
• Healing and Memory at Night •
Allena menyingkap kain lengan kiri kausnya, lalu meniupi luka yang masih terasa perih itu. Bukan apa-apa, luka itu menghambat pergerakan bebas tangannya. Sedikit tersentuh, langsung berdenyut sakit. Benar-benar menyusahkan.
"Semua ini gara-gara gadis kuku hitam itu. Memang apa salahku padanya? Muncul langsung menyerang begitu saja. Gila," gumam Allena disela-sela ringisannya. Setelah puas meniupi luka, dia mengulurkan tangan ke wastafel untuk dicuci.
Hingga tidak berapa lama, suara bariton seseorang membuatnya terlonjak kaget.
"Terluka?"
Allena menoleh ke sumber suara, seketika pupil matanya membesar. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Pria itu Albern, tengah bersandar di dinding toilet wanita dengan tangan bersidekap dada. Terlalu santai, seolah apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang wajar.
"Dasar tidak punya sopan san mmpptt-"
Albern bergerak secepat kilat, tangan kekarnya membekap mulut Allena.
"Mau kusembuhkan secara instan?" tanya Albern kemudian, tentunya dengan tatapan terpusat pada garis-garis panjang berwarna kemerahan yang tercetak di lengan Allena.
Allena merutuk bodoh. Dia lupa menurunkan kembali kausnya.
Albern melepaskan bekapannya, lantas meraih lengan kiri Allena.
"Kau pikir kau ini siapa? Tuhan?" Allena tersenyum sinis seraya menggerakkan tangan kanannya yang bebas untuk menolak perlakuan Albern.
Tetapi Albern lebih memfokuskan tatapannya pada manik cokelat Allena, mengabaikan serangan tangan gadis itu. "Kau tidak percaya?"
Allena yang mulai merasa canggung ditatap terus, membuang wajahnya ke arah lain dan berdeham. "Ya sudah, cepat buktikan! Bisanya bicara saja."
"Tidak semudah itu."
Allena refleks menolehkan kepala kembali, memandang lurus wajah Albern. "Apa maksudmu?"
"Ada syaratnya." Albern mencolek dagu Allena dengan didominasi senyuman penuh arti.
Sontak Allena menghempaskan tangan Albern yang sedari tadi menempel di lengannya. "Awas kau kalau berbuat macam-macam padaku! Sedari awal memang aku tidak menerima bantuanmu."
"Tenanglah. Kau jangan berpikiran buruk dulu. Syaratnya mudah, kau hanya perlu berkencan denganku."
Allena mengangkat sebelah alisnya. "Oh begitu? Tapi maaf... aku tidak bersedia."
"Hm... tidak masalah. Itu pun jika kau mau cepat sembuh. Aku tahu pasti bagaimana rasanya terluka." Albern mencondongkan wajahnya, kemudian berbisik tepat di telinga kanan Allena. "Menyiksa..."
Allena yang mendengar itu langsung merinding. Pasalnya napas dingin Albern terasa menggelikan di kulit telinganya. Dia pun mendorongkan tiba-tiba tubuh Albern, membuat pria itu terhunyung sedikit ke belakang.
Meski hasilnya dua puluh lima persen, hati Allena bersorak senang. Setidaknya, dirinya tidak terlalu lemah di hadapan makhluk itu.
"Oke... aku setuju. Apa kau puas?" ucap Allena pada akhirnya.
Senyum kemenangan tercetak di bibir Albern. Sebelah matanya dia kedipkan seseksi mungkin. "Sangat."
Allena mendengkus kecil ditambah gerutuan kesal dalam hati. Jika bukan karena luka di tangan, dia tidak sudi menyetujui permintaan vampir gila itu.
"Ya sudah, tunggu apa lagi?"
"Bersabarlah, cantik. Sebab, gadis penyabar akan selalu dicinta olehku."
Allena menganga beberapa detik, sebelum memukuli bahu Albern membabi buta untuk kekesalan yang kesekian kalinya.
