
• He's Albern. Allena's Attraction •
Usai memanjatkan do'a, Allena pun keluar dan terjengkit ketika melihat Albern berdiri tegap di persimpangan pintu gereja.
"Ish, kau ... gemar sekali mengagetkan orang." Allena memukul kecil bahu Albern yang diam mematung. "Mengapa tidak masuk? ... Eh, kau kan bukan makhluk suci, pasti tidak kuat berada di dalam." Dia terkekeh, mengejek.
"Tidak. Hanya saja aku malas." Albern akhirnya mengeluarkan suara.
Allena mengangkat sebelah alis, belum puas dengan ejekannya. "Oh ya? Bilang saja tidak bisa."
Albern mendesah jengah, kemudian menarik lengan Allena, membawanya ke dalam gereja. Dia melakukan itu sekadar untuk menegaskan bahwa penilaian gadis itu salah.
Allena tercenung. Albern masuk dengan mulus.
Padahal baru saja dirinya berniat menjadikan gereja perlindungan untuk menghindari Albern. Ternyata bangunan itu bukan termasuk kelemahannya.
"Aku ke sini bukan untuk berdo'a, tetapi menemuimu." Albern segera mengungkap alasannya.
"Ada urusan apa?" tanya Allena, malas.
"Tidak perlu repot-repot bersandiwara. Jauhi dia sekarang juga, atau kau akan merasakan akibatnya."
"Sudah kubilang, kau tidak berhak mengatur hidupku! Termasuk soal kedekatanku dengan pria mana saja," ujar Allena seraya menunjuk-unjuk dada Albern, memperingati.
•••
Di koridor kampus, Allena berpapasan dengan Robert yang berjalan dari arah berlawanan. Saat pandangan mereka beradu, Robert segera memalingkannya ke arah lain.
Robert melewatinya. Sebelum pria itu benar-benar berlalu, dengan cepat Allena berbalik dan menahan tangannya. "Robert... apa yang terjadi denganmu?"
Robert melepaskan gandengan Allena dengan kasar sebelum melanjutkan lagi langkah lebarnya.
"Rob, tunggu!" Allena berlarian kecil, menyusul dan berhenti di depan Robert, menghalau pergerakan kakinya.
Robert kembali mencegah temu mata dengan menunduk.
Allena memandang cemas wajah Robert yang terpoles biru keunguan dan beberapa luka seperti cakaran di bagian pipi. "Bilang padaku, siapa yang melakukan semua ini?" Robert diam membisu. "Jawab, Rob!"
"Kau sendiri!" balas Robert sembari mengangkat kepalanya, menatap menyala Allena.
"Aku?"
"Ya. Jika bukan karenamu, aku tidak akan babak belur seperti ini. Sudah kubilang dari awal, aku tidak bisa! Tapi kau tetap memaksa. Paras cantik, bukan berarti kau boleh memperlakukan orang seenaknya!"
Allena terkesiap. Perkataan Robert menusuk ulu hatinya. Tapi tidak dapat terelak, karena itu memang kebenarannya. Bukan bermaksud percaya diri, tapi dia yakin pria di luar sana menindas Robert karena cemburu pria itu bisa dekat dengan dirinya
"A ... aku ... minta maaf..."
"Pergi. Sekarang juga!" seru Robert sambil melayangkan telunjuknya ke arah lain yang berarti Allena harus meninggalkannya sejauh mungkin.
"Rob ..."
"Dia mengusirmu. Turuti saja kemauannya, apa susahnya." Suara itu lagi.
Allena menoleh ke belakang. Robert pun melenggang pergi dengan sedikit tabrakan di bahu Allena.
Allena bergerak tegas menghampiri Albern, sebelum melayangkan tangannya dengan keras ke arah pipi pria itu.
Albern dibuat meringis karena tamparan yang sangat keras. Perih? Lumayan. "Apa yang kau lakukan?"
"Ini pasti ulahmu!"
__ADS_1
"Mengapa kau sangat yakin?"
"Tadi pagi kau mengancamku!"
