnya." Albern menarik lengan Allena dengan sekali hentakan hingga tubuh ramping itu membentur dada bidangnya.


"Ish, awas ya, kalau kau sampai macam-macam denganku!" desis Allena, mencoba menjauhkan diri karena kurang nyaman dengan posisinya yang kini terlihat lumayan intim.


"Ck, kau ini... masih saja curigaan. Aku ini suamimu, Allena... mana mungkin aku mencelakakan orang yang kucintai."


"Omong kosong! Lagi pula sekadar berjaga-jaga saja. Kau kan pria berengsek. Jadi, siapa yang tahu? Pelecehan bisa saja terjadi padaku kalau terus-menerus berada di dekatmu."

__ADS_1


"Siap-Siap!" seru Albern, mengabaikan celetukan Allena yang hanya memekakkan telinga. Dia mengibaskan jubah hitam sebelah kanan karena jubah sebelah kirinya terpakai untuk menyelimuti tubuh istrinya. Lantas meloncat dan terbang menerobos gumpalan awan lembut dengan diiringi protesan Allena yang belum sempat menerima aba-aba karena pergerakan pria itu terlalu cepat.


•••


__ADS_2