__ADS_1
"Sudah, cukup ... cukup." Albern menangkap kepalan dua tangan mulus itu. "Jika kita bermesraan terus, kapan pengobatannya dimulai?"
"Albern, please... hentikan... aku lelah mendengar kata-kata menjijikanmu itu," pinta Allena baik-baik.
Albern terkekeh lalu mengela napas. Melihat raut kesal Allena hatinya serasa cerah. Sepertinya ini akan menjadi kegemaran baru untuknya. Menggoda gadis itu.
"Baiklah." Albern menumpangkan tangan kanan Allena tepat di atas luka goresan itu berada.
"Tutup matamu."
Allena yang mendengar nada Albern yang kini serius, menuruti apa yang diperintahkan.
"Dengarkan baik-baik dan ikuti apa yang aku katakan."
Dalam keadaan mata terpejam, Allena mengangguk pelan.
"Maroktyaz i kuyufla aneprodky."
"Bahasa apa itu?" Allena mulai mengeluarkan suara kembali.
"Jangan banyak tanya. Jika mau cepat selesai, ikuti saja intruksiku."
Allena mendesis kecil. Padahal dia penasaran. Entahlah, kata-kata itu terasa familier di telinganya.
"Fokuslah, akan kuulangi sekali lagi." Perkataan Albern berhasil membuyarkan pikirannya. "Dengarkan baik-baik?"
"Iya," sahut Allena malas.
"Maroktyaz i kuyufla aneprodky." Albern mengucapkan kalimat itu secara perlahan dan bernada penuh, agar memudahkan Allena menghafal dengan cepat.
"Maroktyaz i ... kuyufla aneprodky."
Albern tersenyum lebar. Meski sempat jeda di pertengahan, namun akhirnya Allena berhasil mengucapkan kalimat itu dengan benar. Dia melirik lengan gadis itu dan menangkap kilasan cahaya yang menjadi pertanda usahanya sukses.
Allena mulai menerbitkan manik cokelatnya kembali. Dia melihat lengan kirinya mulus, seperti tidak pernah terluka sedikit pun. Sulit dipercaya, namun nyata.
"Bagaimana bisa kau melakukannya?" tanya Allena dengan mata mengerjap-erjap memastikan.
Albern hanya terkekeh, enggan mengacuhkan pertanyaan Allena. Toh, gadis itu juga sedang senang, pasti tidak perduli juga.
"Kalau begitu jangan lupa dengan janji kita."
Senyum Allena yang tadinya mengembang, perlahan surut. Dia menoleh sambil menegak ludah, tidak tahu harus berkata apa.
"Jangan pura-pura lupa, karena aku tahu segalanya yang ada di pikiranmu." Albern mengacak rambut Allena, gemas. "Baiklah. Sampai jumpa besok, gadisku."
Allena mengedip lambat. Beberapa detik setelahnya dia baru sadar jika Albern telah lenyap dari hadapannya.
BUK BUK BUK!
Allena terlonjak kaget begitu mendengar suara keras yang berasal dari pintu keluar-masuk toilet. Dengan ragu, dia melangkah mendekati pintu tersebut, kemudian menarik gagangnya untuk membuka.
"Astaga... ternyata kau! Sedari tadi kita semua menunggu di luar, Allena..."
"Minggir, aku sudah tidak tahan lagi!" Salah seorang gadis menyenggol bahu Allena, terburu-buru memasuki toilet dengan kedua tangan memegangi rok bagian bawah.
"Serakahnya kau... memakai toilet seorang diri."
"Pakai acara mengunci segala. Sebenarnya apa yang kau lakukan di dalam selama berjam-jam, heh?" Hera bertanya dengan tangan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Apa kau menyembunyikan sesuatu yang berharga?" Gishelle ikut menginterogasi.
"Jangan-jangan kau menyimpan bom!?"
"Dan blablablabla ..."