"Hanya orang bodoh yang melakukan itu karena cemburu."
"Dan kau orang bodohnya!" Allena menatap bengis pria di depannya.
"Jika pun aku mau, dengan sekali tatap atau sedikit sentuhan saja aku bisa menyelesaikannya, maka dia akan melupakan semua kesepakatan denganmu. Jadi, untuk apa aku mengotori tanganku dengan adegan kekerasan? Tidak penting juga."
Mendengar ucapan Albern, Allena terdiam dengan otak bekerja. Dia menjadi teringat kejadian di klub malam dulu, saat di mana pria-pria yang mengganggunya pergi begitu saja setelah mendapat tatapan dari Albern. Dia baru tahu, selain membaca pikiran, rupanya pria vampir itu juga mempunyai kemampuan menghipnotis. Sepertinya Geby juga terpengaruh.
"Lantas siapa yang melakukannya kalau bukan kau?"
"Memangnya Robert tidak bercerita?" Albern masih mengusap pipinya yang mulai merah akibat gamparan Allena.
Allena menggeleng. "Dia marah."
"Selain karena itu, mungkin sang penyerang mengancamnya untuk tutup mulut."
Benar juga.
Allena pun berlalu dengan wajah merah padam.
•••
"Apa benar kau memilih Robert?" Baru juga masuk kelas, Allena sudah dicegat saja oleh pertanyaan Geby.
"Hanya satu hari." Allena melenggang menuju bangkunya. Pikirannya mumet lagi. Jika seperti ini terus, lama-lama bisa pecah kepalanya.
"Baguslah. Tapi mengapa tidak memilih pria yang lebih gagah?" Rasa penasaran Geby masih belum puas.
"Sudah kubilang, pria berfisik oke itu sombong dan egois. Jika aku memutuskan hubungan, mereka tidak akan mau. Lagi pula hubunganku dan Robert hanya sementara ... berlandaskan kesepakatan."
"Ya. Sudahlah tidak perlu dibahas lagi." Allena menelungkupkan wajahnya ke lipatan tangan di atas meja, lesu.
"Sebenarnya siapa yang kau hindari? Sepertinya seseorang itu mengusik hidupmu sekali sampai bela-bela berpacaran dan menggemparkan kampus."
Allena mengangkat wajahnya kembali. Sebenarnya dia ingin bercerita soal Albern, tapi takut. Ini soal vampir itu. Bayangkan, walaupun tampan, Albern membahayakan. Dia tidak ingin Geby terlibat dan mendapatkan masalah. "Ini privasiku, Ge. Maaf, aku tidak bisa memberitahumu. Sudah kubilang lupakan saja soal kemarin."
Geby tersenyum tipis. "Hmm ... oke." Allena kelihatan frustasi. Meski penasaran, dia tidak tega memperburuk mood-nya dengan menanyakan lebih lanjut soal seseorang yang rahasia itu.
•••
Di halte saat sedang menunggu bus, sebuah mobil sport putih yang Allena kenali sejenis ferrari, berhenti di depannya. Begitu kaca mobil di turunkan, kala itu pula wajah Albern dengan senyum gelinya terlihat.
Tumben memakai kendaraan.
Albern keluar dari mobilnya dan menyahut gumaman hati Allena. "Supaya terlihat keren!"
Allena mengangkat dagu sambil mengalihkan pandangannya ke langit.
"Mau ikut denganku?" tawar Albern setelah berada di dekat Allena. "Melihat aksi mainku," imbuhnya, mengetahui orang yang diajak bicara diam saja.
Main apa? Kemana?
Ada untungnya juga Albern bisa mengetahui kata hati orang. Jadi, mereka masih bisa berdialog saat Allena sedang malas mengeluarkan suara.
"DJ dan diskotik."
"Hah?" Allena tercengang. Di siang bolong seperti ini, mana mungkin klub malam buka. Jika pun ada, dia tidak akan mau. Cukup sekali Allena membodohi dirinya dengan datang ke neraka itu.
