
• Impersonate Appearance •
Sesampainya Allena di depan gedung olahraga, dia menengadahkan atensinya ke sekeliling. Sepi. Entah mengapa, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Perasaannya mulai tidak enak.
Allena mengeluarkan ponsel dan dengan cepat mengetikkan sesuatu di layar sentuhnya.
Me :
Aku sudah sampai. Cepatlah datang. Aku tidak mau berlama-lama di sini. Kau tahu sendiri sebentar lagi langit akan gelap.
Setelah mengklik tombol send dan menyimpan ponselnya kembali di saku jeans dan sambil menunggu kedatangan ayahnya, Allena berjalan santai mengintari taman kecil di arena sana.
Hingga akhirnya sesuatu yang keras dan tajam menggores kulit lengannya dengan kecepatan kilat. Cukup dalam hingga membuat Allena menjerit kesakitan.
Allena memegangi lengan kirinya yang mengeluarkan darah segar.
"Bagaimana rasanya, putri lemah?" Pertanyaan itu membuat Allena mendongak kaget. Sekarang di hadapannya telah berdiri dua sosok aneh tengah mengembangkan senyuman iblis. Yang lebih menarik perhatiannya lagi adalah sosok gadis berambut hijau itu, dengan tenang menjilat cairan merah yang menetes di kuku-kuku panjangnya.
"Darahmu manis juga," ucap sosok tersebut tanpa mengalihkan pandangannya dari kuku.
Allena bergidik ngeri serta mulai merasakan mual.
"Tentu saja. Dia kan ..." Satu sosok lagi dengan rambut panjang dan warna mata merah itu menggantung kata-katanya. Selang beberapa detik, sosok itu tertawa keras. "Tidak, kau terlalu polos untuk mengetahuinya."
"Tidak jelas!" gumam Allena.
Belum sempat kedua sosok itu menyahut, Travis datang tergopoh-gopoh dan tanpa mengundur waktu lagi menumpahkan cairan bening dalam botol yang dibawanya ke arah dua sosok itu.
"Arrgghhh!"
"Panaaass..."
Dengan tubuh menggeliat kesakitan, kedua sosok itu menghentakkan kakinya, melompat dan terbang sejauh mungkin.
Allena tercengang tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Untuk sesaat lidahnya kelu. Dia hanya bisa menatap lurus ke arah langit yang kini mulai kosong dan didasari warna kejinggaan.
"Biar kubantu." Travis mengulurkan tangan, meraih punggung putrinya. Lalu mengobati luka gadis itu dengan lilitan daun jingga panjang.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Tanaman obat. Dua atau tiga hari lukamu pasti sembuh."
Allena memangut mengerti, kemudian hening. Rentetan pertanyaan mulai memenuhi kepala, membuat pikirannya berkecamuk.
"Setelah ini aku ingin mendengar penjelasan darimu," ucap Allena disela-sela ringisan perihnya.
"Oke," ujar ayahnya setelah beberapa detik termenung, seperti bimbang.
•••
Keesokan harinya, di Stanford University. Saat berjalan di koridor menuju kelasnya, Allena melihat Bryan tengah berlari mengejar seorang gadis.
Bagian yang membuat Allena mengeryitkan dahi adalah manakala mendengar pria itu memanggil nama dirinya beberapa kali tetapi pandangannya ke arah lain.
"Allena, tunggu!" seru Bryan hingga akhirnya berhasil menangkap pergelangan gadis itu.
Allena yang mulanya hanya menonton, memutuskan untuk menghampiri dua insan itu.
"Mr. Shamus!" panggil Allena disela-sela lariannya.
Saat itu juga Bryan menoleh dan tampak syok dengan kedatangannya.
Gadis itu berdeham, kemudian memutar badannya perlahan hingga akhirnya berhadapan dengan Allena dan Bryan.
"Emy?"
"Hai, Allena." Emy menyapa disertai senyuman manisnya.
"Siapa kau?" tanya Bryan, menatap tajam gadis di depannya yang menunduk takut.
"Astaga, kau dosen kelasnya... masa tidak tahu. Emy satu kelas denganku juga." Allena menyahut, tidak percaya.