Saat itu juga Allena mendapat semburan disertai tuduhan aneh-aneh dari para mahasiswi sekampus. Sampai telinganya memerah ingin mengeluarkan asap panas. Tidak ada yang patut disalahkan dan dimintai tanggung jawab, selain monster penghisap darah yang sepertinya minta ditebas lehernya.
ALBERN!!!
•••
Allena melirik jam beker di atas nakas, menunjukkan pukul 11:43 p.m. Sudah larut malam, namun matanya masih terjaga. Kantuk yang ditunggu-tunggu juga tidak kunjung datang. Berlama-lama diam di tempat tidur membuat tubuhnya justru terasa kaku. Mau digerakan, tapi bingung mau melakukan apa. Hingga kemudian sekelebat bayangan mengenai pertemuan dirinya dengan sang ayah sore kemarin hinggap di kepalanya.
"Jika aku menceritakan akan adanya makhluk immortal, apa kau akan percaya?" tanya Travis, beberapa menit setelah mengobati lukanya.
Meski dalam hati Allena percaya, karena pada kenyataannya dia sendiri telah bertemu dengan vampir yang notabene termasuk makhluk immortal juga. Tapi gadis itu hanya mengatakan mengangkat bahu saja. "Entahlah. Ceritakan saja, sepertinya menarik."
Travis menghela napas sejenak. "Ini bukan soal menarik atau tidaknya. Tetapi mengenai kadar berbahayanya mereka."
Allena membisu, memutuskan menjadi pendengar baik saja.
"Dua gadis tadi itu bukan manusia, melainkan makhluk immortal."
Allena menegak ludah, kali ini ketajaman pendengarannya ditingkatkan lagi. Dia tidak ingin melewatkan informasi langka ini.
"Yang berambut hijau itu namanya Lilisen. Penyihir yang mengendalikan tumbuhan sebagai senjatanya untuk menyerang musuh. Jika di hutan, dia selalu membuat pasukan dari pohon-pohon tinggi dan kokoh. Selain itu, kuku-kukunya yang tajam dan berwarna hitam mengeluarkan racun. Siapapun yang terkena racunnya, akan sakit dalan kurun waktu dua minggu," jelas Travis panjang lebar. "Maka dari itu aku mengobatimu dengan daun tadi, karena lukamu tidak akan sembuh cepat hanya oleh obat medis."
Allena mangut-mangut mengerti dengan mulut berohria. "Lalu, gadis yang satunya lagi, makhluk apa?" Dia kembali mengeluarkan suara, karena rasa keingintahuannya yang sangat besar.
"Kau pasti melihat sendiri kulitnya yang putih pucat. Itu tandanya gadis itu vampir."
Mendengar itu Allena menegang. Vampir. Jenis makhluk itu mengingatkannya pada pria menjengkelkan yang akhir-akhir ini mengusik kehidupannya.
"Allena, kau kenapa? Apa lukamu kambuh lagi?" tanya Travis diselimuti raut kekhawatiran.
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja," ucap Allena meyakinkan disertai senyum manisnya.
"Syukurlah kalau begitu ... Oh ya, satu lagi yang ingin kusampaikan."
Allena menunggu dengan memperhatikan gerak-gerik ayahnya. Travis terlihat merogoh sesuatu dari saku jaketnya, lalu diberikannya sebuah kunci berwarna perak ke dalam telapak tangan Allena.
Allena melengkungkan kedua alisnya. "Untuk apa ini?"
"Di bawah tangga rumahmu ada sebuah pintu yang terkunci rapat, kau pasti tahu itu."
Allena mengangguk.
"Itulah kuncinya. Tapi ada sesuatu yang wajib kau kerjakan kalau ingin memasuki ruangan itu."
"Apa?"
"Cari buku berjudul The History of The Landlord dan bacalah keseluruhan isinya," beritahu Travis dengan nada dan raut serius. Berbeda dengan putrinya yang bersikap tenang-tenang saja.
"Hanya itu?"
"Ya."
Allena mengedikkan bahu. "Hm... Tidak masalah."
__ADS_1
•••
TBC...