__ADS_1
"Bercanda." Albern terkekeh geli. "Aku mendapat undangan memeriahkan festival balon udara. Awalnya aku berniat menolak, tapi kepikiran kau ... akhirnya aku terima."
Festival? Balon udara?
Allena bersikap setenang mungkin, mengendalikan tubuhnya. "Oh. Terima kasih. Tapi aku tidak mau."
"Pasti seru jika ada di atas. Bisa melihat keindahan kota dan burung yang menari cantik."
Detik di mana kalimat Albern terselesaikan, Allena langsung bangkit dengan mimik kesal. "Ya sudah, ayo!"
•••
Albern menaiki panggung, sementara Allena menunggu di bawah samping panggung. Headphones Albern pakai dan musik pun mulai berdengung. Jemarinya dengan cekatan mengotak-atik input, processing, hingga output devices.
Semua orang bersorak dengan tangan terangkat antusias. Apalagi kaum wanita, banyak yang melemparkan tatapan kagum dan sesekali memberi ciuman jarak jauh.
Perkataan Hetty terbukti. Albern memang menakjubkan saat bergulat dengan profesinya. Arena festival semakin lama bertambah padat, dan Allena merasa gerah mulai merayapi tubuhnya.
"Albern, I love you!" Terdengar seorang wanita menyerukan ungkapan cinta. Disusul yang lainnya.
Sebelah tangan Allena mengacak pinggang dan satunya lagi dipakai untuk mengipasi wajahnya yang panas. Bukan apa-apa, hanya saja sinar matahari siang terasa begitu menyengat kulit-menurutnya.
Pertunjukan selesai. Albern turun dari panggung dan belum sempat menghampiri Allena, beberapa wartawan langsung mencegatnya karena memang sejak tadi segerombolan yang menunggu lebih lama.
Allena lihat mereka berbincang-bincang, mungkin melakukan wawancara. Setelah itu Albern melirik dan belum sempat juga bergegas beberapa wanita yang entah datang darimana menyerobot mengerubuni Albern.
Allena menggertak dengan tangan terkepal gemas. Dia mengira Albern menolak diajak bercengkrama, karena setelahnya para wanita itu bubar dengan mimik kecewa.
Allena mengulum senyum diam-diam.
"Pulang?" tanya Albern setelah berdiri di dekatnya.
"Akan kubunuh kau."
Albern cengengesan melihat mata bulat penuh Allena. Gadis itu selalu menjadi godaan untuknya berbuat jahil.
•••
Ini kali keduanya Allena melayang. Bedanya, malam itu atas bantuan Albern, sekarang melalui balon udara. Meski pada dasarnya yang menjadi perantara hal itu terjadi masih sama, Albern.
Burung kenari melesat cepat tepat di wajah Allena. Bibirnya mencetak senyum lebar hingga susunan giginya yang rapi terlihat. Mata juga sesekali dia arahkan ke bawah, memandang lautan kendaraan serta gedung pencakar langit.
Allena mendesah, merasakan kesejukan hati, walau sebenarnya udara sedang panas.
Tidak diduga-duga, Albern melingkarkan tangannya di pinggang Allena. Juga kepala yang ditumpukan pada bahu gadis itu. "Sementara waktu. Tetaplah seperti ini."
Menolak, tapi tubuhnya tidak terkendali. Menerima, tidak mungkin juga. Allena akhirnya berdeham, mencoba mendengungkan suara. "Cukup. Sekarang, lepaskan."
Perlahan Albern memundurkan tubuhnya.
"Jadilah pasangan hidupku, Al."
Memasuki lamaran kedua. Allena membeku. Masih bimbang akan keputusannya. Pendekatan mereka begitu singkat dan berawal dari ketidak baikan. Takut. Jika masa depannya tidak sesuai harapan.
"Apa yang kau takutkan? Jati diriku?"
Allena membantas dengan gelengan tegas, namun mulutnya masih tetap terkatup rapat.
"Aku ... hanya belum bisa."
Sudah kali kedua ditolak. Albern menghela napas mencoba sabar menghadapinya. Dia tidak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1
•••