Bagaimana tidak? Bryan Shamus mengajar di kelasnya. Tetapi tidak kenal satu per satu murid ajarnya. Allena tahu pria itu baru beberapa hari mengajar. Namun mustahil tidak mengenal mahasiswi cerdas dan terpandang seperti Emy Lawrence. Yang notabene saingan beratnya dalam menggapai prestasi tertinggi.
Bukannya minta maaf atau apa, Bryan justru terkekeh. "Tidak ada orang yang wajib aku kenali, selain dirimu."
Allena mendesah lelah. Begitulah rata-rata pria. Hobi merayu.
Mengabaikan kalimat Bryan barusan, Allena mengalihkan perhatiannya pada salah satu teman sekelasnya. Dan sia baru sadar jika gaya penampilan Emy mirip seperti dirinya. Mulai dari rambut cokelat bergelombang, cara berpakaian, hingga pada warna matanya pun sama.
__ADS_1
"Emy, apa maksud dari semua ini?"
Allena tidak tahu apa tujuan Emy mengubah penampilan biasanya yang feminim menjadi gaya cuek seperti itu.
"Habis, kau selalu menarik perhatian para pria. Jadi, kupikir dengan mengubah penampilanku menyerupaimu. Para pria juga akan menempel padaku." Emy tersenyum sumringah. "Dan benar saja. Mr. Shamus mengejarku," tambahnya dengan bisikan.
Bryan melotot, membuat Emy mengerutkan tubuh untuk kesekian kalinya.
"Jangan percaya diri dulu. Aku mengejarmu karena kukira kau adalah Allena. Di belakang memang terlihat indah, namun jika sedari awal aku mengetahui depannya seperti ini, mana mungkin aksi kejaran itu terjadi." Bryan berkata dengan tatapan menilai rendah.
Allena yang mendengar suara ketus dan melihat tatapan itu, mendelik tajam kepada Bryan. Sebagai sesama wanita, dia tahu pasti bagaimana perasaan Emy saat ini. Sudah pasti sakit hati. Tidak dapat dihindari lagi.
"Emy, abaikan saja ucapan Mr. Shamus. Percuma dia menjadi dosen kalau tidak tahu tatakrama." Allena menggerling benci pada pria di sebelahnya.
"Tidak apa-apa." Emy tersenyum kecut.
"Uhm... kau niat sekali berpenampilan sepertiku. Sampai merubah matamu menjadi cokelat. Itu bukan operasi, kan?" tanya Allena hati-hati. Dia tahu mata asli Emy berwarna jingga kristal. Jadi, tidak mungkin gadis itu menghilangkan warna mata selangka itu dan lebih memilih warna cokelat yang notabene umum. Hanya gadis bodoh yang menyia-nyiakan anugerah itu.
Emy terkekeh. "Aku sayang mataku. Ini hanya efek softlens."
Allena mengembuskan napas lega.
"Kalau begitu tidak perlu repot-repot mengubah penampilan. Jadi diri sendiri lebih baik daripada mengambil gaya orang lain," tutur Bryan dengan tangan yang dimasukkan ke saku celana panjangnya.
Allena kembali melirik Bryan dengan raut kekesalannya. "Kau menjengkelkan sekali. Masuk kelas saja sana!"
"Punya hak darimana kau berani memerintah sang dosen? Ah, dan sekarang giliran kau yang patut dikatakan tidak punya sopan santun."
"Tidak, semuanya karena kau yang-"
"Skakmat. Sudahlah, lebih baik kau masuk ke kelas. Sebentar lagi pelajaran akan dimulai," potong Bryan.
Aku belum skakmat! jerit Allena dalam hati.
Sebelum Bryan benar-benar berlalu, dia berkata pelan. "Dan maaf soal kejadian kemarin. Aku lepas kendali."
Allena membuang pandangan. Meski hati berbicara untuk menerima kata itu, tetapi ego sebaiknya. Dia bingung harus memilih mana. Begitu dia melirik ke sekeliling hanya udara kosong yang dia dapati. Baru sadar, Emy juga telah melarikan diri.
•••
__ADS_1